The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Trapped In Childhood Promises ; My prince?


__ADS_3

"Molie!"


Lucy kecil berteriak sembari berlari ke arah belakang Lucy. Saat Lucy mengikutinya ia menoleh dan entah bagaimana saat ini ia sudah berada di tengah taman dengan suasana hangat.


Matahari terik dan beberapa bunga yang mekar segar----Tunggu, bukankah ini pemandangan di istana lama nya? Kenapa dirinya sewaktu kecil menunjukan Istana Litch?


"Molie berhenti, jika kakak tahu aku pergi tanpa kakak pelayan, Mama akan menambah tugas salinan ku." Lucy kecil terus mengumpat kepada hewan peliharaan nya yanga baru 3 bulan ini bersamanya.


Gadis kecil itu tengah menggembungkan pipinya menunjukan bahwa ia sedang marah. Lucy tertawa kecil, apa dulu dia semenggemaskan ini?


Rubah putih itu terus berlarian memutari taman, sedangkan Tuan Putri tersebut berusaha mengejarnya dengan langkah kakinya yang kecil. "Em! kenapa dia sangat nakal. Molie kemari lah, aku akan memberimu cemilan."


Lucy memperhatikan sosok dari dirinya. dari tiap langkah, tiap kata, tiap tindakan. Apapun yang terjadi Lucy ingin mengenangnya, jadi ada kejadian seperti ini juga ya? Kalau di pikir saat Molie di bawa ke istana sebagai hadiah ulang tahun dia memang sangat pemalu dan suka bersembunyi jika Lucy mencarinya.


"Apa kau sungguh tidak menyukai ku? Kakek Tetua Alberd bilang, kau akan menjadi teman main yang sangat baik tapi kau malah melarikan diri terus dari ku. Lucy sungguh sedih." Tuan putri kecil itu duduk sembari memeluk dirinya.


"Lucy hanya punya Molie. Papa saat ini sedang tidak bisa bermain, kak Welliam paling tidak suka jika aku melihatnya berlatih pedang. Lucy ingin cepat dewasa dan bermain keluar."


Mendengar celotehan dari gadis kecil itu membuat Molie perlahan mencoba mendekatinya, dia nengenduskan bau pemiliknya yang sebenarnya sejak awal sudah sangat ia sukai. Hanya saja Molie terlalu malu untuk menjadi akrab. Melihat itu Lucy dengan sigap menangkap rubah putih dan memeluknya.


"Apa sekarang kau sudah mau berteman dengan ku?"


Molie bergerak kegirangan menandakan ia setuju. "Oke, mulai hari ini kita adalah teman ya."


Lucy menurunkan Molie lalu bangun dari posisi duduk nya. "Sekarang aku akan menunjukan sahabat ku yang lain." Lucy memimpin jalan menuju halaman belakang istana di sana terdapat sebuah pohon besar yang begitu rindang, Ia mengajak Molie untuk tidur berbaring di bawah pohon nya.


"Aku suka dengan pohon ini. Dia sangat menyejukkan dan begitu indah apalagi saat matahari berada di atasnya, sangat cantik bukan?" Ujarnya sembari memejamkan mata.


Lucy merindukan suasana ini, ia mencoba mengambil posisi di dekat nya tapi sesuatu yang aneh muncul di sana. Tiba-tiba saja ada pusaran gerbang dimensi di dekat Tuan Putri Demon tersebut. melihat itu Lucy tergerak untuk menyelamatkan sosok masa kecilnya tapi saat ini ia tembus pandang dan tidak dapat melakukan apapaun.


Dari dalam pusaran tersebut keluar satu sosok berjubah putih, dari wujudnya yang gagah Lucy tahu dia adalah seorang pria. Sayang, kepalanya harus tertutup tudung jadi tidak dapat mengenalinya.


"Hei, apa kau tahu dimana tempat tinggal, Putri Lucy?" Ujarnya dengan sangat angkuh.


Lucy kecil membuka matanya dia bangun sembari menatap bingung kearah tamu yang entah datang darimana. "Kakak siapa?"


"Aku, aku bukan siapa-siapa. Jika kau pelayan, kau pasti mengenal Putri Lucy. dapatkah kau memberikan ini untuknya?" Sosok itu memberikan sebuah boneka rajut kepadanya.


"Aku bukan pelayan."


