
Setelah pernyataan cinta Galen di Taman belakang tadi, Auristela hendak kembali ke kelas, karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Namun ditengah perjalanan dia tak sengaja melihat kekasihnya Adelard membawa bola basket. Anehnya cowo itu melangkah ke arah belakang, bukannya ke lapangan Basket.
Auristela berfikir, mungkin Adelard berniat melampiaskan masalahnya dengan bermain bola basket di lapangan belakang yang memang sudah tak terawat.
Namun ternyata Auristela salah. Adelard terus melangkah ke arah tembok belakang sekolah. Cowo itu sempat berhenti berjalan. Adelard mendorong tembok yang tertutup tanaman menjalar penuh dedaunan. Auristela begitu terkejut ketika mengetahui itu adalah sebuah pintu. Benar-benar tidak bisa ditebak.
Setelah cukup lama Adelard keluar, Auristela pun menyusulnya. Ikut melewati pintu itu. Auristela menengok kanan kiri. Arah mana yang harus Auristela ambil? Kanan atau kiri?.
Pada akhirnya Auristela melangkah ke arah kiri, sambil berjaga-jaga jangan sampai Adelard menyadari keberadaannya meskipun Auristela yakin, Adelard sudah cukup jauh dari posisinya saat ini. Auristela sedikit kesusahan. Jalanan yang ia lewati ini masih berupa tanah yang ditumbuhi semak belukar dan tanaman merambat. Sedikit menyusahkan langkah cewe itu.
Auristela sampai di jalanan beraspal. Dia meluruskan pandangannya. Ada sebuah warung di seberang jalan. Auristela juga melihat sebuah keributan. Mata Auristela membelalak mendapati Adelard yang sedang membabi buta menghajar Elard dan kawannanya.
Auristela hanya menyaksikan itu. Membiarkan Adelard membalaskan dendamnya. Auristela pikir Elard dkk memang harus dapat pembalasan pernah melukai kekasihnya itu.
Ketika teman-teman Elard sudah tumbang, dan juga Elard yang sudah terlihat tak berdaya, dengan berani Auristela berjalan ke arah perkelahian tersebut. Auristela tidak bisa mengandalkan anak-anak cowo yang menyaksikan itu untuk melerai mereka.
Dengan penuh tenaga Auristela menarik lengan Adelard. Karena tak siap, Adelard yang sedang seru-serunya menghajar wajah Elard harus jatuh dalam pelukan Auristela, masih dalam keadaan berdiri.
__ADS_1
“Cukup main-mainnya, Ade!” Auristela berbisik tajam.
Deg!.
....
Setelah menyeret Adelard kembali ke sekolah dan membawa cowo itu ke UKS. Auristela mengobati Adelard dengan posisi saling duduk berhadapan di ranjang UKS.
Adelard menatap wajah tanpa ekspresi Auristela.
“Awalnya kita memang cuman main-main. Yeeshai buat tantangan supaya aku bisa dapet cewe dengan cara nyamar jadi cupu. Aku nerima itu bukan semata-mata ingin mainin cewe.”
Adelard menghela nafas sebentar menatap Auristela yang sama sekali tak terusik akan ucapannya.
“Aku juga butuh kebebasan, Ris. Aku juga cape kalau setiap hari di sekolah di kejar-kejar gitu sama cewe-cewe. Apalagi mereka gak ada yang tulus ngejar-ngejar aku. Jadi Prince sekolah mungkin sebuah kebanggaan. Tapi nyatanya itu malah jadi sumber masalah. Aku gak bisa tenang. Itu juga yang buat aku lebih suka bolos keluar sekolah daripada nampakin diri di sekolah.
“Ketika nyamar aku pun tau topeng-topeng mereka. Aku tau sifat munafik mereka. Agak susah memang menjalani. Dari pujian yang awalnya manis, berubah jadi kata-kata kejam yang menyakitkan. Baru beberapa menit. Beberapa jam aja aku udah ngerasa gak ada harapan. Seakan-akan bakal gagal sama tantangan itu. Tapi nyatanya, di UKS ini, harapan seakan muncul dari diri aku. Dari sudut pandang aku yang berubah ke kamu. Awal mula kita bisa berteman sampai bisa menjalin hubungan.”
__ADS_1
“Jika kamu ngira aku seneng ngejalanin hubungan ini sebagai Adelio, salah. Aku ngerasa gak bebas ngluarin ekspresi di depan kamu. Gak bisa ngelindungin kamu dari anak-anak sekolah, dari sahabat aku. Dari Zhafira sama temen-temennya. Dari adik kamu sendiri. Aku ngerasa tersiksa dan gak becus karena taruhan sialan itu.”
“Aku pengin jujur ke kamu dan banggain kamu pas masa 3 bulan itu berakhir. Tapi Galen ngancurin itu. Aku gak tau lagi mau gimana, kamu juga selalu ngehindar dan malah semakin salah paham karena ucapan Brady tadi.”
Adelard hendak memegang tangan Auristela, namun cewe itu langsung bangkit dan hendak pergi. Namun ucapan Adelard berhasil membuat cewe itu berhenti dengan posisi membelakangi Adelard
“Salah ya, Ris? Aku juga pengin Ris dapetin cewe yang tulus sama aku. Nerima aku tanpa memandang apapun. Aku tau cara aku salah. Tapi kamu pikir, kalau misal aku gak nyamar gini, apa bisa kita akrab sampai menjalin hubungan? Kamu terlalu dicap buruk anak-anak dan aku yang selalu nyoba ngindarin anak-anak cewe di sekolah."
"Apa bisa? Sekalipun bisa aku yakin kamu bakal milih ngejauh daripada kena serangan fans-fans aku disini! Ditambah sahabat-sahabat aku yang nentang hubungan kita, pasti bakal tambah sulit!”
“Aku udah bela-belain kamu di depan sahabat aku, agar pikiran dan hati mereka terbuka tentang kamu. Kalau Kamu gak seperti yang mereka pikirin. Itu juga alasan aku gak segera jujur ke kamu. Aku pengin para sahabat aku nerima kamu dulu dan Galen juga bisa ikhlas sama hubungan kita. Tapi nyatanya malah kaya gini.”
“Aku udah kasih kamu waktu. Walaupun cuman sebentar, dengan kepintaran dan kecerdasan kamu, aku pikir kamu bakal gampang ngerti dan mau nerima ini semua dan mulai dari awal. Aku sebagai Adelard, bukan Adelio.”
“Maaf Auris, aku pikir kamu terlalu egois. Kamu cuman mikirin perasaan kamu. Tanpa mau tau alasan aku. Gak nyoba mahamin aku. Terserah kamu mau gimana. Aku udah jelasin semuanya. Keputusan ditangan kamu Auris. Dan aku harap kamu gak egois dan masih mau mertahanin hubungan kita.”
Setelah berucap panjang lebar, Adelard bangkit dan melewati Auristela begitu saja.
__ADS_1