Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
bagian 28


__ADS_3

Hari telah menjelang sore begitu pula pak Rano yang baru saja sampai dirumah sehabis dari kantor.


Beliau langsung merebahkan diri disofa empuk miliknya dan tak lama kemudian datang lah sang istri menghampiri nya sambil membawa kopi yang baru saja ia siapkan.


" pasti lelah sekali ya pa... ni minum dulu.. mama bikinin kopi lho... " ucap Tante Meri dibumbuhi pemanis.


" tumben. " singkat pak Rano lalu meneguk kopi buatan sang istri.


" ihh.. papa lagian mama kan sering begini kenapa dibilang tumben.. " protes Tante Meri.


" jujur mama mau apa.. " tanya pak Rano tanpa basa basi karena beliau bisa membaca pikiran istrinya sekarang.


" gak banyak kok pa.. bahkan untuk kebaikan semuanya.. " jawab Tante Meri yang juga tak ingin berlama lama.


" maksudnya.. " tanya Pak Rano.


" paaa... kenapa sih gak izinin Haris untuk mengambil Eisya... lagian kalau Eisya hidup disana kebahagiaan nya bisa terjamin, kekayaan pria itu sangat banyak.. " jelas Tante Meri.


" hah.. disuap berapa kamu sama lelaki itu.. ha.. "


" apaan sih paaa.. gak ada suap suapan.. mama ngomong begini karena untuk kebahagiaan Eisya juga untuk masa depannya... "


" sejak kapan kamu peduli padanya. " tanya pak Rano tak bisa percaya pada istri nya.

__ADS_1


" ck.. papa gimana sih giliran baik gini malah dicurigai sih.. "


" pokoknya papa gak setuju kalau Eisya hidup bersama Haris itu.. " keputusan bulat Pak Rano.


" papa ini apa apaan sih.. Haris itu lelaki yang cocok untuk Eisya.. " ucap Tante Meri dengan nada marah.


" Haris udah punya istri dan anak, ketika Eisya dijadikan istri ia pasti akan merasa terbeban begitu juga dengan istri pertama Haris dan anak anaknya perasaan mereka pasti terluka.. mama bisa mikir gak sih.. lagian Eisya masih ingin mengejar mimpi nya.. " jelas Pak Rano.


" cih.. paaa.. tapi Eisya akan bahagia kok mama yakin.. "


" kenapa mama yang malah sewot, yang ngejalanin kehidupan nantinya kan Eisya.. anak itu pasti gak kebelet kawin.. atau emang mama yang kebelet kawin lagi iya.. "


" iihhh.. papa.. Eisya itu cuma keponakan kita kenapa papa bela sampai segitunya sih.. lagian papa sama Eisya gak punya ikatan darah apa pun.. " dumel Tante Meri kesal.


" Eisya adalah anak yatim piatu.. harusnya mama lebih sayang padanya karena dia anak adikmu sendiri Meri. "


Plakk....


" sadar Meri sadar.. dendam mu membutakan semuanya.. " barusan Pak Rano kesal dan reflek menampar istri nya.


" demi anak sialan itu kau menampar ku ha... TEGA SEKALI KAU MAIN TANGAN.. " balas Tante Meri memegang pipi kirinya yang berdenyut sakit.


" Meri k-kau-

__ADS_1


Baru saja Pak Rano mengambil ancang ancang menampar istrinya lagi tiba tiba sebuah suara menghentikan nya sambil menangis dan kini sosok itu tengah berdiri di hadapannya.


" jangan om... hikss.. jangan sakiti tante lagi.. hiks.. ini semua salah aku.. karena aku kalian bertengkar seperti ini.. hiks.. maaf.. aku selalu menjadi beban kalian.. hiks.. " mohon Eisya pada om nya.


" baguslah kau mengerti.. " sahut Tante Meri tanpa berperasaan.


" MERI..!!! tidak nak.. kau bukan beban kami.. kau adalah anak yang baik.. sama sekali tidak merugikan kami.. " ucap Pak Rano menyamankan hati Eisya.


Ya sedari tadi Eisya mendengar semuanya hanya saja ia tak berani mendekat dan ketika melihat om nya sudah emosi ia pun menghampiri kesana agar tidak terjadi ke hal yang lebih lagi.


" jika kamu tak ingin jadi beban turuti saja kemauan Haris.. bereskan.. dan aku sangat berterimakasih untuk itu.. " ucap Tante Meri lalu melenggang pergi dari sana.


" sudah jangan dengarkan dia.. kamu masuklah ke kamar istirahat lah.. biar om yang urus tante mu.. " ucap Pak Rano menenangkan.


" hiks.. iya om.. tapi om harus janji jangan main kekerasan seperti tadi.. "


" iya nak.. om akan coba jelaskan dengan baik.. sebenarnya tante mu orang baik hanya saja ia dibutakan dendamnya.. sudah ya.. kamu istirahat lah.. "


" baik om.. " setelah itu Eisya menuju ke kamar nya sedangkan Pak Rano meraup wajah frustasi meladeni istrinya yang dibutakan dendam.


Dikamar nya Eisya.


Gadis itu menelungkupkan dirinya diatas kasur lalu menangis mengingat nasibnya.

__ADS_1


" bagaimana aku bisa menghadapi ini ya Allah... hamba tidak sekuat ini hiks.. biarkan saja aku ikut ibu dan ayah ku hiks.. "


" aku tidak mau bersama pria itu hiks.. Om Arzan.. tolong bawa aku... jika ada yang ingin kujadikan suami hanya om Arzan orangnya.. hiks..aku tidak mau dengan yang lain.. hiks.. aku tidak mau.. tapi aku bisa apa.. hiks.. aku tidak mau membuat om dan tante bertengkar karena masalah ini.. hiks.. apa yang harus aku lakukan hiks.. " Gadis itu menangis hingga dirinya telah dibawa ke alam mimpi.


__ADS_2