
Malam ini dua pria dengan selisih umur satu tahun itu tengah menikmati secangkir kopi di cafe tempat biasanya.
Yanza dan Adzan itulah mereka.
Merasa senang karena lamaran nya baru saja diterima oleh sang pujaan, Yanza mengajak Arzan untuk ketemuan di cafe hingga pria berstatus suami itu harus meninggalkan sang istri dirumah sendirian.
Awalnya Arzan menolak namun Eisya memaksa nya untuk pergi dan tidak usah mengkhawatirkan dirinya.
" sebentar lagi... do'akan ya semoga lancar. " Yanza bersuara setelah meneguk kopinya.
" pasti... lalu kapan acaranya.. " tanya Arzan membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
" jika Anita sendiri sudah siap maka kami pun akan siap.. kau tau sendiri kan dia pasti masih harus mengurus bayinya dulu. " jawab Yanza.
" apa kau akan membuat acara besar-besaran.. " tanya Arzan lagi.
" kalau untuk itu aku belum tanya pendapat Anita.. tapi bagiku apapun keputusannya pasti aku juga akan menyetujui nya.. aku juga mengerti.. dia punya bayi yang masih sangat kecil untuk ditinggalkan lebih lama saat acara nanti.... " jelas Yanza.
" keputusan yang bagus... padahal ini pernikahan pertamamu.. " ucap Arzan.
" dan pernikahan terakhir ku... semoga kami bertahan selamanya.. " tambah Yanza.
" ohya apa istrimu tidak apa apa ditinggalkan sendirian dirumah.. " lanjut Yanza.
" gara kamu juga tau.. jadinya aku meninggalkan kesayangan ku sendirian dirumah.. " ucap Arzan sedikit gelisah memikirkan Eisya dirumah.
" yak kenapa tidak sekalian kau ajak... " -Yanza
" iya juga ya gak kepikiran tadi.. lagian dia ngotot sih bilang nya gakpapa aku udah gede udah biasa juga sendirian dirumah.. kamu tenang aja sayang.. " ujar Arzan menirukan gaya bicara Eisya saat dirumah tadi.
" ahahaha... lain kali ajaklah dia tapi bertiga perginya.. " -Yanza.
" maksud. " -Arzan.
" hmm.. ya sama dede bayi.. " goda Yanza menaikkan turunkan kedua alisnya.
" apaan sih gak usah mancing mancing deh belum ada tanda tanda juga.. " Antara berharap dan takut atas omongan Yanza barusan.
Dirinya memang sangat berharap bisa menjadi sosok ayah namun dia juga takut kalau kesempatan itu tidak ada untuk nya.
Bohong jika dia tidak memikirkan kesitu, saat pertama kali menggendong bayi Anita dirumah sakit disitulah terbesit keinginan dirinya menjadi seorang ayah apalagi umurnya yang tidak muda lagi.
" do'a kan saja semoga cepat.. " -Arzan.
" cepat apa. " tanya Yanza pura pura tidak tau.
" cepat diberi momongan.. " -Arzan.
" tenang saja... pernikahan kalian belum terlalu lambat untuk diberi keturunan... habiskan dulu masa masa bulan madunya.. kan nanti kalau udah ada si junior gak bisa berdua duaan lagi deh... haha.. becanda kok... hehe.. " -Yanza.
__ADS_1
" apaan sih.. " gerutu Arzan.
Merasa waktu yang dihabiskan sudah cukup, keduanya pun pamit pulang dan berpisah menuju rumah masing masing.
Ditengah jalan yang sepi saat Arzan sedang mengemudi dengan santai nya, tak sengaja netranya menangkap sosok pasangan yang sepertinya sedang bertengkar dipinggir jalan.
Ingin tak peduli namun mobilnya terhenti saat melihat si pria yang hendak menampar si wanita. Sesama manusia tidak mungkin saling abai lagipun Arzan tak sejahat itu untuk membiarkan nya.
Dirinya turun dari mobil dan mendekati pasangan itu karena memang ia memberhentikan mobil didekat mereka.
" jangan main tangan... sebaiknya diselesaikan baik baik saja.. " ucap Arzan pada laki laki yang membelakangi sedangkan wanita itu sudah menunduk dari tadi.
" cih apa urusan mu.. " songong pria itu sembari membalikkan badannya menghadap Arzan.
" Hariss... kamu..??.. " ucap Arzan tak percaya dan bersamaan dengan itu wanita yang sejak tadi menunduk mengangkat wajahnya.
Lagi Arzan dibuat terkejut saat melihat wanita itu yang ternyata adalah Erin.
" Erin..??.. Haris..?? ada hubungan apa kalian berdua bahkan sampai bertengkar seperti ini... " Arzan sungguh bingung dibuat nya.
Bukannya menjawab Erin malah lari dan memeluk Arzan yang sudah berstatus suami orang, meskipun ia tau kalau lelaki yang dipeluk Erin adalah suami sepupunya tapi seakan ia menutup mata atas fakta itu.
" tolong hiks.. dia ingin menyakitiku.. hiks.. tolong aku... " adu Erin.
" hei iya tapi tidak usah peluk juga saya ini suami orang lho.. " Arzan berusaha untuk melepaskan pelukan itu.
