Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 90


__ADS_3

Dirumahnya Arzan dan Eisya.


Biasanya malam malam seperti ini mereka lebih memilih menghabiskan waktu diluar tapi tidak untuk sekarang karena mereka lebih memilih menghabiskan waktu dikamar.


Sedari tadi Arzan harus menerima penolakan dari Eisya karena istrinya itu tak memberi izin pada suaminya untuk tidur dipahanya.


Bukan hanya itu gadis itu juga melarang Arzan untuk mengelus perutnya dengan alasan geli.


" kau ini kenapa sih apa masih marah karena hal tadi.. " Arzan merasa kesal.


" tidak bukan itu tapi sungguh entah kenapa aku seperti tidak ingin melihat mu.. " Eisya berucap jujur bukan karena benci tapi ah tidak tau.


" ohh jadi kau seperti itu sekarang..?? " Arzan berdiri sembari berpose pura pura marah.


" tolong jangan marah mungkin ini bawaan bayii.. " ucap Eisya sambil tersenyum.


" apa maksudmu anakku sendiri tidak ingin melihatku begitu.. " balas Arzan.


" ck jangan seperti itu, aku yang hamil kenapa om yang sensitif.. hahaha.. " Eisya tertawa membuat Arzan tak bisa menahan kegemasan.


" owww kau menertawai ku awas yaa.. " Arzan langsung memeluk istrinya tak lupa juga untuk berhati hati.


" ohya kalau anak kita perempuan mau menamainya siapa.. " tanya Arzan kini beralih menidurkan kepalanya istrinya kedada bidangnya.


" terserah kau saja, soal nama aku belum kepikiran.. " jawab Anggiva.


" wwuuhh aku udah gak sabar menjadi sosok ayah, bisa kau bayangkan bagaimana nantinya malaikat kecil itu memanggilku papa sambil menggandeng tanganku dengan tangannya yang kecil itu... ututuuu bayiku. " Ucap Arzan gemas sendiri.


" jika dia perempuan aku akan membelikan begitu banyak boneka untuknya.. " lanjut Arzan.


" jika dia laki laki..?? " tanya Eisya.


" akuuuuu.... Akan mengajarinya keren seperti kuuu... ahaha tentunya cara mengambil hati wanita dengan benar.. hehe.. " nyengir Arzan.


" hmm.. awas ya tidak akan aku izinkan. " ucap Eisya.


" bagaimana bisa, jika wanita yang dirayunya kelak seperti mu tentu harus ada caranya kan..?? "


" aahhh kau inii.. " balas Eisya tersenyum malu.


Keduanya pun saling tertawa begitu bahagia saat membayangkan harapan yang begitu dinantikan.


Semoga saja kelak harapan itu menjadi kenyataan dan tak ada kebahagiaan yang tertunda lagi untuk mereka.


Sudah cukup selama 20 tahun ini Arzan hidup hampa hanya terbaringkan diranjang persakitan, dan begitu terbangun hanyalah kenyataan pahit yang ia dapatkan.


" bagaimana kalau anak kita perempuan kita namakan Nadia Sahara.. " usul Eisya cukup membuat Arzan terkejut.


" tapi nama itu.... "


" aku tau nama itu adalah masa lalumu tapi aku hanya merasa kalau nama itu sangatlah indah... Aku suka.. " jelas Anggiva membuat Arzan tersenyum.


" apapun untukmu.. " balas Arzan sembari mengecup pipi sang istri.

__ADS_1


" mau keluar jalan jalan..? " tanya Arzan menawarkan.


" euumm untuk malam ini engga deh, mau bobo sama om aja.. " ucap Eisya malu malu.


" umm.. tadi katanya tidak ingin melihatku tapi sekarang..?? " goda Arzan.


" iiihh itukan tadi lagian gak mau apa..


" mau apaaaaa hayooo..


" ihh maluuu tauu.. " gumam Eisya membuat Arzan tertawa.


Dan begitulah pada akhirnya Arzan menarik Eisya dalam pelukan nya lalu tidur sambil berpelukan tak lupa bersembunyi dibawah selimut yang tebal.


Entah apa yang akan mereka lakukan..!!


Malam telah berganti menjadi pagi hari.


Sinar matahari pelan pelan menusuk menyinari menembus kaca jendela yang berlapiskan gorden putih.


Seseorang nampak terganggu dengan sinarnya dan terbangun sembari merentangkan otot ototnya yang terasa kaku.


Tak lupa menguap dan mengucek ngucek matanya yang terasa buram.


Melirik sosok yang masih tertidur dengan nyaman disamping nya dan sesekali sosok itu terganggu dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya.


Lelaki itu tersenyum memandangi wajah imut tersebut lalu bangkit untuk menutup lapisan gorden yang satu lagi yang berwarna gelap.


" baiklah sepertinya aku mandi dulu saja dan bersiap.. Kasihan si kecilku ini masih mengantuk dan nyaman sekali kelihatannya..... " gumam Arzan sembari tersenyum.


