
Diruangan kumuh serta gelap layaknya bagaikan gudang disinilah gadis imut itu terikat dikursi ditengah tengah kesadaran nya.
Penampilan nya yang kacau serta tambahan lembam di pipinya membuat nasibnya semakin disayangkan.
tap tap tap......
Derap langkah kaki samar samar mendekati dirinya dan benar saja sosok pria yang ditakuti kini berjongkok dihadapannya.
" bagaimana kabarmu sayang.... hah.. kuharap kau baik baik saja... " sinis Pria itu siapa lagi kalau bukan Haris yang tiba-tiba jadi menyeramkan karena nafsu.
Eisya bisa mendengar nya namun ia memilih diam karena tenaganya tidak mendukung untuk melawan saat ini.
" makanya jangan sok so an mau kabur jika harus tertangkap... ahahaha... perjuangan mu jadi sia sia kan.. " ejek Haris.
" kau pria bejat.. liat saja akan ku adukan semuanya pada istrimu.. " lantang Eisya mencoba melawan.
" hffftttt... ahahahaha.... hahaha... lucu sekali kamu ini... ahahaha... silahkan adukan saja... wanita itu tidak ada gunanya lagi untuk ku... ahahaha... " balas Haris menatap tajam Eisya begitupun gadis itu.
" ternyata kau iblis.. bahkan lebih iblis... kupikir awalnya kau bukan pria mesum kurang ajar seperti ini... aku bersedia menjadi istrimu sesuai perjanjian nya kapan.... tapi belum apa apa kau sudah tidak sabaran... kau memang laki laki bodoh... "
Plakk.....
Pipinya terasa perih setelah mengakhiri kalimatnya karena Haris barusan menamparnya.
" kupikir kau gadis yang hanya bisa menangis... ternyata berani juga mulutmu ini yaaa... " seringai Haris.
" tinggal lah kamu disini.. hah.. " ucap Haris lalu pergi keluar darisana meninggalkan Eisya yang sekarang sudah menangis.
" hikss... kapan hikss... tolong aku ya Tuhan... hikss... om Arzan datang lah kesini hiks.. " adu Eisya walau sendiri.
Dirumah sakit.
Seorang pria yang terbaring diranjang persakitan dengan Kepala terbalut kini masih belum juga membuka matanya setelah ditemukan dalam keadaan mengenaskan.
Beruntung ada seseorang lewat saat itu dan menemukan Arzan lalu dibawa ke rumah sakit, beruntung nya juga para dokter bisa mengabari keluarga pria itu lewat handphone yang tidak diberi sandi dan langsung mencari kontak keluarga pasien.
Disini lah dua pasangan tua yang tak lain adalah orang tua Arzan setia menunggu putranya dan Yanza juga ikut ada disana.
__ADS_1
" piii... kapan anak kita sadar... hiks.. aku khawatir... aku tidak mau kalau anak kita sampai tidur panjang lagi hiks... " khawatir seorang ibu.
" sabar maa.. anak kita pasti selamat... kita berdoa saja... ya... " ucap Tuan Rahendra menyemangati walau nyatanya beliau juga khawatir setengah mati.
" sebenarnya Arzan kenapa sih... kenapa dia sampe terluka seperti itu.. seperti sengaja dilukai gitu.. tapi siapa yang melakukannya.. setauku walau Arzan orngnya nyebelin dia gak punya musuh tu.. " jelas Yanza menurut pemikiran nya karena sempat mendengar dari orang yang menemukan Arzan kalau Arzan ditemukan dengan keadaan kepala yang berdarah seperti dipukuli dengan suatu benda sampai bocor.
" kita tidak tau pasti... tapi ini memang sudah terjadi dan terus saja berdoa untuk kesembuhan Arzan.... dan saat ia tersadar kita akan menanyakan kronologi nya.. " tutur Tuan Rahendra.
" hikss... bangunlah sayang.. ini mama nak.. buka matamu... hikss.. " tangis nyonya sambil menggenggam tangan putranya.
Sedangkan manusia yang terbaring dengan alat alat persakitan tidak bergeming sedikit pun terlalu damai dalam tidurnya.
Dilain tempat tepatnya di sebuah padang rumput luas disinilah sosok yang terbaring itu berada, Dirinya terlihat sehat walafiat mengenakan baju serba putih tengah kebingungan berada disana.
Arzan celingak celinguk memandangi tempat asing ini ditempat yang luas seperti ini kenapa hanya dia yang ada disini tidak ada siapa pun.
Tapi ditengah kebingungan nya tiba-tiba seorang wanita berambut panjang juga mengenakan baju serba putih memanggil dirinya dengan melambai lambaikan tangan kearahnya.