" wah kelihatannya cocok sekali ya... eumm bagaimana kalau kita tukeran saja... dia untuk mu dan Eisya untuk ku.. " ucap Haris dengan gampang nya.
BUGH..
" hati hati kalau ngomong... Istriku terlalu berharga untuk menjadi milik mu.. " Tegas Arzan.
Haris memegang mulutnya yang lecet karena tinju Arzan lalu tersenyum kearahnya.
" kenapa kau serakah sekali... Eisya adalah jodoh yang dititipkan untukku... dulu aku tidak jadi menikah dengan nya karena kekasihnya dan sekarang kau juga datang untuk menghalangi cinta kami.. aku yakin Tuhan menciptakan nya untuk ku sebagai ganti Nadia yang dulu.. Mereka adalah orang yang sama... " jelas Haris tanpa ragu sedikit pun.
" kurang ajar... dimana rasa malumu mengatakan hal itu ha.. sini kau brengsek... kubuat kau jadi mayat malam ini.. " Arzan mengambil ancang ancang untuk menghadiahi Haris lebih dari yang tadi.
" dan kau akan mendekam di penjara... itu artinya... kau juga akan berpisah dengan istrimu... hahahahaha... "
" kurang ajarrr... "
BUGH..
BUGH...
BUGH..
Arzan tak lagi bersabar untuk tidak menghajar orang tidak tau malu ini sedangkan Haris tampak menikmati setiap pukulan itu sesekali ia membalas Arzan jika sempat.
__ADS_1
Erin yang ada disitu tentu berteriak menyuruh mereka berhenti namun Arzan tak menggubris nya karena telah dibutakan amarah nya sendiri.
" HENTIKAN.... SUDAH BERHENTI..... ARZAN BERHENTI... HIKS... " teriak Erin berusaha melerai namun terlalu takut untuk mendekat.
" CUKUP.. JANGAN PUKULI DIA LAGI HIKS... AKU TIDAK MAU ANAKKU YATIM... HIKS.. HIKS... hentikan.. " lirih Erin diakhir dan kalimat yang barusan diucapkan mampu membuat Arzan menghentikan kegilaan nya memukuli Haris membabi buta.
Kini Arzan berbalik badan mendekat kearah Erin untuk menagih penjelasan padanya.
" apa..??.... apa yang kudengar barusan... kau tidak sedang mengada ngada kan.. " tanya Arzan penasaran sedangkan yang ditanya hanya mampu menangis.
" ak-.... aku... hiks... "
" katakan... " datar Arzan.
" tutup mulut mu Erin jangan katakan apapun padanya.. " disela sela kesadaran nya yang habis dipukuli Haris bangkit berdiri.
" sesuatu yang besar pasti telah kalian sembunyikan... maksud anak yang yatim itu apa Erin.. " Arzan mengabaikan Haris dan memfokuskan masalahnya pada Erin.
" hiks... aku-
" jika kau mengatakan nya maka aku akan membunuhmu gadis sialan.. " murka Haris.
" jangan pedulikan dia katakan saja. " bujuk Arzan.
" berani kau mengatakan-
" KENAPA HAA... KENAPA... KAU AKAN MEMBUNUH KU BUNUH SAJA... LAGIPULA AKU TIDAK SANGGUP MENANGGUNG MALU SENDIRIAN MENGANDUNG ANAKMU... HIKS.. HIKS.. " Sudah cukup, ancaman Haris untuk membunuh nya memang itu yang ia inginkan daripada menanggung malu sendirian.
Deg
Tak perlu menanggung penjelasan lagi berarti sudah jelas anak yang dikandung Erin adalah anak Haris dan orang yang ingin menjebak Eisya adalah Haris dimalam itu dengan cara yang dilakukan nya pada Erin. Tapi kenapa tidak ada Eisya gadis lain diembat juga, emang dasar gila.
" ternyata kau lebih brengsek dari yang aku kira... dasar manusia biadab.. sekarang.... pertanggung jawabkan perbuatan mu.. jangan lari seenaknya. " Ucap Arzan.
" itu bukan urusanmu... lagipula dia duluan yang menggoda ku. " elak Haris.
" itu memang salahku.. tapi setidaknya kau bisa kan mengabaikan ku bahkan kurung saja aku disana tanpa menyentuh apapun milikku... dasar pria tidak tau diri.. tidak cukup kah punya istrimu kau nikmati.. " ucapan yang terlalu pedas begitu saja lolos dari mulut Erin.
Arzan yang mendengarnya sampai meneguk ludah dan memang mengiyakan ucapan Erin barusan.
" oh si sialan ini berani juga berbicara ya.. awas kau.. "
BUGH..
Arzan lebih dulu menendang Haris sebelum pria itu melayangkan tangannya dipipi Erin.
" untuk kali ini masuklah ke mobilku aku akan mengantarmu pulang... lain kali jangan keluar sendirian.. karena setelah ini kau akan diburu.. " kata Arzan pada Erin.
Erin mengangguk dan masuk ke mobil Arzan diikuti Arzan sendiri.
__ADS_1
Mobil itu lalu melaju meninggalkan Haris yang sudah terkapar ditanah namun masih menyisakan kesadarannya.