
Arzan dan Eisya kini sudah kembali kerumah mereka, walau pusing melanda Arzan tetap memaksakan diri menyetir dan beruntung nya mereka selamat. Ya mau bagaimana lagi istri kecilnya itu kan tidak bisa menggunakan mobil.
Eisya membopong suaminya sampai kekamar, sungguh pria itu sudah tidak kuat lagi rasanya lelah sekali setelah kejadian yang dialami di lampu merah tadi.
Gadis itu menidurkan sang suami seadanya dan Arzan berusaha menyamankan posisinya.
Melepas kedua sepatu yang masih bertengger dikaki suaminya serta jas yang digunakan, Arzan lebih terlihat nyaman dengan kaos oblong nya yang berwarna putih itu.
" ya ampun kau demam... " ucap Eisya setelah menempelkan punggung tangan nya didahi Arzan.
" tunggu disini aku akan membawa kompresan... " lanjut Eisya hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Arzan.
" jangan pergi... " lirih pria itu menatap istrinya dengan lemah.
" jangan pergi dan membiarkan mu demam... tidak mungkin sayang... aku hanya sebentar mengambil kompresan... tunggu oke... jarak kedapur tidak seperti jarak dari sini kerumah papa mama mertua kok... " canda Eisya diakhir lalu melenggang pergi setelah melepaskan dengan lembut pegangan suaminya.
Beberapa menit kemudian Eisya kembali dengan alat yang dikatakan tadi dan langsung mengompres sang suami sembari duduk ditepi kasur.
" kenapa bisa tiba tiba sakit heumm... apa karena makanan pedas tadi.. " seru Eisya tanpa menghentikan aksinya itu.
" perutku tidak selebay itu kok.. lagipula aku mencicipi nya hanya sedikit... " balas Arzan lemah.
" yaaa... baiklah tapi mama sendiri yang bilang kalau perutmu itu sensitif.. " tambah Eisya dan meletakkan baskom dimeja kecil pinggir kasur lalu mengelus ngelus perut suaminya.
" jangan lakukan itu aku geli... " cibir Arzan tidak berbohong.
" aku tidak menggelitik... " balas Eisya.
" Aiss dasar istri cantikku... aku merasa geli diperlakukan seperti itu... karena biasanya itu dilakukan oleh suami pada istrinya yang sedang hamil... " jelas Arzan bahkan masih punya tenaga untuk adu mulut dengan istrinya.
" ahahahaha.... kau ini... memangnya hal itu diharuskan untuk orang yang begitu.. " balas Eisya menghentikan aksinya.
" hmm.. mungkin... eumm... kau mau coba... heumm... " Sedang sakit seperti ini masih saja sempat sempatnya menggoda sang istri.
" hanya ada cacing diperut ku kau tak perlu melakukan nya... " elak Eisya.
" hei apa yang kau lakukan... " lanjut Eisya sekaligus terkejut mendapat perlakuan Arzan yang mengelus perut nya.
" cepat terisi ya.. aku tidak sabar dipanggil ayah... hehe... " cengir Arzan mengelus perut rata Istrinya dan Eisya juga berharap penuh pada ucapan Arzan barusan.
" nanti malam buat lagi ya mungkin bis-
Plakk..
" akhh... sakit sayang... " eluh Arzan saat mendapat jitakan sayang dari istri kecilnya.
" mulut mu itu lho langsung ceplas ceplos... kan jadi maluuu... " Wajah Eisya mendadak merah saat mengatakan itu.
" malu sama siapa.. disini hanya ada kita berdua lagian sah sah saja karena kita kan suami istri... " ucap Arzan lupa sesaat kalau ia sedang sakit.
" heumm... ya ya baiklah.. tapi tolong jauhkan tanganmu dari perutku.. cacing cacing ku merasa geli. " ujar Eisya menunjuk tangan Arzan di perutnya.
" iss... kamu kenapa cacingnya dipelihara sih nanti kalau ada anak kita kan kasian.. " ucap Arzan ngawur.
" cacing diperut ku tidak sama dengan cacing diperut mu yang suka berantem... cacing diperut ku penyayang... " ucap Eisya dengan polosnya.
