The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Perhaps, not a bad visit


__ADS_3

Hari ini mentari begitu memukau di langit Darkness World, meski seluruh daratan dan perairan harus terselimuti oleh putihnya salju tidak begitu mengganggu matahari yang tengah bersinar.


Beberapa kaum ada yang menikmati musim dingin ada juga yang enggan keluar rumah karena begitu bertolak belakang dengan musim ini, contohnya saja dengan kaum Fairy, Mirach dan juga bangsa Elf.


Mereka yang hidup dengan mengandalkan kebutuhan alam hijau, begitu terganggu hingga tidak punya tradisi khusus untuk menyambut manik crystal salju ini. Padahal sebentar lagi akan ada Festival Astéri Thlípsis, sebuah Festival yang selalu dilaksanakan setiap pertengahan musim dingin.


Akan tetapi kerajaan utama Darkness World atau biasa disebut Lucifer Kingdom, sepertinya akan menyampingkan urusan Festival itu. Karena saat ini pimpinan dunia kegelapan ini tengah mengutamakan tamu besar yang akan segera dibawa oleh Putri cantik dari bangsa Demon.


Puluhan pelayan sejak kemarin siang sibuk mondar-mandir menata dan merapikan kondisi kerajaan dengan sangat baik, mengingat tamunya adalah sosok penguasa besar dari dunia tertuntun akan peraturan alam. Tentu Fedrick dan Welliam sangat tidak mau terlihat rendah dihadapan seorang Dewa yang begitu misterius itu.


Meski Aletha sudah berkali-kali mengatakan tidak perlu menyiapkan penyambutan mewah tapi kedua Demon itu memiliki sikap dan jiwa yang begitu tinggi, dengan kata lain ini adalah perang yang menunjukan status mana yang perlu di hormati.


Entah ini adalah sifat alami kaum Demon yang begitu miring dengan kaum Dewa, atau mereka begitu gelisah karena akhirnya Putri dan adik tercintanya membawa pria pulang ke kerajaan utama.


Bahkan sejak pukul dini hari Fedrick dan Welliam sampai tidak tidur dan hanya duduk bersantai di depan pintu utama, menunggu kedatangan mereka. Lalu bagaimana dengan reaksi Lezzy sendiri sebagai seorang Ibu?


Sepertinya tidak perlu ditanyakan, karena jika Aletha bilang dia pria yang sangat komitmen dengan prinsipnya, tentu itu sudah jadi penilaian plus sebagai calon besannya.


"Ayah, menunggu di luar dengan kondisi dingin seperti ini sangat tidak baik untukmu. Sebaiknya kita menunggu di dalam saja. Welliam juga, tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ini sudah ke-23 kalinya Aletha membujuk kedua Demon keras kepala yang masih bersikeras menunggu kedatangan mereka.


Fedrick mengabaikan bujukan Aletha, ia hanya melihat keatas langit kemudian menatap sekelilingnya. "Matahari sudah begitu tinggi, kenapa mereka masih bekum datang juga?"


"Mungkinkah Dewa itu sengaja membuat kita menunggu lama, Ayah." Welliam dan Fedrick saling melirik berpandangan, "Kalau begitu, minus 10.000 Poin!" Ucap keduanya secara bersamaan.


Seakan apa yang ada di otak mereka menjadi satu paket keduanya langsung menyimpulkan situasi secara sepihak. Sedangkan Aletha menggelengkan kepalanya, tidak kuat dengan sikap kekanakan keduanya. Lagipula kenapa juga harus turun drastis begitu untuk menilai Kendric?


Aletha kembali ke sisi Lezzy yang berada tak jauh dari belakang mereka, dengan langkah yang begitu berat---kesal akan kedua Demon itu.


"Ibu saja yang mengurus mereka, aku sudah lelah memberitahukannya," Celetuk Aletha sambil duduk di kursi sebelah Lezzy.


Lezzy tertawa kecil seraya meletakan secangkir teh yang baru saja ia seruput. "Itu adalah sikap rasa sayang mereka terhadap Lucy. Meski aku juga khawatir, tapi aku tidak ingin mengekangnya seperti anak kecil. Setidaknya aku tidak ingin melihat wajahnya yang sama seperti malam itu."


"Ibu jangan khawatir, meski aku tidak bisa terus-terusan memantau mereka. Setidaknya takdir tidak akan berbohong, karena yang menjalankan hubungan Mate Vasilissa ini adalah mereka sendiri."


"Aku pernah membaca sebuah buku sewaktu di masa kuliah, di buku itu terdapat kutipan sederhana namun terus terngiang."


"Kutipan yang seperti apa?"


" Meski bunga sakura mekar di musim semi, pada akhirnya akan tetap menggugur kelopak bunganya juga."


