
Setelah adegan melepaskan kerinduan barusan, kini keduanya terdiam saling menatap.
Sesekali suara tawa sibayi yang berada digendongan Anita ikut menimpali.
" sayang.. " panggil Anita lirih pada sang anak.
Angga menunduk membiarkan airmatanya mengalir pelan.
" bagaimana kabar mu nak.. " tanya Anita terus menatap buah hati pertama nya.
" seperti yang kau lihat aku baik. " jawab Angga sembari mengangkat wajahnya dan menghapus jejak airmata yang ada di pipinya.
Anita tersenyum namun Angga memalingkan wajahnya tak ingin membalas senyuman itu.
" keluarga mu pasti sangat bahagia sekarang ya ma.. selamat yaa.. " datar Angga tak ingin menatap lawan bicaranya.
Anita menggeleng dan berusaha menyentuh wajah Angga agar menatap nya.
" sayang.. mama tidak bermaksud-
" lupakan...!! ohh apakah dia adikku... " Ucap Angga mengalihkan pembicaraan dan kini menatap bayi lucu yang berada digendongan ibunya.
Anita melihat bayi nya lalu kembali memandang si sulung.
" mau menggendongnya... " tawar Anita.
Angga merasa canggung untuk langsung mengangguk tapi hatinya sungguh tidak tahan untuk melewatkan menyentuh bayi itu.
" gendong lah adikmu.. " Anita telah melonggarkan gendongannya dan memberikan pada Angga untuk segera diterima.
Dengan pelan dan hati hati, Angga telah mengambil alih adiknya dan bayi itu terlihat nyaman sekali ketika digendong oleh sang kakak.
Angga tersenyum karena adiknya terus tertawa ketika melihat dirinya.
" namanya Ezraf Varza... " kata Anita memberitahu.
Anita lagi lagi tersenyum melihat Angga yang begitu senang ketika menggendong adiknya.
" utututuuu... lucu sekalii.. " gemas Angga tak ketinggalan untuk menoel noel pipi sibayi.
" dia persis seperti mu waktu bayi, kalian mirip sekali.. " timpal Anita.
" dia kan adikku... nanti kalau udah gede kita main basket yaa.. kakak senang banget karena udah punya teman untuk main basket... kamu tau?? sebelum ada kamu, kakak selalu main boneka sama Chika, kalau kakak tidak menuruti kakak perempuan mu itu maka dia akan menangis.. huuh.. bayangkan saja masa anak laki laki main boneka.. kakak kan sukanya basket.. " Oceh Angga pada bayi yang belum tau apa apa.
Anita tertawa mendengar nya dan sangat bahagia melihat Angga yang begitu tulus menyayangi adiknya.
" Nanti kalau Ezraf gede, pasti suka main basket juga... " imbuh Anita.
__ADS_1
" harus dong... nanti kakak ajarin sampe pinter... " kata Angga tak lupa mencium adiknya membuat si bayi itu tertawa.
Sedang asyik membayangkan masa depan, tanpa disadari kedatangan Yanza dan Chika ikut menghampiri ketempat mereka.
" kakaaaaakkkk... " seru Chika langsung memeluk Angga yang tengah mencium Ezraf.
Yanza tersenyum dan bisa memahami situasi, dengan senang hati ia memberi mereka ruang.
Angga terkejut sekaligus senang karena adik perempuan nya kini tengah memeluk nya.
Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terhuyung karena sedang menggendong Ezraf.
Melihat Angga yang kepayahan, Anita pun mengambil alih Ezraf agar mereka leluasa untuk melepas rindu.
Angga sang kakak sulung langsung menggendong Chika dan mencium adik kesayangan nya itu.
" aku merindukan mu kakak.. " ucap gadis kecil itu membalas ciuman kakaknya.
" aku juga merindukan mu gadis kecil, adik cerewet ku heemm... " Angga menempel kan hidungnya ke hidung Chika.
Melihat pemandangan yang mengharukan itu, Anita dan Yanza ikut bahagia.
" kakak aku kesepian tau gak ada kakak, karena aku gak punya teman lagi untuk main boneka.. " adu si kecil itu.
" ohh jadi kau merindukan kakak hanya karena tidak punya teman main boneka lagi heum.. huuh kau ini.. " Angga mencoba menggoda adik perempuan nya.
" ahh bukan ituuuuuu.... " kini gadis kecil itu mengerucut kan bibirnya lucu membuat kedua orang dewasa disana tersenyum begitupun dengan Angga.
