Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 42


__ADS_3

Kini dua orang pria dan satu wanita beserta bayi kecil di gendongan wanita itu sedang berada didalam mobil menuju suatu tempat yaitu rumahnya Haris.


Saat menyiapkan barang dirumah sakit tadi Arzan menelpon Yanza untuk datang membantu karena dia adalah orang yang tidak dicurigai Haris ketika mengantar Anita kerumah.


Sebenernya waktu diawal Yanza penuh tanda tanya tentang semua ini namun setelah menceritakan semuanya tanpa tertinggal ia pun mengangguk paham dan bersedia membantu.


Arzan menyuruh Yanza untuk berhenti sedikit berjauhan dari perkarangan rumah Haris dan turun disana untuk menunggu karena kehadiran nya pasti ditentang dirumah itu.


Setelah menurunkan Arzan mobil itu pun lanjut mengemudi sampai memasuki perkarangan rumah mewah itu.


Melihat kedatangan mobil itu para bodyguard yang berjaga jaga didepan pintu sudah bersiap siap jika sesuatu mencurigakan terjadi.


Yanza turun lebih dulu lalu memutari mobil membukakan pintu disebelahnya.


Keluarlah Anita sambil menggendong bayinya yang dibalut kain khusus bayi.


Yanza kembali menutup pintu mobil setelah mengambil barang barang didalamnya.


Mereka lalu berjalan masuk tanpa mempedulikan para bodyguard yang sudah terdiam tak berani mengusik karena tau Anita ini istri bos nya.


Yanza menaruh tas besar itu disofa lalu duduk sejenak sambil menunggu Anita kembali dari menidurkan bayinya dikamar.


Tak lama kemudian Anita pun kembali dan langsung saja Yanza bangkit dari duduknya.


" sekali lagi terimakasih sudah mengantar saya.. " ucap Anita menyunggingkan senyum.


Yanza mengangguk kikuk dan tak sengaja sedikit tersipu dengan senyum manis istri orang ini.


" sama sama... kita memang harus saling membantu sesama.. " balas Yanza juga tersenyum.


" ah kalau begitu saya permisi.. " lanjut Yanza mengundur diri.


" apa tidak mau saya hidangkan minum dulu, mas pasti capek... " tawar Anita.


" eee.. tidak usah lagipula saya juga harus menjemput Arzan yang pasti sudah menunggu disana.. " tolak Yanza lembut.


" oh baiklah... hati hati di jalan.. sekali lagi terimakasih... " ucap Anita.


" iyaa.. s-saya pamit dulu.. " laki laki itupun pergi darisana dengan jantung yang degdekan entah kenapa seakan terpanah hanya karena senyum wanita beranak tiga itu.


" laki laki itu baik sekali... andai suamiku juga seperhatian itu... akhh.. aku mikir apa sih.. ngaco.. ohya aku harus cari tau dimana Eisya disembunyikan..eummm... mungkin dikamarnya yaaa... oke baiklah... " monolog Anita lalu menuju ke kamar Eisya sebelum suaminya kembali pulang.

__ADS_1


Langkah wanita itu berhenti didepan pintu kamar Eisya lalu memutar knop pintu yang tidak terkunci lalu masuk kesana.


Alangkah terkejut ia melihat Eisya yang terbaring lemah dengan infus yang menancap dipunggung tangannya, apa saja yang sudah suaminya lakukan pada gadis itu sungguh keterlaluan sekali.


Dirinya mendekat dan mencoba berbicara pada gadis yang berada di alam bawah sadarnya.


" maafkan... aku... hiks.. maafkan kelakuan suamiku.. hiks.. kau pasti sungguh menderita dibuatnya... sampai kau harus terbaring seperti ini... aku janji akan mengeluarkan mu darisini... aku akan membantu mu untuk kembali pada orang yang kau sayangi... tenanglah aku kembali kesini untuk membantu membebaskan mu dari pria kurang ajar itu... " tutur Anita sambil mengelus kepala Eisya.


Beralih pada dua orang pria yang sudah berada dimobil menuju kembali ke rumah mereka.


" eh Zan... eeee... ternyata cantik juga ya istri Haris itu.. bodoh banget sih tu orang.. punya istri secantik itu malah disia siain.. kalau gue jadi dia... huh... bahkan seekor lalat pun akan kubunuh jika mendekatinya.. " oceh Yanza sambil menyetir.


" kenape loo... naksir sama istri orang... cieeee... udah mulai jatuh cinta yaa.. " goda Arzan.


" ihh... enggak lah g-gue tu cuma kagum ajaaa... " bantah Yanza walau fakta tapi dirinya sungguh malu untuk mengakui.


