
Dikampus nya Eisya.
Pukul 02.14 barusan Nicki melihat jam tangan nya.
" eh sya... sorry hari ini kita gak bisa bareng soalnya tadi mama telpon suruh jemput dirumah temannya.."
" udah tenang aja.. gakpapa.. " senyum Eisya siapapun bisa langsung tergoda.
" yakin ni.. " tanya Nicki memastikan.
" ihh.. iya.. sana ah tante dah nunggu tu pasti..... "
" hehe.. yaudah gue duluan ya.. " ucap Nicki sambil pergi menuju ke parkiran mengambil motornya.
" daaa.... " Eisya melambaikan tangan melihat kepergian Nicki.
Tes...... tes.... tes.....
Merasa ada rintikan air jatuh dikepalanya Eisya langsung mencari tempat teduh karena sesaat lagi akan hujan.
" aduuhh hujan lagi.. gimana bisa pulang ni.. kalo langsung terobos bisa basah kuyup aku... " omelnya.
" tapi kalo gak langsung pulang bisa diomelin tante... ahh.. terpaksa deh... " tanpa pikir panjang Eisya menerobos hujan yang semakin deras.
Baru beberapa langkah.. dirinya tergelincir karena licin dan hampir mencium tanah kalau saja tidak ada yang menangkapnya.
Hap...
Jatuh dipelukan seseorang tanpa sadar karena gadis itu reflek menutup matanya seakan pasrah ketika akan jatuh.
Merasa ada yang aneh Eisya membuka matanya dan seketika salting berkali kali melihat orang yang menolongnya.
" gak sabaran amat sih udah tau hujan deras kenapa main terobos aja.. " omel pria tampan rupawan didepannya siapa lagi kalau bukan om Arzan.
" sini. "
" eh.. " Eisya terkejut saat tangannya ditarik tiba-tiba.
Arzan membawa Eisya kembali ke tempat gadis itu meneduh tadi.
" tapi om aku mau cepat pulang. " ucap Eisya sedangkan Arzan sibuk dengan kegiatannya yang entah apa yang ia lakukan.
" mau cepat pulang.???.. " tanya Arzan dan Eisya mengangguk lucu.
" pakai ini... "
" eh.. " lagi lagi gadis itu terkejut dengan perlakuan Arzan yang membuat jantung tidak aman.
Dengan telaten Arzan memakaikan helm dikepala Eisya tak lupa baju hujan dipakaikan juga padanya.
" hah.. tadi aku pikir bawa motor bisa boncengin kamu.. tapi sekarang malah hujan... tapi gakpapa lah kan kamu udah pakai pelindung juga.. " tutur Arzan.
" i-ini buat apa om.. " tanya Eisya ragu ragu walau sudah tau jawabannya.
" buat kawin.. ck.. kamu udah tau pake nanya.. ya mau ngantar kamu pulang katanya tadi buru buru... " jelas Arzan.
" tapi... "
" udah ayok kamu cuma tinggal sendiri lho disini.. "
Mau tidak mau yang sebenarnya juga mau banget jadilah Eisya menaiki motor sport milik Arzan.
" pegangan... " suruh Arzan setelah Eisya duduk dibelakangnya.
" d-dimana... " tanya Eisya polos.
" aduh polos banget sih.. jadi pengen bawa ke penghulu deh.. ya dipinggang aku. " frustasi Arzan.
Tak ada pergerakan karena jujur saja gadis itu pasti malu.. ya gimana lagi Eisya kan besar ********... eh bukan itu maksudnya tapi malunya itu besar.
__ADS_1
" eh... " Eisya tersentak saat kedua tangannya dikaitkan diperut Arzan.
" biar gak kecelakaan.. nurut aja udah. " ucap Arzan walau dirinya sudah sempurna basah dikarenakan tak memakai jas hujan yang kebetulan cuma satu.
Cuma helm saja yang menjadi pelindungnya saat derasnya hujan sekarang.
Diam diam Eisya tersenyum malu menyembunyikan wajahnya dibahu Arzan.
Sama hal nya dengan Eisya Arzan juga tersenyum saat menyadari Eisya salah tingkah.
Udah ah kapan jalannya ini.
Motor sport berwarna hitam legam itu kini membelah jalan kota ditengah derasnya hujan. Mungkin setelah ini Arzan akan terserang demam karena dirinya hanya mengenakan kemeja putih polos.
Sedangkan Eisya memeluk Arzan karena takut jatuh apalagi Arzan itu bawa motor kayak ngajak silaturahmi sama malaikat maut.
