Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 103


__ADS_3

Deringan roda brankar rumah sakit terdengar begitu pilu begitu pun dengan keadaan Arzan yang semakin sekarat.


Yanza terus menangis sembari ikut mendorong brankar tersebut.


Baju yang dikenakan telah sempurna basah karena darah, orang orang yang melihat nya ikut merasa ngeri akibat yang menimpa Arzan.


Terpaksa Yanza harus berhenti saat Arzan dimasukkan kedalam UGD. Sungguh perasaannya campur aduk apalagi harus menyampaikan hal ini pada Eisya yang pasti saat ini sedang berjuang.


Lelaki itu kini menangis menjatuhkan dirinya di lantai rumah sakit. Apa yang harus ia katakan nanti, sungguh menyedihkan nasib keduanya yang saat ini sedang bersama sama berjuang untuk hidup.


Kepanikan dirinya bertambah saat melihat panggilan masuk dari Tuan Rahendra. Memang saat ini ia tengah berada dirumah sakit yang sama dengan Eisya berada.


Sudah bisa ditebak akan panggilan yang masuk, Yanza memilih mengangkatnya namun tak mengeluarkan sepatah katapun sebelum orang diseberang sana berbicara.


Panggilan tersambung.... !!


" Hei kalian ke mana saja apakah Arzan sedang bersama mu, cepat bawa anak nakal itu kemari putranya telah lahir dengan selamat.. " -Tuan Rahendra.


Mendengar itu Yanza kembali menangis menutup mulutnya sebisa mungkin tak terdengar sesenggukan yang keluar darinya.


" hei jawab aku jangan diam saja cepat bawa Arzan kemari... Eisya ingin Arzan yang pertama kali menggendong anaknya.. " -Tuan Rahendra.


Ttiittt....!!


Panggilan terputus..!!


Yanza tak kuasa menahan tangisan hingga mematikan panggilan nya secara sepihak. Apakah ia harus menyampaikan berita buruk ini disaat semua orang sedang berbahagia akan kelahiran seorang manusia yang baru saja melihat dunia.


Ya mau tak mau Yanza beranjak dari sana bagaimanapun juga semua orang berhak tau akan kondisi Arzan yang sedang membutuhkan doa semua orang.


Langkah gontai itu terlihat malas untuk menuju ruang Eisya.


Sebelum masuk ia sempatkan untuk menghapus jejak airmata.


Menghela nafas panjang sebelum akhirnya memasuki ruangan itu.


Disana jelas terlihat raut wajah bahagia semua orang apalagi Eisya yang terus tersenyum dengan bayi kecil yang tertidur disamping nya.


" Yanza akhirnya kalian datang juga kemarilah... " Suruh Tuan Rahendra dan Yanza mendekati mereka.


" dimana suamiku.. "


DEGG....!!


Yanza memalingkan wajahnya sejenak saat airmata nya kembali terjun membuat semua orang kebingungan.


Detik selanjutnya ia semakin mendekati bayi kecil yang sedang tertidur itu dan menangis saat mengingat Arzan yang sedang memperjuangkan antara hidup dan matinya.


" Graliyan Zarvin... Sebuah nama yang diciptakan Arzan untuk putranya.. " ucap Yanza.


Eisya tersenyum mendengar nama itu, dirinya setuju atas nama pemberian suaminya untuk sang putra yang baru lahir.


" nama yang indah tapi alangkah lebih indah lagi jika Arzan berada disini.. katakan dimana dia.. Cepatlah katanya dia tidak sabar menunggu kelahiran anak nya.. " ucap Eisya di iyakan Tuan Rahendra dan Nyonya.


" maaf... " lirih Yanza membuat semua orang kebingungan.

__ADS_1


" apa maksudmu.. Dimana Arzan sekarang katakan jangan bermain main disaat seperti ini.. Anak itu benar benar aku akan menghukumnya nanti, bagaimana bisa ia menjadi seorang ayah jika masih berperilaku seperti ini.. " Tuan Rahendra terlihat marah sekarang.


