
Lucy duduk di alun alun kota Leryvora memperhatikan bagaimana interaksi para penduduk menghabiskan waktu keramaian menjelang hari besar Imorrtal. Beberapa miniatur lentera dan kiasan bunga Lily menggantung di setiap street pertokoan.
Kedai-kedai mini dan beberapa pedang dari penjuru wilayah baik Imorrtal ataupun Darkness World berbaris di bahu jalan. Keramaian yang jauh lebih meriah daripada karnaval tahunan membuat siapapun menjadi antusias menanti kabar besar pada dunia ini.
Dengan di temani beberapa pasukan bayangan Kendric dari berbagai sudut tak terlihat. Lucy duduk seorang diri sembari memainkan air yang berada di dekat patung Dewi Vernitysha. Hari ini ia ingin menikmati waktu terakhirnya sebelum melepas statusnya sebagai Maharani Rembulan. Tentu saja dia tidak sendiri, Kendric juga akan menemaninya tapi akan sedikit terhalang karena rapat dadakan yang diselenggarakan pada pagi buta.
Ia memahami sosoknya sebagai Kaisar dan tidak akan menggangunya, sebagai gantinya mereka akan bertemu di alun-alun kota pada sore hari, menikmati waktu kencan mereka di Ibukota Leryvora----bukan sebagai kota replika serti dulu.
Dengan melakukan penyamaran, Lucy merubah warna rambutnya menjadi emas persis seperti Kendric. Lalu di balut manis dengan jubah bertudung besar guna menutupi wajah jelitanya. Akhirnya tiba waktu dimana ia bisa merasakan nuansa Ibu Kota yang di ciptakan Mate nya tanpa menyekat batasan atau menjadikan nya sebagai miniatur replika.
"Lucy...," Panggilan hangat itu mengalihkan perhatian Lucy----menatap terpesona pada pria berambut hitam dengan mata permata ciri khasnya'.
"Kendric?" Lucy dapat melihat betapa ia sedang menahan malunya dengan penampilan penyamaran ini. "Aku kira kau tidak akan mau merubah penampilan mu" Lucy mendekati Kendric.
"Ekhem, aku---aku hanya ibgin mencoba warna baru."
"Kau terlihat seperti Kakak." Lucy meledek Kendric.
"Kenapa harus Welliam? Aku ini meniru mu."
"Aku? tapi sekarang rambutku berwarna putih, bukan hitam. Atau kau tidak menyukai penampilan baru ku?"
"Tidak, mau seperti apa dirimu, kau tetap cantik. Hanya saja, warna putih terlalu menarik perhatian."
Lucy tersenyum canggung mendengar ucapan Kendric, karena baginya penampilan rambut hitam dan mata merahnya justru lebih menarik perhatian. Bisa-bisa mereka yang melihatnya---mengira ada wajah baru dari kaum Demon. Tapi dia juga sangat tampan kok, Lucy menyukainya. Oh apa mereka sering-sering melakukan nya saja?
"Jadi, kemana kita harus pergi?" Lucy merangkul lengan Kendric.
"Kemanapun yang kau sukai," Kendric melihat menara jam di Ibu Kota. "----Kita masih punya waktu, sebelum perjamuan makan malam Lucifer Kingdom. Ayah dan Ibu mu pasti akan mengerti jika kita terlambat sedikit."
Lucy terlihat mengangguk senang, ia memimpin jalan. berlari dan menyentuh apapun yang ia lihat menarik, sesekali Lucy membeli beberapa cemilan ringan di kedai lokal tentu dengan memesan sendiri---karena dulu Lucy pernah sempat bingung caranya membeli sesuatu di kedai toko.
Kendric ikut tersenyum setiap melihat Mate nya berlari seperti anak ayam di tengah kerumunan. Mungkin sudah belasan kali Ia menarik Lucy untuk mendekatinya saat beberapa pria terlihat mengincarnya, tapi siapa yang akan berani mendekat jika Kendric menunjukkan tatapan seakan memperingati mereka untuk lebih menyayangi nyawa.
