
Hari telah menjelang siang dan sekarang diperlihatkan pada sosok pria baruh baya yang baru saja mendarat di kota ini dari negara bernamakan Jepang.
Berjalan sembari menyeret koper miliknya dengan gaya songong meski diusianya yang tak muda lagi.
Sesekali tersenyum saat melihat negeri kelahiran nya yang telah begitu lama ditinggalkan dan tak terasa liquid bening itu jatuh dari pelupuk mata yang telah dihiasi beberapa kerutan.
Hatinya kembali sesak saat mengingat kejadian 20 tahun lalu yang begitu menyayat hati.
Mencoba untuk tetap tegar dengan menyeka airmata yang telah membasahi pipi.
Beliau memilih untuk beristirahat sejenak sembari makan di sebuah restoran yang tak jauh dari bandara tersebut.
Hatinya kembali mengingat masa lalu saat mencicipi beragam makanan yang terasa sangat lezat di lidahnya.
Penampakan dari sebuah makanan yang sederhana ternyata terasa begitu nikmat.
Bibir itu kembali menyunggingkan senyum saat merasakan sensasi gurih yang begitu kentara pada gigitan daging yang dicicipinya.
Airmata itu kembali menetes saat mengingat sosok yang telah meninggalkan nya.
Rasa rindu itu kembali membuncah sesak kembali terasa saat melihat pemandangan sebuah keluarga yang harmonis tanpa sengaja duduk di meja depan sana.
" gadis kecilku... andai saja kau masih hidup nak.. kau pasti sudah menjadi seorang ibu juga sekarang... " lirihnya begitu saja terucap dibibir itu.
Skipp...
Beralih ditempatnya Arzan lebih tepatnya dirumah Tuan Rahendra.
Kini suasana di meja makan itu terasa begitu sangat bahagia apalagi setelah berita kehamilan Eisya disampaikan.
Tuan Rahendra dan sang istri begitu terkejut dan sangat merasa bahagia, akhirnya setelah penantian yang begitu panjang kini keluarga itu dikaruniai cucu.
Eisya hampir kewalahan saat melihat perlakuan mertuanya itu yang menjadikannya seorang ratu dan telinganya juga sangat lelah sedari tadi mendengar nasehat yang diberikan ibu mertuanya.
Arzan sendiri menjadi sasaran nasehat orangtuanya, banyak sekali catatan yang diberikan oleh ibu dan ayahnya untuk menjaga sang istri.
Tentu saja dirinya mau tapi tidak usah ratusan kali juga diulang ulang, lagian Eisya hamil kan karena dirinya juga kenapa dirinya tak diberi apresiasi.
Huh andai saja mereka tau pengaruh besar kehamilan Eisya kan karena dirinya, tapi yasudah lah tak usah merasa cemburu pada hal itu.
__ADS_1
" Sayang malam ini nginap disini aja yaa.. " rayu sang ibu mertua pada menantunya.
Eisya tersenyum lalu melirik sang suami untuk melihat respon yang diberikan karena ia pun tak begitu keberatan jika tinggal disini karena bisa merasakan perhatian sosok ibu yang diberikan oleh ibu mertuanya.
Tau Eisya melirik nya, Arzan pun ikut memandang kearah sang istri.
Arzan memutar bola mata jengah, jujur saja ia merasa keberatan tinggal disini karena merasa tidak enak kalau mau ngapa ngapain.
Walaupun tidak ada yang mengganggu tapi tetap tidak nyaman kalau bukan dirumah sendiri.
Tapi melihat tatapan sang istri yang begitu senang saat ditawari ibunya, terpaksa Arzan mengiyakan mengangguk pelan kepalanya.
" tapi untuk malam ini saja ya selebihnya kita tetap tinggal dirumah sendiri.. " ucap Arzan setelah menganggukkan kepalanya.
" huh.. keliatan banget tuh takut.. " cibir Tuan Rahendra yang memang sudah bisa menebak isi hati putranya.
" apa sih.. " balas Arzan dengan wajah songong sedangkan kedua wanita disana sudah saling tersenyum.
" eh pi bantuin Arzan dong buat nyariin pembantu dirumah aku.. " lanjut Arzan sekarang raut wajahnya sudah berbeda sekali tercium aroma memohon.
