Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 83


__ADS_3

Setelah menempuh jarak yang begitu jauh, kini pasangan itu mendarat juga dinegara kelahiran.


Tak ingin membuang waktu lagi, mereka langsung menuju kerumah duka.


Singkat nya mereka telah sampai dirumah Tante Meri. Saat perjalanan menuju kesini Eisya sudah menangis mengingat sosok paman yang baik hati itu kini telah tiada.


Apalagi sekarang pasti jasad paman nya telah dikebumikan, sayang sekali ia tidak sempat memeluk jasad itu.


Eisya memasuki rumah Tante nya menerobos keramas yang menghalangi, langsung saja ia berlari kearah Tante nya.


" hiks.. Tante... " lirihnya membuat Tante Meri yang sedari tadi menangis kini menentang tangan memeluknya.


" paman mu sudah tiada hiks... paman mu sudah meninggal kan kita semua... hiks.. " ucap Tante Meri dalam tangisnya.


Semua yang melihat itu kembali menangis terlebih lagi Arzan yang ikut bersedih melihat tangisan istrinya.


" kapan nyampe nya.. " tanya Tuan Rahendra pada Arzan yang memang posisi mereka dekat.


" ah papii.. tadi pi dan kami langsung kesini. " jawab Arzan dan setelah nya sang papi mengangguk angguk mengerti.


Begitulah saat ini yang dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Eisya juga merasa sangat terpukul karena pamannya itu selalu membela dirinya disaat sang Tante selalu menyiksa nya.


Meski sekarang dirinya telah bahagia namun kehadiran sang paman juga masih dirindukan.


Semoga beliau bisa pergi dengan tenang, selamat jalan paman Rano....!!


Singkat cerita.


Beberapa hari kemudian tangisan itu mulai mereda seiring berjalannya waktu, namun Erin semakin hari semakin larut dalam kesedihan.


Seperti saat ini ia tengah duduk di sebuah taman. Berhubung ini sudah sore jadi ia menyempatkan waktu untuk jalan jalan walau sekedar hanya duduk ditaman.


Huufff...


Helaan nafas itu terdengar dimulut kecilnya, sesekali menyelipkan beberapa helai rambut ketelinganya karena hembusan angin.


Taman itu sepi tidak seperti biasanya yang banyak dilalu lalang oleh orang orang, tapi bagus juga karena ia menyukai kesepian seperti ini sekarang.


" aku sudah pasrah akan takdirku... meskipun kedepannya aku akan menanggung malu, aku akan terus tetap memperjuangkan mu.. sayang nya mama.. " gumam Erin mengelus perutnya yang sedikit berbentuk itu.


" sehat sehat ya kamu disana, meskipun kelak kau tak bisa mendapat kasih sayang dari sosok ayah, tapi mama janji... mama akan selalu menyayangi kamu, jangan sedih sayang.. kita akan berjuang sama sama. " monolog nya dan kini pipi nya telah dibasahi airmata.


" kau lahir karena kesalahan mama, dan mama tidak seharusnya menyalahkan mu.. maafkan mama nak.. " airmata itu semakin deras mengalir.


" kita akan hidup sama sama yaa... mama janji akan membuat mu bahagia meski tanpa kehadiran sosok ayahmu.. " lirih Erin.


" izinkan aku menjadi sosok ayah untuk anakmu.... "


Deg....

__ADS_1


Erin menghentikan tangisnya sejenak ketika mendengar suara yang tak asing itu.


Dan yang berucap barusan, mendekati Erin lalu duduk disamping gadis terus.


Lelaki itu menyunggingkan senyum manisnya dan memegang tangan Erin yang diletakkan dipahanya.


" aku siap menjadi sosok ayah untuk anakmu... Erin. " ucap Lelaki itu sekali lagi mengulang perkataan nya.


" Nicki...?? " Erin sangat terkejut melihat kedatangan lelaki itu.


Gadis itu memalingkan wajahnya dan menghempaskan tangan Nicki yang memegang tangan nya.


" jangan buat ibumu marah Nicki, kau tau kan tempo hari apa tanggapan ibumu tentang diriku.. " datar Erin menahan tangisannya.


" soal itu aku minta maaf, dan sekarang aku tidak peduli tentang itu karena mereka pun tak peduli padaku.. " ujar Nicki.


" restu orangtua itu penting.. kita takkan bahagia nantinya jika sudah menikah karena kau-


" ssssttttt.... dengar kan aku.. " potong Nicki meletakkan telunjuknya dibelahan bibir Erin untuk membuat gadis itu diam.