"Kalau dipikir, bunga sakura selalu mekar saat musim semi, tapi menjadi satu-satunya bunga yang gugur di musim semi. Ibu, itu kutipan yang begitu indah."


"Benar, kan? Yang menanam perasaan cinta adalah dirimu, maka jika kau tersakiti karenanya, itu juga bagian dari anugrah cinta yang harus bisa kau terima. Begitulah maknanya. Awalnya aku hanya menganggap itu hanyalah kalimat kosong, ditulis oleh seseorang yang terlalu mencintai seorang yang menurutnya sempurna. Tapi, saat hal itu terjadi kepadaku, aku begitu sangat bahagia dan juga merasa terluka karena mencintai seseorang."

__ADS_1


"Setelah semua masalah yang telah menyakiti Ibu, apa Ibu menyesal pernah mencintainya?"


"Tidak. Mungkin berpisah bukan pilihan yang tepat untuk kedua belah pihak. Tapi setidaknya itu adalah jalanmu untuk bisa menemukan kebahagiaan," Lezzy menatap punggung Fedrick "Berpisah dengannya selama 2 tahun, menungguku dengan sabar selama 20 tahun pasti begitu berat baginya. Tapi kami tetap bahagia karena bisa bersama kembali, ada begitu banyak cara Tuhan menunjukkan kenikmatan hidup ini dan itu sudah cukup bagiku."


"Meski aku memiliki usia jauh lebih lama darimu, tapi sifat mu yang begitu dapat menilai hidup sangat bijaksana dan terlihat persis dengan Dewi Selini Thea. Seakan saat ini aku tengah melihat cerminannya, kau jauh lebih dewasa dibandingkan aku yang telah lama melihat perkembangan di tiga alam ini Ibu ..."


"Aku sangat tersanjung jika bisa membantumu dalam menyikapi hidup ini, Aletha. Dan aku juga percaya, Lucy bisa menemukan Vasilias-nya dan kuharap Dewa itu bukanlah Mate nya yang salah lagi. Apa menurutmu, Lucy harus tahu?"


"Tentu saja, dia harus tahu mengenai jati dirinya. Ibu terlalu banyak merahasiakannya hingga membuatnya salah paham."


"Kau benar, sesuatu yang begitu besar telah menantinya. Sudah waktunya memberitahukannya, mengenai diriku dan dirinya."


"Ibu benar. Lucy adalah Adik ku dan juga Maharani ku yang perlu ku jaga. Karena dia adalah permata untuk alam ini." Aletha dan Lezzy saling berbagi rasa senang dan kekhawatiran mereka dengan kiasan-kiasan bijak dalam pengalaman hidup yang pernah mereka lalui.


"Mereka datang!"


Lirih Welliam, dan saat Aletha dan Lezzy melihat sebuah pusaran gerbang dimensi, secara bersamaan Welliam dan Fedrick langsung duduk di kursi mereka berpura-pura sibuk dengan urusan mereka.


Beralih posisi pada kondisi Lucy yang begitu gugup menghadap Ayah dan Kakaknya, ditambah kedatangan Kendric begitu sangat mencolok bila di lihat dengan kerumunan pelayan dari balik pilar taman atau jendela yang mengintip kedatangannya.


Apa mungkin Kendric sudah memberitahu Kakak Iparnya sehingga kedatangannya disambut dengan begitu ramai. Kendric menyentuh punggung Lucy, ia pun jadi melihat kearah Kendric dan seketika perasaan gugup Lucy sirna bila melihat senyum kepercayaan dari Kendric.


Mereka melangkah bersamaan menuju pintu masuk Kerajaan. Sesampainya di hadapan keluarganya, Lucy memberi hormat terutama kepada Ayah dan Kakaknya.


"Hm." Fedrick hanya memberi respon singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari papan catur di hadapannya.


Melihat itu Lucy melirik kearah Aletha yang dijawab dengan mengangkat bahu, kemudian Lucy beralih ke Kakaknya. "Salam Agung untukmu, Paduka Lord. Aku----"


"Aku sedang sibuk." Ketus Welliam yang terlihat sedang asik dengan berkas wilayahnya yang ia bawa sendiri.


Aletha tidak habis pikir, padahal sejak tadi mereka berdua yang paling terlihat gelisah. Tapi setelah kedatangannya, kedua Demon ini justru malah pura-pura tidak perduli. 'Dasar aneh ...'


"Lucy, syukurlah jika kau sudah kembali. Apa kau baik-baik saja, sayang?" Lezzy menyambut hangat kedatangan mereka, ia bangun dari duduknya kemudian memeluk anak bungsunya.