" kamu itu kapan gede nya sih, cari aja sendiri.. itu aja masih minta bantuin papi.. mau jadi seorang ayah kok belum mandiri, dasar..!! " cibir Tuan Rahendra lagi membuat Arzan kembali kesal.
" Heh.. sembarangan kalo ngomong, gak ada gak ada.. " balas Tuan Rahendra dibuat kesal.
" udah ah ribut mulu, selesaikan makan dulu setelah itu terserah kalian yang jelas mama mau ngabisin waktu bareng menantu.. " ujar Nyonya kesenangan.
Singkat cerita, waktu beralih ke sore hari dan kini kita diperlihatkan dikediaman Yanza bersama istri dan anak tirinya.
Chika dan Ezraf dibiarkan bermain bersama tak tinggal dengan pengawasan Anita sedangkan Yanza baru saja menutup telponnya karena mengakhiri pembicaraan dengan salah satu teman atau lebih akrab nya dia sudah menganggap orang itu adiknya.
Dirinya ikut bergabung duduk disana disofa ruang tamu setelah selesai dengan urusan itu.
" sudah kembali.. " tanya Anita sembari mengambilkan salah satu mainan untuk diberikan pada bayinya.
" hmm.. tadi Arzan nelpon, biasaaa.. kami cuma berbincang bincang.. " jawab Yanza.
" ouuh... " Anita hanya ber oh ria setelah itu kembali menciluk ba sang bayi.
" ohya tapi tadi sebelum menutup telpon, Arzan sempat mengabari berita baik mereka.... " ucap Yanza kembali menarik perhatian Anita untuk bertanya.
__ADS_1
" berita baik apa..?? " Anita bertanya membiarkan Chika untuk menciluk ba si bayi.
" katanya.. istrinya itu sedang hamil sekarang... " jawab Yanza sembari tersenyum pada sang istri.
" ouuh benarkah... " sahut Anita juga merasa bahagia.
" aku ikut senang semoga saja ibu dan calon bayinya sehat selalu.. " lanjut Anita diikuti anggukan dari Yanza.
" wahh... tak terasa ya gadis itu akan menjadi seorang ibu sekarang.. " ucap Anita.
" terlebih lagi Arzan, setelah begitu lama penantian nya menjadi seorang ayah.. kini telah terwujud.. " tambah Yanza.
Sedang asyik berbincang, tiba tiba terdengar suara bunyi bel dari pintu utama membuat salah satu dari mereka harus bangun untuk membuka pintu.
" biar aku saja.. kamu awasi anak anak ya. " Anita menawarkan diri setelah itu beranjak darisana.
Langkah kakinya begitu terburu buru saat mendengar bel yang dibunyikan tak sabaran oleh orang yang ada diluar entah siapa itu.
" sebentaaarr.... " ucap Anita lalu membuka knop pintu untuk melihat siapa orang yang tak sabaran itu.
Ceklek....!!
Pintu terbuka, seketika yang awalnya Anita ingin mengumpat kini tersenyum saat melihat siapa yang datang.
" kamu rupanya.. sini peluk.. " Anita merentangkan kedua tangannya dan langsung saja tubuh itu dipeluk seketika.
" maaf maa jika kedatangan ku menganggu waktu mama tapi aku rindu.. " ucap Angga dipelukan Anita.
" sssttt.. kedatangan mu lah yang mama tunggu tunggu, jangan merasa sungkan untuk datang kesini.. mama selalu punya waktu untuk mu.. " balas Anita mengulas rambut anaknya setelah itu pelukan itu pun diakhiri.
" Ayo masuk.. kedua adikmu sedang main didalam.. ada papa mu juga.. " ucap Anita menarik Angga masuk.
" tapi ma apa gak papa.. takutnya nanti papa terganggu.. " sejenak Angga menghentikan langkahnya.
Anita juga berhenti dan menatap putranya itu lekat lekat.
" ck kamu ini bicara apa sih.. apa masih meragukan papa sambung mu itu hmm... ayolah sayang jangan lagi raguu.. buang perasaan itu jauh jauh.. hmm.. " Anita mengulas senyum dan menghadiahkan kecupan dipipi sang anak.
" huh.. baiklah maa.. ayoo aku tidak akan ragu lagii.. " Angga membalas dengan senyum juga.
__ADS_1
Setelah itu mereka beranjak menuju keruang tamu tapi sebelum itu Anita tak lupa untuk menutup pintu kembali.