
" apa ada yang mau dibeli lagi.. " tanya Haris pada Erin sembari memasukkan semua barang ke dalam mobilnya.
" itu semua sudah lebih dari cukup, terima kasih.. " Erin menyunggingkan senyumnya.
Haris mengangguk dan sibuk menata barang tersebut agar tersusun rapi.
Setelah melakukan proses pembayaran kini mereka disibukkan menaruh barang ke dalam mobil, sebenarnya hanya Haris yang sibuk dan Erin tentu saja tak diizinkan membantu.
Semua telah selesai dan kini Haris tersenyum pada Erin yang sedari tadi memperhatikan nya.
" jangan lupa konsumsi semua itu oke dan harus teratur.. " peringat Haris entah ke berapa kali.
" iyaaa.. " jawab Erin.
" eumm... baguss.. ohya suasana malam begini gak bagus dengan pakaian kamu seperti ini, nanti kamu bisa masuk angin.. Tunggu sebentar... " jelas Haris.
Pria itu terlihat membuka jas nya meninggalkan kaos polos di badannya lalu memakaikan jas tersebut pada Erin.
Menerima perlakuan tersebut, siapa yang tidak bahagia..??
Waktu yang dihabiskan bukanlah singkat, buktinya saat ini sudah memasuki waktu malam. Dengan pakaian Erin yang terlihat tak sempurna tertutup, Haris berinisiatif untuk melindungi gadis itu dari kedinginan malam.
Padahal itu adalah hal sepele dan mana mungkin Erin akan langsung sakit, tapi sepertinya Haris melakukan ini karena kehendaknya sendiri.
" t-terima kasih.. " ucap Erin bahkan tak mampu untuk sekedar menatap lawan bicaranya.
" sama sama... " jawab Haris tak lupa tersenyum.
Sedang asyik asyiknya berbahagia dalam diri masing masing, namun siapa sangka hal ini menjadi mala petaka bagi Haris sendiri.
Tampak dari kejauhan sepasang mata memandangnya dengan raut kekecewaan dan kemarahan.
Sosok itu kini menghampiri Haris diikuti oleh temannya. Ya itu adalah Angga bersama Rayyan.
Mereka baru saja sampai setelah menghabiskan waktu ditempat lain. Angga mengajak Rayyan pergi ke mall karena sang ayah belum mengabari nya pulang. Karena tak mau kesepian ia pun pergi kesini dan setelah sampai kemari ia malah melihat pemandangan yang begitu menyakitkan.
" papa... " lirih Angga setelah berada diantara Haris dan Erin, begitu juga Rayyan yang hanya mengikuti temannya.
DEG....
Haris terkejut bukan main begitu juga Erin yang sudah merasa panik.
Tangan Haris yang semula berada dipundak Erin, reflek dihempaskan dan mencoba meraih tangan anaknya namun di hindari.
__ADS_1
" apa ini paa.. " tanya Angga jelas tersirat kekecewaan dimatanya.
" sayang ini tidak seperti-
" tidak seperti yang aku pikirkan padahal sudah jelas jelas fakta didepan mata yang telah ku saksikan... " sela Angga.
" apa ini paaa... sudah sejak kapan.. hah.. lihatlah bahkan wanita ini sedang mengandung anakmu..?? " Angga meraup wajahnya kasar serta butiran airmata telah terjun mengalir di pipinya.
Erin tak tau harus bicara apa karena dirinya telah dilanda ketakutan dan rasa bersalah, begitu juga Rayyan selaku hanya penonton ia memilih diam saja.
" sayang papa-
" sekarang aku mengerti kenapa mama memilih pisah dari papa, dulu aku pikir mama meminta pisah karena ingin bahagia dengan lelaki lain. Tapi sekarang aku melihat buktinya sendiri, mama pergi bukan karena berpaling ke yang lain tapi karena sudah tak tahan atas perlakuan papa yang seperti ini.. " jelas Angga entah untuk kesekian kalinya hatinya kembali hancur.
" aku nungguin papa pulang sampai sudah malam begini bahkan mengorbankan waktu temanku untuk menemani ku, aku pikir papa pergi karena urusan lain tapi nyatanya... " lanjut Angga.
