
.......
.......
.......
...---🍁---...
*Wilayah Merrmaid
~Kerajaan Neptun.
Selepas dari jamuan pesta yang di adakan sebulan yang lalu, kini Castle Neptun harus kembali terkubur di dasar lautan. Karena, sudah tak ada alasan bagi mereka muncul ke permukaan akibat kabar angin yang begitu mengusik pihak kerajaan.
Saat ini tersebar desas-desus bahwa raja samudra sedang dalam kondisi buruk, sampai-sampai pintu istana saja tidak terbuka untuk para bangsawan. Hal ini menuai kekhawatiran bagi rakyat merrmaid juga, bahkan sampai berkontroversi bahwa kejadian ini bersangkutan karena ia memutus hubungan dengan putri kekaisaran.
Prang!!
"ARGHH!!"
Teriakan lantang yang terdengar sangat menderita menggentarkan seluruh istana Neptun. Alih-alih akan mendengat berita baik, justru kesehatan King malah semakin parah. Pikir pala pelayan.
Tidak hanya itu saja, sudah banyak pelayan serta pengawal keluar masuk istana karena semua yang melayani King lautan harus mati mengenaskan akibat ulah Harlie sendiri.
Dia dengan gelap mata mencabik-cabik bawahannya akibat rasa sakit yang tidak tertahankan pada jantungnya. Dan sebagai gantinya, ia melampiaskan kekesalannya pada bawahannya sendiri.
Ruang kamar pribadi sang raja menjadi berantakan dengan seluruh barang yang terpajang hancur berkeping-keping. Gorden besar yang menjuntai hingga ke dasar lantai, menjadi compang-camping akibat amukannya.
Tubuhnya yang selalu terawat dengan sangat sempurna, begitu ironis dan memprihatikan bagi siapapun yang melihatnya. Pasalnya ia menjadi kurus---memperlihatkan tonjolan tulang pada belikat lehernya yang terlukis jelas.
Mata ungunya yang biasanya memancarkan jiwa ketampanannya, kini hanya tinggal tatapan depresi yang terlihat dengan lingkaran hitam pada area mata cantik itu. Harlie begitu sangat terpuruk seperti mahluk yang memiliki penyakit kronis.
Seakan dia menjadi gila karena memanen dari bala yang ia tanam terhadap diri Lucy----sekarang dia rasakan sendiri apa itu perasaan terabaikan, hingga perasaan sakit yang terus menggerogoti jiwanya.
Sejak melihat Lucy meninggalkan istananya dengan air mata, semua penderitaan ini muncul lebih parah dari sebelumnya. Setiap melihat wajah Lucy yang terlihat kecewa---hal itu justru mengiris jiwanya. Tidak hanya itu saja, saat air mata yang tak pernah hilang dari mata savier nya----membuat Harlie kian kesakitan seperti ada ratusan pisau yang merajam dadanya.
Belum lagi semua kata-kata cintanya yang selalu ia abaikan terus terngiang-ngiang. Sampai-sampai rasanya Harlie ingin sekali memecahkan kepalanya akibat memori itu.
Harlie seperti pria bodoh yang terlalu mementingkan hal yang tak pasti. Harlie akui saat bertemu dengan Lucy untuk pertama kalinya----di usianya yang genap 15 tahun. Ia terlihat sangat menawan hingga mengetuk hatinya.
__ADS_1
Ia tahu bahwa jiwanya menginginkan Lucy sebagai mate nya, ia sadar bahwa semakin banyak perhatian yang Lucy berikan membuatnya jatuh cinta.
Tetapi! Dirinya selalu menolak semua fakta yang menuntutnya untuk tidak membalas perasaannya, anehnya Harlie akan terus terluka setiap ia berada di dekat Lucy. Belum lagi wajahnya itu begitu mirip dengan Lezzy., dan itu sangat ia benci.
Ia tidak suka, saat Lucy terus mengiriminya surat. Karena itu akan membuatnya semakin merindukan sosoknya, tapi jika perasaan rindu itu sampai terasa direlungan hatinya. Pasti jantungnya akan terasa sakit.