" kalau kangen sama kakak muu... ajak main dia kerumah, nanti kalian bisa main sepuasnya dan biar lebih seru lagi tawari kakakmu untuk menginap jugaaa.. " ujar Yanza membuat Angga merasa haru dibuatnya.
Ternyata suami baru ibunya itu sangat baik, awalnya ia pikir pria itu adalah orang yang patut untuk dibenci. Tapi setelah melihat sendiri ternyata tidak seperti yang dipikirkan sebelumnya.
" boleh kah paaa..??? " tanya Chika.
" boleh sayangg tentu boleh banget.. " jawab Yanza dengan senyum manis nya itu.
" dan kamu Angga, tidak perlu merasa sungkan bersama kami.. istriku tetap ibumu, Chika dan Ezraf juga selalu akan jadi adikmu.. dan akuu... aku adalah ayah sambung mu.. tidak usah merasa takut.. rumah kami selalu terbuka untuk mu.. kapan pun itu sering sering lah main kerumah kami.. " terang Yanza semakin membuat Angga merasa yakin kalau Yanza memang orang yang baik.
" baik... O-om.. " jawabnya gugup.
" hei apa yang kau katakan barusan... panggil aku papa... aku juga papa mu nak.. " senyum Yanza.
" baik paaa... " ulang Angga membalas senyum itu.
Dan ya akhirnya Angga bisa menyadari kalau yang dikira jahat belum tentu jahat. Perlu turun tangan sendiri kalau ingin menilai seseorang.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, dan bersamaan dengan itu Angga telah kembali kerumah ayahnya.
__ADS_1
Ia harus menyiapkan diri kalau nantinya akan kena amuk sang ayah karena kesalahannya yang pulang malam tanpa memberitahu ayahnya.
Membuka knop pintu yang tidak terkunci dan melangkahkan kakinya setelah menutup pintu itu kembali.
Diruang tamu sudah terdapat sang ayah yang tengah duduk bersantai sembari mengotak atik ponsel.
Angga memberanikan diri untuk mendekat.
Menyadari kedatangan sang anak, Haris mematikan ponselnya dan menatap anaknya yang tengah menunduk itu.
" darimana.. " tanya Haris dengan wajah datar.
" maaf akuu-
" sejak kapan kamu sudah berani pulang malam malam begini, apa karena ketiadaan ibumu sudah membuat dirimu juga ikut berubah.. " datar Haris.
Angga tak lagi menjawab dan tidak berani menatap wajah ayahnya yang ia yakini jika pria itu sedang marah sekarang.
" JAWAB AKUU..!!! " bentak Haris membuat Angga sangat terkejut ditempatnya.
" paa maafkan aku, aku dari rumah mama, dan aku ikut makan malam disana. " ucap Angga menepis rasa gugupnya.
Haris yang mendengar itu tentu saja sangat marah namun detik kemudian ia menjernihkan pikirannya, jika ia memarahi Angga maka sama saja ia akan membuat anaknya takut dan ikut membenci dirinya.
Kini Pria beranak tiga itu bangkit dari duduknya, menghampiri Angga yang berdiri gemetaran dihadapan dirinya.
" kenapa.. " tanya Haris dengan nada pelan namun tersirat kemarahan disana.
" tadi..... tadi tidak sengaja kami bertemu dipantai.. " jawab Angga berusaha menatap lawan bicaranya.
" lalu kalian akrab begitu saja.. " tanya Haris lagi.
" yaa paa.. karena... karena aku juga merindukan mama.. aku tidak bisa marah padanya.. " tutur Angga.
Haris mengangguk angguk kan kepalanya lalu tangan nya beralih mengusak surai anak sulung nya itu.
" apa suami baru mamamu itu orang yang baik.. " kini nada itu terdengar semakin lembut.
" iya paa.. papa sambung ku itu orang nya sangat baik, aku telah salah menilainya.. bahkan aku sangat nyaman dengannya. " jelas Angga semakin memanaskan hati Haris namun pria itu tak mau memperlihatkan pada anaknya.
" papa sambung yaa... " Kata Haris seakan merasa cemburu pada sosok itu.
" iyaa paa.. " jawab Angga.
Haris menghela nafasnya dan mengangguk anggukkan kepalanya sembari mengulas senyum.
" sekarang masuklah ke kamarmu.. " kini wajah itu kembali datar.
__ADS_1
" b-baik paa.. " Angga menuruti sang ayah dan dengan segera melangkahkan kaki ke kamarnya.
" ini tidak bisa biarkan, bisa bisa aku kehilangan Angga untuk selanjutnya.. " Geram Haris mengepalkan kedua tangannya.