" aku benar benar telah mencintaimu... Orang tuaku hanya bisa ngomong.. Bohong mereka peduli padaku karena nyatanya pekerjaan mereka lah yang membuat mereka lebih bahagia.. Aku kesepian Erin, aku butuh teman untuk bercerita dan kau... Kau adalah orang yang tepat yang telah mengisi kekosongan hatiku.... " jelas Nicki dan kini Erin kembali menatapnya.


" mustahil kita bisa menikah tanpa restu orang tuamu Nicki.. " ucap Erin.


" ketika kesabaran ku sudah habis, maka disitulah aku bisa berbuat nekat. " tegas Nicki.


" jangan macam macam Nicki. " peringat Erin.


Malam harinya.


Beralih ditempat nya Eisya.


Kini mereka telah kembali kerumah sendiri, dan gadis itu juga akan berusaha ikhlas untuk kepergian sang paman.


Arzan tengah berbaring diranjang itu sembari menunggu Eisya dari kamar mandi.


Lama menunggu akhirnya istri kecilnya itu keluar dengan badan segar sehabis mandi.


Arzan tersenyum dan menyudahi kegiatannya memainkan ponsel.


" doyan sekali sih kamu mandi.. " tanya Arzan sembari merentangkan tangan seakan mengode Eisya untuk duduk dipangkuan nya.


Eisya mengerti dan langsung menerima kode tersebut.


" kan tidak seru jika saat bersamamu aku bau kambing.. " ujar gadis itu memainkan rambut sang suami.


" ahahaahah.. bisa aja kamu.. meski apapun baumu, aku akan tetap menciummu.. seperti ini hmm... "


Cup..

__ADS_1


Arzan mendaratkan bibirnya dipipi Eisya membuat gadis itu memerah malu.


" ihhhh mau aku balas hm.. " ucap Eisya.


" ayo balas.. " Arzan memonyongkan bibirnya membuat Eisya tertawa.


" awas ya.. huek.. " Eisya menutup mulutnya saat merasakan sensasi mual yang sampai ke tenggorokan nya.


Langsung saja ia berlari kekamar mandi tak tinggal dengan Arzan yang mengikuti.


Didalam sana, Eisya terus muntah dibantu Arzan yang mengurut tengkuknya.


Hanya berupa cairan yang keluar bukan bekas makanan yang baru tadi dimakan, tapi entah kenapa rasanya kepala nya pusing dan mual sekali.


" sudah enakan.. " tanya Arzan mencoba mengelus bahu istrinya.


" gak tau tiba tiba aja pusing.. " adunya.


" yaudah mendingan sekarang kamu istirahat yaa.. " ucap Arzan.


Eisya mengangguk pelan, jujur saja tubuhnya sangat lemah sekarang minta diistirahatkan.


Apakah dirinya terlalu kecapean sampai tiba tiba pusing begini dan mual.


Arzan memapah sang istri menuju ranjang dan menidurkan istrinya dengan hati hati.


Lalu dirinya ikut berbaring memeluk sang istri.


" apa masih sakit, apanya yang gak enakan... hmmm..?? " tanya Arzan.


" kalau boleh jujur aku kayak ngerasa pusing, mual, terus perut aku juga gak enakan rasanya.. uhh.. " jelas Eisya membuat Arzan khawatir sekaligus bingung.


" mau kedokter.. " tawar Arzan.


" gak ah lagian udah malam juga.. malas.. ah pengen tidur aja.. " jawab Eisya meski penasaran juga dengan kondisi tubuhnya saat ini.


" apa jangan jangan ini pertanda, ya ampuuun.. apakah ini artinya kita berhasil sayang.. " Arzan kegirangan sendiri.


" iihh apa sih sayang.. jangan menebak nebak dulu kalau nanti hasilnya mengecewakan.." timpal Eisya.


" hhmmm... yaahh semoga saja ya.. dan besok bagaimana kalau kita cek ke dokter. " usul Arzan yang tak terlalu buruk juga untuk Eisya.


" baiklah, tapi jangan terlalu berharap ya takutnya kami akan kecewa.. maaf. " lirih Eisya.


" ck kamu ngomong apa sih, kalau iya alhamdulillah dan kalau tidak, mungkin belum saatnya.. kita sabar aja dan kalau udah waktunya pasti akan ada.. " ucap Arzan menenangkan hati Eisya.


" hmm.. " Eisya mengangguk lucu.


" ya sudah ayo tidur.. " Final Arzan.

__ADS_1


Keduanya pun menuju ke alam mimpi.


Semoga saja besok apa yang diharapkan bisa tercapai dan tebakan yang diinginkan itu benar.


__ADS_2