Dalam diam gadis itu mengagumi Arzan karena pria itu rela mengorbankan diri untuk nya walau lelaki itu harus menahan dingin ditubuhnya sekarang.
" pria ini baik sekali.. dan hatiku selalu nyaman saat berada di dekatnya.. " batin Eisya.
" rrrr-rumah kamu dimana.. " tanya Arzan sedikit berteriak karena derasnya hujan.
" didepan sana ada belokan terus belok kanan... dan tepat didepan warung kecil disitu rumah tante saya.. " jawab Eisya juga sedikit berteriak agar terdengar.
Motor itu terus melaju dan berbelok sesuai arahan Eisya.
" walau dingin tetap kusebrangi demi bersama dirimu gadis. " batin Arzan.
" udah om itu rumah saya.. " ucap Eisya lalu motor itu memasuki perumahan tante nya Eisya.
Setelah mematian mesin motor, Arzan menuruni motornya diikuti Eisya tak lupa juga mencopot helm nya.
" sini om.. " ajak Eisya berdiri diteras rumah agar tidak kehujanan.
Buat neduh juga gak ada gunanya sebab apa yang diharapkan lagi pada Arzan yang sudah sempurna basah, namun dirinya tetap menuruti Eisya.
cek lek..
" loh Eisya akhirnya kamu pulang juga.. baru aja om mau jemput.. " khawatir pak Rano.
" iya om.. tadi.. om ini nganterin saya. " jawab Eisya sambil melepas perlengkapan hujan pada dirinya.
" omggggg.... inil loh maksudku... pria dengan ketampanan serta tubuh ideal...uuugghh... cowo haluku telah nyata dan sekarang berdiri di depan ku... omgg.. omg.. gak bisa dianggurin ini.. " batin Erin mengoceh sedari tadi memandangi pria tampan itu.
" eee...nak.. terimakasih banyak telah mengantar keponakan saya. " panggilannya terlalu muda tapi Arzan suka.
" iya Pak sss-sama sama.. " ucap nya dengan bibir gemeteran dan jika ditelaah lagi dirinya sedang menahan sakit sekarang.
" om sebaiknya masuk dulu ya keringin badan dulu nanti masuk angin.. " ujar Eisya.
" iya nak ayo masuk dulu.. nanti kamu demam... " tambah Pak Rano.
" ayo om selahkan.. " ucap Erin juga menambahi.
Sedangkan Tante Meri beliau tak ikut nimbrung dan memilih masuk kembali.
" g-gak papa om ss-saya pulang aa-jhaa... akhh.. " sudah tak bisa disembunyikan lagi karena dirinya benar benar kesakitan disuatu tempat.
" tap-
Brukh....
" OMM.... "
" nak... "
Semuanya kaget melihat Arzan yang tumbang seketika dan langsung saja Pak Rano membawa tubuh itu masuk kedalam dan menidurkan Arzan dikamar Eisya karena kamar gadis itu yang pertama dicapai.
" sepertinya dirinya terlalu kelelahan dan demam... Eisya coba kompresi dia dan saat sadar beri dia obat. " perintah pak Rano langsung di iyakan Eisya.
__ADS_1
" Erin ngapain kesini biar Eisya yang mengurusi nya kau keluarlah. " ucap pak Rano.
" tapi kenapa bukan aku saja yang mengurus nya aku bersedia kok.. " tawar Erin.
" kamu tidak dikenal oleh lelaki ini dan dia bisa terkejut nanti kalau ia sadar mendapati kamu yang tiba tiba merawatnya... biarkan Eisya saja karena lelaki ini pasti mengenalinya......... " jelas Pak Rano membuat Erin merenggut kesal.
" aku bukan ibumu yang selalu menuruti keegoisan kamu, sudah sana keluar. " suruh Pak Rano dan Erin pergi dari sana menghentak hentakan langkahnya karena kesal.
" biarkan dia memang seperti itu.. fokuslah menjaga lelaki ini karena ia seperti ini karena menolong kita.. om keluar dulu ya. "
" baik om. " Pak Rano pun keluar meniggalkan mereka berdua dikamar.
Sepeninggallan mereka, Eisya pun mengambil sebaskom air dan kain sapu tangan bersih lalu ditempeli didahi Arzan yang menutup mata.
Dengan telaten ia mengompres Arzan dan sesekali tersenyum merasa salting sendiri ketika menatap wajah tampan itu.
" kenapa setampan ini sih... gak baik tau buat orang gampang salah tingkah seperti aku... hhuuu... gak kuaaattttt... " gemasnya sendiri.
