Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 68


__ADS_3

Pengantin baru itu terlihat sudah berada di mobil hendak menuju supermarket untuk berbelanja seperti yang dikatakan tadi.


Keduanya berbincang riang namun Arzan tetap fokus mengemudi agar tidak terjadi kecelakaan.


Supermarket yang memang dekat terasa beberapa detik saja sudah sampai akibat asiknya mereka bertukar cerita.


Arzan turun lebih dulu lalu dirinya berlari membukakan pintu mobil disebelah nya untuk sang istri.


Sebenarnya Eisya bisa saja membuka sendiri namun Arzan lebih senang melakukan nya untuk orang tercinta.


Keduanya berjalan beriringan bergandengan tangan menuju ke dalam supermarket. Mengambil keranjang untuk menampung belanjaan nya nanti.


Eisya mulai memilih bahan makanan pokok dibantu Arzan, dan tak lupa membeli stok cemilan yang lumayan cukup untuk sebulan.


Ditengah tengah sibuknya memilih belanjaan masih sempat sempat nya mereka bercanda tak peduli menjadi pusat perhatian orang orang disana.


Baiklah biarkan saja waktu mereka berbelanja dulu, sekarang beralih Ditempatnya Erin.


Gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit entah apa yang dilakukan nya yang jelas dirinya tengah berinteraksi dengan perutnya sendiri.


" hah... malas sekali harus sering ketempat ini.. heuuhh.. nasibku kenapa jadi begini.... aarrrhhhh... gara gara kamu tau... ngapain juga kamu harus ada.. " geram Erin sambil memukul mukul pelan perutnya, yaiyalah mana berani mukul keras yang ada malah dirinya yang kesakitan sendiri.


Ditengah tengah interaksinya itu tiba tiba suara klakson motor yang sudah berada didekat nya mengagetkan dirinya.


Gadis itu hampir saja mengumpat kalau tidak melihat siapa orang yang mengagetkan nya itu.


" kaget ya... hehe... maaf... " cengir si pelaku yang tak lain adalah Nicki.


" ngapain sih kamu... gak sopan tau.. " kesal Erin.


" lagian ngapain kayak gitu tadi... bukan salah dia lho... " Nicki memang sempat melihat aksi Erin saat tadi.


" bukan urusan mu.. " ketus Erin.


" eumm... iya sih tapi sebagai manusia yang baik aku cuma mau ngingetin kamu. " ngeles Nicki.


" gak penting... " ucap Erin pergi meninggalkan Nicki walau masih bisa dikejar lelaki itu.


Nicki menjalankan motornya sesuai jalannya Erin yang terburu buru.


" gak usah buru buru gitu, kasian bayinya nanti kalau jatuh... " ujar Nicki dengan maksud peduli namun Erin malah merasa kesal.


" rumah kamu masih jauh lho dan lagi gak ada tumpangan yang lewat.. kalau mesan online kelamaan.. yok mendingan gue anter....... " tawar Nicki.


Gadis itu terlihat tak bergeming sedikit pun dan berusaha menulikan telinga untuk tidak mendengar omongan Nicki.


Satu hal yang harus diketahui... sebenarnya Erin itu cantik namun ketutup sama sifat jeleknya itu.


" kasian bay-


" BISA DIAM GAK SIH... " sentak Erin kasar sudah tak sabar mendengar ocehan Nicki.

__ADS_1


" hiks... gak usah peduliin aku... apapun yang terjadi itu urusan ku... bahkan jika aku mati sekalipun.... tidak usah diurus pun aku terima... hiks.. " lanjut Erin dengan nada lirih serta airmata.


Melihat itu Nicki jadi merasa bersalah dan tidak tega.


" maafkan aku... "


" rasanya untuk hidup pun aku tidak sanggup lagi... hiks.. andai saja aku mati aku akan sangat berterima ka-


" ERIN CUKUP.... jangan katakan hal bodoh itu lagi... " sentak Nicki kuping nya terasa panas mendengar penuturan Erin yang menyayat hati.


" KENAPA KAU MELARANGKU... HIKS.. KAU ITU BUKAN AKU YANG MENANGGUNG SEMUANYA... HIKS... kau tidak pernah tau bagaimana menjadi diriku.. bagaimana tersiksa nya aku bagaimana malu nya aku menanggung semuanya... hiks.. laki laki hanya mau enaknya saja hiks... "


" bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup anakku nantinya tanpa sosok ayah... " lirih nya pilu.


Nicki hanya bisa bungkam dan hatinya ikut teriris merasakan pedihnya kehidupan gadis itu. Namun mungkin itu adalah karma dan jangan salahkan Arzan akan hal ini karena ia pun mencoba melindungi orang yang dicintai nya dari kejahatan Erin sendiri.


" percuma menjelaskan semua ini karena kau juga tidak akan mengerti.. " ucap Erin dan setelah nya meninggalkan Nicki dengan langkah nya.


" Dia memang pernah jahat namun melihat nya begini aku pun jadi tidak tega... semua ini karena pria brengsek itu.... kalau dia tidak ingin bertanggung jawab kenapa melakukannya... dasar baji*****..... " Setelah nya ia pun meninggalkan tempat itu.