"Lucy merindukan Ibu. Tapi ibu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja bahkan ada Kendric yang selalu menjagaku."


"Kendric menjagamu?" Lezzy melihat kearah Kendric yang menunduk sedikit untuk memberi salam kepada Lezzy.


"Saya Kendric Selvattor, memberi hormat untukmu Yang Mulia Alicia."


Aletha terlihat terkejut saat Kendric memperkenalkan dirinya. Ini sedikit aneh, kenapa Kendric tidak menggunakan nama aslinya dan malah memakai nama lain? Sedangkan Lezzy sedikit melirik bingung kearah Aletha.


"Ah--terimakasih telah menjaga Putriku, maaf juga telah merepotkan mu."

__ADS_1


"Tidak masalah untukku. Maaf Yang Mulia, bolehkah kita berbincang di dalam? Aku khawatir Lucy akan sangat kelelahan karena melintasi dimensi yang belum pernah ia lewati."


"Kau benar, maaf membuatmu jadi harus menunggu. Masuklah, kami telah menyediakan jamuan untukmu." sambut Lezzy dengan lembut.


"Terimakasih ..."


Kendric meraih dan menggenggam tangan Lucy, menuntunnya yang sedikit terlihat kelelahan. Mungkin karena besar tekanan kekuatan Kendric yang memaksa untuk langsung membuka gerbang dimensi tanpa harus melewati Apollogiz Dreamchater.


"Aa! MEMEGANG TANGANNYA, MINUS 100.000 POIN!!" Teriak Welliam dan Fendrick saat mencuri pandangan dari sikap pura-pura tidak perduli mereka.


Sontak Lucy, Kendric dan kedua ratu tinggi Darkness World itu begitu kaget. "Beraninya kau menyentuh Putriku di hadapanku, apa kau tidak punya sopan santun?!" Fedrick terlihat menantang Kendric.


"Segera lepaskan tanganmu dari Adik ku, cepat!"


Kendric melirik tangannya yang masih menggenggam tangan Lucy, lalu memandang Fedrick dan Welliam secara bergantian. Perlahan ia lepas genggaman itu dan berpindah kepinggang Lucy menariknya untuk lebih dekat dengannya.


Sontak Welliam dan Fedrick terlihat naik pitam yang tertahan, karena jika di lihat dari wajah Kendric yang terlalu santai berhadapan dengannya begitu membuat kedua Demon ini menjadi shock.


"Jika menyentuh tangan tidak bisa, pasti yang seperti ini bisa. Bukan begitu, Ayah ..., Ka..kak?" Balas Kendric dengan senyum sindiran.


Aletha memukul pelan keningnya. Dia lupa kalau Kendric adalah satu-satunya Dewa berketurunan murni, apalagi saat ini dia adalah Kaisar nya, tentu sikap egonya sebagai Dewa tidak akan mungkin menuruti perintah sembarang kalangan. Tidak perduli jika itu Demon, bahkan Selini Thea sering dibuat kerepotan karenanya.


Tapi masalahnya, jika mereka terus seperti ini, persaingan ini tidak akan ada habisnya. Oh, Aletha harap hubungan mereka akan baik-baik saja.


"Ka---"


"Bisakah kalian berhenti?" Lezzy yang sudah lelah dengan Suami dan Putranya akhirnya angkat bicara, sehingga mereka berdua harus bungkam dengan sangat terpaksa.


"Di luar begitu dingin, mari masuk."


Lezzy menarik Fedrick agar tidak memperburuk keadaan, sedangkan Welliam berjalan mundur menatap menyelidik kearah Kendric yang ditanggapi acuh.


Kemudian memanggil Lucy dengan isyarat tangan. Mau tidak mau, Lucy pun harus mendekati Kakaknya jika tidak ia mungkin akan menentang hubungan ini juga.


Melihat Lucy berjalan berdampingan dengan Welliam. Aletha menghampiri Kendric, "Kenapa kau malah memulai perbedebatan? Tidakkah ini akan buruk untuk bisa dapat restu dari mereka?"


"Apa menurut, jika aku berpura-pura bersikap manis, juga akan di sukai?"


"Kurasa tidak, tapi kuharap kau tidak memperburuk keadaan. Dan juga, kenapa kau mengganti namamu? Mereka sudah tahu siapa kau yang sesungguhnya kenapa masih dirahasiakan."


"Mereka memang sudah tahu, tapi tidak dengan Lucy, jadi kuharap kau berhati-hati dalam membicarakan ku," Kendric berjalan lebih dulu--menyusul Lucy dan keluarganya, sedangkan Aletha terlihat kebingungan.


"Kali ini apa yang akan dia lakukan?"

__ADS_1


--.•o🍁o•.--


__ADS_2