The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Let Me Pick You Up


__ADS_3


.......


.......


.......


Seakan waktu menjadi cemburu. Ia mempercepat semua kebersamaan Lucy serta Kendric dalam malam panjang penuh kasih sayang. Dari ufuk timur siluet cahaya mentari mulai memasuki waktu fajar dan mereka harus segera kembali ke istana. Sungguh sangat disayangkan jika waktu kebebasan ini harus segera berakhir, tapi Lucy yakin kedepannya mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama-sama.


Kendric membantu Lucy turun dari kuda hitam miliknya, setelah mereka telah berada di depan halaman pintu utama Castle Estelle. Lucy melepas jubah merahnya dan memberikannya kepada salah satu pelayan yang sepertinya sudah menunggu kepulangannya.


"Kau kenapa, Lucy?" Kendric memperhatikan tingkah Lucy yang terlihat cemas.


"Em, apa menurutmu, tidak masalah jika kita kembali di jam segini? maksudku, ini sudah memasuki pagi hari. Aku ta----"


"Lucy, apa kau seorang Cinderella yang harus kembali sebelum tengah malam?"


"Bukan begitu, hanya saja rasanya kurang sopan jika wanita bangsawan harus kembali terlambat setelah pergi pada malam hari. Bagaimana jika ada rumor buruk tentang kita?"


"Itu cukup menjadi wasiat terakhir mereka!" Kendric menegaskan kalimatnya seraya melirik beberapa pelayan yang berada di belakang Lucy, dengan wajah ketakutan. "Jangan khawatir, kau pergi dengan Mate mu sendiri. lagipula kita tidak melakukan kesalahan."


"Apa menurutmu pergi dengan menghancurkan pintu gerbang istana, bukan sebuah kesalahan?"


Kendric diam dengan senyuman khasnya yang mengatakan seolah itu bukan kesalahannya. Lucy jadi menggelengkan kepalanya, saat mulai memahami isyarat dari senyum polosnya itu. Bahwa dia benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun atas insiden semalam.


"Sudahlah, lagipula Ayah dan Kakak juga tidak memerintahkan pasukan untuk menangkap mu. Itu berarti, mereka tidak mempermasalahkannya."


"Kau benar, itu bukan kesalahan kita."


"Kau ini begitu sangat nekad dalam menantang seorang Lord ya? Aku jadi penasaran, seperti apa dirimu saat menjadi menteri di Imorrtal. Yasudah, sebaiknya kau kembali ke kediaman mu. aku juga perlu beristirahat sejenak, sebelum waktu sarapan tiba."


"Hm. Beristirahatlah, aku akan menemui mu saat sarapan tiba nanti." Lucy mengangguk sembari tersenyum, menanggapi ucapan Kendric. Semakin lama kedekatan mereka semakin terikat erat diantara keduanya.


"Putri, maaf bila saya menyela. Tapi, beberapa saat yang lalu utusan Lord Besar menyampaikan sebuah pesan untuk Putri dan juga Tuan Kendric."


"Ayah?"


"Beliau berpesan, untuk mengundang Putri dan juga Tuan Kendric agar dapat hadir dalam sarapan pagi, bersama anggota keluarga kerajaan yang lain."


"Ayah sungguh berpesan seperti itu?"


"Benar Putri."


Lucy terlihat senyum kegirangan dengan undangan langka itu. Sebenarnya, sangat jarang Ayahnya ini mau mengundang orang lain dalam acara makan bersama keluarganya, kalau tak salah yang terakhir kali adalah Aletha. Bukankah dengan mengundang Kendric itu berarti Ayahnya tidak akan menentang hubungannya mereka?


"Apa kau begitu menyukai aku hadir dalam acara makan bersama ini?"


"Tentu saja! Bukankah ini baik untuk hubungan kita? Mungkin saja Ayah dan Kakak tidak perlu berselisih denganmu lagi?"


"Bagaimana jika maksudnya adalah menghukum diriku yang membawa pergi dirimu tadi malam?" Goda Kendric. Seketika Lucy jadi kepikiran dengan hal itu.


