Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 41


__ADS_3

Arzan pulang ke rumah sehabis mengantar Nicki kembali, ia langsung merubah dirinya disofa yang telah diisi anggota keluarganya termasuk Yanza.


Tampaknya ada hal yang lain dari raut wajah mereka yang seperti sedang marah menatap Arzan tak suka. Pria itu tak ambil pusing dan malah bersender memejamkan mata hingga Tuan sendiri yang menegurnya.


" darimana kamu.. " tanya Tuan dengan nada tak bersahabat.


" dari luar piii... " jawab Arzan enteng.


" luar tu ditempat mana, jawab yang jelas Arzan.. " sambung sang ibu dengan nada datarnya, sedangkan Yanza yang sudah tau masalahnya hanya diam.


" dariii... dari rumahnya Hariss-


" nah benerkan... bikin masalah apa kamu disana sampe dia nelpon papi dan mutusin kerja sama nya secara sepihak.. " jelas Tuan tak mau berbelit-belit.


" cih.. ngadu rupanya... " decik Arzan.


" kenapa Arzan, bikin masalah apa kamu sampe Haris memutuskan dengan tiba-tiba padahal proyeknya sudah berjalan lebih dari setengah nya lho.. " tutur Tuan merasa kecewa pada anak tunggal nya.


" harusnya kamu jangan bertindak gegabah dong nak kasian papi kamu. " tambah nyonya dengan nada lembut.


" nah benerr....dengerin kata orang tua. " Yanza pun tak mau ketinggalan.


" huh... gini ya papi mami.. dan lo juga monyet.. Arzan bertindak karena ada alasannya.. Haris sudah merebut wanita yang kucintai dan hendak melecehkannya.. jadi aku mukulin dia sebab aku gak mau tinggal diam jika cintaku diperlakukan seperti itu. " jelas Arzan.


BRAAKK....


Semuanya terkejut ketika Tuan berdiri dan menggebrak meja dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sedangkan Arzan sudah merapalkan doa kalau saja papi akan marah.


" baguussss... memang pria sejati pertahankan itu.. " dan secara tiba-tiba ekspresi Tuan berubah gembira dan memeluk Arzan yang sudah syok.


Tak hanya Arzan, nyonya dan Yanza pun saling memandang dan tidak mengerti.


" maksudnya pi.. " tanya Arzan yang masih heran.


Sebelum menjawab Tuan mengambil posisi duduknya kembali.


" kalau itu alasannya papi dukung... bodoamat lah sama kerja sama itu lagian masih banyak cabang yang lain... " jawab papi santai.


" jadi..... wiiihh.. thanks pi. " ucap Arzan dengan raut wajah gembira.


" yah padahal aku udah nunggu nunggu lho momen Arzan dimarahin habis habisan. " lesu Yanza.


" setan lo.. " cibik Arzan pada Yanza.


" jadi pria memang seperti itu.. dia harus melindungi wanita yang dicintainya dan mempertahankan nya... kalau bisa rebut kembali akan hak nya.. "


" iya pi... " sahut Arzan senang.


" papi dulu waktu ngejar mami kamu beberapa kali keluar masuk penjara sebab mukulin orang yang merebut nya... huh papi gak tinggal diam karena kita ini jantan.. jadi... rintangan apa pun harus dilalui agar mendapat hak kita kembali... " jelas papi dan Arzan manggut-manggut senang.


" jadi Arzan.. kamu harus berani.. rebut kembali hal yang menjadi hak mu... kalau bisa tinju aja tu orang.. " ucap papi sambil mempraktekkan gaya tinjunya.


" heh.. papi.. jangan sembarangan ngajarin ya.. mami gak mau Arzan sampe masuk penjara gara gara mukulin orang... dan kamu Arzan gak usah dengerin papi mu. " balas nyonya tak setuju.

__ADS_1


" ambil dengan cara baik baik gak usah pakek kekerasan.. " lanjut nyonya tersenyum.


" kalau dengan cara licik boleh tu.. " tambah Yanza.


" nah gue setuju.... " girang Arzan sambil menunjuk Yanza.


" yang penting mami gak mau kalau kamu sampe kenapa napa Arzan. " ucap Nyonya.


" yang penting kamu berhasil merebut hak mu Arzan... " tambah papi walau mendapat cubitan sayang dari sang istri.


" hussss... perjuangkan cintamu Arzan. " ucap Yanza menambahi.


Yap begitulah keluarga itu yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya tapi Arzan senang karena keluarga nya mendukungnya.


Hari telah berganti dan siang ini Arzan sudah bersiap siap hendak pergi kerumah sakit dengan tujuan menemui Istri Haris berniat menceritakan semuanya dan semoga saja wanita itu bisa membantunya.


Tak butuh waktu lama sampai disana karena sudah biasa Arzan mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Dirinya langsung menyusuri koridor rumah sakit dan berjalan masuk keruangan Anita dirawat.


Arzan membuka pintu pelan dan merasa terharu melihat pemandangan di depannya dengan Anita yang sedang mengelus bayinya yang sudah lahir entah kapan.


Menyadari ada yang datang Anita pun melihat kearahnya dan Arzan tersenyum lalu mendekatinya.


Ia tak bisa menahan diri melihat bayi lucu yang sedang tertidur itu.


