
...Aku mencintaimu, bukan hanya karena siapa kamu. Tapi juga karena menjadi apa...
...diriku saat bersamamu. ...
...- Roy Croft -...
...--, -๐- ,--...
.......
.......
.......
...---...
Lucy menutup buku ditangannya dengan sedikit kasar sembari melempar pelan buku tersebut keatas meja di dekatnya. ini membuatnya frustasi ia menghabiskan waktunya selama tiga hari berturut-turut di perpustakaan ini. Bahkan dirinya keluar hanya untuk istirahat melepas kantuknya di kediaman kamarnya.
Sembari duduk di dekat jendela, ia menyeduh sendiri teh favoritnya dengan memasukkan beberapa bunga Cellon, sebagai pengganti gula yang memiliki aroma harum yang menenangkan pikiran.
Lucy menyeruput teh hangat itu lalu kembali melihat ruang baca pada perpustakaan ini; terlalu banyak buku yang ia kumpulkan hingga tersebar secara berantakan. Padahal Lucy saja baru membaca 87 buku selama tiga hari ini tapi semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan yang ingin Lucy cari, jika ingin melihat satu-satu semua pasti tidak akan selesai dalam waktu seminggu.
"Apa bencana itu tidak pernah tertulis sebagai bentuk sejarah?"
Molie menghampiri Lucy, ia duduk sembari bersandar pada Lucy---bermanja untuk di elus oleh Tuan Putrinya. sembari memainkan bulu lembut Molie, Lucy terlihat tengah merenungkan----menatap lara dengan semua hal yang setiap saat datang secara bergiliran, pesan-pesan yang membuatnya pusing.
Sejak dirinya memutuskan untuk meninggalkan Harlie, semua seakan berubah dan semua menarik paksa dirinya untuk melihat hal yang seharusnya ia ketahui sejak dahulu.
Tapi puzzle teka-teki ini begitu berat untuk ia cerna, jika semua petunjuk datang secara terburu-buru. Lucy lelah bahkan ia tidak tahu lagi kepada siapa dia akan mengatakan semua hal gila yang terjadi kepadanya beberapa bulan terakhir.
"Huft. Aku tidak boleh menyerah. Pati ini situasi yang sangat penting. Akan lebih baik jika aku meminta bantuan Sylvia untuk mencari beberapa buku lain mengenai bencana, kutukan atau semacamnya."
"Anda ingin pergi kemana Putri?"
"Aku akan menemui Sylvia."
"Mungkin Sylvia sedang berada di ruang kerja Yang Mulia, karena biasanya dia menggantikan Yang Mulia untuk mengurusi beberapa administrasi istana dan keperluan lainnya."
"Benar juga, Sylvia adalah kepala pelayan. Kalau begitu, ayo Molie," Lucy pergi menuju ruang kerja Kendric.
Lokasi tidak terlalu jauh dari perpustakaan, dia hanya perlu melewati taman yang menghubungkan dengan halaman belakang luas dan hanya akan ada satu kediaman yang berdiri kokoh di tengah padang saljunya, sehingga tidak akan sulit menemukannya.
Barisan pengawal istana, berdiri dalam selisih jarak dua meter saling memenuhi sisi lorong kanan dan bagian kirinya. Hal ini tentu membuat Lucy sedikit risih, mungkin karena ruang kerja Kendric memiliki dokumen berharga sehingga dijaga dengan ketat.
Ini sedikit membuatnya terbebani karena dia di perbolehkan masuk ke ruangan itu begitu saja. Tapi Lucy mencoba memfokuskan kembali tujuannya datang kesini, toh dia tidak akan mencuri apun dari sana.
Sesampainya Lucy di depan pintu, empat pengawal yang berjaga di sisi pintu langsung berlutut sebagai bentuk hormat mereka kepada Lucy. Melihat itu, Lucy hanya mengangguk canggung dan buru-buru masuk setelah salah satu pengawal itu membukakan pintu untuk dirinya.