Tapi masa sih, Ayahnya akan langsung menghukum Kendric dengan cara formal seperti ini? Karena setahunya Fedrick lebih suka menyeret langsung sumber masalahnya selayaknya tawanan yang tak pantas menginjakkan kaki di tanah kekaisaran.


Tidak bisa, tidak bisa! Pasti hanya perasaan berlebih Kendric saja. Ayahnya tidak mungkin menghukum Mereka, setidaknya itulah harapan Lucy. "Aku sangat yakin, Ayah tidak akan membahas hal itu."


"Oh, bagaimana bisa ka---"


"Diam dan segera kembalilah ke kediaman mu Kendric."


Usir Lucy yang mencoba terus berpikiran positif. Dengan meninggalkan Kendric di halaman Estelle seorang diri. Sebaiknya Lucy bersiap saja, lupakan istirahatnya karena berhadapan dengan dua pria bus itu jauh lebih penting saat ini.


...--.๐Ÿ.--...


*Ruang Makan Keluarga Kerajaan.


"Terimakasih sudah mau menghadiri undangan ku, Kendric." Sapa Fedrick dengan hangat.

__ADS_1


Ya, setidaknya itu yang Lucy harapkan dari sambutan pada makan bersama kali ini. Tapi sepertinya kondisi pada makan bersama ini kurang mendukung bahkan sangat canggung. Ditambah cara Ayah dan Kakaknya yang menatap penuh menyelidik pada Kendric membuat Lucy, Aletha maupun Lezzy sangat tidak nyaman.


Oh, seharusnya segera Lucy tolak undangan ini jika tahu jika situasinya malah semakin memburuk.


Lalu bagaimana dengan tanggapan Kendric? Tentu saja dia tidak terlalu menanggapinya. Malah Kendric sudah lebih dulu menyantap sarapannya tanpa menunggu instruksi dari Lord. Parahnya lagi, dia mengacuhkan tatapan yang sempat membuat pandangan Lucy perih dan malah asik memberikan beberapa potongan daging kecil kepada Lucy sebagai bentuk perhatiannya kepada kekasihnya ini.


Sofia yang terus terpesona dengan kedekatan dan cara Kendric memperlakukan Lucy dengan begitu hangat, membuatnya turun dari kursi di sebelah Fedrick kemudian mengambil jalan memutar kearah mereka. Tingkahnya itu mampu menarik perhatian semua yang ada di sana. Bahkan disaat Sofia hendak mengambil posisi di sebelah Kendric. Yang memang kursi itu terlalu tinggi dan berat untuk ia tarik.


"Paman tampan, dapatkah paman membantu sofia untuk naik?" ucap Sofia dengan wajah manisnya.


"Tentu." Kendric mengangkat Sofia dan mendudukkannya di kursi--bersebelahan dengannya.


Sofia terlihat mencari sesuatu, hingga akhirnya ia mengambil garpu kecil khusus miliknya. Dengan sepotong buah raspberry yang terlihat menggoda pada cup cake. Sofia berniat menyuapi Kendric buah tersebut sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantunya menaiki kursi.


"Paman tampan, aa--" Ucap Sofia sembari menyodorkan buah tadi yang tertancap pada garpu mungilnya.


"Tunggu. Sofia, kenapa pindah tempat dari Kakek? Dan lagi, kenapa kau memberi makan monster itu?"


"Em? Tentu saja Sofia ingin makan bersama Paman tampan. Sofia melakukan ini sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantu Sofia, Kakek. Dan juga, Paman tampan bukan seorang monster."


"Sudah kuduga, Putriku telah dicuci otak."


"Welliam, jangan berasumsi seperti orang bodoh." Sambung Aletha.


"Cih!"


"Paman, cepat buka mulutmu. Sofia ucapkan terima kasih. Em, apa paman keberatan jika Sofia makan di sebelah paman?"