" katakan dimana suamiku.. " Eisya juga ikut panik saat melihat Yanza semakin menangis.


" maaf... " lirih Yanza sekali lagi.


" CEPAT KATAKAN... " teriak Eisya kehilangan kesabaran bahkan putranya kini menangis sebab terkejut.


" huuss.. ucucuuu jangan nangis.. " Nyonya menepuk cucunya dengan pelan sedangkan Eisya masih ingin menagih penjelasan pada Yanza.


" katakan... hiks.. " mohon Eisya.


" S-saat ini Arzan sedang berada di ruang UGD... hiks.. aku menemukannya tertembak dan membawanya kemari hiks. maafkan aku... hiks.. " jelas Yanza berhasil membuat semua orang shock.


DEGGG......!!


" Ap-Appa.. " Tuan Rahendra membelalakkan matanya begitu juga Nyonya sedangkan Eisya sudah menegang ditempat.


" tidak TIDAK MUNGKIN... JANGAN MENGERJAIKU.. AKU TIDAK SUKA KEJUTAN INI... HIKS.. " racau Eisya bahkan bayinya ikut menangis saat ini.


" aku tidak berbohong hiks.. " lirih Yanza.


Sejenak semua terdiam dan menit selanjutnya Eisya berusaha bangkit untuk melihat keadaan suaminya.


Tentu semua orang melarang namun Eisya terus memohon dan berteriak histeris memanggil Arzan.


Hingga pada akhirnya Eisya menaiki kursi roda sambil menggendong bayinya untuk melihat kondisi Arzan.


Tuan Rahendra dan Nyonya tentu sangat terpukul namun berusaha untuk tetap tegar dan selalu berpikir positif jika Arzan pasti akan selamat.


Ruang UGD


Mimpi Arzan adalah menjadi orang pertama yang menimang sang anak saat lahir kedunia, sekarang lihatlah bahkan ia melewati momen berharga itu.


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan seorang dokter laki laki yang barusaja menangani Arzan.


Langsung mereka tanpa salah satu menerkam dokter tersebut dengan pertanyaan yang sudah bisa ditebak.


" kondisi pasien saat ini tidak bisa dibilang baik karena pasien kehilangan banyak darah apalagi sedikit terlambat dibawa kemari, kami barusaja ingin melakukan operasi tapi pasien tiba tiba sadar dan terus meracau memanggil nama Eisya... Apakah dari kalian ada yang bernama Eisya.. " jelas Dokter itu.


Dengan cepat Eisya memberitahukan dirinya sembari lalu sang dokter mempersilahkan dirinya masuk sambil membawa bayinya.


Mereka bertiga memilih menunggu diluar karena ingin memberi ruang pada suami istri tersebut.


Tuan Rahendra membawa istrinya untuk duduk karena wanita tua itu pasti sangat terpukul atas apa yang terjadi sedangkan Yanza tidak bisa tenang sedikitpun, dirinya terus mondar mandir merasa gelisah dan satu hal lagi ia tidak lupa dengan Haris.


Sedangkan didalam, Eisya sudah berada disamping suaminya yang masih sadar walau dalam keadaan sekarat.


Gadis itu kembali menangis melihat keadaan sang suami yang pasti sangat menyakitkan.


Sedangkan Arzan berusaha untuk menatap istrinya barang sejenak lalu beralih menatap malaikat kecil yang sedang tertidur digendongan sang istri.


Pria itu menyunggingkan senyum yang semakin membuat Eisya tak kuasa menahan tangisnya.

__ADS_1


Ingin rasanya ia hapus airmata itu namun sekedar mengangkat tangan pun rasanya tak kuasa.


" S-sayang... " lirih Arzan.


" hiks.. bertahanlah.. Lihat anak kita laki laki dia sehat.. hmm.. Dia mirip sekali dengan mu.. Kita akan membesarkannya bersama sama.. Dia laki laki sesuai keinginan mu.. lihatlah betapa mirip nya dia dengan mu.. " lirih Eisya sembari menidurkan bayinya disamping Arzan.