"Begitu kah? Apa kau tukang kebun? Cih. Apa bangsa Demon begitu suka menyiksa anak-anak."


"Lucy bukan tukang kebun, lagipula Papa tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Ada banyak para Fairy yang menjaga bunga nya. Tapi Lucy adalah Pemilik taman nya."


"Aku tahu jika Putri Lucy adalah pemilik istana ini. Maksud ku, aku harus memberikan ini untuk nya karena Nenek nya sangat cerewet." Ujar nya seakan tidak paham bahwa sosok mungil di hadapan nya adalah Putri Lucy.


"Nenek? Lucy punya nenek? Apakah dia nenek yang selalu mengurus perpustakaan Papa?"


Kenapa dia berkata seakan dia adalah Lucy?


Mendengar ucapan polos yang sangat aneh, sosok itu menurunkan posisi tubuhnya lalau memperhatikan baik-baik wajah gadis kecil tersebut.


"Apa kakak adalah seorang kesatria?"


"---Kalau kau siapa? "


Lucy kecil itu terlihat sangat bosan menanggapi orang asing ini. Sejak tadi Lucy sudah memberi penjelasan tapi lihatlah kenapa dia tidak menyadari nya dan malah mempertanyakan nya. "Aku Lucy. Putri Lucy Daiana Loddaks."


"Loddaks?"


"Ups, Lucy belum terlalu bisa mengucapkan marga kerajaan secara baik----"

__ADS_1


"Tunggu, jadi kau adalah Tuan Putri Lucy?"


"Kan sudah Ku beritahu, bahwa aku adalah Putri Lucy."


"Bagus, ini ambilah." Sosok itu membantu Lucy menggenggam erat boneka berwujud kelinci putih dengan memiliki permata merah sebagai hiasan matanya.


"Em? Kenapa Nenek perpustakaan memberikan ini kepada Lucy?"


"Nenek Perpustakaan? Apa kau menamai Seleni Thea seaneh itu?"


Lucy masih menatap polos, ia sungguh tidak tahu maksud dari kakak bertubuh besar di hadapan nya ini. Sedangkan sosok itu terlihat mengamati dua iris mata biru yang menjadi cirikhas keturunan bulan.


"Yah, kau cukup imut seperti yang di katakan nya."


"Siapa?"


"----Karena urusan ku sudah selesai, aku pergi."


"Ah! Tunggu Kaka----" Lucy kecil terlihat sangat marah. bagaimana bisa sosok itu pergi begitu saja setelah berkata yang tidak bisa ia mengerti terlebih Lucy sangat penasaran siapa dia. "Apa Molie pernah lihat kakak tadi---em, Molie?"


Lucy terlihat mencari teman rubah nya. tidak berapa lama Molie menunjukkan dirinya, jadi sejak kedatangan sosok itu Molie bersembunyi ketakutan. Tapi Lucy menanggapinya dengan tenang bahwa teman kecilnya itu sedang malu dengan orang baru.


Setelah hari itu secara berkala dalam dua minggu berturut-turut pria itu terus mendatangi Lucy dengan membawa berbagai banyak hadiah yang dititipkan Selini Thea untuknya. Tapi setiap datang memberikan hadiah, pria itu kembali pergi. Dan kali ini Lucy kecil ingin menahan dirinya lebih lama lagi.


Jadi seperti yang sudah direncanakan, pria berjubah itu kembali datang melalui sihir teleportasi. "Hei, Putri aku----" Pria itu terlihat mencari keberadaan Lucy.


Biasanya setiap pagi atau menjelang petang Putri itu akan bermain di taman. Apa dia akan datang terlambat? Karena hal itu pria itu duduk di bawah pohon ia melihat ketas pohon melihat bagaimana matahari masuk dari celah dedaunan nya.


Ia ingat kalau Putri itu pernah memaksanya untuk tidur berbaring menikmati keindahan sahabatnya, tapi dirinya terlalu sibuk hanya untuk bermain dengan anak-anak jadi seperti biasa dia akan langsung pergi setelah memberikan hadiah untuknya.


Sosok itu terlihat berpikir kemudian senyuman terlihat dari bibir nya. Ia menjentikkan jarinya dan merubah pohon tersebut menjadi pohon Maple yang begitu selaras dengan cahaya mentari.


"Karena aku cukup terhibur dengan pemandangan ini, kurasa ini cukup untuk menjadi hadiah tambahan untuknya."


