
Sampailah mereka dirumah Arzan.
Eisya terpaku melihat indahnya bangunan didepannya yang dibangun begitu mewah, ini bukan rumah layaknya sudah seperti istana karena saat di gerbang pun ia melihat banyak penjaga.
" i-ini rr-rumah om... " Arzan mengangguk lalu membuka pintu utama yang memang tidak dikunci kalau Arzan belum pulang.
" ayo masuk.... " titah Arzan lalu gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan malu malu.
" mamiii papiii Arzan pulanggg.... " Suara lantang Arzan sedikit berteriak membuat Eisya terperanjat.
Yang dipanggil pun kunjung datang karena awalnya mereka memang sedang diruang tamu yang satunya.
" pulang juga kamu mana belanjaan nya. " tagih nyonya yang memang punya titipan pada anaknya.
" uh ketinggalan dimobil mi. "
" kamu ini oh ya kayaknya kamu bukan pulang sendiri, gadis itu siapa... " tanya Tuan menyadari kehadiran seorang gadis disamping Arzan yang menundukkan wajahnya.
" oooo in-
" owalahhhh Arzan kenapa gak bilang bilang sih kalo mau bawa pulang calon mantu... kan mami bisa siap siap... aduuhh.. " heboh nyonya kesenangan.
" bukk-
" ouuuuhhh ya ampun senang nya akhirnya mami bisa punya mantu terus nanti bisa gendong cucuuuu.... " lagi lagi omongan Arzan dipotong si nyonya.
Arzan melirik Papinya dengan wajah memohon supaya ia dapat kesempatan ngomong.
" mii.. bisa gak sih sekali aja gak usah heboh dengerin dulu anak kita ngomong. " peringat tuan pada sang istri.
sedangkan daritadi Eisya senyum senyum sendiri tak menyangka bisa disambut seperti ini.
" mami senang tauuuu... " jawab si nyonya.
" kenalin ini Eisya... " ucap Arzan pada orang tuanya sambil menunjuk Eisya.
" Eisya fahira....eeee... " sepertinya Eisya kebingungan manggil apa sebab orang tua Arzan sudah berkepala enam.
" panggil aja mami dan papi... " sahut Nyonya.
__ADS_1
" b-baikk.. " balas Eisya mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
deg..........
seketika tuan dan nyonya merasa flashback ke dua puluh tahun yang lalu melihat wajah gadis didepannya karena Arzan waktu itu sempat mengenalkan nadia pada orang tuanya.
" w-wajahnyaa..... " lirih nyonya.
" eeee... nanti kita bahas oh ya mi tunjukin kamarnya Eisya dong biar nanti ku jelasin. " ucap Arzan mengalihkan suasana.
" ayo sayang mami tunjukin kamarnya. " ajak nyonya ramah walau dalam hati ia bertanya tanya siapa gadis ini.
Eisya pun mengekori nyonya dibelakang.
" kok bisa semirip itu..... " tanya Tuan Rahendra yang masih penasaran.
" huh kayaknya aku emang harus cerita dari awal.... "
" yaudah cerita aja...... "
" sebenarnya..................... "
Pagi harinya di rumahnya Arzan.
setelah sarapan Tuan Rahendra dan Arzan berangkat kekantor lalu nyonya dan Eisya sekarang tengah beberes membersihkan meja makan.
" sini nyonya biar saya angkat piring kotornya.... " pinta Eisya lalu mengambil alih piring kotor dari tangan nyonya.
" ck... kamu manggil saya mami dong gak usah pake embel embel nyonya. " Eisya hanya tersenyum kikuk lalu menaruh piring itu di wastafel cuci piring.
sebenarnya memang ada banyak pembantu tapi nyonya senang melakukan ini sendiri apalagi ada yang membantu seperti ini.
" ohya bentar ya sayang mami kelupaan sesuatu dikamar kamu tunggu sini dulu gak papa kan nak... "
" iya nyo eh mami iya gakpapa.. "
" yaudah tunggu ya sayang... " ucap mami lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sembari menunggu nyonya, Eisya pun melanjutkan aktivitas beberes.
__ADS_1
Di pintu utama terlihat pintu terbuka menampilkan seorang berperawakan tinggi masuk ke rumah itu tanpa permisi.
" assalamu'alaikum... mami papi... yanza pulang ni.... " pantas saja tanpa permisi ternyata orangnya ini.
" sepi amat ni rumah percuma rumah gede kalo gak rame lagian tante sama om bikinnya Arzan doang gak niat lebih kek, malah satu anak mereka itu gak bener lagi. " beginilah kalo om satu ini ngomong gak usah dimasukin ke hati.
Langkahnya menuju dapur karena diruang tamu sepi, netra kembarnya terhenti pada seorang gadis yang tengah sibuk beberes di dapur.
" gila kok mami gak bilang bilang punya pembantu baru seperti ini... cakep bener... uuuhh.. gak bisa dianggurin ni.. mungkin ini waktunya saya bertemu jodoh saya. " gumam yanza lalu menghampiri Eisya yang tengah mengelap meja makan.
" ekhemmm neng... eemm pembantu baru disini ya... boleh kenalan gak... " ujar Yanza sambil tebar pesona.
Mendengar itu Eisya hanya mengabaikan dan fokus pada pekerjaan nya.
" kok diem sih... jangan malu malu atuh saya ini baik orangnya kali aja kalo kita kenalan bisa berujung ke pelaminan.. " Eisya semakin geli mendengarnya.
" baru kali mami hebat nyari pembantu... udah cantik rajin lagi... ahh idaman... "
" om apaan sih... " Eisya merasa kesal.
" bukan apa apaan kok... eumm saya ini masih lajang lho udah lama menyendiri hati ini telah sepi beberapa tahun lamanya dan hari ini saya menemukan sosok yang bisa mengisi hati yang kosong ini... jadi apakah kisana berkenan menjadi pengisi hati saya."
PLAKKk.....
" anjing sakit.... " gaduh nya sambil mengelus kepalanya yang tadi menjadi pendaratan sendal.
" najis dengernya ngapain kamu gangguin anak orang. " ya yang tadi melempar sendal adalah ulah si nyonya.
" eh mami... mi kok gak bilang bilang sih punya pembantu secantik ini kalo tau begini kan aku baliknya cepet kesini. "
" sembarangan kamu bilang pembantu... dia bukan pembantu tapi anak mami.. "
" wihh... mami jika dia adalah anakmu ijinkan aku menjadi menantumu... "
" ogah... ayo sayang sini temenin mami duduk di taman belakang yok... " Ajaknya sambil menggandeng tangan Eisya.
" mi... kok tega banget sih... Aaaaaa mami jahat... bosan mi lajang terus.. mungkin dia jodoh yang dikirim Tuhan untukku.. " oceh om itu sendiri.
" gak usah didengerin ya ditolak mulu makanya jadinya begitu. " Eisya cuma cengengesan mendengar nya ternyata hidup dikeluarga ini seru juga, Eisya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang diberikan oleh ibunda Arzan dengan tulus padanya.
__ADS_1
Harusnya hari ini Eisya kembali kerumah tantenya namun ia lupa karena terlalu merasa senang tinggal disini.
Akankah setelah ini Eisya diberi hukuman lagi karena terlambat pulang entahlah Eisya hanya ingin merasakan sedikit kebahagiaan dikeluarga ini.