Kendric tersenyum, dia meraih tangan mungil small lady Lorddarks itu, dan memakan buah raspberry sebagai ucapan terimakasih kepadanya. "Duduk dan makanlah dengan pelan. Kau harus segera tumbuh besar agar dapat bisa seperti Ibu dan Ayahmu. Bukankah Little Winkly ku ini ingin sekuat mereka?"


Sofia tersenyum lebar atas ucapan hangat Kendric, dia pun mengangguk dengan penuh bersemangat sebelum akhirnya memakan makanannya yang baru saja di pindahkan oleh pelayan istana.


Keadaan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Untunglah Kendric tidak bertingkah menyebalkan di hadapan kedua demon itu, sehingga perseteruan ini tidak berlangsung lama.


"Oya, aku dengar semalam ada masalah yang diperbuat oleh pasukan keamanan kota?" Tanya Aletha merubah topik.


"Ah, mengenai itu--memang ada masalah saat Festival semalam. Dan juga, Lucy mau minta maaf jika aku telah mengambil keputusan salah sehingga menimbulkan kericuhan atas kemunculan Lucy di pusat kota."


"Terimakasih Ayah. Lucy hanya melakukan apa yang seharusnya Lucy lakukan sebagai putri kekaisaran Darkness World. Semua masalah ini, tetap akan di selesaikan dengan kuasa Lord."


"Tetap saja. Aku berterimakasih atas tindakanmu, Lucy." Welliam menatap Adiknya yang sudah mulai berubah menjadi wanita kuat. Ia sempat khawatir dengan masa depannya jika Lucy masih saja terjebak oleh Harlie. Meski ia sendiri enggan mengakuinya, Jujur saja Kendric lebih baik dari pria itu.


"Oh, apa sekarang pandangan kakak tentang diriku telah berubah." Goda Lucy.


"Ekhem, mau bagaimanapun kau tetap masih lemah dariku." Acuh Welliam tak mau mengakuinya.


"Kakak!"


Keadaan yang tadi tegang perlahan mulai menghangat hingga beberapa tawa terdengar dari sela pembicaraan mereka. Hal yang paling membuat Aletha dan Lezzy tak henti tersenyum, saat para suami mereka masih saja cemburu dengan perhatian yang di berikan Sofia kepada Kendric.


Setelah menikmati santap pagi yang di penuhi obrolan brutal antara kedua ras berbeda dunia ini. Mengukir kenangan cukup merekat di benak mereka masing-masing.


Pelayan perlahan mulai merapihkan meja makan yang memperlihatkan beberapa hidangan yang ada di atas meja.


"Sofia, hari ini main dengan Kakek ya." Ujar Kendric dengan anggukan semangat dari Sofia sebagai balasan.


Fedrick bangun dari bangkunya sembari menuntun Sofia, mencoba menghabiskan waktunya hari ini dengan Sofia dan juga Istrinya di taman kebanggaan mereka.


"Yang Mulia, Lord Fedrick." Akan tetapi, panggilan Kendrick menghentikan langkah Fedrick yang hendak meninggalkan ruangan.


Fedrick berbalik seraya menatap heran saat Kendric berjalan mendekatinya. Tatapan serius yang di tunjukan Kendric membuat Fedrick memicingkan kedua matanya, menunggu hal apa yang akan Kendric katakan kepadanya.


"Aku sudah begitu lama meninggalkan wilayah ku walau hanya beberapa hari saja. Dan aku harus segera kembali---" Kendric terlihat menimbang kata-katanya. "Meski salam pertemuan ini terkesan sangat brutal hingga menimbulkan kesan selisih diantara kita. Tapi kuharap tak ada sedikitpun di dalam diri anda kebencian yang mendalam terhadap diriku, begitu juga kesan ku terhadap anda. Hanya saja, aku tak berniat kembali seorang diri dari Darkness World ."


"Lalu?"


Suasana menjadi tegang saat Kendric berusaha membicarakan hal serius tanpa ada nada angkuh seperti biasanya. Aletha mengerti alur pembicaraan ini, Kendric harus segera tegas. Mau bagaimanapun matahari tidak akan selamanya terus berada di siang hari ada kalanya dia harus mengalah pada malam yang tak mampu ia sentuh.

