Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 65


__ADS_3

Gadis itu terus berlari agar terhindar dari kejaran pria berambisi tersebut hingga keberuntungan pun berpihak padanya ketika dirinya bertemu dengan Emma.


Wanita beranak dua itu sedang berjalan menuju supermarket untuk membelikan makanan yang diinginkan sibungsu nya, dan tidak sengaja netra nya melihat Eisya yang berlari ketakutan kearahnya seperti sedang dikejar setan.


Seakan mengerti dengan keadaan, Emma tidak dulu bertanya namun membantu gadis itu untuk bersembunyi didalam mobilnya.


Syukurlah Haris telah kehilangan jejak gadis tersebut dan memilih pergi dengan kesal.


Dan ketika dirasa suasana sudah tenang, Emma pun mulai bertanya pada Eisya perihal apa yang terjadi didalam mobil nya.


" kenapa??.... apa pria itu mengejarmu.. " tanya Emma yang memang sempat melihat Haris saat menuju kedekat mobilnya untuk mencari Eisya.


" aku takut sekali... entah kenapa om itu tidak pernah sadar akan sikapnya yang menakutkan itu... " jawab Eisya.


" dia adalah orang yang sama seperti dua puluh tahun lalu... " gumam Emma namun dapat didengar oleh Eisya.


" m-maksudnya... " tanya Eisya bingung.


Bukannya menjawab Emma malah menyunggingkan senyum tulus nya.


" mau mampir kerumah ku dulu.. " tawar Emma.


Ingin nya sih menolak namun mengingat orang ini yang telah menyelamatkan nya jadi mau tidak mau harus mau.


" i-iya tante... " jawab Eisya membuat Emma senang.


Melihat gadis itu saja seperti merasakan kehadiran sahabatnya, gadis itu benar benar replika sahabatnya yang sangat pas sekali.


Maka dari itu setiap dekat dengan gadis tersebut bawaannya ia ingin selalu dekat dengan almarhumah sahabatnya.


Mobil putih bersih itu telah memasuki perkarangan rumah dan memarkirkan ditempat yang telah disediakan.


Kedua insan dari sana turun dari mobil seperti hal nya Eisya yang mendekati Emma untuk diajak masuk.


" ayo masuk... " lembut seorang ibu itu membuat Langkah kaki Eisya terasa ringan.

__ADS_1


Emma menuntun Eisya dengan memimpin jalan menuju ruang tamu dirumah tersebut, lalu mempersilahkan gadis itu mendudukkan bokong manisnya tak lupa pula menyuruh pembantu untuk menjamu tamu nya itu.


Meski tau orang yang mengundangnya kerumah nya ini baik namun yang namanya jarang bertemu apalagi tidak terlalu saling kenal sudah bisa dipastikan ada rasa canggung dihati salah satunya khususnya Eisya.


Lain dengan Emma ia nampak senang dan tak bisa berhenti menatap rindu akan wajah yang mirip dengan almarhumah sahabatnya.


Eisya tak bisa menyembunyikan gerak gerik tak nyamannya saat ditatap seperti itu oleh Emma membuat wanita itu sadar.


" tenang lah... aku ini sahabat baik suamimu.. tidak usah merasa canggung dengan ku. " tegur Emma tak lupa menyunggingkan senyum.


" i-iya tante... " ucap Eisya tak bisa menutupi kecanggungan nya.


Aneh sekali ya rasa nya ketika teman suami sudah seperti umur ibu kandung sendiri dan lagi sang suami sudah seperti ayah sendiri karena terpaut usia yang sangat jauh.


selisih usia 20 tahun dan jika Arzan menikah disaat usia nya itu sudah bisa dipastikan kalau anaknya seumuran dengan Eisya.


Apa itu umur, kami tidak mengenal dan mempedulikan nya... ucap si cinta. sudahlah lupakan!!!!