Andai saja Angga tau fakta lain yaitu bukan Ibunya yang meminta pisah tapi Haris sendiri yang menyatakan perpisahan karena ingin hidup dengan wanita lain dan wanita itu bukanlah Erin tapi Eisya.
" padahal aku ingin membuka hatiku seperti dulu lagi pada papa tapi sekarang papa sendiri yang menutup nya kembali, aku kecewa sama papa... " setelah mengatakan itu Angga pergi darisana diikuti Rayyan.
" Angga tungguuuu.... " teriak Haris yang diabaikan.
Niat hati ingin mengejar putranya tapi ia tak mungkin meninggalkan Erin.
" tidak apa apa, aku akan menjelaskan nya dirumah lebih baik aku mengantarkan mu pulang sekarang.. " Ucap Haris terlihat putus asa.
Erin tak lagi membantah melihat Haris yang tentunya tidak baik baik saja sekarang.
Sedangkan ditempat lain.
Angga terus berlari tanpa arah dan Rayyan ikut mengejar dibelakangnya sambil berteriak menyuruhnya untuk berhenti namun tak didengarkan.
Sampai pada akhirnya Rayyan terjatuh saat mengejar Angga dan remaja itu berteriak kesakitan saat pantatnya mendarat mulus di aspal.
Saat sedang menangis, Angga dapat mendengar teriakan Rayyan dan suara gedubrak yang dapat ia yakini kalau Rayyan terjatuh karena mengejar nya.
Karena masih memiliki perasaan, Angga pun berbalik menghampiri Rayyan.
" akhh... " Rayyan meringis kesakitan dibagian pantat dan kakinya.
" ada apa... " tanya Angga polos bahkan masih ada jejak airmata di pipinya.
" kau iniii lihatlah gara gara mu aku sampai terjatuh... akhhh... " ujar Rayyan sembari mengelus pantatnya.
__ADS_1
" maafkan aku ayo bangun.. " Angga membantu Rayyan dengan hati hati.
" akhh.. kaki kananku sakit.. " lirih Rayyan.
Mendengar itu, langsung saja Angga berjongkok didepan Rayyan memberikan bahunya untuk dinaiki.
" apa ini.. " tanya Rayyan yang masih belum mengerti maksud Angga.
" naiklah kita akan pulang, kau seperti itu juga karena aku.. " jawab Angga.
Tanpa membantah lagi berhubung kakinya juga masih sakit, Rayyan pun menaiki Angga untuk digendong.
" sudah.. " ucap Rayyan mengapit kedua tangannya di leher Angga.
" oke.. " seru Angga dan mulai berdiri mempertahankan keseimbangannya saat menggendong Rayyan.
Dan mereka pun pergi menuju kembali ke mall untuk mengambil motor Rayyan yang ditinggalkan disana.
" terima kasih... " ucap Rayyan digendongan Angga.
" gara gara kau aku tidak jadi galau tau, harusnya sekarang aku tengah menangis.. " ucap Angga berusaha tetap menjaga keseimbangan nya.
" hah maaf tapi itu malah bagus.. hehe.. " balas Rayyan.
" huuhh.. " Angga menghela nafas kasar.
Sampai pada akhirnya mereka telah berada di mall.
Angga menurunkan Rayyan terlebih dahulu lalu mengambil motor diparkiran.
Sekarang gantian Angga yang membonceng Rayyan karena kondisi Rayyan yang tidak memungkinkan walapun sakit itu sudah hilang.
Dan mereka pun menyusuri jalanan kota menuju kerumah.
Semakin hari mereka berdua semakin akrab, dan setiap Angga ditimpa kesedihan Rayyan selalu ada menemaninya bahkan begitu setia mengejarnya saat berlari sampai terjatuh.
Berhubung motor ini milik Rayyan, terpaksa Angga harus menuju rumahnya terlebih dahulu.
Lalu setelah itu Rayyan mengambil alih motornya kembali, syukurlah rasa sakitnya telah hilang jadi ia tak kesulitan.
Mereka pun berpisah dirumahnya Angga, setelah kepergian temannya Angga nampak kembali lesu dan kecewa saat mengingat kejadian tadi.
Angga sedikit lega tidak melihat mobil ayahnya terparkir karena ia tak mau bertemu tatap dengan sang ayah untuk saat ini.
__ADS_1
Remaja itu pun berlari kekamarnya sebelum sang ayah kembali.