
Satu minggu kemudian......
Hari ini Eisya keluar dari rumah sakit dibantu oleh Arzan yang menjemput dirinya. Mereka hanya disisakan berdua didalam ruangan itu sedangkan yang lain ada urusan masing-masing.
Gadis imut berambut sebahu dengan mengenakan gaun selutut berwarna biru tengah duduk diatas ranjang memerhatikan Arzan yang sibuk beres beres pakaian. Bukannya tak tau diri tak ingin membantu tapi Arzan sendiri yang melarangnya.
Setelah beres semua kini Arzan mendekati Eisya sambil menenteng tas besar ditangan kanannya.
" udah bisa pulang kan om.. " tanya Eisya mendongakkan kepalanya menatap wajah tegas dan tampan itu.
Arzan mengangguk lalu tanpa aba aba ia langsung menggendong Eisya membuat gadis itu terkejut seketika.
" eh eh.. apa ini... turunin dong om.. aku masih bisa jalan.. " protes Eisya.
" iya bisa tapi kelamaan udah ikutin aja. " balas Arzan membuat Eisya mencebik kesal walau dalam hati hampir meledak kesenangan.
Mereka berjalan melewati orang orang dirumah sakit yang menatap gemes juga iri pada pasangan itu sedangkan Eisya menyembunyikan wajahnya didada bidang Arzan karena menahan malu.
" aduuh om kenapa gak pake kursi roda aja sih malu tau itu pada ngeliatin.. " ujar Eisya.
" emang gue pikiran.. " jawab Arzan bodoamat.
" ckk... " Eisya berdecik kesal.
Sampai lah mereka dimobil dan Eisya langsung dimasukkan ke jok depan sampingnya lalu dirinya juga ikut menaiki mobilnya.
Masih belum berakhir karena di dalam mobil Eisya semakin dibuat deg dekan saat Arzan mendekatkan wajahnya kewajah gadis itu.
Eisya sudah menutup mata dan mengunci rapat bibirnya karena filingnya tidak enak.
Krek...
Meskipun hal yang tak diharapkan namun diharapkan tapi Arzan sama sekali tak berniat kesitu karena ia hanya ingin memasangkan seatbelt pada Eisya.
" buka matamu aku cuma mau pasangin itu jangan kege-eran. " ucap Arzan dan tampak Eisya malu sekali.
Hah kenapa jadi begini perasaan seminggu yang lalu mereka saling menyatakan cinta lalu kenapa sekarang jadi secanggung ini.
Mobil dinyalakan dan mereka keluar dari area sana.
" gak usah canggung gitu kan kita udah jadian.. " ucap Arzan tiba-tiba menyadari kecanggungan dari gadis di sampingnya.
" k-kapan.. " entah kenapa pikiran Eisya jadi blank mendengar kata jadian.
" ck.. kamu amnesia ya.. hah harusnya kita jangan pulang dulu suruh cek keadaan mu lebih lanjut lagi sama dokter.. "
" ah apa sih om sembarangan.. aku gak amnesia aku masih ingat semua. "
" termasuk pernyataan seminggu yang lalu kan.. "
" eeeee..... " mendadak Eisya jadi malu malu tentu saja ia mengingatnya dan hal itulah yang membuat dirinya canggung seperti sekarang.
" kenapa??.. kamu gak mau jadian sama aku..... " goda Arzan.
" b-bukan gitu om... "
__ADS_1
" terusss.... "
" eee... kek canggung aja gitu.. hehe.. secara kan... ah gak tau pokoknya gitu.. "
" eumm.. gak mau jadian okelah... tapi maunya langsung nikah aja kan... " godanya lagi.
" apaan sih omm.... " ucap Eisya malu malu memalingkan wajahnya kesamping dan tersenyum geram sendiri.
" ah gimana kalo kita ke restauran dulu sekalian makan siang.. " usul Arzan.
" ee.. iya terserah... " Jawab Eisya dengan nada ramah.
Tak usah banyak cincong lagi setelah melaksanakan makan siang di restauran kini mereka melanjutkan perjalanan ke rumahnya Tante Meri, itupun karena paksaan Eisya yang entah kenapa ingin kembali kesana.
" kenapa sih kamu kembali lagi kesana harusnya kamu itu tinggal aja dirumah aku sayang.. " ucap Arzan sekaligus kesal dengan permintaan gadis itu.
" kita masih belum sah jadi gak baik tinggal serumah lagipula aku gak papa kok.. " balas Eisya.
" iya tapi aku bisa carikan kamu tempat tinggal yang lain.. "
" gak papa om.. "
" hah kamu.. "
Singkatnya mobil mereka pun sampai dirumah Tante Meri, kelihatannya dirumah itu sedang ada tamu karena sudah terparkir sebuah mobil didepan rumah itu.
Kedua nya turun dari mobil dan Eisya dituntun jalan oleh Arzan karena takutnya gadis itu terjatuh.
" kok dirumah ada mobil, siapa yang datang...... " heran Eisya.
Pintu terbuka dan langsung saja mereka masuk karena bisa dilihat dari jendela ada beberapa orang yang duduk disofa ruang tamu.
" permisi.. " ucap Arzan dan seketika yang duduk disana menengok kearah suara secara bersamaan termasuk tamunya.
Deg...
Semuanya bangun dari duduknya begitu juga Arzan yang mulai menaikkan amarahnya melihat seorang pria di hadapannya sedangkan Eisya sudah merasa ketakutan.