" ahahahaha... hahahaha... dasarrr... haha.. kenapa pada ngomongin cacing sih.. " Arzan tertawa dibuatnya.
" Oh ya ngomong ngomong mas kan lagi sakit kok bisa punya tenaga gini... " ucap Eisya.
" iya juga ya... gara gara kamu sih bikin sehat aku lagi... " jawab Arzan.
" trus mas maunya sakit gitu.. " -Eisya
" mungkin... biar dapat perhatian lebih dari kamu... hehe.. " -Arzan
__ADS_1
" ihhh tanpa sakit pun aku kan udah kelebihan sayang sama mas... " -Eisya
" cieee cieee kok jadi aku yang salting ini... ahayyy... " -Arzan
Keduanya pun saling tersenyum bahkan rasa pusing Arzan tiba tiba jadi hilang karena kelakuan istri kecilnya itu.
" bobo sini... " Arzan menggeserkan tubuhnya untuk menyediakan tempat tidur Eisya.
" masing siang belum malam... " balas Eisya.
" aiiss kamu ini... kamu itu milikku selamanya jadi tidak perlu peduli baik itu siang ataupun malam.. aku mengambil mu secara sah... jadi ini perintah suami... ayo tidur.. " Arzan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Eisya.
Tentu saja dengan senang hati Eisya tidur disamping suami nya bahkan dirinya sudah tenggelam dipeluk Arzan.
" yang tadi itu hanya basa basi... " ucap Eisya saling tidur bertatap tatapan dengan Arzan.
" heummm padahal mau kan.. " balas Arzan.
" aku juga perlu jaga image.. " balas Eisya.
" halah.. image image.. prrruutt... ku cium baru tau rasa.. " -Arzan
" coba saja... " pancing Eisya.
" heuh.. kau sedang menantang Arzan Ralvian heumm... " ucap Arzan dengan gaya mengerikan.
" eumm.. ya mungkin... " balas Eisya.
" jangan takut ranjangnya patah oke.. karena ranjang nya berharga mahal... " -Arzan
" aaasyyytttt.... kata kata mu... " Eisya terkejut mendengar nya dan detik kemudian dirinya terkekeh.
" heheh... bagaimana... terdengar oke bukan..... " -Arzan
" ahh benar benar kau minta dicium rupanya.... " -Arzan
" hah kau ti-
Cupp...
Eisya tak mampu melanjutkan kalimatnya saat Arzan tiba tiba mendaratkan bibirnya tepat dibibir gadis itu.
Dan terjadilah peperangan....
sudah biarkan saja toh sudah sah juga.
Singkat nya matahari sudah mulai surut begitupun jam yang sudah berubah menunjukkan pukul lima sore.
Kedua insan yang masih bergelung selimut itu nampaknya sangat nyaman tertidur sambil saling memeluk seperti itu.
Namun kenyamanan itu harus terusik dikala handphone Arzan berbunyi.
Setelah beberapa kali barulah Arzan terbangun dan dengan cepat cepat menjawab telponnya tak ingin membuat Eisya terbangun.
Arzan lalu menjawab telpon itu dan meletakkan di telinga nya tanpa melihat dulu nama yang tertera dilayar Handphone.
" ya ada apa tidak bisakah tidak menelpon.. kau menganggu waktuku dengan istriku... aiisss... hampir saja kesayangan ku terbangun... " decak Arzan tak lupa tangannya yang satu lagi digunakan untuk menepuk nepuk pundak istrinya layak nya seperti menidurkan bayi.
" uppss... maaf pengantin baru kami tidak tau... tapi bisakah kau membuka pintu kami sudah kering menunggu diluar... aiiss dasar anak durhaka... ini orang tuamu datang berkunjung... Aiss.. "
Arzan membelalakkan matanya sangat terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya dan lebih terkejut lagi tebakannya benar setelah melihat nama yang tertera ternyata yang menelpon adalah ayahnya.
" jangan bangunkan istrimu kalau ia sedang tidur tapi kau cepat lah turun dan bukakan pintu untuk kami.... " lanjut Tuan Rahendra.
