Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 86


__ADS_3

Saat ini kita diperlihatkan pada kegiatan sosok pria baruh baya yang sebelumnya pernah diceritakan.


Sebut saja namanya Pramanan.


Beliau kini sudah mendapatkan tempat tinggal di sebuah apartemen yang disewa.


Pak Pramanan bukanlah orang miskin atau bisa dibilang kaya raya maka dari itu soal biaya hidup itu bukanlah hal yang sulit baginya.


Terbang ke Jepang begitu saja bukan berarti meninggalkan pekerjaannya dan justru beliau bisa mendapatkan biaya lebih saat beralih profesi bekerja disana.


Meletakkan terlebih dahulu barang barangnya lalu mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk itu.


Bibir tipis itu tersenyum sembari menghela nafas panjang.


" tak terasa setelah bertahun tahun lamanya kini aku kembali kesini. Awalnya aku memang sudah berjanji tak kan lagi memijakkan kakiku ditanah ini setelah peristiwa pahit itu menimpa keluarga kecilku. Namun saat melihat harapan itu datang mana mungkin aku menyia nyiakannya. " monolog dirinya.


" aku berjanji akan menumpaskan dendamku yang sempat tertunda dulu.. " lanjut nya dengan sorot mata yang begitu tajam.


" nak... ayah kembali sayang... ayah kembali kesini.. ayah begitu merinding mu.. " kini suara itu terdengar lirih.


" aku juga merindukan mu istriku.. bagaimana kabarmu disana hmm.. kuharap kau segera sembuh.. maafkan aku.. maafkan keegoisan ku dulu.. Seandainya aku tak memaksakan kehendak ku pada kalian.. maka bisa dipastikan jika keluarga kita akan baik baik saja sekarang.. " lirih nya begitu menyayat hati.


Sedangkan ditempat lain.


Seorang gadis kini yaitu Erin seperti biasa sedang meratapi hidupnya yang semakin menyedihkan di taman biasanya.


Seakan dirinya merasa ditipu untuk kesekian kalinya dan saat ini tentang Nicki yang tiada kabar tiba tiba saja menghilang.


Baru saja kemarin lelaki itu berjanji akan menikahi nya apapun rintangan yang akan mereka lalui nantinya, namun kini sosok itu bak ditelan bumi.


Erin merasa kecewa dirinya merasa dipermainkan begitu saja, padahal sepenuh hati ia sudah mencintai lelaki itu dan menaruh harapan jika lelaki itu akan mendampingi nya sampai kapanpun.


Kenapa takdir begitu kejam seakan tak ada kebahagiaan secuil pun untuk dirinya.


Airmata itu kembali meluncur dan saat bersamaan tangannya selalu menghapus kasar liquid bening tersebut.


Sesekali mengelus perutnya yang semakin membuncit itu.


" aku pasrah apapun yang akan terjadi kedepannya... Jangan tinggalkan mama ya sayang.. kita akan hidup dan berjuang sama sama.. " lirihnya memandang kearah sosok yang masih berada dalam tubuhnya.

__ADS_1


Kebetulan hanyalah kata untuk pelampiasan takdir, seperti sekarang saat ini Haris yang tak sengaja menghibur diri untuk berjalan kaki, netra miliknya melihat Erin yang sedang duduk di taman sendirian.


Ngomong ngomong ini masih sore dan berhubung jadwalnya tidak padat, ia pun menyempatkan diri untuk jalan kaki. Soal pulang ia bisa memesan taksi nanti.


Ingin bersikap abai namun tak jadi saat mendengar tangisan Erin yang begitu menyayat hati.


Dan ya entah kenapa langkahnya membawa dirinya menghampiri Erin yang tengah duduk disana.


Menyadari kehadiran sosok lain yang langsung duduk didekatnya, Erin pun menyudahi tangisan itu dan melirik kearah sosok tersebut.


" kenapa kemari, pergilah aku tak kan lagi mengemis belas kasihan mu.. aku akan menanggung semua penderitaan ini bersama calon anakku.. orang tak punya belas kasihan seperti dirimu sampai kapanpun tidak akan pernah mengerti.. " ucap Erin datar dan menyeka airmata yang hampir terjun kembali.


Mendengar itu Haris seakan merasa iba, awalnya ia memang ingin sekali melenyapkan Erin karena peristiwa kejadian waktu itu yang mana gadis itu memberi tahu semua pada Arzan saat percekcokan tersebut. Namun sekarang perasaan keji itu berubah menjadi kasihan saat melihat Erin yang hancur begini.


" aku minta maaf.. " lirih Haris menundukkan pandangannya.