Melihat itu Arzan pun mendekat kearah wanita itu dan perasaan terkejut bahagia menjadi satu saat tau siapa wanita di depannya ini.
Dia adalah Nadia Sahara wanita yang diharapkan kembali walau mustahil.
Grepp...
" kau kembali hiks... aku merindukan mu... aku sangat merindukan mu.. tolong kembali lah.. hiks... kembali lah pada ku... " pinta Arzan menangis memeluk Nadia.
Sedangkan wanita itu terlihat tenang dan melepaskan pelukan mereka.
Sebelum mengatakan sesuatu wanita itu tersenyum dan memainkan rambut Arzan dengan tingkah manja.
" mustahil jika aku yang harus kembali... itu tidak akan pernah terjadi.. hmm... bagaimana kalau kau saja yang ikut aku... kita akan hidup bersama disini.. kita takkan terpisah lagi.. kita akan bersama sama lagi.. " ucap Nadia.
Arzan mengangguk antusias sangat setuju dengan usul kekasihnya ini.
" baiklah.. aku akan ikut dengan mu... bawa aku bersama mu.. kita akan hidup bersama.. takkan terpisah lagi.. " balas Arzan mengambil kedua tangan Nadia dan menciumnya
" hmmm... baiklah.. " sahut Nadia tersenyum.
__ADS_1
Mereka pun berjalan beriringan bergandengan tangan dengan raut wajah bahagia... namun dilangkah berikutnya Arzan samar samar mendengar suara wanita yang sedang menangis ia pun menghentikan langkah nya.
" ada apa... " tanya Nadia melihat Arzan yang tiba-tiba berhenti.
" aku mendengar tangisan wanita... apa kau juga mendengar nya.. " jawab Arzan.
" Arzan... kita ini akan hidup bersama berdua saja.. kenapa kau masih memperdulikan orang lain.. bukankah sebelumnya kau setuju.. apakah kau berubah pikiran tidak mau bersamaku lagi... hah.. " Nadia terlihat kecewa.
" tapi tunggu.. " Arzan melepaskan tangan Nadia lalu mencari sumber suara itu.
" Arzan kembali lah padaku.. " ucap Nadia lalu mengikuti Arzan.
Sedangkan Arzan mondar mandir mencari suara tangisan itu dan akhirnya ketemu.
Ia melihat seorang gadis tengah duduk menelengkupkan wajahnya di lutut sambil menangis terisak. Arzan pun berjongkok menyamakan tingginya lalu bertanya pada gadis itu.
" hei.. kenapa kau menangis.. " tanya Arzan menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.
Gadis itu pun mengangkat wajahnya dan Arzan terkejut dan langsung memeluk gadis itu yang tak lain adalah Eisya.
" kau disini juga hmm.. janganlah menangis.. ada apa dengan mu... " tanya Arzan mengelus lembut rambut Eisya.
" tolong aku om... hiks.. tolong... hiks... om harus kembali... hiks.. tolong aku... hiks.. aku takut bersama orang orang jahat itu om.. tolong bebaskan aku hiks.. " racau Eisya.
" iya sayang tenanglah.. " ucap Arzan menenangkan.
Arzan pun membangunkan Eisya bangkit berdiri hendak pergi namun langkah mereka terhenti saat Nadia menghampiri kesana.
" mau kemana??.. katanya tadi kamu mau hidup bersama ku disini tapi sekarang.. kamu mau kemana... " tegas Nadia.
" maaf Nadia untuk sekarang aku tidak bisa hidup bersama mu karena aku harus membebaskan gadis ini.. dia butuh aku untuk saat ini.. sekali lagi maaf.... " sahut Arzan.
" kau jahat hiks.. bukankah ini kesempatan yang kau idam idamkan untuk hidup bersama ku. .. tapi kenapa sekarang mau malah tidak mau dan memilih gadis itu. " bantah Nadia.
" ini urusan penting.. aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri.. gadis ini sangat membutuhkan ku sekarang.. maaf yang sebesar-besarnya tapi aku harus pergi aku tidak bisa ikut denganmu.. " ucap Arzan lalu menggenggam tangan Eisya dan mereka pergi darisana meninggalkan Nadia.
" dan mungkin lain kali kita akan hidup bersama sama lagi.... disini... " gumam Arzan sebelum mereka sempurna menghilang darisana.
__ADS_1
" papi.... mami... tangannya Arzan gerak. " teriak Yanza senang memerhatikan gerakan tangan Arzan yang pelan.
" hah... benarkah... " kedua orang tua itupun mendekati Arzan diranjang persakitan nya dan benar saja jemari lentik itu tengah bergerak gerak bersamaan dengan kelopak matanya yang dibuka secara perlahan.