Dengan perasaan lega Lucy kembali memasuki ruangan sembari mengamati lingkungan sekitarnya. Kalau di pikir ini pertama kalinya dia datang ke ruang kerja Kendric, meski sudah di izinkan sejak lama tapi akan sangat aneh jika dia menemui Kendric di saat dia sedang bekerja.
Lucy tidak mau nekat seperti Kakaknya yang justru malah memindahkan meja beserta berkas kerjanya ke kamar Aletha, hanya karena tak sanggup menahan rindunya. Yahh, meski dia juga sangat ingin lihat bagaimana Kendric bekerja pasti sangat menawan juga.
Lucy berputar-putar menelusuri ruangan besar dengan memiliki berbagai pintu ruangan di sekitarannya. Satu demi satu ruangan sudah Lucy masuki tapi sosok Sylvia masih tidak bisa ia temui.
Lucy tidak menyerah dia terus berkeliling ruangan hingga keluar balkon dengan Molie yang hanya diam mengikuti tiap langkahnya berjalan.
"Huft," Helaan nafas Lucy terdengar mengeluh dari bibir ranumnya. Sepertinya Lucy sudah menyerah, dia terlihat duduk santai di kursi kerja milik Kendric karena hanya posisi itu yang paling dekat dengannya.
Terlihat; sesekali Lucy memijat keningnya. Itu karena dua hari ini dia tidak bisa tidur dengan baik dan hampir 16 jamnya ia habiskan untuk berada di perpustakaan. Lucy mengamati tiap barang yang tersusun di atas meja Kendric, ini sudah tiga hari tapi dia belum mendapatkan pesan apapun dari Kendric.
Apa perbatasan memang sedang dalam kondisi darurat? Sehingga Kendric telat mengabarinya. Padahal mereka masih berada di satu wilayah sama tapi rasanya hati ini begitu jauh dengannya.
"Apa Kendric istirahat dengan baik semalam?" Lirih Lucy dalam kebosanannya.
Tapi alih-alih akan menikmati kesunyian yang membuatnya bernostalgia mengenai kehadiran Kendric. Molie justru mengacaukannya, ia tidak sengaja menjatuhkan beberapa barang dari atas meja dekat dinding, akibat kibasan ekornya yang cukup panjang dan kuat.
Lucy segera tersadar dan beranjak dari posisinya menghampiri Molie, "Molie apa kau terluka?"
"Aku tidak sengaja menyentuh barangnya."
__ADS_1
"Tidak apa, kita bisa membereskannya. Lain kali berhati-hatilah saat disini, ada terlalu banyak dokumen yang sudah di susun sesuai jadwal, aku takut menghambat kerja Kendric."
"Maaf Putri." Molie terlihat sedih.
"Hei, aku sedang tidak memarahi mu."
Lucy mengusap bulu lembut Molie dengan sangat gemas. Dia kembali merapikan beberapa buku serta furnitur kecil keatas meja, hingga seluruh perhatiannya tertuju pada sebuah kain yang ikut terjatuh dan tertutup dengan barang lain.
Lucy mengambil kain yang ternyata adalah sebuah saputangan dengan ukiran sulaman bunga Lily. Ingatannya kembali berputar disaat Kendric tanpa sengaja membalut lukanya dengan saputangan yang begitu mirip dengan milik Harlie.
"Tuan Putri, apa telah terjadi sesuatu kepada anda? Saya mendengar kegaduhan, apa anda baik-baik saja?"
Suara pengawal yang begitu lantang mengalihkan Lucy dari pikirannya. Buru-buru Lucy membereskan semua barang yang terjatuh keatas meja begitu juga dengan saputangannya. Karena takut menimbulkan kecemasan berlebihan, Lucy pergi keluar menghampiri pengawal barusan.
"Maaf, tadi Rubah ku tidak sengaja membrantakkan barang di dalam."
"Anda yakin tidak ada yang terluka?"
Lucy menggelengkan kepalanya, "aku baik-baik saja."
"Baiklah, tolong berhati-hatilah Putri."
"Baik, terimakasih atas nasehatnya."