Maka Lucy pun duduk di sebelah nya, dan saat itu angin menghempas dedaunan pohon Maple---gerakan angin yang sedikit kasar juga membuat tudung kepala yang selalu menutupi wajah pria misterius tersebut menjadi jatuh.


Seperti dugaan nya, Sosok rupawan dibawah pohon Maple dengan hujan yang datang dari baskara. Menarik hati Putri demon yang tengah menatap terkagum dengan sosok karisma nya. Lucy maupun sosok dirinya sewaktu kecil terdiam melihat hal indah darinya.


"Kendric---"


"Uwah!! Kakak kesatria sangat tampan." Putri Lucy berlari menghampirinya. "Pohon nya juga cantik, apa namanya?"


Sosok yang tidak lain adalah Kendric---kembali melihat kedatangan Putri kecil yang hanya setinggi pinggangnya, berdiri di depan nya. Kendric terlihat memikirkan nama baik untuk pohon dari duplikat pohon dunia ini. Lalu ia memiliki kesan baik setelah melihat wajah polos dari cucu Seleni Thea.


"Lucyastlle---yang berarti bintang fajar."


"Lucya---apa? "


"Sudah lah, kau masih terlalu sulit mengatakan nya."


"Hem, meski begitu nama nya seperti punya kemiripan dengan nama ku. Apa Lucy juga bisa terlihat cantik?"


Kendric menurunkan tubuhnya ia mengambil sehelai daun Maple dari kepala Lucy. "Kau akan menjadi Putri paling cantik melebihi para Dewi saat kau dewasa nanti."


"Sungguh?" Putri Lucy terlihat berbinar dan tersenyum senang mendengarnya.


"---Jangan menghayal itu masih lama, kau masih harus melewati ratusan tahun untuk menjadi cantik. Lihatlah tubuhmu yang tidak pernah tinggi ini, sangat kecil dan begitu jelek."


"Em! Bagaimana bisa kakak menghina Putri kekaisaran. Lagipula kakak kan baru bertemu 2 minggu jadi tidak mungkin Lucy akan tumbuh setiap harinya! Dari pada itu, Kakak kesatria jauh lebih buruk rupa daripada bangsa Merrmaid di lautan--Aau!"


Kendric menyentil kening Putri kecil tersebut. "Hei bocah. Bisa-bisanya kau membandingkan aku dengan seekor ikan, ha?! Wajahku begitu di berkati matahari."

__ADS_1


"Kakak tidak tahu, di buku dongeng para parengan yang terlahir tampan berasal dari lautan Neptuna, tahu. Kakak Ariel yang bilang seperti itu."


"Ha! Aku akan memanggangnya jika kau sampai mengatakan itu lagi. Lagipula kau seharusnya berhenti membaca dongeng, perbanyaklah membaca Filsafat. Sebagai seorang Putri kau harus bisa membimbing rakyat kerajaan."


"Dongeng juga adalah bentuk pembelajaran."


"Pembelajaran apa?"


"Membaca." Ujarnya dengan polos.


Kendric terlihat kesal dengan demon kecil ini, "Lihatlah tatapan licik dan keras kepalamu. begitu mirip dengan Nenek mu--sudah cukup aku tidak akan memberikan apapun kepadamu hari ini."


"Apa?!"


Seketika pohon Maple di sana kembali menjadi pohon biasa, hal itu membuat Lucy kecil merasa kecewa. Ia lalu menarik jubah Kendric untuk di kembalikan wujud cantik dari pohon itu. Tapi bukan nya luluh kendric justru pergi begitu saja. "Ih! Dia sangat menyebalkan. Lucy benci. Jangan datang lagi ke istana Lucy, aku bisa minta hadiah dengan Papa, mengerti?!"


.......


.......


.......


"Hem? Hari ini dia tidak datang juga. Apa kemarin Kakak kesatria sungguh marah?" Lucy terlihat lesu mengetahui 4 hari ini ia tidak melihat sosok Kendric yang selalu rajin menemuinya.


"Khing?" Lucy mendengar sesuatu yang sangat nyaring. Ia lalu menatap keatas pohon kemudian melihat panik saat Molie ada di atas pohon, "Molie?! Apa yang kau lakukan di atas sana?"


