
Di rumahnya Pak Rano.
sekarang waktu telah berubah menjadi sore menjelang malam tapi Arzan belum juga membuka matanya.
" aduuh, kok gak bangun bangun sih.. apa ada yang gawat ya... ayo om bangun dong.. " cemas Eisya dan sekarang pakaian Arzan yang tadi basah telah diganti oleh Pak Rano dengan kaos polos milik dirinya.
" huh.. aku jadi ngerasa bersalah banget deh.. karena aku om jadi kek gini.. "
Kegelisahan nya semakin bertambah dan hatinya tak tenang karena sudah lebih dari dua jam pria ini pingsan.
Baiklah karena Eisya penasaran jadilah dirinya mendekatkan telinganya ke detak jantung Arzan berniat untuk mengecek apakah dia masih hidup.
" maaf om bukan apa apa kok aku cuma mau ngecek.. " ujarnya lalu merapatkan telingan ke dada kiri Arzan.
Tanpa disadari orang yang dari tadi pingsan kini membuka matanya dan sekarang sedang tersenyum kearahnya.
" eeummm detak jantungnya normal.. baik baik aja mungkin.. tapi kok belum bangun juga... "
" udah kok.. " jawab Arzan tiba tiba dan seketika itu membuat Eisya terkejut dan menjauhkan dirinya.
" eeee... maaf bukan apa apa aku han-
" detak jantung saya selalu berdebar jika dekat dengan mu.. " penuturan itu mampu membuat Eisya melayang layang.
" akhh... " ringis Arzan tiba tiba ketika hendak bangun.
" eh om mari saya bantu.. " dengan pelan Eisya membantu Arzan supaya bisa duduk dikasur itu.
" uhh.. " kini beralih Arzan memegang perutnya.
Melihat itu Eisya bisa simpulkan kalau Arzan sedang sakit perut.
" om kenapaa sakit perut ya.. " tanya Eisya dan Arzan mengangguk lemah.
" saya punya magh dan mungkin sekarang kambuh..... " lirih Arzan.
" pasti gara gara om telat makan... yaudah sekarang tunggu aku ambilkan makanan... oke.. " Eisya hendak bangun namun tangannya dipegang oleh Arzan.
__ADS_1
" sekalian kalau ada obat magh ya.. hehe. " nyengir Arzan dan Eisya hanya tersenyum lalu pergi dari sana untuk mengambil makanan.
Setelah sekian menunggu Eisya kembali sembari membawa bubur dan segelas air putih tak lupa obat yang diminta tadi.
" aku suapin ya... " tawar Eisya dan Arzan tersenyum mengangguk antusias.
" aaaa.. "
hup..
satu suapan telah dimakan oleh Arzan dengan suapan manis dari Eisya.
Emang dasarnya bubur gak perlu dikunyah pun udah hancur lebur.
Suapan kedua dan ketiga sampai semuanya tandas bubur itu berhasil dihabiskan. Setelah itu Eisya membantu Arzan meminum obatnya.
Terakhir Arzan memberikan senyum termanisnya untuk Eisya lagi lagi membuat gadis itu tersipu.
" istri idaman banget sih kamu.. kalau punya istri kayak kamu terus lagi sakit dirawat selembut ini... jadi kepengen sakit terus... hahaha... "
" ihh omm.. "
Arzan sampai dirumah tepat pada saat matahari telah terbenam dan langsung ia disambut senang oleh keluarganya terutama sang ibu.
setelah itu ia membersihkan diri dan bersiap siap untuk makan malam.
Keesokan harinya.
Beralih di kantornya Pak Rano bekerja yaitu perusahaan milik Haris.
Disana mereka tengah membicarakan hal serius cuma berdua saja bukan tentang pekerjaan tapi mengenai hal lain dan terlihat Pak Rano tidak setuju dengan pernyataan yang diberikan Haris Barusan.
" tidak Tuan tidak mungkin... maaf saya menolaknya.. Eisya itu masih kuliah dia masih ingin mengejar mimpi nya dan saya tidak mau merusak impian anak itu... maaf kalo untuk hal itu saya tidak bisa... " Pak Rano membungkukkan badan lalu keluar dari ruangan itu.
" aaarrrhhhh..... sialan... " umpat Haris kesal sambil melemparkan barang barang didepannya.
" hmm sepertinya aku harus menyogok orang lain... dan gadis itu harus segera aku dapatkan... " seringai pria itu telah menyusun rencana dikepalanya.
__ADS_1
Haris merogoh sakunya lalu mengeluarkan handphone berlogo apel dan menekan nomor seseorang.
sambungan tersambung.
" haloo.. ini saya Haris.. "
"........... "
" temui saya dikafe bella sekarang.. "
".......... "
" ada hal yang ingin saya bicarakan.. cepatlah bergerak sekarang. "
"............ "
" oke saya tunggu..... "
ttuuuttt.....
Sambungan terputus Haris yang memutuskannya satu pihak lalu dirinya bergegas ketempat yang ia janjikan.
Kaffe Bella.
Disinilah dua orang dewasa berlawanan jenis sedang membicarakan satu hal.
sreettt...
Haris menyodorkan amplop tebal berisi uang di hadapan seorang wanita di telponnya tadi.
Wanita dengan riasan mencolok itu terlihat membelalakkan mata melihat uang setebal itu, meskipun ia kaya namun yang namanya uang pasti akan tergiur.
" i-ini... " tunjuk wanita berstatus istri orang itu pada amplop dihadapannya.
" milikmu... jika gadis itu jadi milikku.. " ucap Haris menaikkan alisnya.
" ahahaha... tentu saja... ambillah.. dan tenang saja aku bisa urus suamiku.. " sahut wanita itu tersenyum licik.
__ADS_1
" semoga ucapan mu bisa dipercaya.. dan aku tunggu kabar baiknya.. " ucapan pria itu diangguki mantap oleh wanita dihadapannya.
" silahkan nikmati hidangannya. " lanjut Haris lalu kemudian mereka saling menyantap makanan yang telah dihidangkan.