Arzan tersenyum setidaknya punya kesempatan untuk melihat anaknya.


Bayi mungil itu terlihat begitu nyaman saat tertidur, benar kata Eisya bayi itu memang sangat mirip dengan nya.


" Graliyan Zarvin... Anak papa.. papa sayang Graliyan.. J-jangan menyusahkan mama ya sayang.. Papa titip mama, tolong jaga mama J-jangan sampai menyakiti hati mama Apalagi membuat mama menangis.. Graliyan anak yang k-kuat.. maaf mungkin papa tidak bisa menemanimu.. "


Cuppp...!!


Eisya memejamkan matanya bahkan menutup mulut untuk menyembunyikan sesenggukan nya, tak hanya itu para suster yang menyaksikan hal tersebut juga ikut terharu dan sedih.



" jaga anak kita ya sayang... M-maaff jika aku tidak bisa menemanimu... akhh.. " lirih Arzan diakhiri erangan yang smakin membuatnya tidak kuat lagi.


" tidak jangan katakan apapun kau pasti bisa bertahan hiks.. Aku membutuhkan mu kita akan merawat putra kita bersama sama.. Mana janjimu untuk selalu hidup bersama ku... hiks.. kau sudah menjadi ayah sekarang.. kau bilang kau ingin mendengar anakmu saat memanggil mu ayah.. hiks.. tolong bertahanlah... hiks.. hiks.. " racau Eisya.


Sekuat tenaga Arzan mengangkat tangannya untuk menghapus airmata istrinya, namun saat akan menyentuh pipi sang istri. Seketika ia merasakan sakit yang luar biasa dan menit selanjutnya tangan yang semula ingin menghapus airmata istrinya kini terhempas bersamaan dengan dirinya menutup mata.


Tak ada lagi deru nafas yang terdengar bahkan mesin EKG telah berjalan lurus menandakan seseorang yang memang telah tiada.


Terlihat begitu damai, kini Arzan telah benar benar pergi. Tak ada lagi tidur sejenak karena ia telah tidur untuk selamanya.


Bayi yang semula berada disamping Arzan tiba tiba menangis seakan tau keadaan. Terasa jika sang ayah telah tiada untuk selama lamanya.


Eisya, gadis yang baru saja menangis haru atas kelahiran putra ku seketika shock melihat sang suami telah menutup mata untuk selamanya.


Hari kebahagiaan yang harusnya ia tulis kini berganti dengan hari kesedihan yang teramat dalam.


Tangisan bayi tak lagi dipedulikan karena ia sungguh terpaku saat melihat Arzan merenggang nyawa didepan matanya.


Tuan Rahendra dan istrinya beserta Yanza menerobos masuk saat melihat Arzan yang telah pergi ke alam lain.


Betapa hancur hati orang tuanya, Nyonya langsung memeluk putranya begitu juga Tuan Rahendra yang ikut menangis. Sedangkan Yanza mengambil alih bayi yang sedari tadi menangis dan menimangnya.


Para suster disana ikut merasakan sedih yang teramat dalam dan memberi ruang pada mereka sebelum jenazah itu dipindahkan.


Eisya terdiam dirinya hancur sungguh tak kuasa rasanya seperti mimpi buruk yang tidak pernah ingin diharapkan.


Hari ini bukanlah hari kebahagiaan nya melainkan hari kehancuran dirinya.


Kelahiran anaknya terganti dengan kepergian suaminya.


Damn....!!!


Selamat jalan Arzan Ralvian....!!


Perjalanan nya telah selesai sampai saat ini, pergilah dengan tenang setidaknya kepergian dirinya terganti dengan kelahiran putranya yang sangat mirip dengan nya.


" seseorang telah menyambut kedatangan ku.. Dia adalah Nadia Sahara... Selamat tinggal istriku... Maaf karena aku tidak bisa menemanimu lebih lama.. "-Arzan.

__ADS_1



SEASON 1 TAMAT.......!!!!!


__ADS_2