Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 75


__ADS_3

Seorang anak laki laki dengan setelan jas hitam kini sedang menangis sendirian ditaman yang tak jauh dari gedung acara pernikahan ibunya.


Dia adalah Angga, hatinya tak bisa menerima kalau ia harus merelakan sang ibu menikahi pria lain dan meninggalkan ayahnya.


Dia hanya tau mitos cerita yang diciptakan sang ayah untuk membenci ibunya dan dirinya tak pernah tau apa cerita sebenarnya.


" kenapa kau tega sekali maa... dengan mudahnya mama melupakan papa dan aku... hiks.. aku pikir kita adalah keluarga bahagia namun aku salah... hiks.. aku tidak pernah mengira kalau aku harus hidup tanpa orang tua yang bersatu... kenapa kalian berpisah hiks... tidakkah kalian berpikir bagaimana perasaan ku... hiks.. mama egois... hiks. mama EGOIIIISSSS.... HIKS... " Angga berteriak mencurahkan isi hatinya pada taman yang kosong tersebut.


" aku tidak tau apa masalah mu.. tapi tidak ada gunanya seperti ini... ikhlaskan saja.. pasti dibalik ini ada maknanya.. " Rayyan tiba tiba bersuara dan mendekat kesana.


Sebenarnya Rayyan lebih dulu datang kemari karena ia sudah bosan berada diacara itu dan saat Angga kesini dirinya telah pergi untuk membeli minuman karena haus dan saat kembali ia menyaksikan Angga yang seperti nya sedang tidak baik baik saja.


Rayyan adalah teman sekelas Angga mana mungkin ia tidak tau siapa orang tua Angga.


" kau tidak tau bagaimana sakitnya berada diposisi ku... Keluarga ku yang dulu nya utuh selalu dihiasi kebahagiaan, namun tiada angin tiada hujan... kenapa harus kandas secepat ini... bahkan aku pikir ini mimpi terburuk namun ternyata lebih dari itu... hiks... ini adalah kenyataan terburuk.. hiks.. " Angga mencurahkan isi hatinya.


Rayyan tak bisa berkata apa apa lagi rasanya memang menyakitkan jika berada diposisi Angga dan dirinya pun tak bisa membayangkan jika mengalami hal yang sama.


" aku membenci ibuku... " lirih Angga.


Rayyan menatap kearah Angga dan mengerutkan keningnya.


" tidak seharusnya kau seperti itu... dia itu ibumu.. " Rayyan mencoba untuk menasehati Angga.


" ibu yang rela meninggal kan anak anaknya demi yang lain... ibu macam apa itu.. " datar Angga menghapus kasar airmatanya.


" Itu tidak b-


" itu benar anakku... ibumu memang tidak tau diri.. sedikitpun ia tidak memikirkan perasaan anaknya.. apakah ibu sepertinya patut dianggap seorang ibu.. " Haris tiba tiba datang berucap memanasi Angga.


Rayyan yang mendengarnya terkejut, bukankah sosok ayah yang baik juga tidak akan menjelekkan seorang ibu pada anaknya.


Haris mendekat dan memegang pundak putra sulungnya.


" mulai sekarang tidak usah memikirkan ibumu lagi.. ada papa bersama mu.. " ucap Haris diangguki anaknya.


Rayyan yang merasa kehadiran nya hanya sebagai figuran ia pun pamit undur diri berhubung melihat aura ayahnya Angga juga seperti bukan orang baik baik.


Kembali ke acara pernikahan Yanza dan Anita. Para tamu undangan juga sudah banyak yang pulang kini hanya tinggal orang tua Yanza dan Arzan juga Arzan sendiri bersama istrinya.


Semua terlihat duduk disana kecuali Arzan dan Eisya beserta bayi Anita yang dipinjam oleh mereka sebentar.


Pasangan itu sedang berada di salah satu ruang sedang asyiknya bersama bayi orang.


Eisya yang menggendong bayi tersebut dan Arzan tak henti hentinya membuat wajah konyol untuk membuat bayi itu tertawa.

__ADS_1


" sudah ah.. kasihan dia tertawa terus.. " ucap Eisya pada Arzan.


" gemesshh ya liat bayi begini... " Arzan kini menoel noel pipi si bayi.


" heumm... iyaa.. ni coba gendong.. " Eisya menyerahkan bayi itu untuk digendong suaminya.


" aku...???.. " tanya Arzan dan Eisya mengangguk.


" emang bisa. " ragu Arzan.


" gimana mau punya anak kalau kamu nya begini.. ayo gendong dulu... " pinta Eisya.


