Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 56


__ADS_3

Dirumahnya Tante Meri lebih tepatnya dikamar Erin.


sejak kepulangan nya dari rumah sakit dan menemui Haris, gadis itu terus mengurung diri dikamar sering kali terdengar tangisan dan teriakan dari dirinya membuat ibunya penasaran namun setiap kali sang ibu mendekat, Erin langsung mengusirnya dan bahkan tak mau berbicara padanya.


Tante Meri sungguh heran pada sikap anaknya namun apa boleh buat karena setiap kali mendekat dirinya selalu diusir.


Satu hal yang membuat nya semakin heran karena tak jarang terdengar suara orang muntah dari kamar Erin. Dan tentu itu adalah anaknya sendiri.


Seperti saat ini Tante Meri mencoba mendekat kan diri sekalian mengantarkan makanan untuk putrinya.


tok tok tok...


Tante Meri mengetok pintu dengan pelan berharap pintunya dibuka.


" sayang.. ini mama nak.. mama bawa makanan kesukaan kamu... ayo dimakan sayang.. sini keluar atau engga buka pintunya saja sayang... " ucap Tante Meri lembut.


Dari dalam Erin dapat mendengar nya namun memilih abai karena sedang merutuki dirinya sendiri.


Tak kenal lelah sang ibu terus membujuk anaknya.


" sayang... Erin.. tolong buka pintunya nak.. kalo ada masalah sini cerita sama mama jangan dipendam sendiri sayang. "


" ayolah nak buka pintunya.. setidaknya biarkan ibu masuk memberikan makanan ini untukmu.. " lanjut Tante Meri terus memohon dibalik pintu.


Ceklek...


Tanpa diduga pintunya terbuka dan Erin kembali duduk di tempat semula tanpa bicara setelah membuka pintu.


Tante Meri menaruh makanan itu terlebih dahulu lalu duduk didekat anaknya.


" sayang ke-

__ADS_1


" keluar maa.. Erin pengen sendiri dulu. " potong Erin.


Tante Meri terdiam dan ikut sedih melihat penampilan anaknya seperti sekarang, rambut acak acakan serta mata sembab dengan hidung memerah. Seperti nya Erin sudah terlalu banyak menangis.


" itu makanan nya dimakan yaaa.. kamu belum makan dari pagi tadi.. jangan sampai sakit ya sayang mama khawatir.. to-


" udah selesai?? jadi tolong keluar ma.. " potong Erin lagi.


Memang tak ada gunanya memaksa daripada Erin mengamuk lebih baik Tante Meri memilih keluar namun sebelum itu sempat mengecup kening anaknya.


Menutup pintu kembali dan Tante Meri hanya bisa menghela nafas menenangkan pikiran.


Dari dalam kamar sepeninggal ibunya Erin kembali menangis apalagi saat sang ibu menciumnya, jujur ia tak tega namun jika keadaannya seperti ini apa boleh buat.


Di keberadaan Eisya dan yang lain masih direstoran tujuannya tadi, namun sekarang sepertinya terlihat sudah selesai acara makan makannya.


Setelah mengobrol ngobrol sepatah dua patah kata akhirnya mereka pun beranjak pulang supaya gak kemaleman juga karena sekarang udah kesorean.


Sebelum itu pria itu juga berpesan pada mereka untuk pulang duluan tak usah menunggu keduanya.


Rombongan papinya telah pamit berangkat duluan meninggalkan mereka berdua disana.


" kenapa gak barengan aja sih om.. " tanya Eisya yang gak peka.


" yaa karena aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu.. " jawab Arzan terus tersenyum kearah Eisya.


" waktu buat apa lagi kan tadi udah lagian ini udah mau malem tau.. " protes Eisya.


" hmm.. mau liat matahari terbenam gak.." tanya Arzan mengalihkan pembicaraan.


" eee.. mau.. mau banget.. " jawab Eisya semangat.

__ADS_1


" itulah niat aku ingin menyaksikan matahari terbenam bersama mu.. " ucap Arzan menggoda.


" aiihh.. om dipikir apa.. yaudah ayo kita berangkat sekarang... ohya kita mau menyaksikan dimana memang nya.. " heboh Eisya.


" di pantai.. " jawab Arzan gemas melihat calon istri kecilnya.


" oke.. ayo buruan... "


" hahah.. iya sayang... "


Keduanya pun berangkat menuju pantai yang biasa didatangi banyak orang.


Sebentar lagi matahari akan terbenam dan akhirnya mereka sampai tepat waktu.


Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk kearea pantai memilih duduk ditempat yang bagus untuk menyaksikan matahari terbenam.


Keduanya larut memandang langit yang senja seketika membuat pikiran tenang dan tak terasa Eisya merebahkan kepalanya dibahu Arzan lalu menikmati hembusan angin pantai menerpa wajahnya.


" indah sekali.. belum pernah aku menghabiskan waktu khusus untuk menyaksikan ini.. " gumam Eisya.


" dan sekarang kamu bisa menyaksikan nya kan.. bersama orang tersayang mu lagi.. " tambah Arzan.


" hmmm... iya deh.. haha.. terimakasih ya om.. om selalu bikin aku bahagia.. "


" iya sama sama.. sudah tugas ku untuk membahagiakan mu karena kamu kan calon pendamping hidupku.. "


" ahahah om bisa aja.. "


" yaiyalah kan aku memang serba bisa. "


" ihhh.. kumat lagi kan.. "

__ADS_1


Setelah itu keduanya kembali terdiam menunggu Matahari terbenam sempurna dan menjadi pergantian malam.


__ADS_2