The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Promises in History


__ADS_3


...----...


.......


.......


.......


...Terkadang, sejarah mitos yang kau dengar tak sesuai dengan perkiraan mu. Karena semua itu adalah rahasia yang di simpan alam untuk diceritakan sebagai legenda di masa depan....


...--•°° 🌷 °°•--...


"Jadi, bisa kita mulai sapaan yang sebenarnya, Yang Mulia?" Ujar Kendric, membuat Welliam serta Fedrick saling melirik. Sudah di duga dia memang datang ke sini bukan sekedar menyapa, apa mungkin Octopus sudah benar-benar bergerak?


"Jangan terlalu merendah, gunakan saja identitas mu---Maharaja," sindir Welliam.


"Dengan senang hati. Apa aku juga perlu memberi salam secara benar kepada kalian?"


"Dari pada memberi salam, aku lebih tertarik jika kau mengatakan alasanmu merahasiakan identitas mu dari putriku? Apa kau berniat mempermainkannya?"


"Apa aku terlihat seperti tengah mempermainkannya?"


Tidak ada, Fedrick tak menemukan sekecil pun celah bahwa Kendric terlihat seakan mempermainkan Lucy. Kalau begitu apa ini sungguhan, bahwa mereka akan menjadi pasangan Mate yang sebenarnya? Jika benar, apa Fedrick akan siap melepaskan putri tercintanya kepada pria dari bangsa dewa itu?


"Kalau begitu, katakan alasannya."


"..........." Kendric diam sembari meraih gelas ramping berisi air putih, ia memutar pelan gelas itu kemudian secara perlahan air jernih itu berubah menjadi merah keunguan (wine). "Tak ada alasan khusus, aku hanya mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya."


"Kenapa di tunda? Jika kau begitu takut, biar aku sendiri yang mengatakannya."


Kendric meneguk habis wine ditangannya, kemudian menjatuhkannya hingga membuat suara pecahan gelas yang cukup nyaring. Dia menatap tak suka kepada Welliam, jika hari ini dia tak dapat kesepakatan untuk menutup identitasnya, apa harus dilakukan secara kasar?


Melihat sikap mereka yang masih saja tak bersahabat membuat Aletha berharap, semoga saja mereka tak menghancurkan Istana ini.


"Ini masalahku, kau tidak perlu repot-repot mengatakannya."


Welliam yang hendak beranjak pergi tiba-tiba saja menjadi diam di tempat. Ia tak mampu menggerakkan tubuhnya sendiri, apa jni ulah Kendric?


Fedrick yang bisa merasakan perbedaan kekuatan mereka memilih untuk mengakhiri pertengkaran ini. Meski ia ingin tahu alasannya, tapi dari pada terus berselisih nantinya mereka jadi tidak tahu alasan Octopus menjadi dalang dari semua ini.


"Welliam tenangkan dirimu, bukankah kita perlu membahas hal yang lebih serius dari pada itu?" Ujar Fedrick.


Kendric melepaskan sihir pengikat pada Welliam, sepertinya mereka sudah mulai paham maksudnya. "Aku memang tidak akan bertanya detail mengenai keputusanmu. Tapi, jika hal itu melukai Putriku aku tidak akan mengampuni mu."

__ADS_1


"Jangan khawatir, ini tak akan bertahan lama. Pasti akan kukatakan sendiri,"


"Kalau begitu kita mulai dari mana masalah Octopus."


"Sepertinya, Aletha sudah lebih dulu mengatakan garis besarnya. Baiklah karena kalian juga pasti sudah mendapat informasinya, aku tidak akan banyak mengulur waktu dalam pembahasan ini."


Dalam sedetik, ruangan klasik dan hangat itu berubah menjadi gelap. gorden-gorden saling menarik diri, lalu secara perlahan mereka dikelilingi kabut.


Ternyata Kendric mengalihkan ruangan itu ke dimensi Apollogiz Dreamchater. Meski tak seutuhnya berpindah dimensi tapi ini sudah sangat susah di lakukan, membuka dua gerbang antara Darkness World dan ruang akar dimensi secara bersamaan.


"Mungkinkah alasan kenapa aku tak bisa lagi membuka dimensi ini karena kau yang menguncinya?"


"Sejak awal dimensi ini memang buatan ku kau bisa membukanya karena kaum Demon juga memiliki 10% kekuatan Dewa."


Fedrick merasa kalimatnya ada yang aneh, bagaimana bisa mereka memiliki sedikit kekuatan dewa? Apa Kendric tengah membuat cerita lucu?


"Katakan lebih jelas mengenai itu."


"Aku kira Aletha sudah mengatakannya."


Dengan cepat Fedrick serta Welliam melihat Aletha. Seakan mereka sedang meminta penjelasan dari ucapan Kendric yang kurang bisa di pahami. "Aku kira juga, hal ini perlu izin darimu Baginda." Aletha melirik Kendric.


