
Sore Harinya.
Entah kenapa yang pasti sangat kecewa, Anita dan Yanza memutuskan pergi kerumah Haris.
Setelah mendengar cerita Angga tentu dirinya sangat marah dan ingin langsung menampar Haris sampai ia puas.
Kini ia dan Yanza sudah berada didepan pintu dan sedari tadi menekan bel.
Sedikit lama menunggu akhirnya pintu terbuka.
" Pak Haris ada didalam..?? " tanya Anita langsung bahkan sebelum pembantu itu bertanya apa maksudnya.
" iya Nyonya.. Tuan ba-
" baiklah terimakasih tolong minggir. " sergah Anita langsung menerobos masuk diikuti Yanza meski merasa tak enak hati pada pembantu tua itu.
Anita berjalan penuh hantaman dan terburu buru sampai Yanza merasa ngeri melihat aura istrinya itu yang begitu berbeda saat ini. Biasanya aura ibu tiga anak itu terlihat adem dan sabar tapi kini bahkan lebih mengerikan daripada singa.
Tap tap tap....
Sreett...!!!
PRAANGG.....!!!
Baik Yanza terlebih lagi Haris begitu terkejut saat tiba tiba Anita melempar gelas berisi kopi yang akan diminum pria itu.
Gelas itu pecah dan kopi panas yang baru saja dibuatkan berceceran kemana mana, tentu Haris murka namun sebelum mengamuk sang mantan istri lebih dulu menerkamnya.
" KURANG AJAARRR.... "
PLAKK....!!!
Kedua kalinya Yanza terkejut bahkan menutup mulutnya melihat perubahan Anita yang begitu mengerikan sampai berani menampar Haris sebelum pria itu berbicara.
Tentu shock sekaligus merasa sedikit ngeri karena tiba tiba sang mantan istri yang dulu selalu berada dibawah nya kini dengan berani menampar dirinya.
" berikan putra ku jika kau tidak bisa membahagiakan nya... " ucap Anita penuh tekanan.
Dilabrak tiba tiba seperti itu tentu saja Haris bingung apa masalahnya.
" kau telah menyakiti hati putra ku... " lanjut Anita dan kini airmata sudah mengalir di pipinya.
__ADS_1
" tunggu apa maksud mu.. " tanya Haris tidak mengerti.
" dasar bedeb*** gil* AARRRRHHGG.. " Anita mengamuk menarik kerah baju Haris lalu menghempaskan nya dengan kasar.
Yanza yang melihat itu ingin menenangkan Anita namun ia tidak cukup berani melihat istrinya yang sangat mengerikan saat ini.
" Angga melihatmu sedang bersama wanita lain dan tanpa sepengetahuan dia kau bahkan telah memiliki anak dengan wanita itu.. KENAPA KAU SEMBUNYIKAN DARI DIAA.. MENUNGGU DIA SAKIT HATI DULU BARU KAU UNGKAPKAN HAAA... " Sungguh sangat emosi Anita saat ini.
" saat kita berpisah kita telah menaburi luka pada hatinya, Angga adalah anak pertama dia sudah remaja dia sudah mengerti segalanya... Aku sadar aku juga telah menyakiti hatinya tapi sebisa mungkin aku tidak menutup apapun padanya bahkan memberikan kasih sayang yang sama padanya... " lirih Anita.
Mendengar itu Haris terdiam merasa bersalah Yanza pun ikut sedih melihat Anita begitu hancur mengadukan keluh kesahnya, seketika dirinya mempertanyakan pada hatinya apakah pernikahan mereka itu salah..??
Tak hanya mereka yang sedih, seseorang juga tengah menangis menyaksikan mereka dari atas tangga. Itu adalah Angga sedari tadi sudah berada disana disaat mendengarkan keributan namun ia tak berani mendekati apalagi melihat kemarahan sang ibu, seketika hatinya pun iba melihat ayahnya yang pasti merasa bersalah.
" katakan siapa wanita itu... " datar Anita sungguh muak untuk menatap lawan bicaranya.
Haris menunduk antara berani atau tidak untuk mengatakannya.
" cepat katakan breng**** " ucap Anita berkata kasar.
" Erin..!! Aku tidak sengaja menghamili nya saat malam itu.. " ralat sudah terlihat jelas dirinya memang sengaja namun sungguh malu untuk mengakuinya.
