The Queen Of Vasellica Moon

The Queen Of Vasellica Moon
Grab Me, and Love Me Again


__ADS_3

Hai, sudah 2 bulan author memilih fakum di karenakan masalah dunia real. Lagi-lagi untuk kesekian tanpa akhir author ucapkan terimakasih banyak untuk readrs yang setia menanti cerita ini Up kembali❤


Dan seperti biasanya Author harap sebelum membaca chapter ini, untuk dapat membaca bab sebelumnya agar tidak bingung😊🙏🏻


...---🍁---...


...Kumohon, raih kembali diriku dan jangan pernah menyerah untuk mencintaiku...


.........


.......


.......


.......


...---, 🍁 ,---...


Kendric masih setia bersandar pada pintu kamar Lucy sembari menceritakan semua hal yang menjadi kebenaran atas nama ibunya. Ia berbagi penglihatan pada masa lalu kelamnya kepada Lucy, membiarkan satu-satunya sosok yang ia izinkan untuk melihat hal terpuruk dari sosoknya yang agung.


Seutuhnya ia tidak begitu membenci kaum manusia tetapi dari tangan belia mereka----ibunya harus pergi. Ia yang tumbuh tanpa adanya pemahaman dari genggam orang tua, menilai sendiri sikap serta peraturan yang ada dari ketiga dunia. Menyimpulkan secara dalih atas rasa sakit yang entah bagaiman hanrus ia mintai pertanggungjawabannya.


Maka, ia hanya bisa menargetkan dalang utamanya dan membalas ribuan kali lipat atas apa yang ia alami. Tapi Kendric tidak berniat membuat Lucy harus memahami masalah yang ia alami, ia hanya ingin Lucy mengerti semua yang ia lakukan hanya untuk membuatnya aman.


Keegoisannya memupuk banyak kesalahpahaman sehingga menarik Lucy kedalam siksaan batin yang di dasari kasih sayangnya. "Kau benar, aku begitu pengecut untuk di katakan sang penguasa. Aku terlalu takut, untuk bisa mengatakan kebenarannya. Kau berhak marah atas apa yang telah kulakukan kepadamu, Lucy"


Bisikan-bisikan atas rasa bersalah mengetuk hingga ke hati Lucy yang berada di seberang pintu tersebut. Semua perkataan Kendric yang menceritakan kebenarannya membuat Lucy merasa bersalah, apalagi semua ingatan yang bisa Lucy lihat mengenai sosok ibunya membuatnya bungkam.


Selama ini mimpinya memang sebuah petunjuk yang mungkin ingin Kendric tunjukan lewat mimpinya secara perlahan-lahan. Begitu miris apalagi kematian yang orang tuanya alami sangat tak adil. Lucy kian membenci sosok Octopus, hal ini membuat Lucy mengerti rasa sakit Kendric jauh lebih berat daripada dirinya.


Lucy pun berdiri, ia membuka pintu kamarnya begitu saja tanpa ada percakapan setelah mendengar semua penjelasan. Kendric yang terlihat kaget hanya diam menjadi kaku, saat melihat Lucy menunjukkan dirinya dengan tatapan yang terlihat marah kearahnya.


Dengan selangkah lebih dekat. Lucy, mengangkat tangan kanannya seakan ingin menampar Kendric. Tetapi Kendric pun tidak akan mengelak jika ini adalah jawaban atas semua kebohongannya, toh tamparan jauh lebih baik daripada melihat kekasihnya hanya diam mengabaikannya.


Kendric pasrah dia pun siap menerima pukulan tersebut saat tangan mungil itu bergerak ia pun menutup matanya seraya mengepalkan tangannya menahan semua rasa bersalahnya.


Akan tetapi, yang ia rasakan bukanlah rasa perih pada wajahnya ataupun dorongan kuat untuk membuatnya menjauh. Melainkan, pelukan hangat yang Lucy tunjukkan untuknya. Dengan menarik sosok Kendric untuk sedikit membungkuk agar bisa Lucy raih.


Kejutan manis yang tidak pernah ia bayangkan membuat Kendric terbungkam saat sosok mungil di hadapannya memeluk erat raga serta jiwanya. Seakan pelukan itu menjadi pukulan yang berbeda untuk menyadarkannya bahwa dia tidak sendirian untuk bisa berbagi rasa keluh kesahnya.


Kendric menjadi sadar bahkan malu pada sikap bodohnya. Malu terhadap pikiran kekanakannya yang selalu mendahului ego Daripada logika.


"Lucy ...,"


"Kendric sudah berusaha dengan sangat keras untuk semua hal yang Kendric cintai. Kau sudah sangat hebat bisa bertahan hingga ke titik ini" Bisikan yang berisi pujian yang ingin sekali ia dengar sejak dulu saat hidup seorang diri untuk kehidupan abadinya, terdengar manis dari mulut mate nya.