"Baiklah, bagaimana jika kita mulai dari masalah perjanjian antara bangsa Demon dan Dewa. Sebelum membahas mengena Octopus karena ini ada sangkut pautnya dengan semua tindakannya."


Fedrick menghela nafas, "Ha ..., sebenarnya ada berapa banyak rahasia yang kalian sembunyikan dari kejadian di masa lalu. Bahkan sepertinya, hal itu tak tertulis dalam sejarah Darkness World."


"Semua bermula pada abad pertengahan, jauh sebelum Lucifer Kingdom berdiri. Sejak awal hanya bangsa Vampire yang memiliki mata merah sebagai ciri khas kaumnya. Sedangkan bangsa Demon sejak lahir memang harus berada dalam kegelapan tanpa boleh menyentuh waktu terbitnya matahari. Ras Demon memiliki ciri khas warna mata yang berbeda, yaitu berwarna hitam legam."


"Disaat perang masih menjamah, dimana mayat terus berjatuhan selama puluhan abad. salah satu bangsa Demon yang saat ini di kenal sebagai leluhur malam. Melakukan sumpah setia kepada seorang Dewa Agung, karena dirinya merasa sudah waktunya perang ini brakhir. Demon itu bernama Aratemish Lorddarks."


" Aratemis sadar bahwa dunia ini di lindungi seorang Dewa, kemudian dia menemui sang Agung untuk melakukan sumpah setia dan meminta izin untuk memimpin seluruh kaum di Darkness World ini."


"Tunggu, bukankah Ardsekar adalah Lord pertama yang memimpin dunia ini. Kenapa jadi Aratemish?"


Fedrick kian tertarik dengan kisah yang belum pernah ia dengar. Harusnya dia tak langsung membunuh para Tetua terdahulu, sebelum meminta mereka mengungkap rahasia Darkness World.


"Itu karena----"


"Baginda, izinkan diriku yang menjelaskannya," pinta Aletha kepada Kendric. Karena ini juga menyangkut kematian seorang Dewi yang berarti baginya.


Kendric memberi izin, dan kini Aletha menghadap Ayah dan Suaminya. "Setelah Aratemish melakukan sumpah, dia mendapatkan kekuatan yang begitu besar jauh di atas kaum yang lain. Dia menjadi satu-satunya bangsa Demon yang selalu mengabdi dengan Dewa Agung selama hayatnya."


"Seiring berjalannya waktu keadaan peperangan di dunia ini mulai membaik dan Aratemish juga perlahan membangun Castle ini secara rahasia, akan tetapi sebelum istana berdiri dan ia diangkat sebagai penguasa ..." Aletha terlihat ragu, tapi Kendric memberi izin untuk menceritakannya.


"Ia mendengar kabar bahwa, Dewa Agung itu mati ditangan seorang Tetua. Karena kesetiaannya yang berjanji akan selalu mengikuti Tuannya, Aratemish pergi untuk membalaskan dendam Tuannya. Namun, sayang, dia juga harus berakhir."

__ADS_1


"Ini hanya dugaan ku, apakah Tetua itu adalah Octopus?" ujar Fedrick


"Benar, Semua ulah Octopus. Kabar kematiannya cepat tersebar, dan perang mulai kembali ricuh di Darkness World untuk mencari cara agar mereka bisa memimpin dunia ini. Sehingga ap yang di inginkan Octopus terhadap dunia ini pun berjalan lancar."


"Meski begitu ketakutan Octopus kepada bangsa Demon yang bisa saja memiliki darah anugrah dari Dewa Agung, terus mengganggunya. sehingga dia memutuskan untuk membunuh seluruh bangsa Demon menggunakan ribuan cara dan membiarkan bawahannya untuk melakukannya. Tanpa mengetahui bahwa Mate Aratemish tengah mengandung. Sayangnya Mate Aratemish juga tak lama menyusul Aratemish selepas melahirkan dua putra kembarnya----"


"jika saat ini kami adalah keturunan Demon terakhir, apa itu mungkin adalah waktunya kelahiran Lord Ardsekar dan Lord Kellid?"


"Benar, Mate Aratemish melahirkan Ardsekar serta Kellid. Disaat mereka merasa tak ada harapan lagi, sebuah keajaiban bahwa kedua bayi Demon itu memiliki mata merah yang sama seperti Aratemish berkat anugrah Dewa Agung, Dewi Selini Thea begitu bersyukur bahwa dunia ini masih ada harapan."


"Akan tetapi, Ardsekar yang berhasil menghentikan perang dan menjadi Lord pertama membuat Octopus curiga bahwa dia putra Aratemish. Baginya selain kami bertiga, dia juga begitu mewaspadai bangsa Demon yang begitu susah untuk di hadapi. Itu sebabnya ia menggunakan Tahlia agar melakukan semua rencana terselumbungnya untuk bisa mengontrol bangsa Demon."