"Ayo kita pergi ke butik Ardela." Ujar Kendric saat mereka bersinggah di sebuah toko kue.
Lucy meletakkan keranjang belanjaan nya dengan berisi Cup Cake, Macaroon, dan beberapa gulali di kasir. "Kenapa?"
"Aku kan belum melihatmu mengenakan gaun pernikahan."
"Em, tidak usah. Bukan kah aku sudah melarang mu datang kemarin, itu artinya aku tidak mau kau melihatnya, nanti tidak jadi kejutan untuk mu."
"Tapi aku penasaran."
"Tahan lah, bukankah besok adalah acaranya?"
"Aku tidak bisa-----"
"Tidak mau, lagian gaun nya masih dalam perbaikan."
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan gaun nya."
"Em---hanya..., yah, aku tidak nyaman di beberapa bagian dan model yang kau pilihkan----terlalu berlebihan." Lucy terlihat berhati-hati dengan ucapan nya karena desain awal gaun nya adalah pilihan Kendric.
"Kau tidak menyukainya?"
__ADS_1
"Bukan begitu, hanya sedikit...., tambahan revisi saja di beberapa hal."
"Lucy----"
"Nona semuanya 450 Yuar." Ujar penjaga toko.
Lucy mengambil kantung belanjanya dan memberikan satu koin gold kepada penjaga toko. "Kau bisa mengambil kembalinya, terimakasih."
Dengan mencoba mengabaikan Kendric Lucy bergegas keluar kedai, dan ketika Kendric mencoba menggenggam tangan Lucy, ia kembali menariknya karena sejak tadi banyak yang melihat mereka. Tapi seakan Kendric hanya tertuju pada Lucy ia tidak menyadarinya, hasilnya Kendric kembali salah paham dan mengira Lucy semakin menghindarinya, padahal sebelumnya mereka sangat dekat untuk berinteraksi.
Apa dia sungguh masih ragu dengan Kendric?
"Baiklah," Lucy berhenti berjalan dan menatap kekasihnya karena sudah berapa kali kendric terlihat kecewa dan menghela nafas dengan sangat berat.
"Tapi, aku tidak mau memakainya. Kita hanya melihat hasil perbaikan gaun ku, bagaimana?"
Kendric mengangguk, "Apa boleh aku menggenggam tangan mu juga?"
Jadi itu juga yang dia pikirkan, sampai sebegitu nya murung? Lucy meraih tangan Kendric kemudian mereka memasuki kereta kuda yang telah menunggu di sekitar mereka dan bergerak menuju toko butik milik Ardela.
Sesampainya di sana, Ardela yang menyadari kedatangan cahaya tertinggi langsung di buat shock dan bergegas menyambut kedatangan mereka yang tak pernah ada dalam jadwalnya. Apalagi sosok Kaisar yang turut hadir, dengan sangat senang Ardela menunjukan ruang khusus di lantai tiga. Disana sudah terdapat gaun pernikahan Lucy yang telah selesai dan terpasang pada sebuah patung.
Kendric menyukai gaun yang ini dan hanya menatap diam mencoba membayangkan bagaimana jika gaun itu melekat dengan sangat sempurna di tubuh Mate nya. Dia memperhatikan secara detail tiap ukiran dan hiasan bunga yang terlihat sangat indah, memang butik Ardela sangat berkelas sesuai dengan rumor yang ia dengar dari Robert.
"Kalau begitu silahkan nikmati waktu anda, Baginda Kaisar, Yang Mulia Putri." Ardela meninggalkan ruangan menyisihkan Lucy dan Kendric saja di dalam sana.
"Ardela bilang, ia dan Tyrsha akan mengirim gaun ku ke kuil suci begitu juga dengan punya mu. " Lucy menjelaskan seakan mengetahui isi kepala Kendric. Ia menutup jendela yang telah menapakkan waktu senja yang hampir memasuki waktu malam.
