
" huh apa kau harus pulang sekarang..?? ayolah beberapa menit lagi habiskan waktu disini, lagian aku sedang sendirian.. " bujuk Eisya setelah mendengar permintaan Erin untuk pamit pulang.
Setelah menghabiskan beberapa buah mangga tak lupa dengan bumbu, kini keduanya merasa puas dan Erin tentu saja harus ingat rumah.
" maafkan aku tapi aku harus pulang, aku juga harus membantu mama dirumah lagian ini sudah siang, sebentar lagi suami mu pasti akan pulang dan gak enak kalau ada aku nanti disini.. " jelas Erin.
" hah.. kau ini, baiklah tapi lain kali kita kumpul seperti ini lagi yaa... " pinta Eisya diangguki Erin.
" yasudah kalo gitu aku pamit yaa.. " ucap Erin mengundur diri.
" apa perlu aku pesankan taxi untuk mu. " tanya Eisya.
" tidak usah, lagipula aku sudah memesannya dan pasti sebentar lagi datang. " jawab Erin.
" ouuuhh hati hati yaaa... "
" iyaaa... " jawab Erin menyunggingkan senyum.
Beberapa lama kemudian, taxi yang dipesan telah datang. Sekali lagi Erin berpamitan pada Eisya dan setelah itu dirinya menaiki taxi tersebut.
Kini tinggallah Eisya sendirian dirumah dan menunggu waktu suaminya pulang.
Sembari menunggu sang suami ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Kembali ke tempat Erin.
Sedang dipertengahan jalan menuju rumahnya, sebuah pesan dihandphone gadis itu mengejutkan dirinya dan segera membukanya.
*dari : om Haris
" bisakah kau datang menemuiku di caffe tempat biasa. " √√
" untuk apa. " √√ (Erin)
" hanya ingin bertemu, kuharap kau bisa atau kalau mau aku akan menjemput mu. " √√
" baiklah. " √√ (Erin)
" dan tidak perlu
" menjemput ku. " √√ (Erin)
" okey.. aku tunggu.. " √√*
Pesan terakhir hanya dibaca dan kini ia mengirim pesan pada ibunya bahwa dirinya tidak pulang dan akan pergi ketempat lain.
Meski penuh pertanyaan dari sang ibu akhirnya ia tetap mendapat izin setelah begitu meyakinkan ibunya.
Dan memberitahu pada supir taxi untuk menuju caffe yang ditunjukkan Haris.
Meski memakan waktu lumayan lama menuju kesana, akhirnya sampai juga.
Erin turun dari mobil tersebut setelah membayarnya dan melangkahkan kaki ke dalam caffe.
Netranya menemukan sosok Haris yang tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi, sesekali melirik jam yang ia yakini pria itu pasti sedang menunggunya.
Menghela nafas terlebih dahulu lalu menuju menghampiri Haris.
Menyadari kedatangan orang yang di tunggu tunggu, Haris sungguh senang dan menarik kursi untuk diduduki Erin.
__ADS_1
" maaf membuat mu lama menunggu. " ucap Erin mengawali obrolan.
" ah tidak apa apa, yang penting kau datang aku sudah sangat senang. " balas Haris.
" ohya ada apa, kok tiba tiba ngajak ketemu gak seperti biasa nya malah om yang gak mau ketemu aku.. " tanya Erin.
" sebentar yaa.. " Haris tak langsung menjawab karena ingin memanggil sang pelayan untuk memesan makanan.
Pelayan yang melihat kearah Haris pun datang sembari membawa buku menu.
" mau pesan apa. " tanya sang pelayan seramah mungkin sambil memberikan buku menu pada mereka.
" saya pesan burger dan jus apel ya, Erin kamu mau apa. " tanya Haris menunjukkan buku menu padanya.
" buatkan aku spageti dan jus mangga itu saja.. " ucap Erin tanpa melihat buku menu.
Haris mengangguk dan mengulang pesanan meraka pada sang pelayan.
Setelah mengerti, pelayan itupun bergegas pergi.
" ah sampai mana kita tadi. " tanya Haris mencoba untuk menyambung obrolan.