" eee.. bagaimana keadaan mu.. " tanya Arzan ingin memulai pembicaraan.


" hmm... lucu sekali... perempuan apa laki laki.... " tanya Arzan.


" laki laki... " jawab Anita tersenyum.


" wah selamat ya.. " ucap Arzan dan Anita mengangguk lemah.


" kapan bayi lucu ini lahir.. " tanya Arzan lagi.


" kemarin memasuki waktu siang.. " jawab Anita.


" apa sudah ada yang tau dan menjenguk mu... " tanya Arzan lagi sudah seperti tanya jawab dari tadi.


" iya.. kemarin mertuaku datang dan mampir sebentar lalu pulang karena ada urusan mendesak katanya.. " tutur Anita jelas terlihat gurat sedih diwajahnya.


" eeee... Haris... " tanya Arzan hati hati.


" tidak sama sekali.. " jawab Anita lesu.


Malang sekali nasib wanita ini, yang dicampakkan begitu saja hanya diambil waktu perlu saja, sudah pasti keluarga Haris hanya membutuhkan keturunan dari wanita ini dan wanita ini sendiri mereka tidak peduli.


Arzan tidak bisa melepas pandangan dari si bayi ini, tangannya tergerak gerak untuk menggendongnya.


" mau menggendongnya... " tawar Anita bisa melihat Arzan yang memang menginginkannya.


" apakah boleh.. "

__ADS_1


" tentu.. "


Arzan pun mencoba mengambil bayi itu dengan hati hati dan menggendongnya. Menepuk nepuk pelan pantat si bayi agar ia tidak terusik.


" menggendong bayi orang lain saja sudah sebahagia ini, bagaimana nantinya menggendong bayiku sendiri dengan Eisya yaa... hah.. kami pasti sangat bahagia dan membesarkan buah cinta kami bersama sama.. semoga takdir ku seindah hayalanku saat ini.. " batin Arzan.


" terima kasih... karena sudah datang menjenguk ku meskipun bukan ayahnya yang menggendong pertama kali tapi kau... sudah bersedia untuk menggendong nya. " ucap Anita.


" sama sama.. lagipula aku senang sekali menggendongnya... dan ini pertama kalinya bagiku... " ucap Arzan senang.


Sedikit lama menikmati waktunya bersama sibayi, Arzan pun teringat sesuatu karena ada hal yang ingin disampaikan pada Anita.


" Oh ya.. ada hal penting yang ingin kusampaikan... padamu.. tentang... pembantu baruu.. dirumahmu itu.. " ucap Arzan.


" sampaikan saja.. aku akan mendengarkan nya... " jawab Anita bersedia.


" sebenarnya.... eeee.. sebenarnya wanita yang menjadi pembantu baru dan calon istri kedua suami mu itu adalah... gadis itu adalah perempuan yang aku cintai.. bahkan jauh sebelum Haris mengenalnya aku sudah lebih dulu mengenalnya.. " terang Arzan.


" jadi... benarkah.... " balas Anita.


" iya benar... dan maaf ini mungkin terlalu menjelekkan jelekkan suami mu tapi aku harus menyampaikan ini...karena ini memang kenyataannya... " sambung Arzan.


" katakan saja.. " desak Anita.


" Suami mu itu sudah beberapa kali mencoba melecehkan gadis itu dan aku melihat gadis itu terdapat banyak lembam di tubuh nya dan penampilan nya juga sangat kacau saat ia mencoba kabur dan sempat bertemu dengan ku dan itupun hanya sekejap kami bertemu sebelum Eisya ditangkap kembali.. " jelas Arzan.


" keterlaluan sekali.. " marah Anita.


" maka dari itu aku perlu bantuan mu. " ucap Arzan.


" aku akan membantu semampu ku tapi aku bisa apa dengan kondisi seperti ini.. " jelas Anita.


" beruntung bayimu sudah lahir dan kau bisa kembali ke rumah itu... saat kau pulang berusahalah bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa apa.. dan disana kau harus memberitahu ku jika ada gerak gerik Haris yang mencurigakan.. hubungi aku kapan saja..." ujar Arzan.


" hmm baiklah.. kalau begitu berikan nomor ponsel mu agar mudah.. " sahut Anita.


" tentu saja.. " jawab Arzan.


" tapi apakah Haris menerima ku kembali dirumah itu karena pasti melihat aku yang sudah melahirkan dia akan langsung menuntut cerai.. " lirih Anita.


" tenang saja.. untuk itu.. kau harus memberi alasan semulus mungkin... untuk kali ini desak Haris agar bisa menerima mu disana karena tanpa mu kami tidak bisa dapat informasi apa apa... dan setelah semua berakhir aku janji akan menolong mu memberikan tempat tinggal yang selayaknya agar kau jauh jauh dari pria itu.. " usul Arzan.


" baiklah... dan tolong bantu aku untuk mendapat hak asuh anak anakku yang lain. "


" tentu saja... kita akan saling membantu. "


Mereka pun saling tersenyum dan sesekali Arzan mencium bayi yang ada di gendongannya.


" ohya nanti aku akan memanggil temanku untuk membantu mengantarmu.. dan sekarang aku akan membantumu bersiap siap.. " ucap Arzan.


" sekali lagi terimakasih... "


" sama sama... "

__ADS_1


__ADS_2