"Begitu, Kalau-----" Kendric terdiam saat baru menyadari Lucy merubah warna rambutnya menjadi emas seperti miliknya. Karena sejak perjalanan ia tidak mengizinkan Lucy membuka tudung jubahnya, sehingga Kendric juga tidak tahu penampilan lucy berubah.
Kendric mendekati Lucy ia merangkul pinggang Lucy untuk lebih mendekatinya lalau menyatukan keningnya kepada Lucy. "Kau sangat cantik dengan warna rambut ini."
Kedua telinga Lucy terlihat memerah ketika bisikan manis itu menyusup ke pendengaran nya. Yah Lucy juga memang ingin memakai penampilan dengan warna yang sangat selaras seperti Kendric. Toh dia juga merubah penampilan nya seperti Lucy juga kan?
Kendric bergerak mendekatkan diri menyusuri aroma memabukan dari Mate nya dan bergerak mendorongnya mendekati sebuah meja. Kendric melirik Lucy seakan meminta izin untuk melakukannya secara lebih.
Lucy memang tidak memberi respon tapi senyuman kecil darinya sudah menjadi sebuah izin bagi Kendric. Lantas ia pun menggapai pipi Lucy dan mencoba mencium bibir yang sejak tadi ingin sekali ia lahap karena terlalu menggemaskan setiap ia berbicara.
Kendric menghempas tidak perduli apapun di atas meja lalu mengangkat Lucy untuk duduk diatasnya menghadap dirinya dan menikmati moment sunyi yang sangat panas di ruangan tersebut. Ia mendekatkan dirinya menggapai kekasih yang sudah lama meruntuhkan perasaan nya dan menawan hatinya----Kendric pun mulai mencium Lucy.
"Berhenti, Kendric!" Namun di saat ia baru ingin menikmatinya, tiba-tiba saja Lucy mendorong cukup kuat kepada Kendric sehingga ia mundur tiga langkah kebelakang.
"Lucy ada----"
"Diam, dan jangan mendekat!" Lucy segera memotong ucapan Kendric ketika ia mencoba mendekatinya. Tapi Lucy benar-benar tidak bisa dalam situasi seperti ini untuk mendekati Kendric.
Lebih tepatnya rasa mual akibat efek samping dari kehamilan nya meningkat ketika aroma Kendric jauh lebih terasa ketika ia dalam jarak sedekat ini. Lucy kan tidak mungkin muntah disini dan merusak moment ini? jadi ia mencoba menetralisir kan rasa mual nya dengan menahan nya sembari menenangkan dirinya dan tidak mendekat kearah Kendric dulu, sampai rasa mual itu tidak memuncak naik.
Kendric kembali mendekatinya tapi Lucy spontan menepis tangan Kendric yang mencoba meraihnya. Itu karena mual nya kembali memuncak, dan ini sangat tidak nyaman. Ada apa dengan nya padahal sebelumnya ia baik-baik saja berdekatan dengan Kendric.
Tidak bisa! Lucy tidak bisa menahan nya lagi, ia pun bergegas meninggalkan ruangan dengan Kendric yang masih terlihat sangat bingung sekaligus cemas dengan reaksi Lucy yang secara terang-terangan menolak untuk mendekatinya.
Sedangkan di posisi Lucy----Karena ruangan itu tidak memiliki wastafel ia pergi ke kamar mandi di dekat lorong lantai tiga tersebut, dan mencoba meredakan rasa mual nya. Tapi seperti yang ia duga mual nya itu tidak akan sampai muntah dan hanya bereaksi ketika aroma Kendric tercium dengan sangat sensitif.
Sesaat setelah ia merasa lebih baik dan mual itu telah hilang. Lucy kembali ke ruangan nya karena merasa tidak enak meninggalkan Kendric begitu saja.
__ADS_1
"Kendric ada apa?" Tanya Lucy ketika memasuki ruangan, Kendric sudah terduduk di lantai bersandar pada sofa di sebelah meja tadi.
