
* FLASHBACK ON *
20 tahun lalu..........
Dikamarnya Nadia.
Lihatlah dirinya yang begitu indah saat mengenakan gaun pernikahan dan riasan yang begitu memukau memancarkan auranya tersendiri.
Harusnya ia tersenyum bahagia saat ini namun sedari tadi airmata nya terus mengalir seakan tak mau berhenti.
Emma selaku sang sahabat menjadi saksi atas penderitaan yang dihadapi sahabatnya ini.
Nadia dipaksa menikahi orang pilihan ayahnya yang padahal ia sudah memiliki kekasihnya sendiri.
Ingin membantah percuma karena keputusan sang ayah tak dapat diganggu gugat.
Di umurnya yang masih muda tentu saja gadis itu sangat keberatan apalagi dinikahkan dengan orang yang tidak dicintainya.
Orang yang ingin dinikahkan dengan Nadia juga sama seusia kekasihnya tapi sungguh gadis itu tak bisa menerima.
Grepp......!!!
" sudah berhentilah menangis aku juga ikut sedih melihatmu maafkan aku aku juga tidak bisa berbuat apa apa.. " lirih Emma sembari memeluk sahabatnya.
" hiks.. kenapa mereka begitu tega memaksa ku... hiks.. kenapa ayahku begitu keras mengekang diriku.. hiks.. aku juga ingin hidup bebas ingin memilih jalan hidup ku sendiri... hiks... aku tidak mau menikah dengan orang itu.. hiks.. bagaimana perasaan Arzan nanti hiks... " tangis Nadia yang terdengar begitu pilu.
" hiks.. jangan menangis.. hiks.. " Emma melarang namun dirinya melakukan hal yang sama.
BRAKK....!!
Suara pintu terbuka terpelanting keras membuat kedua gadis itu terperanjat ditempat apalagi melihat kedatangan calon pengantin pria.
Lelaki itu berjalan mendekati keduanya dan melirik Emma dengan bermaksud mengode nya keluar dengan isyarat matanya.
Karena tak bisa melawan, Emma pun keluar setelah berpamitan pada sahabatnya yang masih saja menangis.
" kau cantik sekali... Ternyata pilihan papa ku begitu indah, tapi kenapa kau terlihat seperti tidak senang... sebentar lagi acaranya akan berlangsung... Cepat hapus airmata mu. " ucap Haris dengan nada angkuh.
" aku tidak mau menikah dengan mu.. " datar Nadia seketika raut wajah Haris berubah murka.
" hah.... apa?? hah... kau ingin macam macam dengan ku.. Jangan sampai aku mendengar kalimat bodoh itu lagi.. " kesal Haris.
" aku tidak mau menikah dengan mu.. " ulang Nadia dengan raut wajah yang sama.
__ADS_1
Sreettt...!!!
Haris menarik paksa Nadia dan memberdirikan gadis itu dihadapannya.
" jangan membuat acara ini sampai batal, ayahmu sendiri yang memberikan mu padaku.. Sebentar lagi kau akan jadi istriku.. Jangan coba coba kabur.. " Terdengar mengancam dan memang itulah sebenarnya.
Haris menghempaskan Nadia tanpa perasaan dan langsung pergi meninggalkan gadis itu dengan tangisan nya.
" AARRRRHHHGGG.... HIKS.. HIKS.. KALIAN TELAH MEMBUNUHKU... HIKS.. " Teriak Nadia.
Di luar sana Emma dapat mendengar teriakan sahabatnya yang begitu menyakitkan, memang sedari tadi ia tidak pergi tapi bersembunyi didekat sana.
Dan ketika Haris pergi dirinya ingin masuk namun tidak jadi karena seseorang memanggilnya.
Kembali ketempat Nadia.
Riasan kamar yang begitu indah kini berubah bagaikan kapal pecah.
Gadis itu menghancurkan semuanya bahkan ingin menghabisi nyawanya sendiri.
Vas bunga yang pecah menjadi sasaran dirinya saat ini. Gadis itu mengambil salah satu beling tajam itu dan hendak menusukkan ke tangannya tepat urat nadi berada.
Selangkah lagi gadis itu pasti akan merenggang nyawa namun tidak saat dirinya mendengar suara seseorang yang memanggil namanya lewat jendela.
Srett...!!
" Arzan.. " Senyum gadis itu membuncah saat melihat kehadiran orang yang dicintainya.
