Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 89


__ADS_3

Malam telah tiba.


Seorang pria dewasa terlihat barusaja keluar dari minimarket setelah membeli sesuatu untuk dimakan.


Sejenak melirik jam ditangannya yang masih menunjukkan pukul delapan malam, lalu menyeruput sekaleng kopi yang dibelinya tadi.


Pak Pramanan, beliau keluar ingin mencari makan dan kini netranya melihat sebuah kursi yang menganggur dan langsung menuju kesana.


Setelah menemukan tempat yang nyaman beliau pun mengeluarkan berupa makanan yang dibelinya barusan.


Menikmati setiap gigitan roti dengan udara dingin dimalam hari, sungguh ketenangan yang bisa menghangatkan.


" lihatlah, hanya ini yang mampu kunikmati sekarang... Lidah ini rasanya ingin sekali mencoba masakan mu, huff.... Semoga kau cepat sembuh sayang.. " gumam Pak Pramanan.


Menit selanjutnya, tak sengaja pandangan beliau yang sedari tadi menelusuri kini menemukan sosok yang sangat familiar bagi dirinya.


Merasa tak percaya beliau mengucek mata beberapa kali ingin memastikan, namun ketika hatinya telah yakin orang itu malah keburu pergi dengan mobilnya.


" aahh sial dia keburu pergi, andai saja aku tidak terlalu lama berpikir tadi. Tapi apakah itu benar benar dia, iya aku yakin itu benar benar dia... Aku masih mengingat betul wajah calon menantuku itu... Haris Rifandri.. "


" Dia satu satunya orang yang bisa membantuku.. ya benar aku harus mencari keberadaan nya. " lanjut Pak Pramanan.


Di tempat nya Haris yakni didalam mobil bersama sang putranya.


Haris sengaja mengajak sang putra untuk makan malam berdua tapi sebelum itu barusan mereka ada keperluan di minimarket.


Haris menyetir sesekali melirik Angga yang berada disamping nya. Niat hati memang ingin mencari perhatian anaknya agar dirinya bisa diterima baik oleh putranya sendiri.


Akhir akhir ini Angga sering keluar, meskipun tidak mengatakan kemana ia pergi tapi Haris tau jika anaknya itu diam diam sering kerumah mantan istrinya.


Pernah beberapa kali ia memergoki Angga dan ia menahan diri untuk tidak memarahi Angga meskipun sudah sangat emosi.


" senang gak kalo papa ngajak kamu makan malam begini.. " ucap Haris menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.


Sebelum menjawab, Angga melirik ayahnya dan menyunggingkan senyum.


" ya Pa, terimakasih telah ada waktu untukku saat ini. "


Haris tersenyum dan mengusak surai sang anak dengan salah satu tangan nya.

__ADS_1


" Papa akan sering sering ngabisin waktu sama kamu agar kamu gak kesepian dan gak terlalu sering main di luar. " ucap Haris dengan maksud agar anaknya itu tidak pergi lagi ketempat ibunya.


" ya tapi tidak usah terlalu khawatir Pa, meskipun aku sering ke luar aku tidak macam macam aku baik baik saja. " balas Angga.


Haris mengangguk anggukkan kepalanya beberapa kali, sudah bisa ditebak kalau anaknya tidak mau berkata yang sejujurnya karena takut pada dirinya.


" kalo kamu mau ke luar ajak papa juga ya agar kita pergi sama sama. " ujar Haris menghentikan kegiatannya yang mengusak surai sang anak.


Angga tidak menjawab dirinya hanya menyunggingkan senyum pada sang ayah.


" ohya, bagaimana tanggapan mu jika Papa akan me-


Haris terdiam tak lagi menyambung kalimat nya karena memikirkan sesuatu dan membuat Angga bingung.


" ada apa Pa, kenapa diam ayo lanjutkan aku mau dengar dan memberikan tanggapan sesuai perintah Papa. " ujar Angga.


" ah bagaimana ini, apa aku harus mengatakan disaat seperti ini.. Hubungan ku dengan Angga belum terlalu akrab setelah perceraian kami, hatinya pasti masih terluka dan aku tidak mungkin akan mengejutkan fakta ini padanya.. " batin Haris.


" ah baiklah pertama tama aku harus mengambil hati anakku terlebih dahulu dan setelah itu aku akan menyampaikan berita ini padanya... Aku tidak akan memaksa jika ia melarang, saat ini kebahagiaan Angga adalah yang paling penting. " batin Haris lagi.