" Hah.. akhirnya yang ditunggu tunggu datang dengan sendirinya.. " ejek Haris, ya yang bertamu itu adalah Haris dan memang tujuan nya datang kemari untuk mengajak Tante Meri agar mengambil Eisya lagi.
" brengsek.... " umpat Arzan mengepalkan kedua tangannya.
" kau memang milikku ayo kemari. " ucap Haris mengulurkan tangannya memegang Eisya namun tangan itu dipegang oleh Arzan dan dihempaskan dengan keras.
" jangan sentuh dia... " kata Arzan menekan setiap kalimat yang diucapkan.
" hah.. ahaha.. hak apa kamu.. dia itu milikku aku sudah membayar mahal untuk itu. " balas Haris melotot kan matanya kearah Arzan.
" seberapa mahalnya aku akan menggantikan nya berkali kali lipat dari itu.. " sahut Arzan.
" hah.. aku bukan nya haus akan uang.. seberapa pun banyak uang yang mau kau berikan aku sendiri juga punya bahkan lebih.. yang ku inginkan hanyalah gadis itu. " tutur Haris bersikeras.
" baiklah kalau begitu kita akan bersaing disini.. "
" huh.. ancaman murahan.. "
__ADS_1
Ketiga wanita termasuk Erin yang menyaksikan hal tegang itu seketika merasakan aura ketakutan.
" Oh ya kau Tante nya Eisya... seberapa banyak uang yang diberikan pria ini untuk meminta Eisya darimu.. " tanya Arzan pada Tante Meri.
" eeee... du-dua milyar.. " jawab Tante Meri.
Arzan tersenyum remeh mendengar itu dan mengangguk angguk kan kepalanya.
" itu bukanlah harga main main.. bahkan uang segitunya tiada artinya dibandingkan Gadis rupawan itu.. " ucap Haris membanggakan diri.
" ku gantikan 20 milyar dariku dan hotel termana dikota ini... anggap saja itu sudah jadi milikmu.. jika kau menyerahkan keponakan mu untukku.. " tawar Arzan dengan harga gila membuat semua terkejut.
" aaaa-appaa... " tanya Tante Meri gemeteran.
" aku tidak main main... " jawab Arzan meyakinkan.
" gila kau Arzan mana bisa begitu. " protes Haris tak terima.
" bisa.. buktinya aku sudah menawarkan nya sekarang.. " balas Arzan enteng.
Eisya yang menjadi bahan perebutan memilih diam dan juga terkejut melihat Arzan yang mempertaruhkan harta sampai segitu nya demi dirinya sedangkan Erin diam diam merasa cemburu karena lelaki yang disukai ternyata menyukai Eisya.
" bagaimana.. nyonya.... dengan hotel ditambah 20 milyar.???.. hanya orang gila yang berani menolaknya. " ulang Arzan.
Haris terdiam karena harga yang ditawarkan Arzan sekaligus hotel.. itu bukan hal yang main main. Bukannya ia tidak sanggup namun ia juga harus berpikir kedepan untuk hartanya karena ia punya anak anak yang berhak atas hartanya ditambah lagi harta gono gini untuk sang istri yang telah diceraikan. Dan selebihnya itu adalah harta orang tuanya dan saudara saudara nya yang lain.
" ss-saya terima... mulai sekarang keponakan saya itu adalah milik anda Tuan.. " ucap Tante Meri.
Arzan tersenyum kemenangan dan melirik Haris yang bermuka masam.
" dengar sendiri Tuan Haris Rifandri... mulai sekarang anda tidak punya hak apa apa atas calon istri ku.. dan lagi dua milyar uangmu itu akan kuganti segera.." ucap Arzan.
" sialan... tunggu saja pembalasan ku. " balas Haris lalu pergi darisana.
Arzan menatap Eisya yang berdiri melamun dan menangkup wajah gadis itu dengan tangan nya.
" jangan takut lagi.. mulai sekarang kau adalah milikku.. kita tinggal pergi kepenghulu dan bisa sekamar setelahnya.. aku akan mengatur pernikahan kita secepatnya. "
Hatinya menghangat dan tersenyum namun ada hati lain yang terbakar api kecemburuan.
" tidurlah dengan nyenyak pria itu tidak akan mengganggu mu lagi dan.. satu hal lagi nyonya.. " kini Arzan beralih menatap Tante Meri.
" keponakan mu sudah jadi milikku dan kau tidak punya hak lagi untuk menyiksanya. " lanjut Arzan membuat Tante Meri mengangguk pasti untuk mematuhinya.
" saya akan menjaganya tuan tenang saja... saya berjanji.. " ucap Tante Meri.
" bagus... kau dengar sendiri sayang.. jadi tidak usah takut lagi.. " ucap Arzan menoel hidung Eisya.
" baiklah kalau begitu aku pamit.. oke.. jaga dirimu baik baik my Girl.. " Eisya mengangguk pasti.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di kening Eisya sebelum pria itu benar benar pergi dan Eisya langsung masuk setelah nya tanpa bicara sepatah katapun pada Tante dan sepupu nya.
" aku benci mama... " kesal Erin pergi masuk ke kamar nya dengan menghentak hentakkan langkahnya. Sedangkan Tante Meri dibuat bingung dengan kelakuan anaknya namun tak ambil pusing karena kesenangan mendapatkan milyaran uang sekaligus hotel ternama itu.
__ADS_1