Langsung saja ia membuka jendela dan membiarkan kekasihnya itu masuk.
" ayo ikut bersama ku kita akan hidup bersama selamanya tanpa ada orang orang yang ingin memisahkan kita.. " ucap Arzan mengecup kening gadisnya.
Gadis itu kembali menangis dan tangisan itu karena bahagia. Dirinya mengangguk setuju.
" kita akan pergi jauh sekarang.. "
Mereka pun memilih kabur lewat jendela.
Keduanya berhasil keluar, Arzan memang telah menyiapkan mobil untuk mereka pergi.
Namun aksi tersebut diketahui oleh Pak Pramanan.
Tentu saja beliau tidak terima dan mengejar mereka sendiri menggunakan mobil.
__ADS_1
Dan ternyata tanpa sepengetahuan Arzan, dirinya telah diikuti dan diawasi oleh beberapa orang suruhan ayahnya sendiri.
Orang orang itu ikut mengejar Arzan dengan mobil hitam yang mereka gunakan.
Saat pengejaran itu, Pak Pramanan kehilangan jejak Arzan. Namun tidak bagi orang orang suruhan Tuan Rahendra.
Dan tiba tiba saja mobil yang dikendarai Arzan mengalami kecelakaan karena ingin menghindar dari mobil yang melaju kearahnya dari arah berlawanan.
Jalan disana bisa dikatakan sepi karena jarang ada kendaraan yang lewat bahkan berbahaya karena berdekatan dengan jurang yang tidak diberi pembatas.
Lalu mengapa mereka memilih jalan disana karena pikiran keduanya sedang kalut sampai tidak mengerti arah jalan mana yang harus mereka tuju.
Sedangkan mobil yang melaju dari arah berlawanan tadi, terlihat berhenti dan tersenyum saat menyaksikan kecelakaan tersebut.
Salah satu dari mereka menelpon sang bos untuk memberitahu keadaan yang seperti mereka rencanakan.
"Urus kecelakaan itu dengan baik jangan sampai ada celah sedikitpun, singkirkan wanita itu dan selamatkan putra ku... Sebentar lagi akan ada mobil lain yang mengangkut mobil itu.. Kecelakaan ini akan kita tutup serapat mungkin." Suara seseorang dari seberang sana lewat telpon.
"jangan lupa bersihkan tempat kejadian, jangan tinggalkan barang bukti sedikitpun." lanjutnya.
Setelah mendengar perintah, langsung saja tiga orang itu keluar dari mobil dan melaksanakan seperti yang diperintahkan.
Dengan tanpa perasaan dalam keadaan sekarat, Nadia yang sebenarnya bisa ditolong tapi didorong ke dalam jurang sedangkan Arzan yang sudah kehilangan kesadaran diangkut ke dalam mobil mereka.
Dua orang membawa Arzan pergi dan satu orang lagi menunggu mobil yang akan mengangkut mobil rusak ini.
Sudah dikatakan jalan ini sepi jadi tidak ada seorang pun yang tau.
Namun kebohongan tidak selalu bisa ditutup serapat mungkin karena pasti ada celah walau kecil.
Dan celah kecil itu nantinya akan membesar dan membongkar isi semuanya.
Salah satu orang yang kebetulan lewat menyaksikan kejadian bejat itu dari awal namun beliau tak berani mendekati apalagi cuma sendiri.
* FLASHBACK OFF *
" KALIAN ADALAH KELUARGA BIADAP.. " Teriak Pak Pramanan pada Arzan yang sudah bertekuk lutut dihadapannya sedangkan Haris masih berdiri ditempat karena tidak tau harus melakukan apa.
" maafkan Ayahku.. hiks.. " Arzan tau ucapannya barusan tidak akan diindahkan oleh lawan bicaranya namun dirinya tak tau lagi berbuat apa bahkan rasa kecewa yang begitu membara seketika muncul dan tidak menyangka bahwa ayah yang dikira seperti malaikat ternyata itulah iblis sebenarnya.
Selama ini ayahnya terlalu pintar menyembunyikan fakta yang sebenarnya bahkan ia tidak menaruh curiga sedikitpun.
Sungguh Arzan tak kuasa saat mendengar sang ayah yang selama ini dibanggakan ternyata menjadi penghancur kebahagiaan nya sendiri.
__ADS_1
" maaaaafff maafkan akuuu... " lirih Arzan tiada henti.