__ADS_1


"Kau tidak membenciku, Lucy?"


"-----bukankah aku sudah bilang, bahwa aku tidak akan pernah bisa membencimu. Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu, meski---aku memang kecewa dengan kebohongan mu. Tapi setidaknya, sekarang aku tahu alasanmu melakukannya demi kebaikan kita."


Benar, Kendric berbeda. Meski rasanya sakit di permainkan tapi bukan keinginan Kendric juga untuk mengambil keputusan ini, itu sebabnya Lucy memilihnya untuk menjadi Mate nya. Karena Lucy sendiri pun sadar Harlie tidak akan bisa setulus ini mencintainya, rasa obsesinya ada hanya untuk membalas dendam terhadap kedua orangtuanya.


Lucy melepas pelukan itu seraya meraih wajah pucat dan penuh tekanan yang terlihat jelas dari wajah Kendric. Mau sekuat apapun seseorang menjadi tegar, ada kalanya ia akan berada di titik lelah hingga menjadikannya pling lemah dan rapuh. Saat hal-hal menyakitkan masih tertanam dalam dirinya sejak dini dan tidak akan pernah terlupakan meski seseorang itu telah dewasa sekalipun.


Karena itu, Lucy tahu Kendric pun juga telah hidup dengan membawa beban berat yang selalu ia simpan sepanjang hidupnya dan menjadi sosok gagah hanya untuk menghiburnya sesaat. Lucy pun menjadi paham, bahwa kehidupan dongeng yang sebenarnya adalah kisah hidup mahluk yang mereka lewati seorang diri.


Apa yang ibunya katakan dulu menjadi nasehat dikala ia beranjak dewasa dan melihat pahitnya hidup dengan berbagai macam konflik yang ia lalui. Tapi setidaknya ia menemukan pangeran yang tepat untuk hidupnya. Lucy pun bersalah bahwa apa yang ia lihat tak bisa ia nilai secara sepihak tanpa melihat masalah orang itu sendiri.


"Aku terlalu bodoh untuk mengabaikan pria hebat seprtimu, Kendric. Aku terlau bodoh pernah berdoa untuk kehidupannya, padahal ada sesosok malang jauh lebih membutuhkan pertolonganku. Aku terlalu buta mencintainya. Tapi itu dulu. Sekarang aku hanya akan melihatmu, mempertahankan mu dan berdoa hanya untuk dirimu. Aku yang sudah lebih dulu melukaimu dan kuharap kau juga bisa memaafkan ku atas sikap kekanakan ku di masa lalu."


"Tidak, kau tidak salah. Kita hanya sedang tersesat sesaat sebelum kembali pada titik cahaya yang sebenarnya. Kau maupun aku atau bahkan semua mahluk yang hidup pernah berada di titik ini, jadi bisakah kita memulainya dengan yang baru Lucy? "


Lucy tersenyum, "Hm. Mari lupakan yang sudah terjadi, karena yang perlu kita pikirkan adalah masa depan---kau dan aku akan tetap menjadi sama meski langit telah berubah sekalipun."


Kendric merasa lega, ini tak seberat yang ia kira. Jika saja ia bisa lebih jujur di masa lalu ia pasti tidak akan lebih menyulitkan keadaan. Seakan beban terberat di antara mereka perlahan meringan, Kendric meluapkan segala rasa rindu serta leganya pada sosok mungil di hadapannya.


Memeluk erat sosoknya yang sempat remang. Keduanya saling menyatukan kening menatap lebih dalam, guna memperjelas sosok terkasih di hadapan mereka. Kendric bergerak membelai wajah jelita dari Putri bulan tersebut, perhatian nya kian menjadi obsesi candu saat keduanya saling berciuman. Menyatakan dengan keras bahwa dia adalah miliknya seorang.


"Terimakasih ...," Kendric berlirih bahagia di tengah pelukan rindu diantara mereka.


...---, 🍁 ,---...


Kemarin adalah hari yang berat untuk keduanya namun setidaknya pagi ini jauh lebih baik untuk memulai hubungan mereka yang sesungguhnya tanpa ada kebohongan yang menjadi jembatannya.


Dalam pelukan Kendric, Lucy yang berbaring menghadap sang kekasih terus menatap wajah polosnya saat sedang tertidur. Mengamati tiap senti dari wajah sempurna tampannya, membuat hatinya begitu senang saat ia meyakini bahwa pria hebat serta kuat seperti Kendric adalah Mate nya.


Seakan Lucy tengah melukis wajah Kendric, jari telunjuknya bergerak mengikuti tiap bentuk wajah karismanya lalu berhenti di kelopak mata yang tertutup dengan bulu mata berwarna sama dengan rambut emasnya. Sebagai wanita Lucy sedikit iri dengan bulu matanya yang jauh lebih panjang sehingga keelokannya tak dapat di tolak.


