Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 29


__ADS_3

***Di sebuah tempat namun terlihat menenangkan walaupun dilanda kesunyian, gadis berambut sebahu dengan paras imut sedang terjebak didalam sana.


Dia adalah Eisya sedari tadi berputar putar mencari jalan keluar dari sini namun tidak juga menemukannya.


Hingga tak sengaja netra kembarnya mendapati sosok lelaki yang familiar baginya sedang berada disana membelakangi dirinya.


" om Arzan.. " panggil Eisya lalu mendekati kearah lelaki itu.


Benar itu memang Arzan namun disini pria itu terlihat acuh terhadap dirinya berbeda saat saat kemarin lelaki ini akan heboh jika bertemu gadis itu.


" benar ini om, om disini juga sama terjebak nya seperti aku.. " tanya Eisya namun Arzan terlihat enggan untuk menjawab.


" kalau gitu sama.. ayo om kita cari jalan keluar.. " ajak Eisya sambil menarik tangan Arzan namun lelaki itu menepis nya.


" aku sedang menunggu seseorang.. kau pergilah sendiri.. aku sedang menunggu kekasihku.. " jawab Arzan tanpa menatap lawan bicaranya.


" k-kekasihh.. " lirih Eisya merasa sesak saat mendengar kalimat itu.


" sayaaanggg.. maaf membuatmu menunggu.. " Tiba-tiba seorang gadis persis mirip dirinya mendekati Arzan dan memeluk lelaki itu seenaknya.


" menunggu bukan masalah besar bagiku karena aku akan tetap menunggu jika itu menyangkut dirimu... " jawab Arzan sambil mencium kening wanita itu.


" ehemmm... ternyata masih setia yaaa.. ahaha.. lelaki ini memang sudah taubat rupanya... " balas wanita itu wajahnya mirip sekali dengan Eisya hanya saja rambutnya lebih panjang sebatas pinggang.


" hei Nadia Sahara.. jangan pikir aku bisa melupakan mu hmm.. aku masih setia menunggu mu.. sampai kapan pun. " ucap Arzan sedangkan Eisya sedari tadi menganga tak percaya sekaligus bingung akan kejadian didepannya.


Entah kenapa rasanya sakit saat melihat lelaki yang dicintainya ternyata punya cinta nya sendiri pada orang lain.


" apa.. tidak mungkin hiks.. " racau Eisya menggelengkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


" mari jalan kesana... " ajak Nadia menggandeng tangan Arzan dan mereka berjalan meninggalkan Eisya sendirian disana.


" aku yang bodoh.. hiks... terlalu berharap padahal jauh sekali dari yang kuharapkan selama ini hiks... kenapa kau bodoh sekali Eisya... dia hanya bercanda kenapa kau baper skali haaa.. dia perhatian bukan berarti dia cinta... hiks... bodoh.. aku bodoh... " racau nya***.


" hah... hah... hah... " Eisya terbangun dari mimpi yang barusan dengan terengah engah terasa nyata sekali dan mampu menyayat hati.


Bersyukur ini hanya mimpi tapi Eisya takut jika mimpi tadi bisa jadi kenyataan atau kah benar jika Arzan punya wanita lain.


" cuma mimpi... tapi nyata sekali.... hauuuuhhh.. semoga mimpi ini hanya bunga tidur... hah.. terlalu kepikiran jadi kebawa mimpi kan.. "


Esok harinya.


Setelah sarapan Pak Rano langsung berangkat kekantor sedangkan Eisya masuk siang jadilah ia sekarang tinggal bersama Tante dan sepupunya dirumah.


" ekhemm... Bagaimana tanggapan mu akan hal kemarin, setuju kan.. " tanya Tante Meri pada Eisya yang tengah mengelap meja makan.


" apa sih yang harus kamu pikirkan... pak Haris itu orangnya kaya raya.. hidup kamu bisa selalu terjamin... " ucap Tante Meri jengkel.


" t-tapi harta tidak bisa menjamin kebahagiaan.. saya tidak mau tante.. " sahut Eisya menentang walau merasa takut.


Brakk...


Eisya terkejut saat Tante Meri menggebrak meja dengan keras pertanda beliau sedang sangat marah.


" cobalah untuk menurut.. ini juga demi kebaikan kita semua.. om mu sudah tua dan kasihani dia karena dia tidak bisa terus terusan menafkahi mu.. biaya kuliah itu mahal.. ditambah lagi Erin.. semuanya pakai biaya..apa kamu tidak kasihan melihat om mu kerja terus terusan demi membiayai kita... harusnya kau sadar diri.. dengan tiadanya dirimu dirumah ini itu bisa sedikit mengurangi beban kami... " bagai ditusuk belati tepat dijantung begitulah perasaan Eisya mendengar penuturan Tantenya barusan. Airmatanya menetes tak kuasa dipertahankan. Terkadang kata kata itu lebih menyakitkan daripada perbuatan.


" ngerti kan maksudnya.. " lanjut Tante Meri dan Eisya mengangguk lesu.


" jadi sekarang gimana mau tetap keras kepala atau setuju saja... " tanya tante Meri.

__ADS_1


Bukan jawaban yang didapati tetapi terdengar tangisan yang menyayat hati namun Tante Meri berusaha menutup mata hatinya untuk mengasihani keponakannya. Dendam nya terlalu kuat Ego nya mengalahkan rasa kemanusiaan.


" ck.. kalo ditanya itu jawab.. " geram Tante Meri.


" i-iyaa.. Eisya setuju.. " lirih gadis itu menghapus pelan airmatanya.


Tante Meri tersenyum kemenangan dan menepuk pelan bahu Eisya.


" baguss.. kenapa tidak dari kemarin.. hmm.. nungguin dibikin nangis baru.. nanti kalau om mu pulang katakan padanya kalau kamu setuju karena kemauan kamu sendiri... paham.. " Eisya mengangguk lalu Tante Meri pergi darisana meninggalkan dirinya.


" hikss... ya Allah kenapa begini nasibku hiks.. apa itu kebahagiaan.. kenapa seakan sulit sekali aku merasakan hal itu hiks... " tangisnya dalam diam karena walaupun menangis keras tak ada yang akan peduli padanya dirumah ini.


Sedangkan didalam kamar nya Tante Meri terlihat beliau sedang berbicara dengan seseorang didalam telpon tak melunturkan senyum kemenangan nya.


Berbicara di telpon.


" ahahahaha... tentu saja.. urusan ini terlalu mudah bagiku.. tenang saja.. anak itu sudah menyetujuinya dan soal suamiku dia juga akan ikut setuju kalau Eisya sendiri sudah memberikan keputusan.. "


"............. "


" baiklah besok aku akan langsung membawanya... "


" ........... "


" oke oke.. sampai jumpa besok.. "


tuuutttt....


Sambungan diakhiri membuat kedua pihak itu tersenyum bangga.

__ADS_1


__ADS_2