Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 98


__ADS_3

7 bulan kemudian.........


" owee... owee... owee... " Tangisan bayi begitu menggema di sebuah ruangan bersalin.


Mendengar itu Haris yang menunggu diluar mengucapkan kata kata syukur dan lega karena bayi mereka bersama Erin telah lahir dengan selamat.


" syukurlah ya tuhaann... Anakku.. " lirih Haris dibalik anakku.


Dirinya baru saja sampai kemari setelah menyelesaikan rapat dengan terburu buru. Mendengar Erin yang akan melahirkan hatinya sungguh bahagia padahal ini bukan pertama kali untuk dirinya.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan seorang bidan yang baru saja menangani proses lahirannya Erin.


Langsung saja Haris menerkam bidan tersebut dengan beberapa pertanyaan.


" bagaimana keadaan istri saya dan anak saya Bu bidan.. " tanya Haris.


" syukurlah ibu dan bayinya sehat dan selamat sekali lagi bayinya laki laki.. " ucap bidan tersebut tersenyum.


" terimakasih ya tuhaann.. bolehkah saya masuk.. " tanya Haris.


" ya tentu silahkan.. " ucap Bu Bidan mempersilahkan ruang untuk Haris.


Didalam terlihat Erin yang terbaring bersama bayi mungilnya yang begitu menggemaskan, sungguh Haris bahagia sama seperti saat menyaksikan kelahiran Angga dan Chika namun tidak dengan Anita yang diabaikan begitu saja setelah memperjuangkan hidupnya untuk melahirkan buah hati mereka.


Haris menghampiri Erin dan mencium kening sang istri lalu memandang putra bungsunya dengan perasaan terharu.


" terima kasihh.. " senyum Haris diangguki Erin.


Sedangkan ditempat lain yaitu ditempat Arzan dan Eisya.


Mereka juga sedang di iringi kebahagiaan karena sedang merayakan acara tujuh bulanan Eisya.


Pasangan itu terlihat begitu serasi saat duduk berdampingan, apalagi Eisya yang semakin terlihat anggun dengan pakaian seperti itu.


Keduanya selalu tersenyum bahagia dan tak lupa mengabadikan momen kebahagiaan itu.


Tuan dan Nyonya Rahendra begitu senang karena sebentar lagi cucu dari anak tunggal mereka akan segera melihat dunia.


Arzan juga tak sabar menjadi sosok ayah, setiap hari dirinya selalu berlatih untuk menimang bayi bahkan tiada hari tanpa membawa pulang mainan yang begitu banyak.


Setelah melakukan USG perkiraan bayi mereka berjenis kelamin laki laki, Arzan meloncat senang mendengar nya dan tak hentinya mengajak calon bayinya itu bermain meski masih didalam perut sang ibu.


Tak sabarnya melihat malaikat kecil itu lahir kedunia, ingin sekali melihat bagaimana rupanya. Penantian selama 40 tahun ini akan segera berakhir setelah ada sosok kecil yang memanggilnya ayah.


Uuhhh... seandainya besok saja Arzan benar benar sudah tidak sabar.

__ADS_1


" uuummm sebentar lagii gadis kecil ini akan menjadi seorang ibu hmm... " ucap Emma yang juga hadir diacara itu.


" aku sudah besar Tante buktinya aku akan menjadi seorang ibu.. " senyum Eisya membuat Emma gemas sekaligus terharu lagi lagi teringat pada sang almarhumah sahabatnya.


" selamat broo.. " ucap Yanza pada Arzan.


" terimakasih dan semoga cepat nyusul juga yaaa.. hehe.. " balas Arzan.


" tenanggg...!! lagi ngisi kok... " bisik Yanza pada Arzan.


" wiiihh seriuusss...!! jagooo emang. " balas Arzan.


" semoga perempuan ya biar bisa kita jodohin.. heheh.. " lanjut Arzan.


" gak mau ah pasti kelakuannya sama kayak bapaknya nanti.. " cibir Yanza bermaksud bercanda.


" ouuwwhh pasti dong.. " ucap Arzan merasa bangga.


" heh pake bangga lagi.. " Yanza menggeleng gelengkan kepalanya frustasi.


Skip dulu acaranya sekarang kita akan beralih ketempat orang yang sudah menghilang sejenak.


Yaitu Pak Pramanan.


Selama ini beliau memang tidak menampakkan diri setelah terakhir kali mengunjungi rumah Haris.


