
Lucy yang menunggangi Molie mencengkram kuat bulu putih milik sahabatnya. Ia mencoba bertahan dari udara dingin yang seakan menampar wajahnya, jika saja tidak ada perlindungan dari lambang di keningnya mungkin Lucy juga akan menjadi batu seperti seluruh dunia Darkness World yang perlahan termakan miasma Alabasta.
Ia melihat bagaimana banyaknya rakyat Darkness World telah menjadi miniatur bencana di bawah sana, dan itu sangat menyayat hatinya. Maka Lucy memutuskan untuk bersikukuh pada pilihan nya dan ia pun mengangkat tangan nya dan seketika kalung di lehernya bercahaya---berubah menjadi tongkat sihir membantu Robin melakukan Pemurnian.
Lingkaran pola sihir berwarna biru di langit Darkness World tergambar sangat cantik. Dari polanya terlihat daun Mapel berwarna biru berguguran, layaknya bintang jatuh. Seakan sihirnya mencoba membantu mengurangi tekanan dari Alabasta. Hujan Mapel mengikis dingin nya musim dingin yang sangat tidak masuk di akal. Lucy harus segera menuju Imorrtal atau jika tidak seluruh mahluk hidup akan berubah dan hancur menjadi butiran pasir.
Luna mengepakkan sayapnya dengan sangat kuat dan berhenti saat berada di langit tertinggi. Sebuah tempat yang seharusnya dapat melihat bagaimana indahnya Matahari di waktu terbenam. Tapi Senja seakan mengutuk tidak ada apapun yang bisa di lihat selain awan hitam yang begitu pekat.
Lucy memperhatikan bagiamana merak putih di hadapan nya membuka gerbang dimensi menuju Bumi dan cahaya pelangi terlihat dari balik gumpalan awan.
"Jika Putri melewati gerbang tersebut. Anda akan langsung terhubung menuju kediaman Queen Althenia."
"Terimakasih banyak to Fos Tou Fengariou. Maaf, karena keraguan ku, Tuan to Iliako Fos harus berkorban---"
"Kami memang sudah seharusnya menghilang, karena perginya Dewi Seleni Thea. Tapi selama cahaya rembulan tetap bersinar, kami akan kembali Putri. Anda telah sampai di titik ini dan apa yang anda pilih adalah penentu masa depan."
"Oh sungguh, tidak banyak yang bisa ku bantu untuk anda, Dewi. Terimakasih telah banyak membantu Ibu ku. Jika ada kemungkinan dapatkah aku membalas pertolongan mu hari ini?"
Luna menatap Putri mungil---satu satunya yang terselimuti cahaya keabadian di tengah gelapnya dunia. "---Saya hanya ingin melihat rembulan tetap bersinar di malam hari, Putri."
Lucy merasa bersalah, apa karena ia, jadinya Alabasta terlalu lama menutup langit. Sehingga mahluk legenda penjaga Ratu Darkness World merindukan satu-satunya mutiara indah di malam hari.
"Aku----"
"Putri, kita harus segera pergi gerbang itu tidak akan bertahan lama." Molie mencoba menarik perhatian, sehingga Lucy kembali fokus pada tujuan nya.
"Segeralah pergi Putri, lakukan apa yang ingin anda lakukan---Biar selanjutnya saya yang akan membimbing."
Molie melompat memasuki gerbang portal dimensi, sedangkan Lucy menatap heran kearah Luna----yang tetap tinggal di Darkness World. Apa maksud dari ucapan nya?
Saat berhasil melewati dimensi, hal pertama yang Lucy rasakan adalah udara yang jelas jauh lebih buruk daripada di Darkness world. Saat itu Lucy menatap merinding. Bagaimana tidak jika saat ini Bumi seperti terkubur dalam kegelapan.
Apalagi mahluk besar utusan Octopus yang mencoba menjarah seluruh Dunia, menyerap dan menangkap Manusia untuk di ambil sari kehidupan. Akibatnya kecelakaan lalulintas serta jatuhnya pesawat tak dapat terelakan.