Harlie yang terbaring di lantai sembari menggeram kesakitan, mencoba meraih satu-satunya sapu tangan yang tersisa dari pemberian Lucy. Ia menatap lirih kepada saputangan di tangannya, yang lama-kelamaan menjadi tatapan benci.
"Aku juga ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi kenapa kau harus terlahir menjadi putri mereka!! Kedua pasangan bej*t yang sangat ku benci, Lucy----UHUK! UHUK! " Harlie terbatuk-batuk dengan semburan darah yang terlihat menodai mulutnya.
Lagi-lagi jantung ini berdetak perih setiap dia memikirkannya. Apakah ada seseorang yang mengutuknya untuk tidak bisa hidup tenang bersama Lucy? Apa ini ulah para dewa lagi? Ataukah kutukan ini datang dari Fedrick dan Lezzy?
"ARGHH!! KALIAN SEMUA BEGITU KEPAR*T!!"
Harlie semakin muak, saat melihat sulaman pada saputangan itu terukir bunga Lily, yang berarti keabadian. Tapi bagi Harlie keabadian dari bunga Lily justru membuatnya kembali teringat akan kebenciannya. Bukankah pedang Lord Fedrick adalah bunga Lily yang menjadi keabadian? Sehingga mampu mengoyak tubuh Tuan nya.
Bahkan dia terus berasumsi, bahwa Tuan nya mati meninggalkannya akibat ulah pasangan menyebalkan itu. Kesalnya lagi, Tuan nya malah di jadikan boneka oleh wanita dewa yang ternyata adalah adik Aletha. Dan untuk sekali lagi ia melihat Katastrofis mati dan benar-benar meninggalkannya yang sudah sangat setia kepadanya.
"Seluruh bangsa Demon harus mati! mereka harus mati!!!" Begitu lah keinginan Harlie.
Akan tetapi dia tidak ingin membunuh Lucy, dia ingin Lucy tetap berada di sisinya. Karena mau bagaimana pun Harlie adalah pria yang memimpikan sosok mate yang dapat memberikan kehangatan pada hidupnya.
Harlie ingin sekali mengatakan "Buktikan lah, bahwa kau hanya akan melihatku dan akan tetap mencintaiku walau nantinya aku di benci oleh seluruh keluargamu. " Tapi hal itu tak tersampaikan. Malah yang terucap adalah kata kata buruk, untuk menyuruh Lucy membunuh orang tuanya.
Tapi hal itu karena setiap Harlie ingin membalas cinta Lucy Jantungnya akan kembali nyeri dan ia benci dengan rasa sakit ini. Sehingga Harlie harus mengatakan hal yang membuat Lucy terluka.
Seakan kata-kata kasarnya kepada Lucy menjadi penawar dari racun yang menyerang jantungnya. Harlie akan lebih memilih melakukannya, karena dia juga berpikir menyiksa Lucy akan berdampak juga bagi Ayah dan Ibunya.
Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa terdapat racun Gravos yang mematikan----menyerang jantungnya. Tapi siapa yang melakukannya? Harusnya racun ini tidak di temukan lagi, setelah kehancuran markas Carlitos di hutan terlarang wilayah Vampire.
"Yang Mulia, sebaiknya anda meminum penawa-----"
"Singkirkan barang itu! Kau pikir, ini akan menawar racunnya?! Apa kau bodoh, Geordan? Potion itu tidak ada efeknya terhadap penyakit ku ini. Jika kau mengkhawatirkan ku, segera bawa Lucy kehadapan ku! "
"Tapi King, pihak kekaisaran sungguh memutus komunikasinya dengan kita. Bahkan Queen Qarolin harus---"
"Kau keluarlah dulu Geordan. "
Tiba-tiba saja Qarolin memasuki kamar putranya. Mendengar permintaan sang Ratu Merrmaid, membuat Geordan tidak dapat ikut campur--ia pun segera pergi.