" masalah ketemuan.. biasanya om sendiri yang gak mau ketemu aku.. " jawab Erin.
" eee... mencoba untuk berubah, yah percuma saja kan aku mengejar yang tidak pasti selama ini... daripada membuang buang waktu pada itu lebih baik beginikan.. " senyum Haris.
Erin membulatkan matanya, ia sungguh terkejut mendengar pernyataan Haris barusan apakah pria itu sudah taubat.
" apakah om akan mengikhlaskan Eisya begitu saja.. " tanya Erin mencoba untuk mengetes keyakinan Haris.
" ahahah.. hei kau sendiri kan yang menyuruhku untuk melupakan dia dan sekarang ketika aku sudah mau melepas nya kenapa seakan kau tidak rela.. " ucap Haris sembari menoel hidung gadis itu.
" setelah ini kita ke mall ya untuk membeli perlengkapan bayi... kita, hmm... "
Lagi lagi Erin dibuat terkejut dengan ucapan Haris, apa ini apakah kini Erin bisa menaruh harapan pada pria itu.
Haris tertawa melihat raut wajah kaget milik Erin yang terlihat lucu.
Beralih Di tempatnya Eisya.
Gadis itu telah menyiapkan beberapa hidangan makanan dan ditata rapi dimeja makan.
Sekarang tinggal menunggu kepulangan sang suami.
Benar saja suara mobil terdengar dari depan, gadis itu langsung bergegas menuju depan untuk membukakan pintu.
Eisya berdiri di depan pintu dengan raut wajah ceria menunggu suaminya keluar dari mobil, wajah itu semakin tersenyum lebar saat Arzan turun dari mobil.
Namun detik selanjutnya raut wajah yang awalnya tersenyum kini berubah kecut saat melihat Arzan membukakan pintu mobil untuk wanita yang sepertinya seumuran dengan Arzan sendiri.
Wajah Eisya seketika berubah masam dan mengepalkan kedua tangannya saat melihat Arzan memberikan senyum termanisnya pada wanita itu.
Keduanya semakin mendekat menghampiri Eisya yang berdiri didepan pintu.
" hay sayangkuuu... seperti anak kecil saja menunggu didepan pintu begini.. " ucap Arzan tak lupa memberi kecupan pada sang istri tercinta.
" iya.. memang anak kecil.. " jawab Eisya jutek sesekali melihat kearah wanita yang terus tersenyum padanya.
" ohya ayo masuk, kamu juga.. " ajak Arzan pada kedua wanita itu.
__ADS_1
Arzan masuk kedalam sambil merangkul sang istri dan diekori oleh wanita itu dibelakang.
Kini mereka bertiga duduk diruang tamu, sedari tadi wajah Eisya selalu masam melihat kearah wanita itu.
Dan lagi kenapa wanita itu menenteng tas yang begitu besar, apakah dia akan tinggal disini... oh tidak bisa dibiarkan..!!!
Arzan tau sedari tadi ia melihat wajah cemburu istrinya dan tentu pria itu ingin mengerjai istrinya sedikit.
" ohya kenalkan dia ini Mita, umurnya 35 tahun punya anak perempuan satu yang berumur 10 tahun. " ujar Arzan.
" gak perlu tauu... " balas Eisya cuek.
" dia berstatus janda, suaminya telah meninggal dua tahun lalu dan anaknya dititipkan pada neneknya. " lagi ucap Arzan tak diindahkan Eisya.
" ya terus apa mau kamu nikahin dia, mau jadi bapak sambung buat anaknya gitu... Kamu itu kurang ajar banget ya bisa bisanya kayak gitu aku itu lagi ngandung anak kamu bisa sabar dikit napa, udah bosan ya sama aku yang kayak anak kecil... hiks.. padahal aku tadi cape cape nyiapin makanan nungguin kamu pulang.. hiks.. ternyata begini balasan kamu... hiks.. awas aku aduin ke mama... hiks.. hiks.. kamu brengsek tau gak... hiks.. hiks.. " pecahlah tangis gadis tersebut dan parahnya lagi Arzan malah tertawa semakin menaikkan Emosi bumil itu.