Satu hal yang sedang di pastikan mahluk raksasa itu. Mereka tengah mencari apakah masih ada Manusia yang memiliki bakat seperti Carzie, kekasih Seleni Thea. Jika memang ada, Octopus akan menciptakan ide lebih gila untuk memperbudak mereka, menciptakan sihir gelap yang saling beriringan dengan kekuatan Krhanos.
Dan bila tidak menemukan nya mahluk raksasa itu akan merubah mereka menjadi patung dengan jiwa yang sudah terhisap.
"Dewa tua itu sudah sangat gila mengirim bangsa Troll---sepertinya jenis mahluk yang berbeda. Ah! apa pun itu. Tapi ini keterlaluan, Manusia adalah kaum yang netral, mengirim mahluk besar itu sama saja seperti melakukan pembasmian secara besar-besaran."
"Itu sebabnya Octopus harus segera di hentikan."
__ADS_1
"Kenapa Pria kejam itu bisa menjadi Dewa sih?!!" Lucy sangat marah melihat semua penderitaan alam.
Lucy mencoba mengatasi mereka. Ia menghadirkan busur panah dari tongkat Robin, menarik kuat anak panah dan membidik kearah kristal stone yang menyimpan jiwa manusia. Anak panah yang di lepas melesat cepat dan menghancurkan titik sasaran nya.
Raksasa itu pun hancur berkeping-keping. Tapi sangat merepotkan dan begitu memakan waktu karena setiap dihancurkan mereka akan berkoloni menjadi lebih banyak lagi.
Sepertinya tida akan ada habisnya. Kalau begitu---- Ia pun kembali melihat sahabatnya. "Molie, kita harus segera menuju kuil di belakang kediaman Kakak. Menghancurkan mereka di jantung utama pasti adalah cara terbaik. Karena itu, Krhanos pasti adalah titik penghubung nya."
Molie terbang merendah dan mencoba berpijak tepat di halaman belakang kediaman Wisteria. Lucy melihat sekeliling, semua yang pernah ia ingat tentang tempat ini telah berubah. Hutan di dekat pintu Inari sangat lah berbeda, tanah tandus dan tanaman yang telah mati akibat Miasma menutup album kenangan---dimana Lucy pernah memiliki momen penting di tempat ini bersama nya (Kendric) .
Lucy yang sudah merasa marah pun menjadi lebih serius. Kedua iris mata birunya berkilat terang di kegelapan, ia melangkahkan kakinya yang tanpa alas itu, untuk berpijak di tanah pertiwi.
Sekali lagi atas izin dan kehendak sang Robin. Lucy melindungi dan menumbuhkan kembali hutan di sekitaran kediaman Wisteria. Seakan keajaiban adalah anugrah Robin. Kuil itu menjadi lebih hidup dan miasma yang menelan alam disekitaran nya pun telah menghilang. Lucy meminta alam di negeri sakura itu untuk menunjukan jalan, menuju hutan---Negeri para peri (Roh Suci).
Lucy maupun Molie menaiki anak tangga menuju kuil, tapi di ujung jalannya yang penuh dengan kabut tidak sedikitpun dapat Lucy lihat bahwa di dalam sana terdapat kuil seperti ia datangi dulu. Seakan ia berjalan semakin jauh, apakah mereka terus terjadi looping?
Lucy hampir merasa kecewa jika hal itu sampai benar terjadi. Untungnya peri peri kecil keluar memutari Lucy menyambut dan menyapa kehadiran sosok Robin yang paling di cintai alam. Ia pun lantas mengikuti arah terbang roh suci tersebut untuk melewati kabut yang ternyata---mereka berada di jalan yang benar.
Menatap dengan kagum serta merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat di balik kabut itu. Oh, sungguh hutan menakjubkan seperti yang ada dalam mimpinya sungguh nyata!
Lucy benar-benar berada di tengah hutan asing dengan tumbuhan yang bercahaya serta hewan spirit atau roh suci yang beragam bentuk dan sifatnya. Hanya saja yang berbeda adalah rusa putih yang berada di ujung jalan, karena seingat nya yang menarik perhatian Lucy dalam mimpi itu adalah rusa putih yang terliht seperti pahatan kaca.
