
Disebuah Cafe.
Setelah mengabari Haris untuk bertemu disinilah mereka berada sekarang, awalnya dengan pembicaraan biasa tapi seketika suasana berubah saat Erin mengucapkan sesuatu.
" ada apa kamu ngajak saya ketemuan disini.. cepat katakan saya harus balik ke kantor. " ucap Haris setelah meneguk minumannya.
" malam itu... apakah om masuk kekamar hotel itu.. " datar Erin.
" nanya apa sih kamu.. " remeh Haris.
" jawab om.. " tagih Erin.
" ni anak kenapa sih tiba-tiba nanya begituan.. ya pasti masuk lah orang juga nyentuh kok.. apa jangan jangan.. " batin Haris.
" saya hamil om... " tegas Erin sambil menyodorkan surat keterangan dokter di depan Haris.
" hah.. kenapa bilang sama saya.. "
" gak usah pura pura om... malam itu... om yang masuk ke kamar itu kan.. dan.. hiks.. dan.. nyentuh saya.. " Erin mulai meneteskan airmata nya.
" salah kamu sendiri yang duluan ngegoda saya.. " elak Haris.
" tat-tapi kenapa malah om ladenin... harusnya tinggalin aja saya.. bukan malah ikut hiks.. hiks.. "
" sekarang saya yang hamil akibat perbuatan om.. aaarrhh... " lanjut Erin.
Sejenak keduanya terdiam hanya suara tangisan Erin yang terdengar menyedihkan.
" jika diperlihatkan hal seperti itu siapa yang tidak tergoda.. itu salah mu sendiri. " ucap Haris terus mengelak.
" hah... apa.. apa barusan om.. bilang.. apa.. harusnya om juga bisa nahan diri.. waktu itu saya mabuk gak sadar... harus nya.. hiks.. semuaa gak akan terjadi kalau om menahan diri dan tidak meniduri saya.. " terang Erin.
" sekarang apa.. semua udah terjadi.. saya hamil.. dan saya gak sanggup menghadapi ini sendiri apalagi kalau sampai mama tau... saya tidak bisa menanggung rasa malu ini... hiks.. saya tidak sanggup.. " jelasnya meneteskan airmata.
__ADS_1
" lalu kamu mau saya bagaimana.. " sungguh tidak peka sekali pria ini.
" apanya yang harus bagaimana... om harus tanggung jawab... hiks.. mau gak mau om harus nikahi saya... hiks.. karena saya sudah mengandung anak om.. " ucap Erin berusaha ikhlas karena memang sudah terjadi.
" gak gak bisa... " tolak Haris mentah mentah.
" Apa... gak bisa gitu dong om.. pokoknya om harus tanggung jawab.. " desak Erin.
" eeee.... gini aja.. saya akan memberikan sejumlah uang untuk mu... saya akan memberikan apapun yang kamu mau.. asal kan kamu mau tutup mulut... bagaimana??.. tenang saja.. saya akan bertanggung jawab tapi dengan membiayai kamu dan anak dalam kandungan mu.. tidak dengan menikahi mu.. bagaimana??? " usul Haris.
" gilaa... om.. gila... hiks.. saya gak butuh sepeser pun dari om.. saya hanya ingin om tanggung jawab dengan menikahi saya.. hiks.. pokoknya saya gak mau tau.. hiks.. percuma om membiayai saya walau nantinya saya akan menanggung malu seiring berjalannya waktu perut saya juga akan semakin membesar dan menjadikan saya sebagai omongan orang orang.. "
" apa kata mereka ketika tau saya hamil di luar nikah.. hiks.. saya gak mau om... hiks... hiks.. " tangis Erin.
Haris terdiam dan juga tidak bisa berpikir menemukan solusi nya kalau bukan dengan menikahi nya tapi dirinya tidak mau karena sama sekali tidak mencintai gadis ini. Sial sekali ia jadi merutuki dirinya sendiri kenapa tidak bisa menahan nafsunya waktu itu.
" kalau begitu lakukan aborsi.. " terpaksa Haris harus mengatakan ini karena tidak punya usul lain.
Deg...
" Apa??.. manusia macam apa om ini.. teganya menyuruh saya melakukan itu... hah.. OM GILA... "
" sejahat jahatnya saya.. saya tidak akan pernah tega untuk membunuh.. " lanjut Erin menggertakkan giginya.
" saya tidak mau menambah dosa dengan melakukan hal itu.. terserah om mau bilang apa.. tapi saya akan terus menuntut om kalau bisa saya akan pergi ke keluarga om sekali pun... ingat om.. om harus tanggung jawab.. ingat.. " ucap Erin tegas lalu bangkit bergegas darisana meninggalkan Haris dengan perasaan kesal.
Brakkk...
Haris menggebrak meja dengan kesal tak peduli beberapa pasang mata telah memandang nya dengan aneh.
" sialan... dasar keras kepala... jangan salahkan aku.. kalau aku melakukan hal diluar batas.. karena telah memperingati mu.. sebelum itu.. " Seringai nya tajam.
Ditempatnya Arzan dan Yanza dirumah pohon sedang membicarakan tentang kasus hak asuh anak Anita yang diatur kapan bisa dilakukan.
__ADS_1
Keduanya terlihat serius sedari tadi membicarakan hal itu terlebih lagi Yanza yang terlihat antusias ingin segera menyelesaikan masalah ini.
" jadi kapan pertemuan nya bisa dilakukan........ " tanya Yanza pada Arzan yang asyik menghisap batang berasap.
" fiuuuhhhh... secepatnya sih.. dan kita juga harus bicarakan hal ini pada banjingan itu terlebih dahulu.. "
" aiisss.. ucapanmu itu kotor sekali.. dan lagi kenapa masih ngerokok.. kalau Eisya tau pasti langsung ilfeel sama lo.. " cibir Yanza.
" kangen. lagian.. sok sok nasehatin padahal lo juga sama kan kayak gue.. " balas Arzan.
" ih sorry ya.. eh udah ah jangan bahas itu dulu kita harus fokus ke masalah ini.. jadi apa kesimpulan nya.. "
" ya seperti yang gue bilang tadi goblok. "
" omongan lo yaa... lembut dikit napa.. ingat bentar lagi nikah lho.. "
" lo nya sih goblok.. "
" tu kan.. bikin gue nanti kasihan sama Eisya kalau dapat model suami yang kayak elo. " kata Yanza membuat Arzan kesal.
" maksud lo... "
" pikir aja sendiri wleee.... " ucap Yanza sambil menjulurkan lidahnya meledek Arzan.
" si asu dibilangin yaa.. awas lo... gue juga kasihan ama Anita kalau nantinya dia punya suami yang model kayak elo.. " balas Arzan.
" periang dan Penyayang kan.... " sahut Yanza.
" goblok.. dan bau... hahaha... " Setelah mengatakan itu Arzan tertawa puas sedangkan Yanza menggerutu kesal.
" anjing.. pengen gue masak ini om... " dumelnya.
Yang tadinya mau ngerunding berakhir saling mengejek seperti ini. Mencari solusinya cuma beberapa menit aja tapi mainnya sampe habis jam dengan saling mengejek.
__ADS_1
Jadi kasihan sama Eisya dan Anita kalau dapat model suami seperti mereka.