Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 7


__ADS_3

malam harinya di rumah arzan.


kini pria itu tengah duduk dibalkon kamarnya menatap bintang bintang indah bertaburan dilangit malam sembari menyeruput kopi panas.


" ahhh..... " helanya setelah meneguk secangkir kopi.


" malam tidak pernah berubah... begitupun dengan perasaan ku padamu... nadia... " senyum sendu ia berikan pada ucapan akhir.


arzan beralih menatap tangan kirinya yang terikat gelang indah puluhan tahun lalu.


ya dia memakai nya kembali pada saat pulang dari pemakaman tadi.


arzan tersenyum menatap gelang itu dan pipinya terasa dingin karena tetesan airmata telah membasahi pipinya.


" lihatlah aku menyimpan nya dengan baik.. hadiah darimu.. aku akan selalu memakainya... terimakasih... " lirihnya.


kemudian pria itu berdiri menghampiri nakas disamping ranjang tidurnya dan membuka laci nakas itu.


setelah dibuka ia melihat kalung putih dengan bentuk love di gantungan nya. lalu arzan mengambil kalung itu dan memandangi nya.


" aku ingat... ini adalah hadiah yang akan kuberikan padamu... namun tidak sempat.. entah karena apa itu karena ingatan ku terpotong.. " ucap arzan membolak balikkan kalung itu.


" andai dikehidupan selanjutnya kau ada maka aku tidak akan melepaskan dirimu lagi. " lanjut nya.


" semuanya telah tinggal kenangan... kenangan terindah yang pernah kita lalui... akan kusimpan kenangan itu sampai kapanpun... "


" nadia sahara... gadis itu membawa pengaruh besar dihidupku.. dan kepergian nya membuat cahaya kehidupan ku seakan redup.. andai waktu bisa terulang kembali dan aku tidak kecelakaan maka aku akan tau penyebab nya.. kenapa bisa kau pergi terlalu cepat.. "


" aku masih sangat mencintaimu.. hiks... " arzan menundukkan pandangannya yang telah mengabur karena airmata.


" jika di kehidupan nyata kita tidak bisa bertemu maka tolong datanglah ke mimpi ku.. " lirih nya.


tok tok tok...


ceklek.....


pintu terbuka menampilkan wajah seseorang yang selalu pengen ditampol.


" makan malam sudah siap tuan... tolong tinggal kan dulu kegalauan mu dan mari kita isi perut bersama ku... " ucap yanza hanya menyembulkan kepalanya dipintu kamar arzan.


dengan cepat arzan kembali memasukkan kalung itu kelaci nakasnya dan menghampiri yanza.


" lain kali ketuk pintu jangan asal masuk.. " ucap nya lalu melewati yanza begitu saja.


" apa kau tidak pernah mendosmir telinga mu sampai tidak mendengar bunyi ketokan pintu.. aiss... dasar... huh.. sabar.. aku kan di rumah dia sekarang.. " yanza mengelus dada sabar lalu ikut menimbrung ke meja makan.


singkat cerita.


keesokan harinya.


hari ini adalah hari minggu jadi banyak orang yang tidak melakukan kegiatan biasanya karena libur.


setelah melakukan kegiatan rutin setiap pagi yaitu sarapan kini arzan sedang jogging pagi sendirian disekitar taman. yanza tidak ikut katanya mager pengen nonton TV saja.


hari ini taman serasa ramai karena tidak sedikit yang ikut jogging.


kebanyakan yang disini yaitu berpasangan kadang ada juga sesama cewe dan sesama cowo dan tidak sedikit pula suami istri dan anak anak kecilnya yang ikut berjogging.


arzan menatap sekeliling nya dan tersenyum ketika berpapasan dengan orang yang tak dikenal begitu pun orang itu membalas tersenyum.


bruk...


seorang anak kecil terjatuh karena berlari dan tak sengaja menabraknya.


arzan sempat terkejut dan langsung membantu anak lelaki itu berdiri.