" terlambat.. Percuma, sekarang tubuhku telah kau nodai.. tak ada lagi yang bisa diperbaiki meskipun beribu kata maaf kau ucapkan. " serasa Erin sedang berbicara dengan orang seumuran dengan dirinya. Tak ada lagi panggilan hormat pada orang yang telah merenggut kehormatan nya.


" aku akan bertanggung jawab untuk membiayai semua kebu-


" tidak perlu, aku tidak perlu sepeserpun darimu.. tidak perlu..!! " sergah Erin.


Erin merasa sangat terharu diperlakukan seperti itu dirinya sangat bahagia, meskipun tak ada rasa cinta tetapi untuk apa rasa itu jika semua sudah seperti ini.


Tak terasa liquid bening itu kembali meluncur kembali membasahi pipi gadis itu.


" apa kau rutin chek up kerumah sakit. " tanya Haris dan mendapat gelengan pelan dari Erin yang memang benar ia jarang melakukan Chek up.


" kenapa..?? apa kau lupa atau bagaimana.. hmm.. " tanya Haris penuh perhatian, jika begini Erin semakin bahagia dibuatnya.


" aku malu.. ini pertama kali bagiku dan aku belum berani untuk melakukan ini sendirian.. aku tidak berani berinteraksi dengan para dokter.. " jelasnya dibalas helaan nafas dari Haris.


" lain kali kabari aku, aku akan menemani mu.. hmm.. " senyum Haris tangan nya belum juga lepas dari perut Erin.


" jangan buat aku semakin menaruh harapan padamu.. lebih baik jangan, karena aku mudah terbawa perasaan.. " ucap Erin memandang lurus kedepan.


Haris menghentikan kegiatan dan memandang kearah Erin.


" maaf sampai saat ini pun aku belum bisa membuka hati-

__ADS_1


" ssssttt sudahlah aku tidak mau mendengar itu karena aku tau hatimu itu hanya untuk Eisya kan.. " sergah Erin lagi.


Haris diam tak langsung menjawab karena yang dikatakan Erin memang benar.


" sampai kapan om akan terus mengejar Eisya yang sudah menjadi istri orang, bukannya aku cemburu tapi sadarlah om... sadar!! lagipula sekarang Eisya sedang mengandung anaknya om Arzan. "


Deg..


Pernyataan Erin barusan mampu membuat Haris terkejut membelalakkan matanya dan menarik Erin menatapnya lekat lekat.


" darimana kau tau.. " tanya Haris dengan wajah panik.


" tadi sebelum kesini aku sempat mendengar pembicaraan mama dan Eisya ditelpon, dan disana Eisya mengatakan kalau dia sedang hamil saat ini.. " terang Erin semakin membuat kepanikan dihati Haris.


Jelas terpancar raut kekecewaan diwajah Haris, lelaki itu menjambak frustasi rambutnya sendiri.


" AAARRRHHHH... SIALL.. " teriak Haris mengejutkan Erin yang berada di sampingnya.


" lupakan..!! lupakanlah biarkan mereka hidup bahagia.. " ucap Erin dan hal itu malah membuat Haris semakin emosi.


Kini lelaki itu menatap tajam Erin dan mencengkram kedua bahu gadis itu mendekatkan wajah Erin ke wajah nya.


" apa katamu??.. lupakan kau bilang..?? KAU PIKIR ITU MUDAH HAA.. EISYA ADALAH MASA DEPAN KU SAAT INIII.. " bentak Haris dan tak sengaja mendorong keras Erin kebawah.


Dan hal itu mampu membuat Erin kesakitan di bagian perutnya dan reflek gadis itu mengerang mencengkram perutnya.


Seketika Haris teringat dan merutuki dirinya sendiri karena telah menyakiti Erin dengan kondisi yang seperti itu.


Langsung saja ia membantu mendudukkan Erin kembali dikursi tersebut dan mencoba menenangkan Erin dengan mengelus perut gadis itu.


" maafkan aku aku benar benar lupa maafkan aku, atau perlu kita kerumah sakit sekarang...... " tanya Haris dengan raut wajah khawatir.


Erin menggeleng kan kepalanya tanda tak setuju dan berusaha menetralkan rasa sakit tersebut.


" a-akuu ingin pulang saja.. " lirih gadis itu sesekali meringis.


" kalau begitu biar aku antar.. " tawar Haris.


" tidak ada penolakan lagi, tunggu sebentar aku pesan taksi online dulu karena aku tidak bawa mobil... " lanjut nya memblokir perkataan Erin yang barusaja akan berucap.

__ADS_1


Dan jadilah mereka pulang bareng...!!


__ADS_2