Balik lagi ke tokoh utama cerita.


Kini Arzan dan Eisya berada di sebuah restoran, setelah berbelanja tadi keduanya berniat mampir kesini. Sebenarnya bukan keduanya tapi Arzan sendiri yang mengusulkan nya.


" mau dong.... " rayu Arzan melirik makanan dipiring istrinya. Sebenarnya Arzan tak sepenuhnya mau tapi ia hanya berniat merayu sang istri.


" bukan nya aku pelit tapi ini pedas dan kamu itu gak boleh makan pedas.. " ucap Eisya masih teringat penuh akan ucapan ibu mertua tentang pantangan untuk Arzan.


" dari mama mertua... " jawab Eisya menaik turun kan kedua alisnya.


" euummm.... cossswwiitt... tapi dikit aja gakpapa... mauuuu.... " rayu Arzan memanyunkan bibirnya.


" baiklah... tapi hanya sedikit.. " pasrah Eisya.


Dengan wajah riang Arzan langsung mengambil potongan besar lalu dimasukkan ke mulut nya dan menyengir melirik Istrinya dengan wajah tak berdosa.


Melihat makanan nya berkurang banyak gadis itu pun tak terima dan merengut kesal.


" ihhhh kamu gimana sih... kalau minta itu jangan kebanyakan... jadi berkurang kan punya ku... " ucap gadis itu merengut kesal.


" hehe.. habisnya enak... " nyengir Arzan.


" ya terus kenapa gak pesan yang sama. "


Deg


Kalimat itu seperti tak asing terdengar ditelinga Arzan dan ini bukan yang pertama kalinya.


" maaf sayang yaudah pesan lagi.. hehe.. "


" kamu ihh.... "

__ADS_1


Acara makan pun telah selesai dan mereka lalu kembali kerumah. Rumah mereka sendiri tentunya.


Di jalan pulang ketika lampu merah menyala, tiba tiba terdengar hantaman keras dan tepat didepan mereka terlihat sebuah motor yang menerobos lampu merah menabrak sebuah mobil yang sedang melaju cepat dari depan.


Motor serta orang nya terpental jauh sedangkan mobil yang ditabrak juga terlihat parah dengan kaca depan yang hancur pecah.


Dan inilah yang terjadi pada Arzan sekarang entah kenapa ketika melihat kecelakaan itu kepalanya terasa sakit bersamaan dengan kilatan bayangan tak jelas terlintas dikepalanya.


Bayangan yang sama persis seperti kecelakaan barusan dan lagi ada sosok seperti perempuan dan laki-laki yang menjerit kesakitan namun ia tak dapat mengenali siapa mereka.


Sebuah hantaman keras serta jeritan dan tangisan ditambah lagi... ya.. darah yang berceceran.


Lagi lagi sosok perempuan yang menjerit meminta tolong diambang kematiannya.


Semuanya terputar dalam ingatan Arzan namun ia tak dapat melihat wajah itu.


Arzan mencoba menepis rasa sakit itu beberapa kali menggeleng geleng kan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil mengedip ngedipkan matanya.


Eisya yang berada disamping pun dapat menyadari gelagat aneh dari Arzan.


" mengerikan sekali... kenapa langsung menerobos... " ucap Eisya.


" sayang kamu kenapa.. " tanya Eisya saat melirik kearah suaminya.


" hah.. aku... eng-engga papa kok sayang.." jawab Arzan sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan nya itu.


" yakinn... " tanya Eisya lagi memastikan.


" iya sayang... " jawab Arzan meyakinkan namun rasa sakit dikepala nya juga tak kunjung hilang ditambah lagi ada sesuatu dari perutnya yang bergejolak ingin keluar.


Tentu kecelakaan itu mengundang banyak perhatian orang dan kemacetan pun berlangsung lumayan lama.


" hukhhh... " Arzan membungkam mulutnya ketika sesuatu dari perutnya memaksa keluar.


" sayang kamu kenap-


Belum sempat menghabiskan ucapan nya Arzan langsung keluar dari mobil mencari tempat menepi dan langsung mengeluarkan isi perutnya.


Eisya yang melihat nya tak tinggal diam, melihat sang suami yang muntah dirinya pun mengurut urut tengkuk leher Arzan.


" hueekk.. hukkhh.. heukk.. eeuuh... " Perutnya terasa melilit bersamaan dengan muntahannya.


" kamu kenapa sih sayang... " Melihat itu Eisya tentu panik.


" hah... hah... " nafas Arzan nampak terengah engah dan mencoba berdiri tegak sambil memegang perutnya.


" tukan... aku bilang juga apa... jangan coba coba makan pedas.. kamu sih ngeyel.. " Eisya merasa kesal dan khawatir.


Arzan mencoba tersenyum walau sesekali nampak meringis ketika sakit itu datang.


" udah sayang aku gak papa kok.. " ucap Arzan.

__ADS_1


" yaudah yok masuk ke mobil lagi.. " lanjut Arzan dan Eisya menurutinya tak ingin memperpanjang masalah ini apalagi melihat Arzan yang tak nyaman dengan kondisinya.


__ADS_2