__ADS_1


" hei kau apa masih mengantuk hingga tak liat liat dan menabrakku... " tanya arzan membantu anak itu.


setelah melihat wajah bocah itu sepertinya dia pernah bertemu dengan nya.


" hei kau bocah yang kemarin kan.. " lanjut arzan bertanya.


bocah itu mengangguk pelan.


" hah... bocah.. bocah... kita ini seperti jodoh saja.. selalu saja bertemu.. dengan siapa kau kemari... "


" dengan mama sama papa om- eh... " bocah itu menutup mulut lucu karena sadar salah memanggil.


arzan memutar bola mata jengah, sebenarnya anak ini tidak salah memanggilnya hanya saja arzan tidak bisa terima.


" panggilan aku abang okee... " nah gak waras kah arzan.. umurnya sudah seperti ayah bocah itu sendiri masa disuruh manggil abang.


tapi namanya juga bocah masih lugu jadi ia mengiayakan saja.


" iya abang... " ucap anak itu.


" nah pinterrr... " balas arzan mensejajarkan dirinya dengan bocah itu dan mengusak gemas surai bocah bermata besar itu.


" ohya nama mu siapa... " tanya arzan.


" Rafa abang.... " meski kaku anak itu tetap memaksakan diri menyebut panggilan itu.


" eumm orang tuamu mana.... "


" Rafa... ternyata kamu disini sayang... kenapa sih main lari lari aja kamu... " seorang wanita mendekati anak itu dan memeluknya, sepertinya dia ini ibu si bocah ini.


dan kemudian disusul oleh lelaki seumuran arzan juga mendekati anak itu dan kemungkinan pria itu memang ayahnya.


" syukur lah kamu gak hilang Rafa... " ucap pria yang berstatus sebagai ayah Rafa.


" Terima kasih yaa pak telah menemani anak saya.. ter-


wanita itu tak mampu lagi melanjutkan kalimat itu setelah bertatap dengan arzan.


wanita itu terkejut membulatkan matanya tak percaya.


arzan pun terheran melihat ibu ini menatap nya seperti itu.. oh apakah ibu ini terpesona dengan ketampanannya.


" eee... maaf.. ada apa yaaa.. " tanya arzan lama lama juga risih ditatap seperti itu.


" aaa... arzan.!!!!. " ucap wanita itu dan membuat arzan semakin bingung kenapa orang asing ini mengenalinya.


bocah itu dan ayahnya juga dibuat Bingung oleh wanita ini.


" maaf anda mengenal saya... tapi... jujur saya tidak mengenal kalian... " ucap arzan hati hati.


" gak gak mungkin... ini benaran kamu... kamu arzan ralvian kan... meski sudah puluhan tahun aku masih tetap mengenal mu.. kamu... " wanita itu menggeleng tak percaya.


" sayang kamu kenapa sih... " tanya suaminya.


" benar saya arzan ralvian tapi kalian siapa. " tanya arzan.


" aku emma sahabatnya kekasih mu nadia. " jelas emma wanita beranak dua itu dan membuat arzan mengerut kan kening mencoba mengingat sesuatu.


" apa..?? ... aku memang ingat nadia.. tapi.. emmaa... aku... aku gak kenal... " jujur arzan.


emma dibuat heran mengapa bisa arzan lupa padanya, karena dulunya dia adalah orang yang menyaksikan cinta mereka.


" benarkah... " tanya emma dan arzan mengangguk.


" kau tau dia sayang... " tanya suami emma.

__ADS_1


" yah aku tau.. dia adalah kekasih almarhum sahabat ku.. " jawab emma pada suaminya.


" tapi sepertinya dia tidak mengenalmu. " ucap suami emma.


" aku juga bingung.. " balas emma.


" apa dia amnesia... " ujar suami emma.


" sebenarnya apa yang terjadi padamu kenapa selama ini kau menghilang bersamaan saat nadia meninggal. " tanya emma pada arzan.


" aku... selama dua puluh tahun ini aku koma karena sebuah kecelakaan dimasa lalu. " jelas arzan.


" kemungkinan pria ini sedikit kehilangan ingatannya mungkin. " bisik suami emma pada istrinya.


