Topeng

Topeng
Chapter 3


__ADS_3

Auristela menuruni tangga hendak menuju ruang makan. Sesampainya disana, sudah ada Kyra dan Clarinta yang menunggunya.


Auristela tersenyum, “Pagi!” sapanya


“Pagi, Kak!” balas keduanya.


Kyra juga kadang memanggilnya ‘Kakak’. Biasa, anak sulung.


“Kak, gak bareng sama Kak Adelard, ‘kan?” tanya Clarinta memastikan


Auristela yang sedang menyendokan nasinya menoleh ke arah Clarinta, “Engga kok. Mau bareng?” tawarnya


Clarinta sontak tersenyum cerah, “Boleh-boleh! Hemat ongkos taksi!”


Kyra mendengus, “Harusnya kamu belajar mobil! Minta ajarin Kakak kalau Kakak gak sibuk. Udah besar juga. Masa mau naik taksi Mulu atau nebeng.” ceramahnya


Clarinta mendengus, “Ibu mah! Takut tau! Gak kasian apa, aku pernah nyoba ngendarain mobil eh hampir nabrak tukang sayur! Malu aku tuh! Aku juga pernah hampir nabrak pohon sampai-sampai jidatku benjol!” gerutunya. Males banget asli kalau disinggung masalah ginian.


“Cemen kamu!” Kyra malah mengejek


“ish!”


“Udah, Bu! Lagian Clar, gimanapun kamu harus usaha belajar lagi. Entar kan untungnya buat kamu juga. Biar gak cape-cape nunggu taksi. Mau kemana-mana juga enak.” Auristela memberi pengertian


“Iya deh! Tapi beneran deh aku tuh males buat belajar. Nunggu sama cape itu udah terbiasa sama aku. Jadi fine-fine aja.”


“Terserah kamu deh. Entar nyesel pasti.”


“Kakak mah jahat banget nyumpahinnya!”


“Udah-udah. Cepet selesain sarapan kalian terus berangkat.” lerai Kyra


___


Kini Auristela dan juga Clarinta sudah sampai di sekolah. Keduanya turun dari mobil. Baru hendak menuju koridor, teriakan heboh dari arah parkiran mengalihkan atensi mereka.


Keduanya membalikkan badan ke belakang, mencoba mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Kayak kenal sama mobilnya!”


“Itu bukannya mobilnya Abercio?”


“Wahhh udah balik dong dari pertukaran pelajar!”


Sosok yang membuat kehebohan itu keluar dari dalam mobilnya, membuat kehebohan semakin terjadi. Apalagi banyak anak-anak baru kelas 10 yang belum tau siapa sosok itu.


“Ganteng banget gila!”


“Aber makin ganteng aja!”


“Gak nyesel deh sekolah disini. Banyak banget cogannya!”


Lain dengan anak-anak yang heboh itu, Auristela dan Clarinta malah tampak membeku. Apalagi Auristela yang tampak pucat.


Clarinta menoleh ke arah Auristela, “Kak, bukannya itu-“


“Skor Abercio lebih tinggi!”

__ADS_1


“Benerkan! Abercio emang lebih pantes buat ikut OSN matematika!”


“Mampus tuh Auris kalah!”


“Abercio emang lebih pinter daripada Auris!”


“Abercio dapat juara satu OSN matematika!”


“Dia juga jadi peringkat pertama!”


“Auris kalah lagi! Kayanya emang Abercio lebih pinter dari Auris!”


“Kok bisa sih Auris peringkat satu lagi!”


“Aber pasti ngalah sama Auris!”


“Iya, Auris jahat banget manfaatin Aber!”


“Dasar cewe jahat!”


“Akhirnya Kita ketemu lagi. Gue kangen banget sama lo!”


Sontak perkataan itu mengembalikan kesadaran Auristela dari kenangan masa lalunya. Melihat seseorang di depannya, Auristela tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap penuh kebencian pada cowo di depannya ini.


Abercio Filips


Teman masa kecilnya, sekaligus...Saingannya.


Dengan acuh Auristela menarik Clarinta untuk pergi dari hadapan Abercio. Mengabaikan cowo itu yang memandangnya sendu.


___


“Sorry-sorry! Lo bisa berdiri sendiri, ‘kan?” ucap Adelard menunduk menatap perempuan itu yang jatuh terduduk dengan pandangan ke bawah.


Sontak perkataan Adelard membuat perempuan itu kesal.


Perempuan itu mendongak, hendak mencaci-maki orang yang menabraknya itu. Namun ketika melihat wajahnya, dia langsung mengurungkan niatnya. Ganteng banget gila!.


Adelard yang risih ditatap pun segera menyadarkan perempuan itu, “Bisa, 'kan? Sorry yah gue buru-buru!” ucapnya lalu berlalu begitu saja.


Perempuan itu shok. Dia buru-buru berdiri.


“Sial! Harga diri gue!” kesalnya menatap punggung Adelard yang semakin menjauh, “tapi dia ganteng banget, Please!” lanjutnya merasa dilema sendiri.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, “Akhirnya lo berangkat juga, Tar! Eh lo liatin apaan?”


