
Ketiga pria daritadi menunggu dengan perasaan cemas pada seorang gadis yang berada di dalam sana sedang berjuang untuk hidup atau mati.
Sedari tadi Arzan menangis tak tenang dan Nicki maupun Yanza bergantian untuk menenangkan nya.
" apa kasus ini dibawa ke kantor polisi saja Arzan.. " tanya Yanza disela sela perasaan cemas nya.
" tidak jangan sekarang... aku ingin menghukum pria itu lebih berat lagi karena ada hal besar lagi setelah ini yang mampu menjatuhi dirinya dengan hukuman seberat berat nya... " ucap Arzan.
Meski tidak mengerti Yanza memilih mengangguk saja karena berhubung masih dikondisi seperti ini ia menahan dulu jiwa keponya.
" kok dokter nya belum ada yang keluar sih udah dari tadi lho. " cemas Nicki.
" sabar bocah.. " jawab Yanza.
Pintu ruang putih itu terbuka menampilkan seorang dokter dengan pakaian serba tertutup langsung saja ketiga jantan itu menerkam sang dokter dengan beberapa pertanyaan.
" dok dokter bagaimana keadaan gadis itu dok dia baik baik saja kan... "
" iya kan dok hal itu tidak parahkan... "
" apa pelurunya sudah dikeluarkan.. "
" kumohon berikanlah kata kata yang menyenangkan dokter... "
Begitulah kira kira beberapa pertanyaan yang dilontarkan mereka.
" sabar sabar... saya akan menjawab pertanyaan kalian semua.... begini... alhamdulillah keadaan gadis itu sudah membaik dikarenakan kalian membawanya tepat waktu meski kehilangan banyak darah namun gadis itu sudah mendapat tranfusi darah dari pihak rumah sakit yang memungkinkan kondisinya yang membaik. " jelas dokter membuat ketiganya merasa lega.
" syukurlahhh.. terimakasih ya tuhan.... " ucap Arzan tersenyum.
__ADS_1
" apa dia sudah boleh dijenguk dok.. " tanya Nicki.
" boleh.. tapi tunggu setelah dia dipindahkan keruang rawat.. " jawab dokter.
" baiklah... " balas Yanza.
" kalau begitu saya permisi... " ucap Dokter dan berlalu darisana.
Dirumahnya Haris.
Lelaki itu sudah kembali kerumahnya namun dengan perasaan yang tidak tenang dan takut dikarenakan mengingat perbuatannya tadi.
Ia langsung mendudukkan dirinya disofa dengan raut wajah ketakutan, dan disaat seperti itu Anita pun menghampiri nya.
" darimana saja kau mas.. " tanya Anita selembut mungkin sambil mendudukkan dirinya disamping Haris.
" bukan urusan mu.. " jawab Haris jelles.
" tidak usah.. " jawab Haris semakin jutek.
" atau mau ku pijit kan.. " tawarnya lagi tak kenal lelah.
BRAAKKK..
Haris bangkit dan memukul meja dengan keras membuat Anita terkejut.
" sudah Kubilang tidak usah apa kau tuli haa.. tidak usah sok peduli pada ku karena aku akan tetap menceraikan dirimu.. mulai hari ini angkat kakimu dari rumah ini....detik ini juga kamu kutalak tiga.... " ucap Haris dengan nada tak bersahabat.
" oke.. tapi izinkan aku membawa anak anak.... " ucap Anita lantang ikut berdiri.
__ADS_1
" hah.. punya kuasa apa kamu membawa mereka.. apa kau mau membuat mereka ikut ikutan susah seperti mu.. tempat tinggal saja tidak punya sok soan mau bawa mereka.. aku tidak mau anak anakku jadi gelandangan kalau ikut dengan mu.. " caci Haris.
" kamu pikir aku tidak bisa membuat mereka bahagia... aku akan berusaha mencarikan tempat yang lebih layak untuk anak anakku.. biarlah tinggal ditempat sederhana namun diselingi kebahagiaan daripada tinggal ditempat mewah namun penderitaan yang selalu didapatkan... " jelas Anita adu mulut.
" tetap tidak bisa... anak anak adalah milikku kalau kau mau bawa saja anakmu yang masih bayi itu karena dia masih bergantung pada mu... " balas Haris.
" chika juga masih kecil dia masih membutuhkan kasih sayangku belum lagi Angga yang juga masih membutuhkan ibunya.. kau tau apa tentang mereka selama ini karena dirimu hanya tau tentang perusahaan.. kau tidak bisa mengerti apa yang mereka inginkan nantinya.. " desak Anita.
" tidak perlu mencemaskan mereka.. toh nantinya mereka juga akan punya ibu pengganti dan aku akan menikah lagi.. " ucap Haris dengan pede nya.
" egois kau Haris... "
" kau juga....sekarang angkat kakimu darisini dan bawa bayimu aku sudah muak melihatnya.. " kata Haris tanpa perasaan memalingkan wajahnya.
" kau memang manusia kejam Haris... bayiku memang tidak pantas memiliki ayah seperti mu.. aku tidak akan pernah mengenalkan dirimu pada nya suatu saat nanti.. " ucap Anita sambil menyeka airmatanya dan pergi darisana untuk mengemasi barang barang.
" persetan aku tidak peduli... Anak lelaki pertamaku saja sudah cukup untuk menjadi penerus ku.. " ucap Haris dengan sombongnya.
Kembali ke rumah sakit.
kini diruang rawat Arzan tengah menemani gadisnya yang terbaring masih menutup mata. Yanza dan Nicki memilih ke kantin memberi ruang untuk mereka sekaligus mengisi perut yang lapar.
Arzan duduk di kursi dekat ranjang tempat tidur Eisya dan menggenggam tangan tertancap infus itu mengajak sosok itu bicara walau tak dapat respon apa pun.
" kenapa harus melindungi ku hmm... lihatlah karena kelakuan mu kau jadi terbaring seperti ini.. padahal kamu baru saja sadar beberapa waktu yang lalu menyunggingkan senyum manismu pada ku... dan sekarang kau kembali menutup matamu.... tolong.. bertahanlah untukku dan setelah ini aku janji akan membahagiakanmu.. " lirih Arzan menatap setiap inci wajah gadis itu dengan bibir terukir yang khas, bibir itu setiap bentuknya dan garis lekuk diatas belahan bibir yang menonjol mirip sekali dengan kepunyaan Nadia.
Ditambah dengan hidung kecil yang tidak terlalu mancung dengan mata sayu semakin menambah kesan saat memandangnya. Beda dengan Arzan yang memiliki mata besar juga hidung mancung ditambah dengan lebar bibir berbeda atas bawahnya. Arzan memiliki bibir yang lebih tipis dibagian atasnya dan sedikit berisi dibawahnya hal itu juga meninggalkan kesan indah pada om itu tidak lupa lengan berotot dan roti sobeknya. Sudahlah kenapa jadi bahas kesitu...!!!!
Seiring berjalannya jarum jam Kepala Arzan pun terasa berat dan berakhir tertidur dengan Kepala diranjang Eisya.
__ADS_1
Keduanya sudah saling menutup mata dan berlalu ke alam mimpi.