Molie terlihat ketakutan dia hanya dapat bersuara seakan ia tidak dapat turun dari atas sana. Lucu kecil yang begitu khawatir mencoba mencari cara membantu Molie turun dari sana. Tapi ia tidak melihat adanya pelayan istana atau penjaga istana di taman, apa ini waktunya para pelayan bertukar shift? tapi kenapa penjaga baru belum datang juga?


"Molie!" Lucy terlihat akan segera menangis, jika ia memanjat pohon ia masih belum tahu caranya. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Ada apa?"


Lucy menoleh melihat Kendric datang dengan memperhatikan nya seraya bersandar pada pohon lain di taman. Dengan perasaan lega Putti kecil tersebut menangis dan berlari kearah Kendric. "Kakak---hiks. Tolong Molie, aku akan meminta maaf tapi tolong Molie."


Kendric melihat keatas menatap rubah yang sedikit mengganggu pikiran nya mengenai keberadaan nya yang sedikit familiar. "Kau mau mengambil Rubah mu?"


Lucy mengangguk. "Berhentilah menangis. Daripada mengis, kenapa tidak memecahkan masalah ini?"


"Lucy sudah cari para penjaga tapi mereka tidak ada, aku ingin memanjat pohon tapi tidak tahu caranya."


"Kemarilah, akan kubantu."


"Hem?"


Kendric mengangkat Lucy kecil lalu dalam sekejap mereka berada di atas pohon tersebut. Awalnya Lucy takut dengan keinginan ini, tapi perlahan perhatiannya teralihkan dengan nuansa mengagumkan dari atas pohon. Ia seperti berada di dalam pohon itu sendiri yang sudah lama menjadi sahabat main nya, dengan sekelilingnya adalah dedaunan hijau muda terang, ditambah lagi cahaya matahari.


Lucy mendekati Molie sembari duduk pada dahan kokohnya agar keseimbangan nya setabil. Ia berhasil mendapatkan peliharaan nya dan memangku nya. Kendric juga duduk bersandar pada pohon sembari menatap Putri kecil tersebut. Hari ini Seleni Thea tidak menitipkan hadiah apapun untuk ia berikan kepada cucunya, saat ia mencarinya di istana wanita tua itu tidak ada di istana bulan.


Entah dengan alasan apa ia bisa sampai di sini bersama dengan Putri demon tersebut. Apa ini yang namanya pesona Vasilissa dari keturunan bulan. Lihatlah bagaimana mata polosnya yang jauh lebih menarik daripada matahari itu sendiri. Kendric menghela nafas.


"Dengar, saat usia dewasa debutante mu di mulai. jangan terlalu melakukan interaksi di luar istana atau mengikuti Ayah mu ke perjamuan pesta. Di sana pasti akan ada banyak pria bodoh yang menyeret mu dalam penderi-----"


"Vasilissa? Aa! Apa kakak juga membaca cerita dongeng mama? Lucy juga ingin menjadi Vasilissa yang hebat seperti sosoknya. Dia kuat pemberani dan di ceritakan sangat cantik. Lucy juga mau memiliki Mate seperti dirinya yang selalu ada untuknya, dan-------"


Lucy kecil terlihat diam memperhatikan Kendric yang terlihat begitu mendengarkan tiap hal kecil dari sosok mungil di hadapan nya. Meski tersirat di benaknya, bahwa dengan Lezzy menceritakan kisahnya. Bukankah akan semakin menjerumuskan Putrinya dalam takdir Vasilissa yang sangat tidak berkenan itu?


Sedangkan di dalam pikiran Lucy kecil berbeda jauh, ia mulai mengingat kisah dari cerita dongeng yang di bacakan ibunya. Lalu mengaitkan nya dengan kedatangan Kendric yang terasa tiba-tiba ini. Bukankah Vasilias di cerita ibunya punya mata merah yang begitu rupawan, dan kakak kesatria ini juga memiliki manik mata yang jauh lebih indah daripada permata ruby di istananya.


"Apa? kenapa kau hanya diam?"


Secara insting naluri imajinasi anak-anak yang masih terlalu memandang impian fatamorgana sebagai hal yang nyata. Putri kecil itu mengagumi sosok Kendric yang memiliki wajah rupawan dan auranya yang terlihat seperti seorang pangeran, begitu terasa menggelitik jiwanya yang seakan tengah merasa berdebar.

__ADS_1


"Apa Lucy boleh tanya?"


...✧༺ 🍁 ༻✧...


__ADS_2