Tatapan nya terlihat jauh lebih buruk dari reaksi penolakannya tadi dan terlihat ada banyak kecemasan di balik alisnya yang berkerut dengan kecewa. Lucu mendekati Mate nya dan duduk di sebelahnya.
"Kendric-----"
"Lucy, apa kau sungguh sudah tidak mencintai ku lagi?"
"Iya?"
"Apa kau menyesal memilihku? Atau aku telah membuat kesalahan, sehingga kau merasa tidak nyaman dengan ku?" Kendric menggenggam kedua lengan Lucy dengan wajah yang penuh ketakutan.
"Jika kau ragu menikahi ku hanya karena perbedaan usia, kau tidak perlu khawatir----aku masih terlalu jauh untuk memasuki waktu tua ku. Tapi kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan ku seperti dulu. Aku sungguh sangat mencintai mu, aku akan melakukan apapun untuk mu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa mu, aku tidak bisa melihat mu bersama dengan pria lain. Tolong tetaplah bersama ku meski itu menyiksa untuk mu---bisakah kau cintai aku lagi?"
Kendric menyerang dengan berbagai pertanyaan dan ucapan tak masuk akal bahkan sangking anehnya Lucy tidak tahu harus merespon seperti apa karena ini sesuatu hal yang tak bisa ia mengerti. Ada apa dengan nya?
"Tunggu, Kendric-----"
"Tidak! Jika pun kau memang meragukan diriku dan mencintai pria lain sebagai pasangan vasilias mu. Aku---aku mungkin bisa membiarkan mu memilihnya, tapi tidak dengan meninggalkan ku, aku pasti tidak akan melepas mu. aku tahu kau benci di kekang tapi aku tidak bisa kehilangan mu." Kendric menggenggam tangan Lucy dengan berbagai ucapan ngelantur nya akibat pikiran kacau Kendric.
"Kendric sebentar----hei, tenangkan dirimu. Ada apa dengan mu, kenapa kau berbicara seperti itu?" Lucy meraih wajah Kendric untuk membuatnya tenang dan hanya fokus kepadanya. "Jelaskan pelan-pelan kepada ku, apa yang membuat mu khawatir---dan, aku ragu untuk menikahi mu?"
"Kau pasti dalam masa dilema untuk menikahi ku. Mereka bilang semua wanita yang akan memasuki hari pernikahan pasti akan kembali mempertimbangkannnya, apakah ia harus menikahi pria tersebut atau mencari pria lain. Apalagi kau seorang Vasellica."
"Apa? siapa yang belang seperti itu?"
"Para mentri ku dan Robert."
"Kendric----maksudku, apa tidak ada pembahasan lain yang kalian runding kan selain hal konyol seperti ini?!"
Kendric menghela nafas " Tapi Licy, beberapa hari ini kau tidak membalas surat ku, kau menghindari ku setiap kita bertemu di istana Lucifer Kingdom. Kau juga tidak ingin aku melihat mu mengenakan gaun, padahal semua pria akan menemani Mate nya mencoba gaun pernikahan mereka. bahakan barusan kau menolak ku untuk mendekati mu---bukankah itu artinya kau sudah tidak mencintai ku lagi? Kau sedang memikirkan kembali apakah aku layak menjadi pasangan Vasilian mu."
Lucy kehabisan kata-kata melihat sikapnya seperti anak remaja yang sedang dilanda cinta kekanakkan di usia muda. Tapi apa pantas seorang Kaisar yang terpandang dengan kegagahannya, goyah hanya karena ucapan tak masuk akal dari para mentri. Terkadang memang Lucy pernah dengar istilah tersebut, tapi itu tidak akan terjadi kepadanya karena untuk apa dia menimbang sosok sempurna seperti Kendric yang secara harfiah-----sudah menjadi list calon suami idaman nomor satu di dunia fana seperti ini.