" ah perkenalkan aku wilson suami emma dan ini Rafa putra kedua kami.. " ucap pria itu menjabat tangan arzan dan arzan menerimanya.


" arzan ralvian... " balas arzan.


" seperti yang kubilang tadi aku emma sahabatnya Nadia.. " tambah Emma dan arzan mengangguk ragu.


" apa kau sudah tau kabar tentang nadia. " tanya nadia kemudian arzan mengangguk lesu.


" aku baru tau kemarin setelah mengunjungi ke pemakamannya.. dan aku benar-benar tidak menyangka nadia pergi secepat itu. " lirih arzan.


emma ikut sedih dan mengingat bagaimana mengejutkan tentang kematian nadia yang secara tiba-tiba.


" dia meninggal tepat disaat hari pernikahannya dengan lelaki pilihan orang tuanya.. hari itu aku menyaksikan bagaimana nadia terus menangis tidak ingin menikah.. dan terus memberontak menolak pernikahan itu.. saat akad nikahnya akan dilaksanakan calon suami nya sempat menemui nadia dan aku sempat mendengar kalau mereka sedang bertengkar.. dan beberapa menit sebelum acara dimulai terdengar kabar kalau nadia kabur... dan semua orang mencari keberadaan nya... alangkah terkejutnya semua orang saat mendapati nadia sudah tak bernyawa jatuh kedalam jurang berlumuran darah... hiks.. dia meninggal dihari itu... hiks... dan calon suaminya juga menghilang saat itu... hiks.. dan kau... juga tidak terdengar kabar. " jelas emma panjang lebar.


mata arzan kini memanas tangannya mengepal kuat dan sekarang ia punya keyakinan penuh untuk menunjuk seorang pembunuh.


hanya saja ia harus mencari keberadaan orang itu.


" aku mencurigai seseorang... " ucap arzan.


" aku juga.. tapi kita tidak punya bukti.. " lirih emma.


" tenang saja aku akan mencarinya... tolong bantu aku...nadia akan mendapatkan keadilan nya... " tegas arzan penuh keyakinan.


" sesekali mampirlah kerumah kami... " ucap wilson ramah.


arzan tersenyum karena suami emma ini adalah orang yang baik.


" terimakasih.... " wilson mengangguk.


" yeeyy benar abang harus main kerumah Rafa yaaa... " ucap Rafa seketika membuat orang tuanya melotot mendengar panggilan nya pada arzan.


" heh Rafa gak boleh kayak gitu siapa yang ngajarin gak sopan tau manggil orang tua abang.. panggil dia om.. om ini seumuran papa juga... " jelas emma dan arzan menyengir kaku.


" tapi abang yang nyuruh sendiri iyakan abang..... " tanya anak itu polos pada arzan.


" heh ini anak... maafkan dia yaa ini anak agak bandel sih... " ucap wilson dan arzan cuma tersenyum.


" sebenarnya benar kok yang dibilang Rafa kalo saya sendiri yang nyuruh dia... hehe... " ujar arzan.


" apaaaa... " emma dibuat bingung oleh mereka.


" eeee... biar gak keliatan tua gitu loh.. " emma cuma bisa geleng geleng kepala toh dari dulu emang sifatnya begini.


wajar sih mungkin ini pembalasan arzan yang masa mudanya direnggut oleh koma dan setelah bangun dia gak sadar kalo tiba-tiba udah tua.


" ahahaha... lucu juga si om ini.. kapan kapan mainlah kerumah kami sepertinya Rafa juga udah mulai akrab.. " ucap wilson dengan penuh hati.


" sekalian lagi terima kasih kalian memang keluarga yang baik.. " balas arzan.


dan mereka pun saling tersenyum dan setelah itu mereka mengajak untuk makan direstoran dan arzan pun menerima tawaran itu.

__ADS_1


sekali lagi arzan telah bertemu dengan orang dimasa lalunya, mungkin dengan emma muncul bisa membantu arzan untuk menguak rahasia.


__ADS_2