" ya tap-
__ADS_1
Tttuuuttt... tttuuttt.....
Belum habis Arzan menyampaikan tiba-tiba panggilan diputuskan secara sepihak, untung bapak sendiri kalau bukan ya begitulah.
Dengan cepat Arzan bangkit dari tempat tidur menuju ke pintu utama namun sebelum itu tak lupa mengecup sang istri.
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan wajah ayah dan ibunya yang terlihat menggerutu.
" kau ini... bel nya sudah ibu tekan berkali kali.. padahal... " ucap Nyonya Rahendra.
" penampilan mu pasti habis perang ya. " tambah Tuan Rahendra.
" ah papi kayak belum pengalaman aja. " balas sang anak yang sama tak warasnya dengan sang ayah.
" kalian ini ngomong apa sih.. " Nyonya yang wanita sendiri disini merasa tidak enak.
" kenapa gak langsung masuk aja papi mami... pintunya gak dikuncii.. " kata Arzan.
" ah tau begitu kami langsung masuk gak perlu nunggu.. lagian gak bilang bilang. " elak Tuan Rahendra.
" mau bilang kapan... lagian kenapa gak coba dorong aja pintu nyaa... papi juga kenapa matiin panggilan duluan padahal aku mau bilang pintu nya gak dikuncii... hadeuuhh... punya orang tua gini amat.. " Arzan merasa pusing kembali kini.
" basi udah sana sana... bokong ku minta diistirahatkan.. " ucap Tuan Rahendra sambil melangkah masuk kedalam dan duduk disofa diikuti istrinya.
Mereka bertiga pun duduk di sofa ruang tamu tanpa berniat membangunkan Eisya karena merasa kasihan.
" ini orang tuamu datang kok gak disuguhin apa apa... " protes Tuan Rahendra.
" belum ada pembantu... jadi terima seadanya aja pi.. " balas Arzan.
" terus gunanya kamu apa... masih tk gak bisa nuangin sirup dicampur air.. " sedikit informasi pemirsa kalau anak dan ayah ini memang jarang akur.
" jangan bilang belum belanja.. " lanjut Tuan Rahendra.
" ck... mami... aku tertekan punya papi begini.... " adu Arzan pura pura cengeng.
" bilang apa barusan... " -Tuan Rahendra
" hehe... gak jadii... " -Arzan
" ssssttt sudah kalian ini kenapa sih ribut mulu, mami yang tertekan disini.. " ucap Nyonya frustasi seperti mengurus sesama bocah padahal status mereka kan anak dan ayah.
" Oh ya mami sama papi kesini terus gimana sama Yanza dan orang tuanya dirumah kita... apa mereka gak jadi nginap.. " tanya Arzan.
" jadi sih cuman sekarang Yanza lagi bawa orang tuanya jalan jalan makanya ada waktu kami kesini.. " jawab Nyonya Rahendra.
" eumm.... " Arzan manggut manggut paham.
" mau liat menantu kita kan mi.. " tambah Tuan Rahendra senang sekali mengerjai anaknya.
" iuuhh papi jaat huhuuuu... " Arzan berlagak seperti anak kecil merengek.
" gak usah lebay deh mau muntah liatnya. " ucap Tuan Rahendra.
" mamiiiii..... " adu Arzan dan Nyonya memilih tidak peduli dengan tingkah mereka berdua.
" heh Arzan sebelum sepatu ini melayang mendingan kedapur sana bikinin kami minum.. haus.. " perintah Tuan Rahendra terdengar lembut sekali.
" ck papiiii... bisa gak sih kalau mau nyuruh itu yang lembut.... terus muji kek gitu. " ucap Arzan.
" iya iya ini mau bikin ah... punya papi gak ada lembut lembutnya.. " lanjut Arzan saat melihat ayahnya yang hendak melepas sepatunya dan dirinya pun melesat pergi kedapur.
" heuh kekanak kanakan sekali.. " cibir Nyonya dan Tuan Rahendra hanya membalas dengan senyuman manisnya pada sang istri.
__ADS_1