" Dasar laki laki brengsek.. BUKAN HANYA ANAKMU TAPI KAU JUGA TELAH MERENGGUT HARGA DIRI WANITA LAIN LAKI LAKI MACAM APA KAMU DASAR BEDEB**** GILA MATI SAJA SANAAAA... " Anita mengamuk bahkan memukuli dada Haris beberapa kali namun lelaki itu tak melawan, melihat Anita yang semakin brutal Yanza pun berusaha menenangkan istrinya dan menjauhkan Anita dari Haris.
" sayang sudah cukup tenang kan dirimu hei hei tenang lah... " Yanza memeluk Anita meskipun wanita itu memberontak dengan keras.
" lepaskan aku aku ingin mencakar wajah gilanya itu.. " Anita memberontak keras namun pegangan Yanza juga begitu kuat.
PRAAANGG.....!!!
Semua terdiam mendengar suara pecahan kaca yang begitu menggelegar lalu melihat pada seseorang yang melakukan itu.
Angga berdiri tanpa ekspresi setelah membanting vas bunga dengan begitu kuat hingga pecahan pecahan beling itu berserakan kemana mana.
" Angga... " lirih Anita.
" stop.. jangan kemari.. " datar Angga menggagalkan langkah ibunya yang hendak menghampiri dirinya.
" nak mama-
" pulanglah ma ini urusan aku dan papa, mama tidak berhak ikut campur... Urus saja keluarga baru mama... "
__ADS_1
DEG.....!!
Tahukah bagaimana perasaan Anita sekarang seperti apa.
Jika menganggap Angga jahat pun itu salah besar karena ia tidak benar benar mengucapkan itu dari hati.
Niatnya cuma ingin menghentikan pertengkaran itu dan tidak tega melihat sang ibu menangis.
Anita menangis dan berlari keluar begitupun Yanza yang mengejar istrinya.
Kini tinggallah Angga bersama Haris disana.
BRUGH...!!
Haris menjatuhkan dirinya dihadapan Angga bertekuk lutut untuk memohon ampun pada putranya itu.
" maafkan aku nak maafkan papa.. silakan lakukan apapun pada papa... kalau perlu bunuh papa... hiks.. maafkan papa... hiks.. papa menyesal... " lirih Haris menundukkan wajahnya.
Angga menangis namun sebisa mungkin menahan airmata walau tak bisa. Semakin ditahan semakin jatuh begitupun hati semakin menerima semakin sakit.
" aku tidak boleh egois.. Mungkin aku juga harus berbagi ayah.. " ucap Angga membuat Haris bingung.
" berbagi ayah dengan anak yang tidak se rahim denganku.. " lanjut Angga dan Haris memilih untuk mendengarkan sampai selesai.
" hah... Anak itu tidak bersalah jadi aku tidak berhak menghalangi nya untuk memanggilmu papa... Dia juga anak mu pa, jangan sampai dia menjadi korban karena kesalahan kalian....... " ujar Angga menampilkan senyum tersakitnya.
Angga menghela nafas panjang mempersiapkan hatinya dengan mantap untuk mengatakan hal yang harus diikhlaskan.
" Jika papa menginginkan aku untuk memaafkan mu... Nikahilah wanita itu, sebisa mungkin aku akan berusaha menerima ibu sambung dan... Dan calon adikku.. " ucap Angga sungguh membuat Haris terkejut.
" a-ap-apa...?? "
" iya pa jangan menyuruh aku untuk mengulang kalimat itu lagi, cukup lakukan saja dan jangan tanya apa alasannya. " tutur Angga lalu melangkah kembali menuju kamarnya meninggalkan Haris dengan perasaan campur aduk.
" maafkan papa sayang, papa janji setelah ini papa akan memberikan kebahagiaan untukmu, aku tidak tau apa maksud mu menyuruh papa menikahi Erin. " gumam Haris.
" maafkan papa nak dan maaf telah menyakiti hatimu dengan menikah lagi. " lanjut Haris.
Sedangkan didalam kamar, Angga kembali menangis. Membanting dirinya ke atas ranjang dan menangis tanpa suara.
Sesak hatinya sungguh sesak saat mengatakan hal yang tidak pernah ia harapkan. Tibalah dimana ia harus mengikhlaskan semuanya.
__ADS_1