Yang menepuk bahu perempuan itu mengikuti arah pandangan temannya itu, “Lo liatin Kak Adelard? Jeli juga mata lo!”


Perempuan tadi sontak menoleh ke arah temannya itu, “Lo tau dia?”


“Yaiyalah! Prince nya SMA Bangsa Maju! Udah kelas 12. Kapten basket juga. Badboy. Dia porosnya keempat Most wanted boys di sekolah ini.”


“Keren juga tuh cowo!”


“Jelas! Lo sih kemaren so soan gak mau berangkat. Gak liat keempat most wanted boys! Sayang banget!”


“Kaya gak tau gue aja lo! Males banget gue kalau harus ngadepin Kakel-kakel songong itu! Kalau Papah gue gak ngancem mana mau gue berangkat hari ini!”

__ADS_1


“Dasar lo mah!”


“Eh Btw Lo kok bisa tau banget tentang Kak Adelard itu.”


“Jelas lah orang terkenal. Kemaren juga banyak yang ngomongin.”


“Oh gitu. Nyesel gue kemaren ga berangkat!”


“Eh bentar-bentar, jangan bilang lo naksir Kak Adelard?!”


Dahi perempuan itu mengerut, menatap aneh temannya yang tampak shok itu. “Kenapa emangnya? Gak ada yang salah, ‘kan?”


“Nih yah, Tarissa Bellanca. Dengerin gue baik-baik! Mending lo hapus rasa tertarik lo itu!”


Perempuan yang biasa dipanggil Tarissa itu mengernyitkan alisnya, “Kenapa sih? Lo aneh banget deh Irin!”


Irin menghela nafas, “Pokoknya jangan deh! Lo kalah jauh! Banget malah! Kak Adelard itu udah punya pacar! Cantik banget primadona sekolah! Udah gitu dia tuh pinter banget, bintang emasnya sekolah! Perfect deh pokoknya! Beda jauh banget sama lo!”


“Lo ngeremehin gue!” kesal Tarissa


“Bukan gitu, tapi lihat deh diri lo. Cantik, ya lumayan lah. Pinter? Hmmm, gue ragu lo masih bisa gunain otak lo itu buat mikir. Secara, lo kan selalu masuk 20 besar di kelas! Udah gitu lo tuh Badgirl! Suka bolos! Suka buat masalah! Beda banget sama Kak Auris yang jelas-jelas kesangan guru! Jadi, Tarissa, tolong sadar diri. Mundur alon-alon, oke!”


Mendengar itu amarah Tarissa memuncak, “Lo yah, dasar temen sialan! Coba sini gue mau lihat gimana si Auristela yang lo bangga-banggain itu! Secantik apa sih sampai ngalahin kecantikan gue! Lo gak lupa kan meski gue bodoh dan urakan, gue itu termasuk jajaran cewe-cewe cantik di SMP!”


Irin meringis. “Itu dia orangnya, Tar!” tunjuknya pada 2 orang perempuan yang berjalan di koridor samping. Sepertinya hendak ke kelas.


Tarissa menggeram setelah melihat cewe yang ditunjuk oleh Irin, “Gue akuin dia cantik! Tapi gak beda jauh sama gue! Apaan primadona sekolah!”


“Ck! Itu Adiknya! Yang sebelahnya lagi maksud gue!”


Tarissa langsung membeku saat perempuan yang dimaksud Irin berjalan tepat di depannya dan menoleh ke arahnya meski sekilas.


“Dewi.” gumamnya tanpa sadar.


“Tar!”


“Tar!”


“Ouy! Oke kan lo?! Gimana? Masih mau ngeremehin lo?!”


Tarissa tersadar, dia menatap ke arah Irin, “Gue akuin dia perfect! Tapi asal lo tau yah Rin, cewe modelan gitu pasti bikin bosen. Apalagi pasti Kak Auris itu banyak yang suka. Pasti bakal banyak cowo-cowo yang mau ngerusak hubungan mereka. Jadi santai aja. Gue type cewe yang menantang. Pasti Kak Adelard bakal kepincut sama gue!”


Rahang Irin terjatuh. Dia benar-benar shok! Dia mengguncang bahu Tarissa brutal, “Lo gak usah gila setan! Tolong sadar diri bego! Lo tuh, Arghhh!”


“Udah ah lebay lol” ucap Tarissa melepas tangan temannya itu dari bahunya, lalu berlalu meninggalkan temannya itu.


“Awas aja kalau sampai lo berani, Tar! Gak bakal gue bantuin!” kesal Irin mencak-mencak sendiri.


Irin itu cewe yang menjunjung tinggi harga diri dan pecinta kedamain. Dan sepertinya berteman dengan Tarissa adalah kesalahan terbesarnya.


Siap-siap saja hidup tenangnya akan lebih terusik dengan kegilaan baru yang akan Tarissa lakukan. Poor Irin.


____


TBC


Wah-wah ada apa yah Auristela sama Abercio?. Kira-kira bakal kaya gimana yah Tarissa ngejar Adelard? Penasaran gak? Lanjut!

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen and share yah!.


__ADS_2