Sedangkan Mita merasa sedikit takut namun Arzan mengode untuk bersikap tenang saja.
" KETAWA LAGI KAMU HAA... DASAR BRENGSEK... HIKS... " teriak Eisya semakin meledakkan tawa Arzan.
" AHAHAHAHAHA.... AHAHAHAHA... " dengan wajah tak berdosa Arzan terus memamerkan giginya itu.
" DIAMM.. JANGAN KETAWA HIKS... MAMAAAA... SI BRENGSEK INI SELINGKUH... HIKS.. DIA MAU NIKAHIN JANDA HIKS.. PADAHAL LEBIH CANTIKAN AKU TAU HIKS... MAMAAA.... "
" AHAHAHAHA HAHAHAHA... AHAHA... hei jangan menangis aku- ARRRGGGHHH SAKIIITTT..... " Pipinya terasa sangat nyut nyutan setelah mendapatkan gigitan dari istrinya.
Ya Eisya kesal melihat Arzan terus tertawa dan dengan sangat geram ia menggigit pipi sang suami. Mita yang berada disana tak bisa menyembunyikan tawanya melihat kegemasan pasangan ini.
" kamu itu mau tumbuh gigi yaa.. sakit tauu... aaahh... " Arzan mengusap ngusap pipinya yang terasa perih dan terdapat cetakan gigi atas bawah milik Eisya.
" lagian kenapa ketawa hiks.. " Eisya masih sesenggukan membuat Arzan sedikit merasa bersalah karena mengerjai nya sampai menangis.
" sayang dengarkan aku dulu.. " pinta Arzan ingin memeluk Eisya namun gadis itu menipis nya.
" dia itu pembantu kita sayang.. aku mencarikan dia untuk mu.. agar kamu gak kecapean sayangkuu.. " jelas Arzan dan diabaikan Eisya.
" huh baiklah aku tidak berbohong sayang, tanyakan saja pada Mita sendiri. " lanjut Arzan dan mengode Mita untuk berbicara.
" benar nyonya, saya adalah wanita yang ingin mencari pekerjaan untuk menghidupi anak dan ibu saya. Suami saya telah lama meninggal dan bersamaan dengan itu tak ada lagi orang yang bisa menafkahi kami, anak saya masih kecil dan ibu saya sudah tua. Jadi harapan satu satunya adalah saya untuk mencari nafkah agar bisa bertahan hidup. " jelas Mita.
" percayalah Nyonya, yang Nyonya pikirkan itu salah besar. Tadinya suami Nyonya juga tidak mau memperkerjakan saya karena takut Nyonya akan cemburu... tetapi setelah saya bercerita suami Nyonya merasa iba dan akhirnya menerima saya. Sekarang keputusan ada ditangan Nyonya, saya mohon tolong terima lah saya.. ini adalah suatu pertolongan yang sangat besar untuk saya. " lanjut Mita.
Eisya menghapus jejak airmata yang ada di pipinya dan berbalik menatap kearah Arzan dan Mita.
" jadi kalian bukan ingin menikah.. " tanya Eisya pelan.
" pfftt... makanya dengarkan dulu sampai habis, mana mungkin aku sebodoh itu meninggalkan istriku yang sangat sempurna ini hmmm... jangan berpikir macam macam, kenapa harus ragu lagi padaku.. " ujar Arzan.
" sia sia dong airmata ku tadi.. " ucap Eisya dengan raut wajah lesu sekaligus malu pada diri sendiri.
" pipi aku juga sakit tau kamu gigit.. " tambah Arzan.
" heheh.. maaf.. " nyengir gadis itu.
" jadi, apakah kamu menerima Mita untuk jadi pembantu.. " tanya Arzan.
Eisya tersenyum pada Mita dan mengangguk mantap membuat wanita anak satu itu tersenyum gembira.
" baiklah mulai hari ini kau diterima kerja dan kamarmu sedikit dekat kearah dapur oke. " ucap Arzan sembari memeluk Eisya dan diangguki Mita.
__ADS_1