" kaguuuummmmm... beda beda tipis lah sama cinta.. cieee..... "


" apaan sih lo.. " kini wajah pria berumur itu terlihat memerah karena menahan malu.


" tenang Yan... lo masih punya kesempatan kok karena bentar lagi mereka cerai dan lo.. langsung tancap gas aja.. "


" bisa diem gak.. " kesel Yanza dan Arzan malah tertawa terbahak bahak disamping nya.


" tapi ya gitu.. lo sih beruntung dapatin Anita yang udah cantik baik lagi sedangkan Anita pasti kena musibah dapetin cowok tengil kayak lo.. ahaha.. becanda kok.. ahaha.. " lanjut Arzan dan tertawa.


" kampret lo... " cibir Yanza.


Begitu lah percakapan mereka dimobil saling lempar ledekan sampai akhirnya berhenti juga mobilnya karena telah sampai rumah.


Pinginnya sih lanjut gelut tapi gak jadi karena liat mami udah megang sapu dengan ancang ancang akan menyerang, jadilah mereka ke kamar masing masing.


Sepertinya kedua om ini tak kan dewasa sebelum menemukan pendamping nya.


Kelakuan kayak bayi padahal udah bisa bikin puluhan bayi tapi sayang gak ada pasangannya buat bikin.


Singkatnya malam hari telah tiba dengan kedatangan bulan yang menggantikan matahari ditemani ribuan bintang. Langit malam sudah terang karena sinar bulan namun tak cukup indah tanpa kehadiran bintang.


Kehadiran bintang akan selalu bersama bulan beda dengan matahari yang tidak bisa bersatu dengan bulan atau bintang karena jika itu terjadi maka mala petaka akan datang.


" aku tidak ingin jadi matahari dengan kau yang jadi bulannya karena mereka tidak akan pernah bersatu... namun aku juga tidak mau menjadi bintang karena bintang bukan satu-satunya... " lirih Arzan menikmati semilir angin malam menerpa wajah tampannya karena sekarang ia berdiri dibalkon kamarnya.

__ADS_1


Lalu dirinya beralih menatap kalung ditangannya yang entah sejak kapan ia pegang.


" sebentar lagi kamu akan menemui pemilikmu.. " ucap Arzan pada sebuah kalung.


" baik Nadia maupun Eisya.... aku mencintai keduanya.. hanya saja Nadia adalah masa laluku yang sudah tinggal kenangan sedang kan Eisya adalah masa depan ku yang harus ku kejar.. " kata Arzan pada angin.


" lihatlah aku masih menjaga gelang pemberian mu... sudah dua puluh tahun.. bahkan ditoko toko sekarang sudah jarang dijual seperti ini... gelang ini adalah kenangan terakhir darimu.. Nadia sahara... " lirih Arzan sambil menatap gelang yang terikat ditangan kanannya.


Disaat saat mengenang kenang kenangan nya tiba-tiba ponselnya berdering disaku celana dan langsung saja ia menjawabnya karena itu panggilan dari Anita.


" haalooo... " sapa Arzan dahulu.


" ................. "


" ah iya salam kenal juga.. ohya ada apa.. apakah ada hal yang mencurigakan dari Haris... "


" ...................................... "


" syukurlah gunakan kesempatan itu dengan baik karena Haris sudah mengizinkan mu. "


" ............. "


" apa itu katakan lah.. "


" ........................................................!! "


" sial kurang ajar sekali dia... pokoknya kau tenang saja tetap awasi gerak gerik nya dan pada saat yang tepat aku akan datang membawa Eisya keluar darisana. "


" ....................................... "


" iya kau tenang saja sekali lagi terimakasih atas infonya... "


" .............. "


" hmmm baiklah... "


" ........................ "


" ah iya oke.. silahkan. selamat malam. "


Panggilan pun diakhiri oleh keduanya, lalu Arzan memasukkan kembali ponselnya kesaku celana.

__ADS_1


" awas saja kau brengsek.. berani beraninya membuat keadaan Eisya seperti itu.. awas saja aku akan membalasnya dan membuat mu yang terbaring disana... satu lagi aku akan membalas dendam atas apa yang kau lakukan pada kekasihku dulu... kau tidak akan bisa lolos dari ku... akan ku selesaikan masalah itu setelah aku membawa Eisya keluar darisana... " ucap Arzan penuh tekad dan keyakinan, satu lagi api dendam sudah membara didadanya atas perbuatan fatalnya pada Nadia entah itu benar atau tidak tapi Arzan yakin kalau Haris memang pelakunya.


__ADS_2