Ditengah perbincangan yang hening, si bungsu nya Emma datang menghampiri dirinya dan menagih barang titipan nya.


" ahhh ya ampuuunnn... " Emma menepuk jidatnya.


" maafkan mama sayang mama lupa.. " lanjut Emma dengan raut wajah menyesal namun tidak dapat mengalahkan wajah kekesalan bocah itu sekarang.


" ahh mama... bagaimana sih... padahal udah janji... ihhh kesal. " gerutu bocah itu.


" mama benar benar lupa bukan disengaja sayang.. " ucap Emma tersirat memohon ampun atas kesalahan nya itu.


" hah pokoknya kesal... " balas Rafa si bocah yang disebut bocah tadi.


Eisya tersenyum melihat interaksi antara anak dan ibu itu serasa dirinya juga akan seperti Emma nantinya jika menjadi seorang ibu.


" ohiya tadi aku sempat membeli coklat... sebentar... " Eisya menjeda ucapannya lalu mengeluarkan sebatang coklat yang diambil dari kantong bajunya yang lumayan muat untuk sebatang coklat seperti itu.


" aku hanya punya ini... kalau mau ambillah.. dan kalau tidak... aku juga tidak akan memaksa.. " ucap Eisya menyodorkan coklat miliknya pada Rafa.

__ADS_1


Emma yang menyaksikan itu hanya diam menunggu respon dari anaknya dan ia berharap anaknya itu bisa menerima jadinya ia tidak perlu keluar lagi untuk membeli.


" sebenarnya bukan ini yang ku inginkan tapi karena aku menghargai kebaikan bibi... jadi aku akan menerima nya.. " ucap bocah polos itu dengan kata kata bijaknya.


Eisya tersenyum ketika Rafa mengambil pemberian nya dan pamit untuk memakan coklat ini dikamar nya sambil bermain mobil mobilan.


" hah... syukur lah ia bisa menerima nya tanpa protes padahal biasanya kalau dia bilang ini harus yang ini bukan yang itu.. entah apa yang terjadi padanya tapi aku berterimakasih padamu karena telah membantu ku bebas dari amukan anakku.. " ujar Emma.


" sama sama tante... " balas Eisya.


Karena Eisya sudah terlanjur berada dirumah Emma jadilah ia berdiam sebentar dirumah itu sampai waktu sore tiba dan mengharuskan dirinya untuk pulang.


" kenapa gak sekalian makan malam dulu setelah itu baru pulang... " ucap Emma pada Eisya.


" ahh tidak apa apa tante... gak enak juga sama orang rumah mereka pasti nunggu.. " balas Eisya bukan sepenuhnya menolak hanya saja masih merasa canggung.


" yasudah kalau begitu... tapi kamu tidak bisa pulang sendiri... biarkan saya yang mengantarmu ya... " tawar Emma.


" tidak apa apa tante... saya tidak mau merepotkan tante lagi... " ucap Eisya.


" tapi-


" sungguh tidak apa apa.. " potong Eisya.


Kalau sudah begini maka tidak ada lagi yang bisa dipaksakan terpaksa wanita itu harus mengiyakan.


" eumm bagaimana kalau saya menelpon Arzan dan menunggu nya menjemput kamu..... " tawar Emma lagi.


" tidak ap-


" sssttt.... kamu tidak ingat kejadian seperti tadi.. bisa saja pria itu masih berkeliaran disana... sudah kali ini tidak ada penolakan.. tunggu saja... oke... " kali ini Eisya yang tidak bisa menolaknya.


Emma lalu menelpon Arzan, dan Eisya duduk lagi diruang tamu sembari menunggu jemputan sang suami.


Begitu juga Arzan saat mengangkat telpon dari Emma yang menyuruh menjemput sang Istri dirumah nya langsung saja pria itu tancap gas lagi pula dirinya juga akan pulang karena kerjaan telah usai.

__ADS_1


__ADS_2