Lucy memberi salam formal lalu pergi melanjutkan tujuannya untuk mencari Sylvia, karena saat ini Sylvia tidak berada di ruang kerja Kendric.
...---, ๐ ,---...
Masih dalam pencariannya untuk menemukan keberadaan Sylvia. Lucy sampai mengelilingi hampir setengah dari keseluruhan istana, dia sudah bertanya kepada pelayan dan penjaga yang bertemu pas-pasan dengannya. Tapi arah yang mereka tunjukkan selalu nihil karena Sylvia langsung bergegas pergi ketempat lain.
Lucy juga sudah coba memanggilnya menggunakan sihir seperti biasanya tapi hasilnya juga tidak mendapatkan respon. Alhasil, Lucy justru kelelahan sendiri. Dia sampai menggaruk kepalanya karena bingung harus mencarinya kemana lagi, apa sebaiknya dia kembali ke perpustakaan saja?
"Tidak mau, aku ingin menemuinya sekarang!"
Lucy terusik dengan keributan dari sekumpulan pelayan yang sedang membicarakan sesuatu di halaman belakang. Karena terlalu fokus mencari Sylvia, dia sekarang sampai tidak sadar bahwa keberadaannya telah sampai pada asrama Maidery yang kebetulan memang tidak jauh dengan taman tempatnya sering beristirahat.
Lucy berinisiatif sendiri untuk menghampiri mereka yang terlihat sedang mengalami sebuah masalah. Para Maidery yang menyadari kedatangan Lucy---sesegera mungkin diam.
Bisa Lucy lihat ada tujuh Maidery wanita, dengan enam pelayan lainnya terlihat cemas dan satunya mencoba menahan tangisannya yang bisa di lihat jelas bahwa pelayan itu sedang sangat marah bercampur sedih.
Suasana semakin canggung saat ketujuh pelayan tidak menggubris pertanyaan Lucy karena terlihat ketakutan mengatakannya.
"---Maaf sudah menggangu, jika kalian tidak tahu, aku akan mencarinya di tempat lain."
Lucy berbalik, berjalan meninggalkan mereka. Tetapi salah satu pelayan itu menahan Lucy sampai-sampai wanita itu berlutut memohon kepadanya.
"Putri maaf atas kelancangan saya, tapi---tapi saya memohon dengan sangat dalam kepada anda. Tolong bantu diriku bertemu dengan Baginda Maharaja, saya hanya ingin mengatakan bahwa temanku tidak layak di bunuh---hiks." Wanita itu menangis sejadi-jadinya.
"Saya tahu persis sikapnya, Rahel tidak mungkin memasuki area lantai empat. Rahel, Rahel anak yang baik Putri---hiks. Jadi saya mohon kembalikan dia, saya sudah menunggunya selama tiga hari. Tapi Lady Sylvia justru malah mengatakan dia telah tiada karena melanggar perintah Yang Mulia!"
Lucy terlihat bingung dengan situasi ini, apa yang dikatakan pelayan itu benar-benar tidak dapat ia pahami.
"Maaf atas ketidak sopanan Lily Putri, kami akan segera membawanya ke asrama. Sebaiknya anda kembali-----"
"Tidak! Aku akan mengatakan semuanya kepada anda Putri, mengena kebenaran yang di tutupi Baginda. Putri Lucy anda telah di bohongi---hiks."
"Lily berhenti, apa kau ingin mati di tangan Baginda Maharaja?" Rekan Lily bernama Sullich mencoba menahan Lily agar tidak membocorkan pantangan yang harus mereka jaga.
Karena takut dengan ancaman Kendric, mereka membawa paksa Lily yang memberontak sembari berteriak kepada Lucy bahwa saat ini Kendric sedang menyembunyikan sesuatu hal kepadanya.
"Berhenti!" Lantang suara Lucy memerintah kepada tujuh pelayan tersebut untuk tidak pergi. "Katakan kepadaku, apa yang kau ketahui! "
Keenam pelayan di belakang Lily diam ketakutan, sedangkan Lily memberanikan diri berjalan maju menghadap Lucy yang sedang mencoba mencerna dari masalah ini.
