
Dirumah sakit.
Tuan Rahendra dan istrinya terlihat gelisah mondar-mandir menunggu kelahiran sang cucu.
Beliau sedari tadi sudah mengabari Arzan namun tidak diangkat.
Tak lupa juga mengabari Yanza dan menanyakan calon ayah dari bayi yang akan segera lahir.
Tap tap... tap..
Langkah kaki terdengar begitu menggema di Koridor rumah sakit dan itu adalah Yanza, setelah mendapat kabar ia langsung kemari.
Ia menghampiri Tuan Rahendra dan istrinya yang sedang menunggu dengan perasaan panik.
" hah.. hah... hah.. bagaimana pi.. " tanya Yanza dengan nafas ngos ngosan.
Ya sedari tadi ia berlari untuk datang kemari bahkan lupa menanyakan keberadaan Eisya dan memilih mondar mandir untuk mencari sendiri, alhasil baru sekarang ia sampai setelah menghabiskan waktu setengah jam. (bohong) 🙉
" lagi nunggu pembukaan slanjutnya, ini Arzan mana kok kamu sendirian kesini. " Tuan Rahendra balik bertanya membuat Yanza kebingungan.
" loh bukannya papi udah ngabarin Arzan duluan, Yanza gak tau aku pikir Arzan udah duluan kesini soalnya dia lagi gak bareng aku tadi.. " jelas Yanza.
" justru itu daritadi papi nelpon gak diangkat tu anak... Kemana sih dia gak tau apa anak pertama nya mau lahir iniii... Dasar anak nakal istrinya mau lahiran malah keluyuran kemana mana.. " kesal Tuan Rahendra.
" sabar pii, Yanza bisa minta tolong gak cariin Arzan kasian Eisya gak ada yang nemenin di dalam harusnya sekarang dia berada disamping Eisya, kalau mami gak tega ngeliat kesakitan Eisya.. " ujar Nyonya dan diangguki Yanza.
Pria itu kembali berlari untuk mencari sosok yang dilarang pergi tadi. Benar kan katanya kalau Arzan pergi Eisya kontraksi dan sekarang dirinya yang malah mencari lelaki keras kepala itu.
Yanza mengemudi dengan kecepatan tinggi sembari mengumpat mendumel kesal pada Arzan.
" ck kemana sih tu anak, udah ditelpon beberapa kali gak ada jawaban.. " Yanza mendumel kesal.
Detik selanjutnya ia teringat akan sesuatu yang berhasil mendapatkan jalan keluar untuk menemukan Arzan.
" yah Jalan Anggora.... Aku harus mencarinya disana... Tidak tidak mungkin jangan sampai terjadi apa apa padanya.. " sekarang Yanza berubah cemas.
Sedangkan ditempat nya Arzan, keadaan semakin tegang saat Haris dipaksa menembak Arzan dengan pistol yang Pak Pramanan berikan padanya.
Sebelum kedatangan Arzan, Pak Pramanan telah menyiapkan dua pistol yang satunya diserahkan pada Haris untuk menembak Arzan.
" cepat bunuh diaaa... " perintah Pak Pramanan pada Haris yang sudah mengarahkan pistol itu pada Arzan namun belum juga menembak.
" balaskan dendam kita 20 tahun laluu.. Dia harus menanggung semua akibatnya. " lanjut beliau dengan emosi yang membara sedangkan Arzan tak tau harus berbuat apa walau ketakutan telah menyelimuti dirinya.
__ADS_1
Arzan pasrah menatap Haris dengan mata sayu seakan menyerahkan dirinya namun ia juga tak mau pergi sebelum menyaksikan sang buah hati setelah sekian lama menanti.
Begitupun Haris tangannya gemetar saat memegang pistol yang diarahkan pada Arzan.
Awalnya kematian Arzan memang menjadi hal utama yang selalu diharapkan namun sekarang tidak lagi karena lama kelamaan ia sudah bisa menerima semua nya.
" kenapa diam saja cepat lakukan.. " kesal Pak Pramanan dengan pistol yang berada ditangan kanannya.
Haris memejamkan matanya, sungguh tak tega apalagi ia tau jikalau Arzan sedang menanti kelahiran sang buah hati.
Brughh..!!
Pistol yang semula ia pegang seketika dijatuhkan membuat Pak Pramanan semakin marah.
" apa yang kau lakukan bodoh.. " caci Pak Pramanan.
" maaf aku tidak bisa melakukannya aku tidak bisaa... " lirih Haris membuat Arzan lega namun kembali gelisah karena Pak tua itu memiliki pistol di tangan nya.
" dasar bodoh apa k-
" AKU TIDAK BISAA... LAGIPULA HAL INI BUKAN SALAH ARZAN, DIA JUGA MENJADI KORBAN ATAS KEJAHATAN ORANG LAIN... BAHKAN KAU SENDIRI TERMASUK PELAKU KARENA TELAH MEMAKSAKAN KEHENDAK MU PADA PUTRI MU SENDIRI... " Bentak Haris.
