
Hari telah berganti dan hari ini Pak Pramanan berencana mengunjungi suatu tempat.
Dirinya telah bersiap siap sembari menunggu taksi yang akan menjemput nya.
Beberapa waktu kemudian, taksi itu pun datang langsung saja Pak Pramanan bergegas menaikinya.
Mengumpulkan keberanian yang sudah begitu matang memantapkan hati untuk menemui sosok itu.
Sosok yang begitu berarti dalam hidupnya dan sosok itu telah bertempatkan ditempat yang tak diinginkan.
Singkatnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, kini mobil itu berhenti atas perintah Pak Pramanan sendiri.
Setelah membayar beliau pun turun menyuruh taksi itu untuk menunggu karena setelah tempat ini ada tempat lain lagi yang akan dikunjungi.
Rasa sesak didalam dada kembali bergemuruh saat melangkahkan kaki ke tempat yang begitu sunyi.
Langkah putus asa itu menyeretnya ke sebuah pemakaman yang sudah lama ditinggalkan.
Airmata itu kembali meluncur tanpa aba aba bersamaan dengan itu pula kedua kakinya tak mampu lagi untuk menumpu.
Sesak itu menjalar kesuluruh tubuh saat bertuliskan nama sang anak di nisan tersebut.
Beliau menunduk membiarkan airmata itu berjatuhan menyentuh bumi, tangannya memegang sebuah nisan yang tertempel banyak debu.
" apa kabarmu nak... Ayah datang... hiks.. ayah datang menjengukmu.. hiks.. " gumam beliau.
" tidur yang tenang anakku.. hiks... tidak ada lagi yang akan mengekang mu.. hiks... maaf..!!!.. maafkan aku.. hiks.. maafkan ayahmu ini... hiks.. " serunya.
Sejenak beliau terdiam membiarkan sesenggukan tangisan yang begitu menyayat hati.
Tangannya beralih memindahkan dedaunan kering yang berjatuhan dimakam sang anak.
" Nadia Sahara.. ayah kembali untuk membalaskan dendam atas kematian mu.. hiks.. mencari keadilan atas kematian mu.. hiks.. ayah janji.. akan membuat orang itu mendapat balasan yang setimpal.. hiks... ayah janji... hiks.. " tuturnya.
" saat itu ayah tidak punya kuasa untuk membuktikan nya tapi sekarang, ayah akan membalaskan nya sendiri tanpa campur tangan orang lain.. "
" keadilan tak kan pernah bisa diharapkan pada orang lain, bahkan keadilan bisa dikalahkan dengan uang. Orang yang tidak merasakan nya akan menganggap sepele apa yang telah kita rasakan, dan kehilangan adalah rasa yang paling menyakitkan.. " ucap beliau dengan ekspresi yang begitu menyeramkan.
" apa itu hukum penegak keadilan..?? jika bukan kita sendiri yang harus turun tangan. "
" istirahat yang tenang anakku, ayah akan sering sering kesini menjengukmu... sekarang ayah pamit ya karena ayah ingin melihat ibumu.. hiks.. kondisi ibumu juga begitu memprihatinkan setelah kepergian mu.. hiks.. ayah pamit ya sayang.. " lanjutnya.
__ADS_1
Setelah itu beliau bangkit menuju ke mobil yang sedari tadi menunggu. Tak lupa menghapus jejak airmata dan mencoba untuk tersenyum.
Sembari menunggu perjalanan Pak Pramanan, sejenak beralih ditempatnya Eisya.
Kini gadis itu sedang berada di mini market sendirian tanpa ditemani Arzan karena lelaki itu sudah pergi ke kantor. Dan kepergian Eisya ini pun tanpa diketahui Arzan.
Rasa lezat mangga muda yang begitu menggugah tiba tiba membuat Eisya segera ingin memakannya.
Tanpa pikir panjang langsung saja ia mendatangi tempat yang menjual buah tersebut.
Dan tersenyum senang kala mendapatkan apa yang ia cari.
" waahhh aku beli banyak ah biar ada stok buat dirumah, lagian suamiku itu pasti ngiler kalau liat ini.. " gumam Eisya.
Dirinya pun sibuk memilih buah mangga yang begitu menggugah selera.
Setelah selesai ia pun membayar dan keluar dari tempat tersebut.
Baru beberapa langkah dari pintu keluar, tak sengaja dirinya berpapasan dengan Erin yang juga ingin membeli sesuatu.
" Erin..!! Mau kemana.. " sapa Eisya ceria dan dibalas senyum kaku oleh sepupunya.
