Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 10


__ADS_3

arzan telah sampai dirumah emma dan kedatangannya memang sudah ditunggu ia pun dipersilahkan masuk.


arzan bergabung duduk yang sudah diisi keluarga emma disana.


dua anak laki laki nya dan Wilson suaminya.


Wilson menyambut arzan dengan ramah begitu pula dengan si bungsu Rafa yang menyambut dengan antusias. lain dengan putra sulung emma yang keliatan cuek tak peduli dengan sekitar.


ngomong ngomong anak pertama emma itu ganteng lho umurnya sekitar 16 tahunan lah.


sisulung emang punya sifat cuek dan pendiam lain dengan Rafa yang pecicilan.


ohya nama kakaknya Rafa itu Rayyan.


skip acara makan pun dimulai dengan suasana hangat. arzan yang serasa kaku karena diperlakukan begitu baik oleh mereka.


singkatnya makan malam telah selesai dan sekarang arzan tengah berada diruang tamu bersama Rafa yang mengajaknya bermain tadi.


sedangkan emma dan Wilson tengah berada dikamar entah apa yang mereka lakukan yang jelas arzan disuruh menunggu disana.


" om main mobil mobilan yuk... " ajak Rafa ngomong ngomong Rafa kembali memanggil arzan om karena takut dimarahi emaknya.


" eh Rafa om itu udah tua masa diajak main mobil mobilan ada ada aja kamu. " ucap Rayyan tiba-tiba yang ikut nimbrung kesana.


sial sebenarnya arzan paling anti disebut tua tapi ya sudah lah lagian mau noyor pala anak orang kan dosa apalagi udah numpang makan tadi.


" biarin lagian om ini juga mau kan.. " ucap Rafa berpose imut didepan arzan.

__ADS_1


arzan hanya tersenyum kikuk dan mengangguk pelan.


" eh om sendirian aja.. istri sama anak om mana kok gak ikut dibawa. " tanya Rayyan mengabaikan adiknya yang sudah kesal.


emang benar-benar ya mau jawab apa coba kalo bilang single bisa dibilang gak laku.


" eee... om... masih sendiri.. " untuk kali ini entah apa arzan itu jujur mungkin gak muat lagi nampung dosa berbohong.


" ciahhhahaha... yang benar aja.. om seganteng ini masih belum punya istri..." tanpa merasa dosa Rayyan menertawai si om ini.


yah arzan hanya terima nasib walau dalam hati pengen nendang anak ini.


" pasti gak ada yang mau sama om yaaa... haha.. om pasti jelek... " si bocah ini juga ikut ikutan sekarang.


" bukan jelek Raf tapi takut ama om ini mungkin... ahahaha... " tambah Rayyan.


tunggu tunggu kenapa arzan jadi bahan buli bocah bocah sekarang.. dasar kurang ajar.


" ohya om kalo om mau ada tu tetangga disamping rumah ku.. tapi janda anak lima udah nenek nenek pula... ciaaaahahahaha... " perasaan Rayyan orang nya pendiem kenapa tiba-tiba jadi banyak ngebacot.


si Rafa bocah itu juga tertawa ikut ikutan dengan kakaknya.


sabar arzan sabarr... mereka cuma anak kecil jadi mohon dimaklumin lah.


ini si emma sama Wilson sengaja apa ya ninggalin dia sendirian supaya dijadiin bahan bullian anak anaknya.


baru ingin mengumpati suami istri itu mereka pun muncul dan bergabung duduk disana.

__ADS_1


" heh kalian kenapa ketawa ketawa apa yang lucuu... " tanya Emma melihat kedua putranya kesenangan begitu sedang kan arzan bisa dipastikan dia adalah korban dari anak-anaknya.


" udah ya kalian main sana dulu orang dewasa mau bicara... " ucap wilson menyuruh anaknya pergi.


kakak beradik itupun pergi meninggalkan orang orang dewasa disana.


" maaf ya menunggu lama.. " ucap Wilson duduk disofa itu diikuti istrinya.


arzan tersenyum mengangguk sebenarnya ia ingin bertanya apa yang mereka lakukan namun hal itu terkesan tidak sopan.


" terimakasih ya telah memenuhi undangan kami untuk malam ini dan semoga setelah ini kita bisa jadi teman atau saudara mungkin. " lanjut Wilson membuka pintu silaturahmi.


" saya juga berterimakasih banyak.. telah menjamu saya seperti tadi.. " balas arzan.


" meskipun aku harus jadi bahan bulllian anak anak kalian tau.. " batin arzan.


" hah... andai saja nadia masih ada dan kami menikah waktu itu pasti anak kami sudah seumuran dengan putra sulung kalian. " ucap arzan sendu dan mereka pun bisa merasakan kepedihan yang pria itu rasakan.


" kau bisa menganggap anak anak kami sebagai anakmu juga... " ujar Wilson memegang pundak arzan.


oh tidak terimakasih arzan tidak mau jadi korban bulli lagi.


" ini sudah takdir... " lirih emma yang juga merindukan sosok sahabat nya itu.


" sudahlah jangan bersedih kita hanya perlu mendoakan semoga saja ia tenang dialam sana.. " ucap arzan mengikhlaskan meskipun jauh dari lubuk hatinya ia menginginkan sosok itu kembali.


malam itu diisi dengan percakapan orang dewasa di rumah emma dan arzan menjadi lebih akrab dengan keluarga mereka.

__ADS_1


sejenak ia melupakan bebannya dan mencoba bahagia dengan hal sederhana seperti sekarang dengan punya teman cerita.


sebenarnya yanza juga bisa menjadi teman cerita arzan namun pria berdarah Amerika itu jarang serius membuat arzan malah naik darah jika curhat padanya.


__ADS_2