" awal pemicu masalah ini adalah karenamu.. seandainya kau tidak mengenal kan putrimu padaku aku tidak akan terobsesi sampai ikut memaksa anakmu untuk menikah dengan ku... Aku tau tujuan mu menikahkan anakmu dengan ku karena ingin menyelamatkan perusahaan mu.. Seandainya kau tidak egois kejadian 20 tahun lalu tidak akan pernah terjadi... " terang Haris semakin memicu emosi Pak Pramanan.
" aku tidak dirasuki tapi aku sudah sadar akan semua kejadian ini.. Tidak ada yang bisa disalahkan karena semuanya memang korban akan keegoisan dirimu.. " ucap Haris lantang bahkan Arzan yang mendengar nya ikut terharu karena serasa dibela.
" kalau begitu aku juga akan membunuhmu terlebih dahulu... " ucap Pak Pramanan sembari mengarahkan pistol pada Haris.
DEGG.....!!
Tidak bisa...!! Arzan tidak bisa menyaksikan Haris terbunuh karena pria itu juga telah menyelamatkan nyawanya dengan tidak mau menembaknya.
" silakan saja lihatlah kau memang egois hanya mementingkan hidupmu sendiri. " lantang Haris bahkan sedikitpun tak merasa takut dengan pistol yang mengarah padanya.
" jangan gila Haris, kau masih punya bayi yang membutuhkan mu... Ingat Erin dia adalah istrimu, bagaimana dengan Angga dan Ghaftara di rumah.. Chika dan Ezraf juga.. " Arzan merasa panik.
" aku titip mereka Angga dan Ghaftara putraku yang masih kecil, mungkin Chika dan Ezraf sudah punya tempat bersandar... Jika aku pergi nanti tolong sampaikan salamku pada Erin... Katakan aku mencintainya. " lirih Haris seakan memang ingin menyerahkan hidupnya.
" tidak JANGAN GILA harisss.. "
" tidak ada yang bisa menyampaikan salam karena setelah membunuh Haris aku juga akan membunuhmu.. " kata Pak Pramanan sudah menarik pelatuknya.
" selamat tinggal Haris Rifandri.. "
__ADS_1
" Tidak HARISSSS.... "
DOORRRR.....!!!
Suara pistol yang begitu menggelegar begitu menggema digendang telinga, peluru itu berhasil menembus kedalam tubuh.
Haris yang sudah memejamkan mata seakan pasrah anehnya tak merasakan apapun yang menyentuh tubuhnya.
Dan saat membuka mata betapa terkejut dirinya saat melihat Arzan yang malah menjadi pelindung untuk nya.
Pistol yang harusnya mengenai dirinya justru telah menembus perut Arzan.
" hughh... hueek.. " Cairan kental itu merembes keluar dari mulut Arzan begitupun perutnya yang telah robek akibat peluru hingga darah bercucuran keluar darisana.
Haris terpaku melihat kejadian di depannya dimana Arzan dengan rela mengorbankan nyawanya untuk dirinya.
Langsung saja ia menangkap tubuh Arzan yang ambruk dan menidurkan kepala Arzan pada pahanya sekaligus memblokir darah yang terus keluar dari perut Arzan dengan tangannya.
" hah dasar bodoh, harusnya kau menunggu giliran muu.. Sudah tidak sabar ingin mati yaaa... " cibir Pak Pramanan.
" bertahanlah... Tolong bertahan ingat kau harus melihat kehadiran anakmu kann.. hiks.. hiks.. bertahan.. kumohoonn.. " Haris panik sebisa mungkin menutupi darah yang terus keluar.
" akhh.. hah.. H-hariss.. " panggil Arzan disisa sisa sekaratnya.
" iya aku disiniii.. hiks.. "
" Graliyan Zarvin... akhh.. k-katakan pada Is-triku.. untuk n-nama putra kami.. hugg.. "
" kau pasti bisa bertahan katakan sendiri padanya nanti... hiks.. "
" ahahahah baiklah sekarang giliran mu.. Selamat ting-
" oh **** ada yang datang aku harus pergi lagipula sasaran utama ku sudah kena.. hah.. daa.. " Ucap Pak Pramanan dan pergi dari sana saat mendengar suara mobil yang menuju kemari.
Benar saja mobil itu adalah milik Yanza yang berhasil menemukan mobil Arzan yang terparkir disana.
Yanza turun dari mobil dan seketika menegang ditempat saat melihat pemandangan yang sama sekali tak ingin dilihat.
Airmata nya luruh dan langsung berlari dimana Arzan yang sedang sekarat berada dipangkuan Haris.
" APA YANG TERJADIIII... " teriak Yanza bahkan mendorong Haris karena dikira pelaku.
" Aku akan membawamu kerumah sakit bertahanlah Arzan... hiks... dan kau Haris aku tidak akan melupakan mu.. aku akan menuntut muu.. " Ucap Yanza dan membawa Arzan kedalam mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Haris tak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena pasti Yanza tak akan percaya setelah menyaksikan hal ini apalagi dia adalah satu satunya orang yang bersama Arzan.