__ADS_1


Sedangkan musuh berada di satu langkah terdepan, mengungguli semua logika dan rencana mereka setelah berabad-abad.


"Izinkan aku membawa pergi Lucy bersamaku ke Imorrtal."


"Bukankah akan jauh lebih berbahaya untuk dirinya pergi ke sana?"


"Aku tahu. Tapi setidaknya hanya di wilayah ku, tempat paling teraman di Imorrtal. Mungkin bagimu, aku masih belum memenuhi syarat menjadi menantu di Lorddarks ini. Tapi setidaknya, aku satu-satunya pria yang di butuhkan Lucy. Aku juga tahu bahwa situasi saat ini masih belum aman, tapi aku memohon pada dirimu Lord Frdrick---biarkan aku tetap bersama dengan Lucy."


Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening tanpa ada jawaban ataupun respon dari sang Lord Besar (Fedrick). Lezzy menghampiri Fedrick, memberikan sentuhan kecil pada pundak Suaminya, sebagai isyarat kepada Fedrick untuk menyetujuinya.


Fedrick melirik Lucy yang berada di sebelah Welliam dengan wajah penuh harap akan respon positif yang akan diberikan nya kepada Kendric. Tetapi Fedrick justru mengabaikan Kendric dengan mengalihkan perhatiannya kepada Sofia, ia mensejajarkan tubuhnya dengan cucu perempuannya.


"Hari ini, mainlah dengan Uni Lucy mu sebelum Uni mu pergi." Fedrick mengelus sebentar kepala Sofia, lalu kembali berdiri sembari melirik Lezzy sebelum akhirnya pergi begitu saja dari ruang makan keluarga kerajaan.


Lezzy tersenyum. Dia masih saja tidak berubah, pikir Lezzy. Karena Fedrick bukanlah orang yang mudah jujur dengan perasaannya sendiri terhadap menyikapi orang lain, selain dirinya. Lezzy mendekatkan dirinya kearah Kendric, memelankan suaranya agar menjadi pembicaraan privasi.


"Jangan khawatir, meski dia bersikap dingin atau terkadang memberikan kesan tidak suka denganmu. Tapi Fedrick mempercayai Lucy sepenuhnya kepada dirimu, Baginda Kaisar."


"Anda terlalu merendah, mau bagaimanapun kedudukan kita masihlah sama, Dewi Alice. Em, aku selalu penasaran. Kenapa kesan anda terhadapku begitu baik padahal kita baru bertemu, aku yakin kabar beredar dengan yang terjadi pada Dewi Selini Thea dan pengasingan mu adalah kesalahan kaum Imorrtal. Bahkan aku yang merupakan Maharajanya saja tak dapat bertindak karena----"


"Karena Ibuku memintamu untuk tidak menunjukkan wujud mu terlebih dahulu." Potong Lezzy saat Kendric ingin menjelaskannya.


"Mungkin saja, jika hari pengeksekusian Ayahku dan keputusan pengasingan ku dapat kau cegah dengan statusmu sebagai yang terkuat. Tapi apa menurutmu akan ada hal yang berubah jika aku tumbuh besar di Imorrtal? Aku rasa tidak, mengingat bagaimana kalian memandang kasta pada aturan alam ini."


"Aku memang tidak tahu dengan rencana ibuku. Dan apakah aku harus bersyukur atau justru kecewa pada kejadian di hari kelahiran ku. Hanya saja, yang aku percayai hingga saat ini dan memutuskan untuk tidak membenci kaum dewa. Karena, Ibuku ingin kau dan juga Lucy yang merubah pandangan para dewa tentang ketiga dunia ini sebagai penguasa sempurna di Imorrtal. Aku juga ingin menitipkan sebuah beban kepadamu sebagai Maharaja Dewa----Aku berharap kau dapat membersihkan nama Ibuku dan juga Ayahku di sana."