Berbulan bulan beliau begitu sabar dan tulus menemani istrinya untuk berobat sampai pada akhirnya sembuh walau belum sembuh total.


Tak jarang juga beliau mendapatkan penolakan sampai dilempari istrinya namun hal itu tidak membuat Pak Pramanan putus asa bahkan semakin semangat untuk membalaskan dendamnya setelah sang istri pulih.


Seperti sekarang Pak Pramanan sudah bisa membawa pulang Bu Susan untuk tinggal bersama nya dan merawat istrinya dengan penuh kasih sayang meskipun sering kali diabaikan.


Trap...!!


Pak Pramanan meletakkan bubur dan air minum untuk menyuapi istrinya yang tengah duduk santai disofa.


" makan dulu yaaa... " lembut Pak Pramanan lalu menyuapi istrinya.


Sedetik...


Dua detik...


Tiga detik...


Empat detik...


Pak Pramanan tersenyum karena kali ini dirinya direspon dengan baik.

__ADS_1


Menunggu bubur itu sampai benar benar ditelan lalu Pak Pramanan kembali menyuapi nya.


Lagi lagi Pak Pramanan tersenyum karena direspon dengan baik.


Pak Pramanan mengusak rambut istrinya yang semakin memutih, dan karena itu Bu Susan memandang kearah suaminya membuat Pak Pramanan was was.


Kedua sudut bibir milik Bu Susan tertarik keatas membentuk sebuah senyuman dan hal itu tentu menjadi suatu kebahagiaan yang berarti untuk Pak Pramanan.


Melihat senyuman istrinya untuk yang pertama kalinya setelah bertahun tahun senyuman manis itu hilang.


" terima kasih... " lirih Bu Susan seketika itu juga Pak Pramanan menitikkan airmata dan langsung memeluk istrinya.


" hiks.. aku yang harusnya berterima kasih karena kau telah menerima kehadiran ku..!! Terima kasih sayang.. " ucap Pak Pramanan mengecup kening sang istri.


" jangan pergi lagi... aku kesepian..!! Anakku telah pergi untuk selamanya jangan sampai kau juga menghilang lagi.. " lirih Bu Susan.


" iya sayang.. " ucap Pak Pramanan.


" terimakasih kau telah sembuh sayang dan setelah ini aku bisa melancarkan rencanaku.. Tunggu saja Arzan Ralvian.. " batin Pak Pramanan.


" mau lagi dong.. " pinta Bu Susan manja.


" ouuhh baiklah maafkan suamimu yang sudah tua dan sering lupaa.. " ucap Pak Pramanan membuat Bu Susan tertawa.


Kembali ke tempatnya Arzan dan Eisya.


Acara itu masih berlangsung dengan begitu meriah dan Eisya sudah melakukan semuanya sedikit membuat dirinya kewalahan namun tergantikan dengan senyum semua orang.


Sayang sekali Tante Meri selaku satu satu keluarga nya tidak bisa hadir dikarenakan harus ke tempat Erin yang akan melahirkan.


Kembali mengingat bagaimana ia berpikir jika Erin melahirkan anak tanpa seorang ayah dan sekarang di luar perkiraan Haris malah mau bertanggung jawab.


Melegakan sekali rasanya namun sedikit merasa tidak enak karena ia tidak ikut menemani sepupunya itu melahirkan.


" hei kok diem aja.. " Arzan mengagetkan Eisya yang sedang melamun dengan menoel pipi istrinya itu yang semakin berisi.


Eisya tersenyum dan merebahkan kepalanya didada bidang Arzan.


" pasti capek ya.. " tanya Arzan mencubit gemas pipi istrinya.


" engga kok cuma lagi bahagia aja, sebentar lagi kehidupan kita akan sempurna. " jawab Eisya.


" nanti waktu aku melahirkan, kamu harus ada disamping aku dan menjadi orang pertama yang menggendong anakku.. " ucap Eisya.


" pastinya dong, lihatlah nanti kita akan menyambut kelahiran anak kita ini dengan begitu meriah, sekalian nanti kita bikin foto bertiga dengan ukuran bingkai yang begitu besar. " tutur Arzan.


" tetap bersama ya jangan kemana mana, kita besarkan anak kita kelak sampai ia dewasa. Aku tidak sanggup merawat nya sendiri. " ujar Eisya.

__ADS_1


" iya sayang memangnya aku mau kemana tanpa kamu.. " balas Arzan dan mereka pun tersenyum bersama.


__ADS_2