"Meski harus kami akui, rencana itu begitu sempurna. Tapi kami juga sudah menerka bahwa hal ini akan terjadi, sehingga untuk bisa melindungi Darkness World kami menyetujui untuk menanam tiga crystal itu, untuk tetap bisa mengawasi Lord dan Queen, Dewi Selini Thea melepaskan Luna dan Alexa sebagai pelindung Queen serta Lord di Darkness World. Tetapi--" Aletha berubah menjadi sangat kesal dan begitu membenci sosok Octopus


"---dia berhasil lebih dulu memutar balikkan keadaan seakan dunia ini adalah papan caturnya. Mulai dari alibinya untuk merusak kursi tahta, kemudian menjadi semakin liar dan mencoba memisahkan diriku dari sisi Dewi Selini Thea dengan cara menggunakan Sofia sebagai umpannya. Bahkan kejinya dia menjatuhkan harga diri Dewi Selini Thea dengan memisahkan Mate serta Putrinya."


"Tidak puas dengan semua itu, Adik ku pun harus menjadi sasarannya juga. Memanfaatkan keadaan Tahlia, lalu membuatnya menjalankan semua rencana busuknya, tanpa harus mengotori tangannya. Ini menjijikan, saat aku tahu bahwa dia masih saja berpura-pura suci di hadapan seluruh bangsa Imorrtal! Maka dari itu, kita harus bekerja sama untuk mengalahkannya karena seharusnya bangsa Imorrtal dan Darkness World adalah kaum yang hidup berdampingan."


Welliam terlihat tak dapat berkata apapun, saat tahu betapa licik dan kejamnya sosok pria bernama Octopus ini. Pantas saja dia dapat mengendalikan adik Aletha selama puluhan abad.


Lebih parahnya, semua tragedi yang terjadi seolah berada di atas genggamannya. Entah mengapa Welliam serta Fedrick jadi sangat begitu kesal terhadap sosok Octopus, terlebih hal yang menimpa Mate mereka berdua adalah ulahnya.


"Aku jadi ingin tahu seperti apa sosok kepar*t Octopus ini!" Welliam mengeluarkan aura membunuhnya. "Aletha, apa mungkin bangsa Imorrtal memandang rendah kepada kami karena ulah Octopus juga?"


"Benar, ia takut kalian dapat memberontak dan mengambil alih Imorrtal. Jadi dia merubah sejarah, dan mengatakan bahwa kematian Dewa Agung adalah ulah kalian, untuk mengambil kekuatannya dengan cara meminum habis darah Dewa tersebut."


"Tidak masuk akal, bahkan Ardsekar saja tak tahu mengenai ini bagaimana bisa kami dituduh seperti itu! Aku jadi benar-benar ingin merobek tubuh Octopus!" sangking kesalnya Welliam sampai mematahkan pisau makan ditangannya.


"Tetapi, meski tak terlalu suka dengan bangsa dewa. Sepertinya aku juga harus tetap mengucapkan terimakasih kepada Aratemish dan juga Dewa Agung tersebut. Sayang sekali mereka sudah tiada, jika tidak ada perjanjian itu apa mungkin dunia ini bisa memiliki seorang penguasa?" Fedrick menyandarkan dirinya pada penyanggah kursi sembari menyeruput teh nya.


"Kalau begitu, kau bisa mengatakannya kepadaku tanpa harus ke makam atau berdoa untuknya."


Seketika keadaan menjadi hening disaat Kendric bersuara, Welliam dan Fedrick terlihat saling melirik dan seketika tertawa kecil.


"Meski saat ini kau adalah Maharaja nya, bukan berarti kami harus berterimakasih kepadamu juga." ujar Fedrick.


"Sepertinya pemimpin Imorrtal ini, pintar dalam menghibur seseorang." sindir Welliam.


"Bukan menghibur, lebih tepatnya menyatakan bahwa bangsa Demon memang harus selalu berterimakasih kepadaku." Kendric terlihat lebih menyombongkan dirinya, yang memang harus diakui bahwa dia, memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada Fedrick maupun Welliam.


Sedangkan Aletha sudah begitu was-was. Sepertinya mau bagaimanapun kedua bangsa ini sulit untuk bersependapat, "Maaf Ayah, sepertinya aku lupa menceritakan sesuatu kepada kalian."


"Mengenai?"


"Sebenarnya, Dewa Agung itu adalah Dewa Matahari terdahulu, Yang Mulia Apolleon Aerthernitas Helios. Beliau adalah Ayah dari Baginda Kendric Athananysous Helios."

__ADS_1


"APAA !!!"


---.•° 🍁 °•.---


__ADS_2