
Dikantor nya Tuan Rahendra.
CEO Arzan Ralvian berjalan tegak menuju ruangan dengan wajah senyum senyum sendiri melewati para pegawai yang menatapnya heran apalagi melihat bekas lipstik di pipinya.
" hah... pagi semua... heumm... lihat lihatt lihat kemariiii... lihatlah ini... " tunjuk Arzan pada bekas lipstik dipipinya.
Semua yang ada disana patuh terhadap perintah dan melihat nya.
" ini.. adalah ciuman dari istriku sebagai penyemangat untuk bekerja... hahaha... aku bahagia sekaliiii... heummm... " lanjut Arzan membuat semua orang bingung, mau tertawa takut ditendang.
" kalian tauu... istriku itu sangat unik... dan dia... ahh.. tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.. " ucap Arzan.
" apakah ini beneran anak Tuan Rahendra... kemana tampang tegasnya... setelah menikah beliau banyak berubah yaa.. " bisik salah seorang pegawai pada pegawai lainnya.
Ditengah kesenangan Arzan dan kericuhan para pegawai, tiba tiba suasana jadi hening karena kedatangan sang Bos Besar.
" ekheumm... Silahkan mulai bekerja semuanya... " titah Tuan dan semua pegawai menuju pada kegiatan masing masing meniggalkan Arzan yang masih senyum senyum sendiri.
" dan kamu... hapus itu.. mulailah bekerja... tidak usah lebay begitu.. " lanjut Tuan.
" ih papi bilang aja iri gak dapat ciuman dari mami lagi kann... iya kann.... " goda Arzan.
" heh... ingat tempat kalo ngomong.. " mendadak wajah Tuan merah merona.
" ahahah... kena kan.... Oh ya pi ada yang mau aku omongin ni.. " kata Arzan.
" silahkan keruangan.... " jawab Tuan meninggalkan Arzan menuju ruangannya.
" hih... sok formal banget sih.. " cibir Arzan dan mengekori dibelakang Tuan Rahendra.
Didalam ruangan Tuan Rahendra.
Setelah membenarkan posisi duduknya, Arzan mengambil ancang ancang untuk mengeluarkan kalimat yang cocok di hadapan sang ayah karena ini ada maunya.
" papiiii.... " panggil Arzan lembut dan berirama.
" intinya apa.. ada maunya kan... " sudah bisa ditebak memang.
" ih tau aja pi... benar banget... aku mau beli rumah dong pi.. buat aku dan istriku.. " dan Arzan pun langsung lepas tanpa beban.
" tinggal beli kan... " sahut Tuan.
" iya sih... tapi bantu aku milihin yang cocok dan bagus dong sekalian papi yang bayarin... hehe... " nyengir Arzan.
" kamu ini udah jadi suami kok malah masih bergantung sama orang tua... sebagai seorang suami itu harus mandiri harus bisa membahagiakan istrinya dengan usaha sendiri... " tegas Tuan.
" ck... lagi naik darah ya pi... lagian cuma itu kok... nanti setelah ada rumah sendiri... kami bisa memberikan cucu yang banyak buat papi dan mami... " jelas Arzan.
" kamu itu lho kalo ngomong asal nyelonong aja... "
" bukan nyelonong tapi fakta lho pi.. "
" mau keluar sendiri atau dibikin terbang. "
" pake baling baling bambu ya pi.. "
BRAAKK....
" iya iya... kebanyakan makan daging sih naik darah kan... "
__ADS_1
" Arzan..... "
" iya pii... aku akan keluar tapi jangan lupa... hehe.. rumahnya... secepatnya ditunggu ya papi ku yang setengah tampan... " ucap Arzan.
" udah sana keluar.. jangan lupa hapus itu.. malu maluin tau... " balas Tuan.
" oke... " Arzan lalu bergegas keluar dari sana.
" heran deh anak siapa sih... hadeuuhh..... efek kelamaan koma kali ya.. " frustasi Tuan memijit pangkal hidungnya.
Ditempat nya Eisya.
Setelah berbelanja cemilan tak sengaja ia bertemu dengan Nicki dan jadilah mereka saling menyapa.
" eh pengantin baru.... " sapa Nicki.
" ah Nicki... " balas Eisya tersenyum.
" gimana kabarnya sama pak suami.. " tanya Nicki.
" ahah.. baik.. lalu kabarmu... " jawab Eisya lalu balik bertanya.
" baik juga... hanya saja... huhuu... lihatlah nasibku yang tak lepas dari tugas kuliah.."
" semangat... itu kan perjuangan sebelum menuju kesuksesan... "
" iya sih.. tapi berat... lihatlah kamu... udah bebas langsung nikah... aku kapan. " keluh Nicki.
" jangan begitu.. justru kehidupan ku lebih berat sekarang karena sudah berperan sebagai seorang istri.. dan pastinya tanggung jawab ku lebih besar lagi.. " jelas Eisya bukan berarti tak suka.