Lucy pun semakin mendekatkan dirinya mencoba untuk memainkan bulu mata menawan tersebut, tanpa sadar hal itu justru menarik jiwa dari sosok pangeran yang sedang terlelap. Dalam sayup-sayup lemahnya dua iris mata permata bagaikan delima memergoki aksi Lucy barusan.


Kendric yang terasa waktu tidurnya terganggu menarik putri bulan tersebut kedalam dekapannya, dengan bersembunyi disela tengkuk indahnya. Lucy cukup merasa geli saat tiap helaan nafas hangat menyentuh lehernya. Tetapu Lucy tidak akan kaget dengan sikap manja sang kekasih, justru Lucy menerima dan ikut membalasnya dengan membelai surai mentarinya.


"Kendric ...."


"Hm,"


"Kita harus bangun, aku masih harus menemui keluargaku. Kemarin aku terlalu membuat mereka khawatir"


"Matahari masih belum terlihat, masih terlalu cepat untuk bangun"


"Hem ..., Kendric jangan mencari alasan. Sekarang juga kita bangun. Lagipula, di luar sudah cukup terik, matahari memang tidak terlihat tetapi tidak ada yang bisa merubah pagi." Lucy memberanikan dirinya untuk merubah posisi dengan duduk di tepi ranjang sembari menyibak selimut.

__ADS_1


"Jika kau mengkhawatirkan ibumu karena pertengkaran kita, hal itu sudah lebih dulu aku selesaikan. Aku yakin ibu mu pasti mengerti"


"Ibu memang sudah memberitahuku semua mengenai Imorrtal dn hubungannya dengan ku. Hanya saja, kemarin aku terlalu keras kepala untuk membahasnya. Apalagi, kau sekarang ada disini bersamaku. Jika Ayah, tahu kau bisa di habisi sekarang juga"


Kendric menyusul posisi Lucy seraya memainkan rambut matenya. "Sebelum mendatangimu aku sudah lebih dulu memberikan pesan tak langsung kepada mereka. Ku akui kalau pesan itu terlambat datang sebelum akhirnya kau menemui mereka lebih dulu"


"Apa kau yakin?"


"Kau tidak mempercayai ku"


"----Aku percaya."


Kendric suka dengan suasana tenang seperti ini tanpa harus merasa gelisah akan topeng perannya yang terlu canggung untuk memiliki sosok Lucy.


"Tetapi kita tetap harus bangun," Lucy menarik tali yang akan memberi isyarat kepada pelayan kastil dengan suara bel sihir untuk mendatanginya.


Tok, tok.


"Yang Mulia Putri, anda sudah bangun. Apakah saya perlu masuk untuk membantu anda"


"Tidak perlu, aku ingin tahu, apakah ada pesan dari kediaman besar?"


"Jawab Putri, beberapa saat yang lalu utusan Lord Besar memberikan pesan kepada anda. Sarapan pagi akan di laksanakan di taman kaca, anggota keluarga kerajaan telah menunggu anda Putri."


"Baiklah, sebelum kau pergi tolong siapkan pakaian ku dan juga setelan formal untuk pria."


"Maaf Putri, tadi pakaian untuk siapa?" Pelayan yang berdiri di luar kamar begitu mencerna baik-baik apa yang dia dengar.


Setahunya tidak ada pria di kediam Tuan Putrinya ini, apa Lord Welliam? Tapi masa Lord mencari pakaian hingga ke kastil adiknya?


Lucy tahu harus menjelaskan sedikit tegas mengingat Kendric datang dengan cara menyusup semalam. Ia bergerak turun lalu membuka pintu kamar sehingga mengejutkan pelayan di hadapannya.


"Itu untuk Mate ku."


Pelayan wanita tersebut lantas melirik---mencoba mengintip sosok mate di dalam kamar Lucy. Dan ia langsung menunduk setelah memastikan sosok Kendric berada diatas ranjang sembari membalas tatapannya.


"Maaf atas ketidak sopanan saya, Putri. Kalau begitu segera saya siapkan. Apakah anda perlu beberapa pelayan untuk membantu merias anda?"


"Tidak perlu, biar aku yang mengurusnya. Kau dapat kembali bekerja setelah mengantarkan pakaian kami"


Mendengar hal itu lantas pelayan di kediaman Estelle bergegas mengerjakan apa yang di pinta Lucy. Sedangkan Lucy kembali membujuk Kendric yang masih pada pendiriannya untuk kembali tertidur.


"Kendric, bangun."


"Aku perlu istirahat sebentar lagi."

__ADS_1


"Kendric!"


...__--🍁--__...


__ADS_2