
PLAKK.......
Wajah Eisya terpaling kesamping ketika mendapati tamparan keras dari tantenya. Gadis itu memegang pipi kanannya yang terasa perih dan menunduk takut tak kuasa menatap orang didepannya yang bersedekap dada.
" kurang ajar sekali kamu haa.. memecahkan guci mahal saya... BODOH SEKALI, DASAR ANAK TIDAK TAU DIUNTUNG.... " bentak tante meri dengan wajah merah padam.
" hiks... maaf tante... aku gak sengaja... hiks... hiks.. maaf... " mohon Eisya.
" enak aja pake minta maaf... maa.. anak kayak dia itu emang pantas dikasih hukuman... " ucap Erin mengompori.
" j-jangan tante hiks.... " Eisya tak bisa membayangkan jika harus dikurung digudang selama berhari hari.
Tante meri saling memandang dengan Erin dan menyeringai licik.
" malam ini kamu keluar dari rumah saya... tidur diluar sana.... " ucap tante meri tanpa belas kasihan.
" tante kumohon.... jangan usir saya ini udah malam.. saya gak tau harus tidur dimana hiks... hiks... " Eisya semakin menangis dan tidak tau harus kemana jika tidur di luar malam ini.
__ADS_1
" ahaha... terserah saya tidak peduli... jangan mengadu pada saya.. tapi mengadulah pada orang tuamu... " tanpa berperasaan tante meri memang sudah dikuasai egonya untuk membenci dan dendam.
" Oh ya saya gak sejahat itu kok saya cuma ngusir kamu untuk malam ini dan besok kamu boleh kembali.. cih baik kan saya.. sudah sana pergi... " lanjut tante meri mendorong Eisya keluar lalu menutup pintu dengan kencang.
malam mencekam serta dingin yang menusuk kulit mampu membuat Eisya menggigil sekarang apalagi ia hanya memakai baju kaos tipis dengan celana selutut.
dengan langkah berat Eisya pergi tanpa arah meninggalkan rumah itu, sepanjang jalan dirinya menangis meratapi nasib dan mengadu pada Tuhannya atas kejamnya takdir dirinya.
langkahnya membawa Eisya ketempat pemakaman sang ayah dan bunda, disinilah ia sekarang memeluk nisan orangtuanya secara bergantian dan menangis mengadu pada mereka.
" ayah... hiks... ibu.. lihatlah kenapa kalian pergi berdua saja.. hiks.. kenapa tidak membawaku sekalian.. hiks... aku disini sendirian... hiks... tidak ada tempat bagiku untuk bermanja dan mengadu... hiks... tidak ada tempat bagiku untuk bersandar.. hiks... tidak ada lagi tangan yang setia menghapus air mataku hiks.. tidak ada lagi kata penyemangat untukku... hiks... kalian telah pergi... hiks.. meninggalkan aku dengan sejuta luka disini... hiks... aku hanya seorang gadis cengeng ayah... aku belum mampu menampung masalah ini sendirian... hiks... ibuuu.. aku ingin makan sepuasnya.. tapi sekarang aku makan kalau ada sisa... hiks... ayah ibu.... ketika aku demam tidak ada lagi orang yang mengompresku dan mengurusku... hiks... ketika hujan deras dan petir menyambar tidak ada lagi yang memelukku... hiks... hiks... dulu ketika aku membuat kesalahan kalian hanya marah secukupnya dan menasehati ku lalu setelah itu kalian kembali menyayangiku.. hiks tapi sekarang... bahkan fisik dan batinku sudah sering kali terluka... hiks.. ibu.... bukankah tante meri adalah kakak kandungmu tapi kenapa dia begitu membenciku... hiks.. aku adalah keponakan nya... hiks... bukan orang lain.... hiks... ayah ibu.... bawa aku bersama kalian.... hiks.. aku sudah tidak sanggup... hiks... Tuhan.... tolong ambil saja nyawaku... hiks.. aku menyerah.... hiks.... aku sudah tidak kuat... hiks..." begitulah curahan hati si gadis yang memendam banyak luka selama bertahun-tahun.
Bahkan ketika dibandingkan dengan istana jika tinggal dengan orang asing lebih baik tinggal di gubuk tapi bersama orang tua.
lalu ketika orang tua sudah tiada serasa hidup di dunia pun sudah tidak ada gunanya. Lalu pantas kah kita menyerah dan mengakhiri semuanya.. hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu.
Rencana Tuhan lebih baik dari apa yang kita bayangkan.
__ADS_1
Ingatlah jangan putus asa karena pasti kedepannya Eisya menemukan kebahagiaan.
lalu gadis itu beranjak dari sana tapi sebelum itu ia sempat berpamitan lalu mencium nisan kedua orangtuanya.
Di sebuah mini market.
seorang om dengan penampilan dan wajah yang sempurna terlihat keluar dari minimarket sambil menenteng kantong kresek yang berlebel ditangan kanannya.
" Aiss gini ni kalo gak ada istri apa apa harus belanja sendiri... huh... " gerutu Arzan.
Masih berdiri disana namun ia disuguhi pemandangan yang mampu membuatnya iri.
Seorang anak perempuan yang berumur sekitar lima tahun sedang bercanda ria dengan ayahnya.
Mereka terlihat sangat manis dan sering kali terdengar tawa dari mereka.
Sosok ayah yang begitu menyayangi putrinya dan terlihat sangat bahagia memanjakan sang anak.
__ADS_1
" hah... andai aja... mungkin sekarang kami sudah berbahagia seperti itu... " tak terasa bulir airmata mengalir di pipinya.
" haisss... kok nangis sih... " dengan cepat Arzan menghapus air matanya dan bergegas menuju mobil.