" gak percaya deh udah om om kalo tampangnya saja seperti ini... eeummm... kenapa bisa sih ada orang tampan sekaligus imut diumur yang segitu pula... "
" hah.. pasti gadis yang menjadi pendampingnya akan menjadi wanita paling beruntung... udah baik tampan pula. "
" hah... jadi kepengen... aarrggghhhh.. apaan sih gak mungkin tau... mustahil mustahil banget kalo itumah... " gadis itu menampar dirinya sendiri saking gemes tapi tamparan nya cuma sedikit kok gak mungkin kan nyakitin diri sendiri.
" haaaaa.... tapi mauu... huwaaa... " kini gadis itu menelungkupkan wajahnya disamping tempat tidur yang ditiduri Arzan.
Lama dengan posisi itu dirinya pun bangun kembali membasahi kain yang telah kering dan mengompres kembali didahi Arzan.
" udah lama lho padahal kok gak sadar sadar.. apa dia parah ya.. humm.. semoga baik baik aja.. cepat bangun om.. "
Dirumah nya Arzan.
Terlihat tiga orang berkumpul diruang tamu menunggu Arzan dan hanya satu orang yang benar benar keliatan cemas dan yang lainnya sibuk dengan handphone masing masing.
Sudah pasti yang lebih terletak kekhawatiran itu pada wanita buktinya nyonya besar daritadi mondar mandir merasa gelisah tak mendapati Arzan yang belum pulang karena katanya cuma sebentar ditambah lagi hujan deras oh dimanakah dia sekarang.
" gak pusing ma keliling terus.. nanti rematik nya kumat lho.. " ucap si papi santai santai saja.
" iihhhh.. papi gimana sih mama lagi khawatir liattu anak kita Arzan belum pulang pulang juga katanya tadi sebentar dan sekarang belum juga pulang ditambah hujan deras lagi.. mama khawatir tau.. " gelisah nyonya.
" maa.. sini deh duduk.. " suruh Tuan menepuk tempat kosong disebelah nya.
Nyonya pun duduk sesuai kemauan sang suami.
" anak kita sekecil apa sih maa.. sampai dikhawatirkan sebegitunya.. bahkan kalo tersesat dia tau jalan pulang kok kalaupun diculik gak ada yang mau malah nambah beban... jadi mama gak usah khawatir oke.. anak kita bukan lagi balita sayang.. bukan lagi bayi... bahkan udah bisa bikin bayi... udah ya tenang... rileks... " jelas Tuan membuat Yanza geleng geleng Kepala disamping.
" tapi kan mama khawatir kalo nanti dia kenapa kenapa atau dia kecelakaan paaa.. mama khawatir... " balas nyonya.
" maaa.. gak usah mikir yang engga engga.. perkataan itu doa... lagian kalo kecelakaan nanti tinggal bawa ke dokter.. "
Plakk...
" aduuhh... mama.. kok digeplak sih.. " kini Tuan mengelus kepalanya yang kena geplak sang istri.
" sembarangan kamu... terus kalo mati tinggal ditanam... gitu.. kurang ajar ya.. " marah nyonya dan Yanza sudah tak bisa mengendalikan tawanya melihat pasangan tua bertengkar... haha lucu.
" b-bukan gitu mam-
" ahahahahaha... ahahahahaha... "
" heh diam kamu.... mama... jangan marah dong papa ngomong gitu karena papa yakin anak kita kuat pasti gak bakal kenapa napa... oke mama... "
" tau ah.. gak ada khawatir khawatir nya sama sekali pada anak.. " Nyonya pergi memasuki kamar meninggal kan dua pria beda umur disana.
" ahahahahaha... kejar piii... "
" gara gara si Arzan ini... awas kalo nanti dia pulang.. "
" mau diapain pi.. "
__ADS_1
" mau digantiin popok... aaahhh.. kamu juga gak usah ngeledek minggir sana aku mau ngejar ayankk ku... " iuh sudahlah biarkan kesenangan orang itu beda beda dan benar Tuan sudah menyusul nyonya kekamar.
" uhukk... huek.... tolongggg aku jomblo.... hah.. pantas anaknya gak pernah benar bapaknya aja kek gitu.. hadeuuhhh lagi lagi jadi korban... masa kalah sih sama kakek nenek... tolong dong gak ada apa yang mau sama aku... aku tulus lho.. gak mandang fisik asal cantik. " biarkan orang itu satu lagi mengoceh sendiri.