" ingin beli sesuatu.. " ucap Erin canggung, biar bagaimanapun juga meski tak lagi menaruh benci pada Eisya tapi dirinya tetap merasa begitu canggung terhadap sepupu yang tak pernah akur dengan dirinya dulu.
" ohya aku beli mangga banyak, gimana kalau kita makan bareng.. " tawar Eisya sambil memperlihatkan barang bawaan nya.
Erin tak langsung menjawab membuat Eisya berkali kali untuk meyakinkannya.
" ayolah.. sesama ibu hamil pasti tidak bisa menolak kalau iniii... ayooo makan bareng.. ayooooo... " bujuk Eisya.
" tapii.. apa tidak papa aku-
" ssssttt aku anggap kamu setuju, ohya kita makan dimana.?? " tanya Eisya.
" eumm... aku ikut kamu saja.. " jawab Erin.
" baiklah gimana kalau kita makan dirumah ku.. disana tidak orang lain untuk kita berbagi... hehee... " nyengir Eisya membuat Erin ikut tersenyum.
" tapi sebelum itu aku kabari mertua ku dulu ya karena sebelum kesini aku tinggal disana semalam.. " lanjut Eisya diangguki Erin.
" dan sembari menunggu kamu mengabari mertuamu, aku ke sana dulu mau beli sesuatu... " ucap Erin.
__ADS_1
" okeyyy... " balas Eisya memperlihatkan jempolnya.
Setelah itu, Eisya menelpon ibu mertua dan Erin masuk ke minimarket membeli sesuatu entah apa itu.
Kembali ketempat Pak Pramanan.
Kini beliau sudah berada di tempat yang ingin dikunjungi.
Sama hal nya seperti tadi beliau menyuruh supir taksi untuk menunggunya sampai selesai karena tak ingin memesan taksi lain lagi dan sekalian bayar lebih untuk taksi ini.
Baru saja memasuki perkarangan itu, dirinya langsung disambut dengan orang orang sakit jiwa, karena apa ?? karena disini adalah rumah sakit jiwa.
Diantara orang orang ini, beliau tidak melihat kehadiran istrinya hingga beliau menanyakan informasi pada salah satu perawat.
" permisi...!! " Sapa Pak Pramanan pada salah satu perawat laki laki yang tidak terlalu sibuk dengan pasien seperti perawat lain.
" ah iya, apa ada yang bisa saya bantu. " balas perawat laki laki itu sebut saja namanya Ilham.
" eeee... saya... Saya ingin mencari keberadaan istri saya, apakah kamu bisa menunjukkan nya pada saya.. " pinta Pak Pramanan dengan ramah.
" oh kalau begitu ikut saya dulu untuk mencari data pasien.. " ucap Ilham dan bergegas darisana diikuti Pak Pramanan.
Singkat cerita, setelah selesai mengetahui keberadaan Istrinya dari Ilham beliau kini mendatangi tempat yang ditunjukkan Ilham tadi.
Terdapat sosok perempuan yang tak muda lagi tengah memeluk boneka dan duduk disebuah kursi yang jauh dari kerumunan orang gila lain.
Sekali lagi airmata itu kembali turun, hatinya kembali semakin hancur melihat kondisi istrinya yang menjadi gila seperti ini.
Rasa bersalah pada hatinya juga semakin besar karena penyebab utama kejadian ini adalah sebab ulahnya yang egois.
Perlahan kakinya itu melangkah menghampiri sang istri yang diyakini kehadirannya pasti di tolak mentah mentah, namun beliau tetap berusaha untuk memeluk tubuh itu.
Puk...
Pak Pramanan menepuk halus pundak sang istri dan karena hal tersebut, Bu susan berteriak histeris saat melihat wajah suaminya.
" AAAAARRRRHHHGGG... PERGI KAMU... KAMU PERGI... JANGAN PAKSA ANAKKU... HIKS.. PERGI... AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU MEMAKSA ANAKKU LAGI PERGI KAMU PERGI KAMU SIALAN.... HIKS.. PERGIIIIII..!!! " teriak Bu Susan mengakibatkan beberapa perawat menghampiri kesana dan mencoba menenangkan nya.
" Pak lebih baik untuk saat ini jangan dekati dulu, mohon bersabar.. mungkin kehadiran bapak tidak bisa diterima baik oleh istri bapak.. " kata Ilham sembari menenangkan Bu Susan dengan beberapa perawat lain.
Pak Pramanan kembali menangis dan untuk saat ini berusaha mengikhlaskan, tapi lain kali beliau berjanji akan datang kesini lagi dan mendapatkan hati sang istri kembali.
__ADS_1
Beliau tak akan menyerah sebelum benar benar mendapatkan hasilnya.