"Aku juga yakin, meski Aletha tidak mengatakannya kepadamu atau mungkin saja dia sudah tidak memikirkan tentang masa lalunya. Tapi ia juga berharap ada keadilan dengan peristiwa yang terjadi pada keluarganya, sehingga nama Thalia dan Aletha dapat kembali tertulis di sejarah para dewa. Dapatkah aku menitip beban ini padamu?"


"Anda tidak perlu khawatir. Beban mu adalah harapan yang juga di inginkan oleh Dewi Selini Thea kepada ku. Jika kau mau, aku bisa melakukan revolusi berskala besar pada Imorrtal---"


"Lalu, apa kau akan membantai semua kaum Imorrtal? Aku tidak menginginkan hal itu, pasti ada cara lain merubah dunia ini tanpa harus ada pertumpahan darah. Jangan terlalu menyalahkan rakyatmu, karena mungkin saja mereka juga adalah korban yang tak berani menyuarakan suara ketidak adilan yang di lakukan Octopus selama ini. Selama di Imorrtal masih ada tempat bagi bintang fajar ku untuk tetap bersinar, itu sudah cukup untukku, Baginda." Lezzy mengakhiri pembicaraan mereka, lalu berjalan melewati Kendric dengan menuntun Sofia kearah Lucy dan juga Welliam, Aletha.


"Anda tidak perlu khawatir. Karena kediaman Apollo adalah satu-satunya rumah untuk Lucy pulang, Yang Mulia Alicia." Lirih Kendric sembari membalikan badannya, melihat wajah kekasihnya yang sedang berbicara dengan ibunya.


Lucy terlihat resah setelah melihat reaksi Ayahnya yang pergi begitu saja. Apa Ayahnya masih marah soal mereka pergi keluar tanpa izin? Welliam yang merasa terganggu dengan pikiran Lucy yang terus bercabang kemana-mana, mengetuk dahi adiknya ini.


"Apa yang Kakak lakukan?!"


"Hentikan imajinasi liar mu itu. Intinya Ayah mengakui dia sebagai pasanganmu."


"Sungguh? Jadi, Ayah dan Kakak tidak akan menentangnya?"


"Kenapa aku punya Adik bodoh sepertimu sih,."


"Kakak bilang apa?!"


"Sudahlah, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan." Welliam berjalan pergi begitu saja, tapi sesaat ia berjalan hampir sejajar dengan Kendric. Dia seperti mengatakan sesuatu sebelum akhirnya melewatinya dan benar-benar pergi.


"Dasar. Aku bingung apa yang kak Aletha sukai dari kakak ku itu, cih menyebalkan!"


"Justru karena sifatnya yang kau benci itu, aku jadi mencintainya."


"Oh lihat ini, bu. Queen Althenia kita sudah semakin mahir dalam memamerkan percintaan mereka."


Lezzy dan Aletha tertawa melihat Lucy yang merajuk. Seketika dalam benak mereka terlintas pikiran yang sama, bahwa sikap Lucy yang seperti biasanya telah kembali. Dan itu membuat mereka lega.


"Lucy."


"Iya ibu?" Lucy memperhatikan Ibunya yang terlihat sedang menunjukkan sebuah kalung, berbandul matahari dengan bintang kecil berada tepat di dalam lingkaran mataharinya.


Lucy terlihat kebingungan dengan kalung yang di berikan ibunya ini. Memang terlihat sederhana tapi rasanya kalung ini terasa berbeda dengan kalung permata lainnya.


"Sudah lama aku ingin memberikan kalung ini kepadamu, Lucy. Tapi ibu masih belum menemukan waktu yang tepat. Dan, karena kau akan segera ikut kembali dengan Kendric ke Imorrtal. Ibu rasa sudah waktunya memberikanmu kalung ini."


"Apa ini milik ibu?"


"Bukan," Lezzy menggenggam tangan putrinya dengan tatapan rindu. " ---tapi ini pemberian dari Nenek mu."

__ADS_1


'Olyfia, katakan pada Lezzy. Hingga waktunya matahari bertemu dengan bintang fajar, berikan kalung ini kepadanya ...'


...--.๐Ÿ.--...


__ADS_2