"Putri, ditengah hutan pinus terdapat istana lama Apollo. Setiap dua bulan sekali Baginda Maharaja memerintahkan Maidery untuk membersihkannya, tapi kami di larang untuk mendatangi lantai empat pada istana itu---"
"Lily cukup," Sellich mencoba menghentikan rekannya meski tidak di pedulikan oleh Lily.
"---Apa Putri tahu kenapa hanya lantai empat yang di larang?" Lucy diam karena tidak memahaminya.
"Karena di lantai itu terdapat ruangan yang menyimpan sebuah lukisan wajah Mate Baginda yang telah tiada. Beredar rumor, bahwa Yang mulia memiliki kekasih yang sangat dicintainya, hingga beberapa kali masih sering mengunjungi ruangan itu hanya untuk merenungkan kepergiannya."
__ADS_1
Tubuh Lucy sedikit terdorong kebelakang mendengar ucapan tidak masuk akal baginya. Dia mencoba menyangkal semua ucapan pelayan ini.
"Apa Putri tahu juga, bahwasanya istana itu sering memakan korban hanya karena rasa penasaran pelayan yang mencoba ingin melihat wajah berharga itu. Mereka harus sampai mati di tangan Dewa Robert dan Lady Sylvia, sebagai bentuk hukumannya. Siapapun! Jika ada yang memasuki istana itu, Baginda akan dengan sangat tegas menghabisi para pembangkang---apa anda tahu mengenai sisi kejamnya Putri?"
Lily berulang kali mengeluarkan segala kekesalannya. Dia terlalu depresi dengan kepergian sahabatnya--Rahel. Sehingga ia mengatakan semua hal tentang asumsinya mengenai sosok Kendric kepada Lucy.
"Kenapa kau terus mengatakan Kendric adalah seorang Maharaja? Bukankah dia hanya berstatus Danke. Dan juga kenapa ajudan Robert harus kau panggil Dewa?!"
Ribuan pertanyaan muncul begitu saja di dalam benak Lucy. Sedangkan para pelayan di hadapannya hanya saling berpandangan---seakan asumsi mereka mengenai Lucy yang tidak tahu apapun bahwa Imorrtal adalah dunia para Dewa.
.......
.......
.......
Lucu berlari dengan sangat terburu-buru menuju sebuah tempat untuk meyakinkan sesuatu. Ia tidak perduli pada pandangan penjaga serta bisikan dari para pelayan yang melihat sikapnya yang terlihat kurang berwibawa.
Tapi Lucy sudah tidak memikirkan lagi etiket putri bangsawan. Yan sedang ia cemaskan adalah setiap kata-kata pelayan yang terus memenuhi pikirannya, seakan ia dihantui dengan kalimat tanya dengan jawaban yang sudah pasti---bahwa Kendric menyembunyikan identitasnya.
"Putri Baginda tidak serendah itu untuk menyandang gelar Danke. Beliau adalah Maharaja, Matahari bagi Imorrtal dan seorang Raja bagi para Dewa-Dewi."
"Harusnya anda mengetahui hal ini, karena seluruh daratan Imorrtal pun tahu---hanya mendengar namanya saja, dapat mengenalinya sebagai Dewa paling Agung dan paling tinggi di Imorrtal."
Bohong! Semua yang mereka katakan adalah kebohongan!!
Lucy menaiki anak tangga dan menyusuri koridor istana, menatap lurus sebuah pintu coklat yang terlihat semakin dekat. Pintu yang akan menghubungkannya dengan ruang kerja milik Kendric.
"Beliau adalah Baginda Maharaja, Kendric Athananysous Helios. Dewa Matahari yang menghendaki langit di bawah kekuasaannya serta pemegang kendali atas takdir hidup-matinya, seluruh mahluk hidup."
BRAK!!
Lucy mendobrak pintu itu tanpa menunggu lagi pengawal membukakan pintu untuknya, jangankan menunggu di beri kesempatan memberi hormat saja tidak. Tapi disini Lucy sudah berada di puncak kekesalan serta rasa penasarannya.