Sejujurnya sih emang pengen dan Arzan juga sudah menggendong bayi ini dirumah sakit waktu itu cuma sekarang agak takut juga karena bukan anak sendiri.


Eisya menyerahkan bayi itu dengan hati hati begitu juga Arzan yang menerima nya dengan sangat hati hati.


" hati hati kepala nya.. " peringkat Eisya.


Saat digendongan Arzan, bayi itu menyunggingkan senyum nya memperlihatkan gusinya yang rata.


" wih dia senyum... " Arzan merasa gembira disenyumin bayi.


" tandanya dia nyaman... " ucap Eisya.


" nanti gambaran anak kita bagaimana yaa... ahhh... gak sabarnya... " -Arzan.


" ih bukan gituuu... " -Arzan.


" gimana udah cocok belum... " lanjut Arzan bertanya pada Istrinya.


" pake banget malah... " jawab Eisya.


" makanya kamu cepat ngisi dong.. udah kepengen nii... " kode Arzan menaik turunkan kedua alisnya.


" ihh... belum waktunya mungkin.. " jawab Eisya.


" kalau anak kita laki laki nanti kita namainya siapa.. " tanya Arzan menggoda sang istri.


" ck.. kamu... jangan bahas itu dulu belum apa apa juga.. " Eisya bukannya tak suka namun merasa salah tingkah.


" hahahaha.. utututuuhh... " Arzan tertawa.


Detik selanjutnya rengekan si bayi yang terdengar.


" lhoh kenapa ini... gak mau lagi dia. " ucap Arzan sambil menimang nimang bayi tersebut.

__ADS_1


" gerah mungkin.. yaudah yok kita kembaliin ke mamanya... " jawab Eisya.


" yaahhh padahal masih pengen ngegendong nya... " lesu Arzan.


" nanti bikin sendiri... " setelah mengatakan itu Eisya langsung pergi menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.


" yank... seriuuuuuss.... " Arzan kegirangan dan mengejar Eisya namun tetap berjalan hati hati karena ada bayi digendongan nya.


Ditempatnya Nicki.


Ia sedang bersama Erin karena menawarkan diri untuk mengantarnya sedangkan Tante Meri sudah pulang duluan dengan taxi.


Motor yang dikendarai keduanya berhenti di sebuah pantai.


Erin sendiri bingung kenapa dirinya tak langsung diantar pulang malah main kesini.


Karena motornya berhenti, Erin pun turun dari motor tersebut diikuti Nicki setelah memarkirkan motor nya.


" nenangin pikiran disini sebentar yaa.. ayo kesana... " ajak Nicki diangguki Erin.


Akhir akhir ini Erin tak lagi bersikap kasar pada Nicki dan tidak lagi mencuekinya, malah sekarang dirinya lebih terbuka dengan lelaki itu.


Mereka berdiri ditepi air pantai yang pasang surut menikmati semilir angin menerpa wajahnya.


Erin memandang lurus kearah laut dan memejamkan matanya saat angin begitu halus menyentuh wajahnya.


Nicki tersenyum melihat Erin yang bisa menikmati hal itu. Entah kenapa perasaan yang sama sekali tiada, saat ini tiba tiba timbul secara perlahan.


" terima kasih... kamu selalu bisa membuat ku menjadi tenang.. " ucap Erin tersenyum kearah Nicki.


" tidak masalah... aku senang kamu bisa menikmati setiap hal yang kulakukan untukmu.. " balas Nicki.


" melihat Haris di pernikahan tadi hatiku kembali sakit apalagi ditambah ketakutan saat dia benar benar akan mencampakkan kuu... namun sekarang kamu kembali membuat hatiku jadi tenang.. " jelas Erin.


" terimakasih banyak... " lanjut Erin.


Nicki tersenyum lebar kearah Erin lalu meluruskan pandangan nya kedepan.


" jika ada orang lain yang mengajakmu untuk hidup bersama saat ini apakah kau mau.. "


" ha... M-maksudmu... " Tanya Erin bingung.


" ah tidak apa apa.. " seperti nya Nicki belum siap untuk jujur.


" mustahil sekali jika ada orang seperti itu apa lagi saat tau kondisiku... dan jika itu memang ada... itu adalah suatu keajaiban untuk ku.. " ujar Erin terus menatap laut didepan matanya.

__ADS_1


" jika itu aku apakah kau mau menerima ku... untuk menemani hidupmu.. " batin Nicki.


" tentu saja kenapa aku harus menolaknya karena itu adalah sebuah takdir untuk ku... asal aku diterima apa adanya lantas kenapa aku akan menolak nya. " batin Erin.


__ADS_2