" benar juga... yang semangat ya... ohya gimana udah mulai belum... pasti bentar lagi udah ada si junior tu.. " goda Nicki.
" haha.. maaf maaf... ohiya ngomong ngomong soal itu kamu udah tau belum tentang... tentang Erin... "
" Erin..??? ada apa dengannya.. " tanya Eisya penasaran.
" belum tau ya... "
" iya makanya katakan.. "
" gimana ya... tapi janji ya.. jangan katakan padanya kalau aku yang cerita kan pada mu..... " ujar Nicki.
" iya tenang saja... "
" Itu... Erin hamil... " ucap Nicki pelan.
" hah... yang benar... "
" iya...aku juga baru tau saat membawanya ke dokter karena dia jatuh bertabrakan dengan ku.. " jelas Nicki.
" ternyata benar dugaan ku... Erin pasti akan hamil... hah bagaimana ini... aku jadi ikut merasa bersalah karena malah membiarkan nya waktu malam itu... " batin Eisya.
" ada apa... " tegur Nicki melihat Eisya yang melamun.
" ah tidak... kalau begitu aku pulang dulu ya.. ibu mertua sudah menunggu... " Eisya langsung buru buru bergegas darisana.
" ada apa dengannya... kok dia gak terlihat shock mendengar nya... ah untuk apa juga dia ikut campur lagi ya.. toh sekarang ia sudah punya kehidupan yang bahagia... hah.. memang lebih baik begitu sih... " gumam Nicki.
Dijalan Eisya tidak langsung pulang kerumah tapi berbelok menuju dikediaman tante nya berniat bertemu dengan Erin.
__ADS_1
Singkat cerita sampai lah ia dirumah itu dan langsung mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama pintupun terbuka menampilkan Tante Meri.
" oh Eisya.. ada apa ya.. " tanya Tante Meri yang memang sudah berubah menjadi baik karena uang.
" itu.... Erin nya ada gak tante.. " jawab Eisya.
" ada dikamar... apa ada perlu.. "
" iya.. bisa kah saya bertemu dengan nya. "
" ya bisa... silahkan masuk.. kebetulan tante mau keluar sekalian temani dia sebentar ya.. gak lama kok.. "
" baik Tante... "
" kalau begitu tante langsung pergi ya.. titip Erin sebentar dia sedang tidak enak badan....... "
" tentu.. "
Tante Meri pun meninggalkan rumahnya sedangkan Eisya langsung menuju kekamar Erin untuk bertemu.
Tok tok tok...
Eisya mengetuk pintu sengaja tidak mengeluarkan suara.
" iya masuk saja ma.. tidak dikunci. " jawab Erin dari dalam.
Ceklek.....
Eisya membuka pintu dan memasuki kamar itu memperlihatkan Erin yang sedang berbaring diranjangnya.
Melihat kedatangan Eisya, Erin merasa tidak senang dan memalingkan wajahnya.
" kamu... untuk apa kesini... pergi... aku tidak ingin melihat wajahmu itu.. " hardik Erin.
Eisya mengabaikan nya dan semakin mendekatkan langkahnya keranjang Erin.
" bagaimana kabarmu... " basa basi Eisya.
" hah... tidak usah sok peduli.. kau kesini karena mau mengejek ku kan.. "
" karena apa aku mengejekmu... karena kau hamil??... hah jangan berburuk sangka saudaraku... " pernyataan Eisya membuat Erin terkejut dan menatapnya tajam.
" darimana kau tau itu... " tanya Erin.
" itu tidak penting.. " jawab Eisya.
Sejenak keduanya saling terdiam dan Erin sudah menangis menundukkan wajahnya.
" aku... aku akan membantumu bersama bayimu... "
" menemukan cara untuk menyatukan kamu dengan ayah dari bayimu itu.. " lanjut Eisya.
" ini semua salah kamu brengsek... kamu sudah menjebak ku bersama baj**** itu.... kau senang kan melihat hidupku hancur seperti ini... hiks.... hiks.. "
" sedang membicarakan diri sendiri ya.. bukannya kamu yang duluan menjebak ku... andai saja waktu itu Arzan tidak ada.. sudah pasti hidup ku yang akan hancur... ini semua bukan salah siapa pun.. tapi ini karena ulahmu sendiri... " balas Eisya.
Erin tak bisa berkata apa apa dirinya terus menangis tersedu sedu dan itu semakin membuat Eisya merasa kasihan.
" aku akan membantu mu... tenang saja.. dan jaga calon bayimu baik baik.. sikecil itu tidak punya salah apa apa... aku akan meminta bantuan Arzan untuk menyelesaikan ini.. tenang lah.. jangan sering bersedih itu bisa berdampak buruk pada bayimu.. "
__ADS_1
" aku pamit... " lanjut Eisya pergi darisana meninggalkan Erin yang semakin bersedih dan sedikit merasa tenang mendengar ucapan sepupunya barusan.