Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 45


__ADS_3

Hari telah berubah sore namun kedua insan itu masih setia menutup mata didalam ruang rumah sakit dengan posisi yang berbeda. Nicki telah kembali ke rumah nya itupun karena paksaan dari Yanza sedangkan Yanza sendiri juga memilih pulang niat membersihkan diri sekalian membawa baju ganti untuk Arzan, tak lupa pula perihal ini disampaikan pada orangtuanya Arzan yang merespon dengan panik setelah mendengar nya. Tuan dan nyonya berencana untuk menjenguk gadis itu setelah waktu magrib.


Di ruangan itu Arzan masih setia tidur dengan posisi yang sama dan bisa dipastikan badannya akan pegal karena tertidur seperti itu.


Perlahan jari jemari lentik itu bergerak gerak bersamaan dengan kelopak mata yang berusaha untuk terbuka.


Gadis itu berhasil kembali dari alam bawah sadarnya menerawang setiap sudut ruang dengan ekor matanya.


Lalu melirik seseorang yang tertidur dekat dirinya. Gadis itu tersenyum dengan lemah lalu mengingat hal yang telah menimpa mereka dan bersyukur bukan Pria ini yang terbaring disini melainkan dirinya.


Beruntung pula peluru itu hanya mengenai lengan kirinya tidak terkena bagian yang fatal sehingga memerlukan waktu pemulihan yang singkat.


Eisya mencoba meraih rambut Arzan dengan tangan kanannya dan mengelus rambut halus itu dengan lembut.


" terimakasih... " gumam Eisya pelan bahkan hampir tidak terdengar.


Namun walau lembut tetap saja Arzan terusik dalam tidurnya hingga dirinya terbangun dan mencoba mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.


satu detik... dua detik... tiga detik... dan ke detik selanjutnya Arzan baru bisa mencerna hal yang terjadi didepannya memandang Eisya yang tersenyum kearah nya.


" k-kau sudah siuman... kau s-sadarr bagaimana keadaan mu apa yang sakit... katakan lah aku ada disini bersama mu jadi jangan takut lagi kau sudah aman hmmm.......... " tanya Arzan memborong semuanya.


Eisya mengangguk lemah dan mengisyaratkan dengan matanya kalau dia baik baik saja.


" maafkan aku... karena kamu melindungi ku kau jadi seperti ini... lagian ngapain jadi Pahlawan kesiangan sih harusnya aku yang lindungi kamu... ini malah kamu yang kena.. lain kali jangan begitu... jangan coba coba melindungi orang lain dan membahayakan dirimu... aku tidak bisa membayangkan dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika kamu kenapa napa.. " oceh Arzan dan Eisya yang mendengar nya terkekeh pelan.


" kau mengerti.. hm... jangan lakukan hal bodoh seperti tadi.. " Eisya mengangguk lemah dan Arzan beralih mencium kening gadis itu.


" aku mencintaimu... aku tidak rela jika harus kehilangan mu... kau adalah pengobat luka di hatiku... kau adalah takdirku... aku sangat sangat mencintai dan menyayangimu... maukah kau mengisi hati yang kosong ini.......... " Arzan terus terang mengungkapkan perasaan nya disini karena tidak mau mengulur ngulur lagi.


Dan Eisya langsung mengangguk tanpa ragu karena ia pun sama mencintai lelaki ini jauh sebelum Arzan menembaknya disaat sekarang.

__ADS_1


" k-kau sungguh... " tanya Arzan meyakinkan.


" iyaa.. i love you... " lirih Eisya dengan suara paraunya.


" waahahah... yeyeeeeyyy... aku diterima... huhuuu... aku senang sekali.. makanya cepatlah sembuh dan aku akan segera melamarmu... " ucap Arzan dan Eisya pun sama tersenyum senang.


Begitulah akhirnya Arzan bisa mengungkapkan perasaan nya dan langsung diterima tanpa ragu semoga saja hubungan mereka tidak akan ada kendala sampai ke jenjang pelaminan nanti.


Hari telah berganti malam dan kini ruangan itu semakin ramai sebab kedatangan Tuan dan nyonya beserta Yanza yang telah kembali kesana membawakan baju ganti untuk Arzan.


Eisya diperlakukan sangat baik oleh orangtuanya Arzan, bahkan sangat sangat setuju jika gadis itu menjadi menantu mereka.


Sedari tadi Nyonya tak henti hentinya memuji Eisya dan perutnya hampir meledak karena disuguhi makanan yang enak enak bahkan sampai disuapi, dirinya sangat dimanja di keluarga ini dan bisa dipastikan kehadiran nya memang akan diterima baik.


Sedangkan Tuan dan Yanza memilih duduk disofa memperhatikan percakapan para perempuan itu. Lalu dimana Arzan tentu saja lelaki itu sedang membersihkan diri sekalian mengisi perutnya dikantin lagipula tidak perlu dikhawatirkan lagi jika Eisya ditinggal disana karena dia berada pada orang yang tepat.