"Putri apa ada----"
"Keluar. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun!"
Pengawal itu terlihat sedikit ketakutan saat menatap mata Lucy terlihat marah. Tapi yang menjadi titik fokusnya adalah warna matanya yang sekilas terlihat berubah menjadi warna merah. Karena tidak mau ambil resiko bila melawan, Pengawal itu pun membungkuk hormat kepada Lucy.
"Kalau begitu, ssa--saya akan berjaga di pintu depan Putri." Pengawal tadi pergi keluar dari ruangan tersebut.
Kini tinggal Lucy serta Molie di sana. Terlihat Lucy mendekati meja yang sebelumnya ia bereskan, meraih sebuah saputangan yang menjadi mediator sebagai bentuk jawaban dari rasa penasarannya saat ini.
Karena Harlie seorang Raja lautan, Lucy membuat saputangan untuknya sedikit berbeda. Jika benar ini milik Harlie, dan jika kainnya terbasahi air maka akan muncul sebuah ukiran nama pemiliknya. Karena Lucy pernah menambahkan getah bunga mahoni milik bangsa Fairy, sebagai hadiah ulang tahunnya puluhan tahun lalu.
Lucy berjalan keluar balkon, kalau tidak salah ingat di sana terdapat miniatur air mancur sebagai hiasan. Dan benar saja, sesuai ingatan Lucy, bahwa memang benar terdapat air mancur. Tidak perlu berpikir lagi, Lucy langsung memasukan saputangan itu kedalam wadah airnya.
Dengan penuh harapan ia terus berdoa sembari menggigit kecil bibir bawahnya, bahwa apapun yang di katakan pelayan tadi adalah kebohongan---semua hanyalah asumsi bodoh!
"Jangan, jangan ada nama---" Lucy diam dengan kecewa.
Jemari lentik Lucy meraih saputangan itu dengan gemetaran, saat sebuah nama muncul begitu saja di bawah rajutan bunga Lily. Ia terlihat kesusahan mengatur nafasnya, kedua mata savier nya kembali menitihkan air mata---rasa sakit ini kembali bersinggah, sesak yang sempat hampir membunuhnya dulu, kini kembali memburunya.
"---Pasti ada yang salah dengan airnya. Tidak mungkin, ini bukan nama ...,nama----hiks!"
Lucy mencoba menyangkalnya; bahwa semua akan baik-baik saja, jika dia mempercayai apa yang ia yakini. Akan tetapi, mau di tanggapi seperti apapun, nama yang tertera di sana memang namanya----Harlie Monachol Neptun.
Lucy mencengkram kuat gaun beserta saputangan itu. Isak tangisan yang tidak bisa ia tahan terdengar sangat prau. Ia yakin pelayan bernama Lily itu sedang keliru mengenali seseorang, keliru akan sikap Kendric yang seolah-olah tengah mempermainkan dirinya.
"Pria yang kucintai, pasti bukan seorang Dewa Maharaja. Kendric---hiks, tidak mungkin berniat mempermainkan hidupku." Lirih Lucy masih dengan kepercayaannya.
"---Saat ini keadaan King Harlie sedang tidak baik-baik saja, selepas acara itu dia semakin bertingkah aneh bahkan sesekali melukai dirinya."
"Aku mengaku salah----tapi kumohon jangan berikan hatimu kepada pria lain Lucy."
Tangisan Lucy semakin keras saat ia menyadari bahwa apapun hal yang terasa janggal baginya---selama ini, memang saling berkaitan. Ia sudah di beritahu berkali-kali tapi Kendric terus menutupinya dengan berbagai macam perhatian agar ia tidak cepat menyadarinya.
Molie mendekati Lucy seraya memberikan perhatian bahwa Tuan Putrinya masih memilikinya untuk dapat di percaya. Hanya ada satu tempat lagi untuk membenarkan semua asumsi bodoh yang ia terima hari ini.
__ADS_1
"Molie dapatkan kau menemukan istana Apollo di tengah hutan pinus?"
...----, o๐o ,----...