Lucy tertawa kecil lalu mencium singkat bibir sang kekasih. "Dengar kan aku dan buang jauh-jauh pikiran bodoh mu. Aku tidak pernah ragu untuk mencintai mu, aku tidak pernah berpikir akan meninggalkan mu. Buaknkah aku sudah bilang berkali-kali, bahwa jika aku kembali aku yang akan mencintaimu lebih dari rasa mu selama ini. Menggenggam dan mempercayaimu untuk hidup selamanya dnegan mu, itu sebabnya kenapa aku memikihmu dan menerima laraman mu."
"Lalu bagaimana dengan sikap mu seminggubini?"
Lucy terdiam sejenak, ia punya alasan nya dan itu pasti akan menjadi kabar tak terduga ubtuk Matenya. Tapi ia juga binging bagaimana cara menyampaikannya karena selain rasa bahagia ia juga malu untuk mengatakannya.
"Lucy?"
Lucy menarik nafas sedalam mungkin mencoba menenagkan dirinya lalu menatap Kendric sembari menarik tangannya untuk menyentuh perut ratanya. Kendric awalnya hanya diam saat Lucy melakukannya, namun seakan ia mulai tertarik, Kendricmencoba merasakan kembali---ketika merasakan ada sesuatu yang begitu persis dengannya. sebuah dgejolak manna yang juga persisi dengan miliknya dari dalam perut Lucy. Sesuatu yang mungil tengah bertahan hidup.
Lantas Kendric melihat Lucy dengan banyaknya pertanyaan atas sesuatu yang ia rasakan barusan. Lucy tersenyum ia bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk di atas Sofa sedang Kendric tetap di lantai sembari menatapnya.
"Aku---aku hamil Kendric, Mery bilang usia kandungannya masih sangat muda---10 minggu, dan aku juga baru mengetahuinya kemarin saat sedang mencoba gaun ku. Sebenarnya alasan ku menghindarimu karena itu juga efek samping dari kondisiku saat ini---maksud ku, Mery bilang mungkin karena rasa mual di awal kehamilan ini di picu dari sesuatu hal yang di sukai dan terbalik menjadi sensitif dengan aroma nya sehingga, aku akan mual tiap mencium aroma makanan kesukaan ku, atupun aroma tubuh mu." Lucy melihat kearah jendela mengalihkan pandangannya karena ia pun tengah berpikir apakah penjelasannya sudah cukup baik atau justru aneh?
Selama 20 detik, Lucy masih belum menerima reapon dari Kendric. Ia pun kembali melihatnya dan di sana Kendric justru tengah menundukkan kepalanya, lebih tepatnya ia menyembunyikan air mata yang sudah jatuh membasahi gaun Lucy. Oh, kenapa dia menangis? Apa benar penjelasannya aneh---Lucy memang bukan seorang dokter. terlebih seorang Kendric menangis untuk kabar yang seharusnya membahagiakan ini, tidak kah berarti ada yg salah dari penyampaian nya.
"Kendric, ada apa? apa kau tidak menyukai kabar ini?" Lucy menjadi panik dan meraih sapu tangannya untuk menghapus air mata di wajahnya.
"Tidak, aku senang---aku sangat bahagia Lucy. Sampai rasanya aku tidak tahu harus berkata apa untuk mu. Namun di lain sisi aku juga cemas dan mengenai seorang anak, itu juga membuatku takut karena ini sedikit asing untuk kehidupan ku yang tidak terbayangkan hal seperti ini akan tiba di dalam diriku."
"Tolong jangan salah paham dulu, karena aku bukanya tidak ingin ia lahir. Tapi---yang membuat ku cemas adalah diriku yang mungkin bisa saja berdampak buruk untuknya. Maksud ku, kau tahu kelahiran ku adalah sebuah kesalahan bagi alam, karena diriku Ayah dan Ibu ku harus memiliki akhir yang tragis. Ibu di benci oleh kaum yang ia cintai serta Ayah kehilangan sosok Mate nya. Semua karena diriku, bagaimana jika aku juga membuatnya merasa tidak nyaman karena memiliki seorang Ayah seperti ku?"
__ADS_1
...✧༺ 🍁 ༻✧...