Dirinya pun bergegas ke kamar mandi tak lupa mengambil handuk dan sempat sempatnya mencium sang istri.


Singkat nya ritual mandinya Arzan telah selesai. Dirinya pun keluar hanya mengenakan handuk dibagian bawah.


Lalu membuka lemari untuk mengambil jas kerjanya dan beberapa peralatan lainnya.


Sembari bersenandung ria pria itu dengan santai memakai pakaian nya lalu beralih memasang dasi sebisanya.


Tak lupa menata rambut dengan style keren dan menyemprot minyak wangi kesetiap sudut.


Sepatu juga sudah, tas kerja dan terakhir mengenakan jam tangannya dengan merek yang tak main main.


" uuhhh tampan nyaa.. " gumamnya begitu percaya diri didepan cermin.


" nanti kalau ada si kecil pasti dia akan bertanya seperti ini... Ehemm.. Papa, papa mau kemana tampan sekali.. " ucap Arzan sendiri dengan menirukan cara bicara anak kecil.


" nanti kalau pulang jangan lupa belikan dede kue yaaa... ahahaha.. " lanjut Arzan dengan nada sama seperti tadi dan tertawa sendiri.


" ehemm... Iya sayangg dede mau kue apa pasti semua akan papa belikan.. " sekarang Arzan menirukan cara bicara sebagai sosok ayah.


" uuuhhhuu ahahaha... tidak sabarnyaaa bisa gila aku.. " Arzan meloncat kegirangan merasa gemas sendiri dan tak sadar sedari tadi seseorang memerhatikan sambil menahan tawa.


" ahahaha... ahahahaha.. haha.. sejak kapan hmmm... " Eisya meledakkan tawanya sedari tadi sudah memerhatikan suaminya sejak pertama kali Arzan berhayal.

__ADS_1


Menyadari itu Arzan tersenyum kikuk menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal sekaligus merasa malu.


" aaahh sejak kapan melihatku.. " tanya Arzan merasa malu.


" sejak tadii... Papa, papa mau kemana tampan sekalii... ahaha.. " Eisya menirukan cara bicara Arzan barusan dan tertawa membuat pria itu malu.


" heii apa salahnya melatih diri. " pembelaan Arzan terhadap diri sendiri.


" ummm.. manisnya... " rayu Eisya.


" aku berangkat ya sayang.. " ucap Arzan mengalihkan pembicaraan dan mendekati istrinya.


" kenapa tidak membangunkan ku untuk membantumu beberes... " tanya Eisya bergelanyut manja pada sang suami.


" kau tidur seperti bayi aku tidak tega membangunkan ibu si bayi ini.. " ucap Arzan sembari mengelus perut istrinya.


" aahh kau ini lalu membiarkan dasimu seperti ini.. hah seperti tidak punya istri saja... sini aku perbaiki.. " Eisya mulai memperbaiki dasi yang menggelantung di leher suaminya dengan benar.


" ututuuu... " Arzan tersenyum menggoda istrinya.


Eisya begitu serius memperbaiki dasi sang suami dan Arzan begitu fokus memandangi wajah indah milik sang istri.


" cantik sekali sihh.. " gumam Arzan membuat Eisya yang mendengar nya malu malu.


" nah sudah selesai.. " seru Eisya meraup wajah suaminya dengan lembut untuk membuat nya sadar.


" ohh ya ampun aku belum menyiapkan sarapan untukmu.. " Eisya menepuk jidatnya dan buru buru untuk turun namun Arzan menghentikan nya.


" ada apa.. " tanya Eisya.


" kau lupa di rumah ini ada siapa selain kita berdua.. " tanya Arzan memancing istrinya untuk mengingat.


Seketika Eisya kembali mengingat bahwa dirumah nya sekarang ada pembantu, ia pun jadi senyum senyum sendiri.


" istri ku yang cantik ini sekarang hanya perlu istirahat okee.. tapi jangan lupa mandi dan sarapan okeeyyy... " ucap Arzan diangguki Eisya.


" ya sudah kalau begitu aku sarapan dulu ya setelah itu aku berangkat.. " lanjut Arzan.


" iyya hati hatii.. " seru Eisya.


" ohya nanti mau nitip apa biar aku bawa pulang... " tanya Arzan hendak melangkah kan kaki namun berhenti sejenak.


" beliin dede kueee... ya papaa... ahaha.. " Eisya kembali menirukan cara bicara Arzan tadi.


" iihh kau ini yaaaa.... " Arzan mencium istrinya berkali kali sebagai balasan membuat mereka saling tertawa.


" ya sudah aku berangkat yaa.. " mengingat waktu yang semakin berjalan Arzan pun menghentikan bercandaan tersebut.


" iyaa hati hati yaudah sana udah telat ini lho nanti papa marah.. " peringat Eisya.


" daaaa.... " seru Arzan lalu bergegas dari sana.


" huuuff sepertinya aku harus mandi dan sarapan.. " gumam Eisya sepeninggalan suaminya ia pun bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2