Tiba tiba Yanza beranjak darisana memilih untuk keluar sebentar mencari udara segar setelah meminta izin dulu pada Tuan Rahendra.


Dirinya keluar dari ruang itu dan ketika hendak melangkah kaki, tak sengaja mata nya menatap sosok wanita yang tidak asing baginya sambil menggendong bayi sedang berada dibagian resepsionis.


Langsung saja tak mau membuat pikirannya lebih lama jika menebak nebak ia pun mendekati Anita yang hendak pergi karena telah selesai menembus obat.


" eee... hei tunggu... " ucap Yanza sambil berlari ke arah nya dan berdiri di hadapan wanita itu.


Anita menghentikan langkah nya lalu tersenyum kearah pria itu sebelum menanyakan sesuatu.


" ee... anda pria yang kemarin kan.. " tanya Anita hanya sebatas basa basi karena ia pun masih mengingat nya dengan lekat.


" iya saya Yanza.. " jawab Yanza mengenal kan diri.


" ah iya Pak Yanza... " ulang Anita.

__ADS_1


" tidak usah pakai embel embel pak lagian selisih umur kita tidak beda jauhkan.. panggil saja Yanza langsung dengan namanya. "


" ah iya baiklah.."


" Oh ya ada apa malam malam kamu kesini... apa terjadi sesuatu pada kalian apa kamu sakit atau malah simungil ini.. " tanya Yanza beralih menoel pipi tembam sibayi dalam gendongan ibunya.


" iyaa... tadi bayiku mendadak demam.. dan aku khawatir dan langsung kubawa kesini takut terjadi apa apa berhubung bayiku juga belum genap hari masih terlalu kecil. " jelas Anita.


" kamu pergi dengan siapa.. " tanya Yanza.


" eee... sendiri.. " jawab Anita.


" lhoh kenapa.. dimana suami mu.. kenapa kau pergi sendiri malam malam begini.. kenapa tidak ajak suamimu... kalau terjadi apa apa pada kalian bagaimana.. lagian kamu kan habis lahiran masak langsung di lepas gitu aja.. kondisi kamu masih lemah. " tutur Yanza membuat hati Anita menghangat bisa merasakan kekhawatiran yang diberikan untuknya.


" harusnya kamu istirahat jangan langsung bebas begini.. gak baik lho perempuan keluar keluar sebelum genap hari.. " lanjut Yanza dan Anita tak bisa menahan air mata nya untuk segera meluncur. Melihat wanita itu menangis Yanza menjadi panik dan merasa bersalah jika ada kata katanya yang menyinggung perasaan wanita itu.


" eee... maafkan aku sungguh aku minta maaf aku tidak bermaksud un-


" tidak apa apa.. aku menangis bukan karena itu bahkan aku terharu dengan bentuk kekhawatiran yang kau berikan padaku... untuk itu aku berterimakasih dan tangisku sama sekali bukan karena itu.. " ucap Anita sambil menyeka tetesan air matanya.


" lalu karena apa.. " tanya Yanza.


" aku... a-aku... aku diusir dari rumah bersama bayiku yang masih kecil ini.. aku sudah diceraikan oleh suamiku.. hiks.. Haris langsung menalak tiga diriku dan mengusir ku... bahkan melarang aku untuk membawa anak anakku yang lain.. hiks.." terang Anita tak sanggup untuk menyembunyikan lagi.


Mendengar itu Yanza juga ikut sedih dan entah kenapa merasa iba pada wanita ini.


" sudahlah tidak perlu menangisi lelaki seperti dirinya.. dia memang tidak pantas menjadi suami untuk dirimu yang sebaik ini.. sekarang aku akan mencarikan kamu tempat tinggal dan akan bersedia membiayai kehidupan kalian... " kata Yanza sama sekali tak merasa terbebani.


" terimakasih tapi untuk soal membiayai itu tidak perlu kar-


" ssssttt... bantuan mu itu sangat berharga bagi Arzan dan aku yakin dia sendiri juga akan setuju jadi terima lah bantuan ini.. anggap saja sebagai balas budi.. " ucap Yanza tersenyum dan Anita sangat berterima kasih meskipun merasa mereka terlalu berlebihan namun apa boleh buat dia bisa apa dikondisi seperti ini belum lagi untuk biaya susu anaknya dan yang lain, jika ia mencari pekerjaan disaat seperti ini tentu saja tidak mudah jadi mau tidak mau ia pun menerima bantuan itu walau merasa tak enak hati karena terlalu membebani.

__ADS_1


" ayo aku akan mencarikan tempat tinggal yang layak untukmu... " ucap Yanza dan Anita pun mengangguk kaku.


Mereka berdua pun pergi dengan mobil Yanza meninggalkan rumah sakit ini menuju ke sebuah tempat untuk ditinggali wanita ini bersama bayinya.


__ADS_2