Qarolin menghampiri Putranya, dia mengusap prihatin pada wajah Harlie. Oh sungguh, bagi seorang Ibu ia tidak sanggup melihat Putranya menderita. Qarolin hanya ingin Lucy melihat kondisi anaknya, berharap ia akan terlihat baik-baik saja dan kalau bisa mereka kembali bersama selayaknya pasangan Mate.
__ADS_1
"Ibu, aku dengar kau selalu pergi ke Lucifer Kingdom."
"Putraku, Ibu rasa kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. "
"Kenapa? Apa Lucy masih marah? Ibu, kemarahan Lucy hanya sementara. Dia tulus mencintaiku dan pasti akan mencari diriku jika tahu aku sedang terluka----"
"Harlie, kau sudah mengatakan kepada seluruh tamu. Bahwa kau menolaknya sebagai Mate mu. "
"Ibu, aku tidak bermaksud mengatakan itu tapi--tapi kesadaranku yang lain yang mengendalikan diriku. Kumohon bu, bantu aku bertemu dengan Lucy sekali saja .... "
"Harlie, sayangnya pihak kekaisaran mulai membencimu."
"Argh! Pasti ulah mereka lagi! Kenapa? Kenapa mereka tidak mati saja dan tidak mengusik diriku! Aku memang benci karena Lucy menjadi putri mereka. Tapi jika mereka mati, bukankah Lucy akan menjadi sendirian tanpa ada keluarga terkutuk itu di sisinya, bu?"
"Dan saat itu terjadi, dia hanya akan bergantung padaku tanpa memikirkan keluarganya lagi, dan lagi! Sampai aku muak melihatnya di perlakukan seperti kaca." Harlie mulai berbicara tak masuk akal akibat pikirannya yang sudah sangat kacau.
"Harlie, sebaiknya kau tidak terus memiliki dendam terhadap kekaisaran. Jika kau terus mengusik mereka, ibu takut kau akan di jatuhi hukuman serius."
"Aku tidak perduli, semua penderitaan ini harus mereka bayar. Dan untuk Lucy ..., aku ingin melihatnya sekali lagi. Aku ingin dia tahu bahwa aku menyesali perbuatanku yang kulakukan dulu."
Harlie baru menyadari bahwa perasaan sesal yang ia rasakan menjadi ketakutan terbesarnya, jika Lucy tidak akan melihatnya sembari mengatakan, kalau dia mencintainya.
Ia tahu rasa sesak pada jantungnya mungkin akan terus mengikutinya sampai ia mati. Tapi, setidaknya biarkan dia memiliki kesempatan untuk bisa menyatakan perasaan yang selalu ia tutupi kepada Lucy.
Bahwa Harlie mencintainya, bahwa dia ingin menjalani hubingan mate ini sewajarnya pasangan yang telah ditakdirkan. Harlie ingin Lucy tahu, semua yang tak sempat ia sampaikan----hingga keputusannya yang berujung perpisahan.
"Aku ingin dia kembali menatapku dan hanya aku satu-satunya pria yang ia cintai." Lirih Harlie sembari mencengkram saputangan pemberian Lucy di dadanya.
Oh, Qarolin tidak tahu harus mengatakan apa kepada Harlie. Kalau sebenarnya, ada pria lain yang saat ini sudah lebih dulu berdiri di sebelah Lucy.
Entah reaksi apa yang akan Harlie tunjukkan jika mengetahui hal ini. Kalau sampai putranya hilang kendali dan kondisinya kian memburuk, ia akan sangat sedih dan berharap Dewa tidak merenggut putranya.
"Ibu, bantu aku untuk bertemu dengan Lucy sekali lagi. Aku akan menjelaskan hal yang sebenar-----"
"Menjelaskan apa?! "
Harlie dan Qarolin terkejut dengan hadirnya suara baritone yang terdengar suram. Angin yang masuk dari balik jendela dengan sangat kuat----menari kan gorden tak berbentuk sempurna itu. Dari baliknya terdapat bayangan pria yang telihat samar-samar.
"Apakah ini dirimu? " Duga Harlie yang menyadari. Bahwa sosok itu adalah dalang yang membuatnya kehilangan tangan kanannya.
...---. o🍁o . ---...
__ADS_1