" Paaa... Kok diam sih gak ngomong ngomong, kenapa Pa ayo katakan saja aku akan mendengar kan mu.. " pinta Angga.


" tidak nak tidak apa apa, ohya bagaimana sekolah mu akhir akhir ini.. " Haris mencoba mengalihkan pembicaraan.


" baik Pa, dan kau tau sekarang aku dan Rayyan sudah berteman baik.. Bisa dibilang dia adalah satu satunya teman yang ada disaat aku susah, dia selalu menyemangati ku... Awalnya kami saling untuk tidak kenal tapi setelah pertemuan kami waktu itu sekarang malah berteman baik. " jelas Angga begitu terbuka.


" wawww pertahankan teman yang seperti itu okeyyy... " timpal Haris.


" tentu saja.. " tambah Angga.


" tapi siapa Rayyan itu.. " tanya Haris sekedar memperpanjang obrolan mereka.


" itu lhoo anak blasteran Amerika, Ayahnya orang Amerika dan ibunya orang sini... Waktu pernikahan Mama, mereka sekeluarga juga dateng.. kalau tidak salah nama ibunya itu Emma dan ayahnya bernama Wilson. " jelas Angga.


Haris mengangguk paham dan sedikit terbayang bagaimana rupa orang yang dikatakan anaknya.


" kapan kapan ajak main dia kerumah agar kalian bisa lebih akrab.. " usul Haris.


" apakah boleh Paa.. " tanya Angga hati hati.

__ADS_1


" tentu saja sayang, kenapa kau ini seperti merasa tertekan dengan Papa... Tidak perlu takut nak selagi itu tidak diluar batas aturan hmm... " jelas Haris.


" terimakasih Papa.. " dengan tiba tiba Angga memeluk Haris yang sedang menyetir dengan hati hati.


Rasanya bahagia sekali, Haris merasa sangat senang diperlakukan seperti itu oleh anaknya setelah beberapa waktu ini sang anak tampak murung.


Senyum itu kembali terukir dan Haris janji akan selalu menjaga senyum itu agar tak luntur sampai kapanpun.


" kalo kamu kangen sama Mama dan adik adik kamu, silahkan pergi kunjungi mereka.... Papa tidak akan marah lagi karena itu juga hak mu, tidak perlu pergi diam diam sebab mulai sekarang Papa akan memberikan mu izin.. " tutur Haris benar benar membuka hatinya sekarang.


" sungguh paa.. " Angga melepaskan pelukan itu demi melihat wajah sang ayah.


Lagi lagi Angga merasa terharu bahkan sampai menitikkan airmata bahagia.


Melihat itu Haris juga tak tinggal diam untuk mengecup putranya.


" Papa sadar, kebencian dan iri hati itu tidak akan berakhir bahagia malahan kita selalu tersiksa dengan rasa itu sendiri. " tutur Haris sembari membayangkan wajah wanita yang telah berhasil mengubah dirinya.


" Paaa, terimakasih terimakasih Paa, inilah yang kuharapkan dari Papa.. aku bahagia punya Papa seperti ini.. " ujar Angga.


" lain kali bolehkan kita pergi sama sama kerumah Mama. " ujar Angga lagi.


" ah untuk saat ini tidak sayang, Papa masih tidak berani untuk meminta maaf lagipula tidak enak dengan suami ibumu. "


" tapi kalau bertemu dengan Chika, akan papa usahakan.. " lanjut Haris.


" Ezraf juga Pa, dia anak bungsu papa.. " tambah Angga.


" ah ya ampuunn Papa hampir lupa, anak itu dari pertama kelahiran nya Papa belum menggendong nya... Sungguh Papa sangat merasa bersalah.. " sesal Haris.


" tidak ada kata terlambat selagi kita masih bisa berusaha, nanti aku akan bantu bicara sama Mama dan Papa Yanza. " ucap Angga.


" terimakasih sayang.. "


" sama sama.. " senyum Angga.


Tak terasa perjalanan yang panjang terasa begitu singkat karena obrolan mereka, dan sekarang telah sampai ditempat tujuan.


Mereka pun turun dan masuk kedalam Restoran untuk menuntaskan makan malam bersama.

__ADS_1


__ADS_2