"Akhirnya kau memilih takdir mu, Robin."
Lucy menoleh, melihat bagaimana peri kecil yang duduk di ranting pohon tengah menatapnya dengan sangat ramah. Sosok Peri kecil yang sudah sangat lama tidak ia lihat juga.
"Tyrsha?"
"Bukankah aku sudah bilang Negeri Peri begitu indah."
"Apa tempat ini satu bagian dengan Pohon Dunia?"
Tyrsha terbang mendekati Lucy dan duduk di sebelah pundaknya. "Em, meski tidak secara langsung tapi Negeri peri berada di dalam danau---tepatnya di bawah Pohon Dunia. Itu sebabnya Alabasta tidak akan mudah menodai wilayah ini."
"Jika dibawah Danau bukan kah seharusnya aku berjalan di tengah air? Tapi di sini terlihat tidak ada air."
"Tempat ini tidak tenggelam hanya saja danau nya mejadi batas dimensi untuk kedua wilayah. Apa Robin datang untuk Baginda?"
"Benar, aku harus segera pergi ke imorrtal----"
__ADS_1
"Untuk Ritual?"
Lucy terdiam, apa dia mulai merasa menyesal? tidak! itu bukan hal yang harus ia pikirkan lagi. Meski begitu ia masih berharap, jika di kehidupan ini ia berakhir dengan mati meninggalkan nya, maka di kehidupan selajutnya, dimana masa telah berganti. Ia harap pria yang di takdir kan untuknya adalah Kendric seorang.
"Aku akan bertanggung jawab atas tugas ku sebagai Robin."
Tyrsha kembali terbang, " Kalau begitu lewat sini Robin. Aku akan menuntun mu."
Lucy melihat Molie. Mengerti dengan kegelisahan pada Tuan yang ia lindungi. Molie kembali menghapus kekhawatiran di wajah jelita Putri Demon tersebut. "Saya akan selalu berada di sisi anda Putri."
"Terimakasih."
Berjalan menyusuri hutan peri, Lucy terus mencari sosok roh suci yang ada di mimpinya. Tapi tidak sedikit pun ia melihat kehadiran nya. Tyrsha yang merasa ada yang aneh dengan Lucy kembali menghampirinya.
"Ada apa Robin?"
Mendengar panggilan kecil itu, lantas Lucy kembali memperhatikan Tyrsha. "Em...,"
"Katakan saja, apa ada roh suci yang mengganggumu?"
"Tidak bukan begitu. Hanya saja, apa kau pernah lihat roh suci berwujud rusa putih?"
Tyrsha menatap bingung. "Dia bukan bagian dari peri roh suci."
"Lalu?"
"Robin, kau sungguh tidak tahu siapa Rusa putih itu?" Sembari terbang mendekat.
"Tidak tahu, apa seharusnya aku tahu?"
"Tentu saja! Justru sangat aneh jika keturunan nya malah tidak tahu sosok nya."
"Siapa yang kau maksud?"
"Bukankah sudah jelas, Robin harus tahu mengenai Dewi Seleni Thea. Beliau adalah Nenek mu dan juga Rusa putih yang anda lihat di mimpi itu adalah wujud dari Soul Of Life terakhir dan yang tersisa dari pesan akhir hidup nya."
"Kau mengenal nya? Apa dia ada di sini----Tidak, itu mustahil, Ibu bilang Nenek sudah lama tiada."
"Jangan bersedih, karena jiwa nya masih tersisa di hutan ini. Itu sebabnya beliau selalu menunggumu untuk datang ke Negeri peri, karena untuk terakhir kalinya ia ingin menyapa mu."
Melihat Tyrsha kembali menuntun jalan, membuat Lucy berpikir panjang. "Tunggu, aku tidak akan bertemu dengan hantu kan?"
Tyrsha menoleh sembari tersenyum jahil. "Coba anda tebak."
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...