Topeng

Topeng
4 mata


__ADS_3

“Gue suka lo, Auris.”


Akhirnya perkataan itu terlontar juga. Galen tau dia egois. Tapi dia sungguh tidak bisa menahan perasaannya.


Auristela memandang datar ke arah Galen. Dia sama sekali tak terkejut. Auristela terlihat tak peduli bukan berarti dia tak peka akan perasaan seseorang.


“Kenapa?” Ya, hanya itu yang keluar dari bibir Auristela.


Galen terlalu berambisi mendapatkannya. Dia rela menghancurkan persahabatannya hanya karena seorang perempuan. Dan Auristela penasaran akan hal itu.


Auristela mulai curiga dengan Galen yang menamakan kucing temuannya dengan nama Aulen. Terasa tidak asing. Dan memang sepertinya itu singkatan dari nama mereka berdua.


“Cinta gak butuh alasan.”

__ADS_1


“Tapi lo terlalu gila, Galen! Dan itu cukup buat gue bertanya-tanya hal apa dalam diri gue yang buat lo jadi kaya gini.”


Galen terdiam, kemudian cowo itu menatap teduh ke arah Auristela, “Lo berhasil narik perhatian gue pertama kali kita ketemu. Sikap Lo yang berbeda seperti yang dirumorkan. Cara natep lo yang berbeda sama cewe-cewe lain yang natep gue kagum dan takut.


Lo natap gue dengan tatapan normal dan juga bersahabat. Lo juga suka binatang. Lo gak ribet. Lo kuat. Dan itu semua bikin gue jatuh ke pesona lo. Lo juga mau nunjukin senyum lo yang jarang itu ke gue. Dan gue merasa spesial karena itu. Dan meskipun lo jadian sama Adelard, gak ada dari diri lo yang berubah ke gue. Dan gue berfikir, masih ada kesempatan buat dapetin lo.”


Auristela kagum dengan Galen yang berbicara panjang lebar begini. Mungkin saja Pernyataan Galen bisa membuat seseorang baper. Namun bagi Auristela itu sungguh memuakkan.


Galen menyeringai, menatap Auristela penuh ambisi, “Semua yang gue inginkan selalu terwujud. Termasuk lo, Auristela Chalondra!”


Auristela tak heran lagi. Galen itu anak satu-satunya. Ibunya juga sangat memanjakannya. Meskipun sifat Galen tak mencerminkan anak manja. Tapi dalam diri cowo itu, semua yang diinginkannya harus terwujud. Dengan Auristela yang menolaknya, sama saja mengusik ego cowo itu.


Auristela menghela nafas, dia memandang ke atas, “Kenapa lo gak pernah sadar Galen?”

__ADS_1


Galen mengernyit, kemudian pandangannya bertemu dengan manik keabu-abuan milik Auristela yang memandangnya teduh.


“Kenapa lo gak sadar Galen? Kenapa hati lo gak juga kesentuh? Lihat persahabatan lo, Len! Berantakan! Mereka yang mau nerima sikap dingin lo, mereka yang selalu nemenin hari-hari lo. Mereka yang selalu nyoba buat warna dalam hidup lo. Dan mereka yang mau lindungin lo dari sifat munafik orang-orang yang cuman mau ngambil keuntungan dari lo! Apa lo tega ngerusak persahabatan lo Galen?


Apa lo tega buat mereka terutama Adelard jadi berantakan? Jangan egois Galen! Jangan ikutan egois. Gue tau dalam persahabatan kalian, ego sedang berkuasa. Tapi tolong Galen, jangan ikut egois.


Perbaiki persahabatan kalian! Jangan peduliin gue! Gue orang asing! Jangan saling bertolak belakang karena gue! Perbaiki semuanya Galen, minta maaf sama Adelard. Gue bakal benci lo kalau lo masih aja berambisi buat dapetin gue dan gak peduliin persahabatan lo!”


Sekarang Auristela menatap penuh kebencian ke arah Galen, membuat Galen tersentak, “Lo sama sekali gak ngerasa bersalah udah ngacauin hubungan gue sama Adelard! Lo kecewain Adelard! Lo nyakitin pacar gue! Orang yang gue sayang! Orang yang gue cinta! LO EGOIS! LO KETERLALUAN! GUE BENCI LO!”


Auristela menabrak bahu Galen begitu saja dengan keras.


Galen tertegun. Namun dia juga merasa aneh, “Bukankah Auristela sendiri yang memilih menjauhi Adelard?”

__ADS_1


__ADS_2