Topeng

Topeng
Elvina!!!


__ADS_3

Auristela sedang berjalan pulang dengan Zayyan, tentunya dengan muka yang sudah dibersihkan. Auristela masih memakai seragamnya. Auristela meringis, untungnya ia tidak bau padahal belum mandi.


"Umur lo udah nambah kok masih cengeng sih!" ledek Zayyan


Auristela menatap Zayyan garang,


"Gue juga gak akan cengeng kalau lo gak ngerjain gue!!" kesalnya


"Lo taukan, cuman lo yang deket dan percaya sama gue selain Ayah! Gue takut aja lo benci juga sama gue dan memilih menjauh. Apalagi lo tadi sempet ngata-ngatain gue!"


Zayyan cengengesan, ia mengacak rambut Auristela


"Maaf deh ya, maaf juga buat kata-kata tadi!Awalnya gue gak ada niatan buat ngatain lo, cuman gue kesel aja gitu, lo pulang malem-malem sama cowo! Gue kan jadi khawatir!"


Auristela mendongak lalu tersenyum,


"Makasih!"


"Iya! Udah sana gih masuk!" ucap Zayyan sambil membalas senyuman Auristela.


Auristela masuk dengan melambaikan tangannya.


Zayyan masuk ke Rumah, dan sudah dihadiahi tatapan tajam Ibunya


"Udah Ibu bilangkan, jangan deket-deket Auristela!!"


Zayyan tidak peduli, ia memilih menaiki tangga menuju kamarnya.


Ibunya tidak tau apa-apa, jadi Zayyan memilih mengacuhkan Ibunya saja.


***


Auristela langsung saja masuk ke kamarnya, tanpa memedulikan tatapan tajam Ibunya dan tatapan tak suka Clarinta. Mungkin saja Clarinta lihat ia bersama Zayyan.

__ADS_1


Auristela bingung saat lampu kamarnya sudah menyala, ia mengedikkan bahu lalu buru-buru ke kamar mandi. Setelah mandi, ia berjalan ke walk in closet untuk memakai baju.


Lalu ia keluar, lengkap dengan kaos over size dan hotpants. Bukan piyama, karena Auristela tidak suka menggunakan piyama.


Auristela mendongak menatap sekeliling.


Ia kaget karena lampu kamarnya sudah mati dan pintu balkon kamarnya terbuka lebar. Ia jadi merinding, ditambah dengan angin yang berhembus kencang. Ia ingin keluar saja untuk mengecek, apa listrik di Rumahnya padam.


Tapi gagang pintunya tidak bisa terbuka dan sepertinya terkunci. Auristela membulatkan matanya kaget dan takut.


Auristela menatap sekeliling kamarnya. Ia melihat seliut seseorang membelakanginya dengan memakai jubah hitam. Mata Auristela melotot.


Apa itu malaikat pencabut nyawa? Oh no! Auristela memang sudah cape dengan hidupnya, tapi ia belum ingin mati.


Auristela memberanikan diri untuk mendekat, sambil bertanya-tanya siapa orang itu.


Auristela tepat di belakang orang itu, ia hendak menepuk bahu orang itu, tapi orang itu keburu membalikan badannya. Dan seketika Auristela menjerit sambil menutup wajahnya


"HAHAHAHA!"


Terdengar bunyi tawa menggelegar,


Auristela mengernyit, ia sepertinya kenal dengan suara ini. Ia membuka wajahnya.


Ia terkejut melihat orang di depannya


"Surpriseeeee!!!"


"ELVINA!!!"


***


Auristela duduk bersebelahan dengan Elvina, jujur Auristela masih tidak menyangka. Elvina itu kakak kelasnya, sama seperti Zayyan, dia adalah sahabatnya.Tapi bedanya awalnya Elvina juga percaya dengannya, tapi entah apa yang terjadi, pada bulan Februari ini, di bulan kelahirannya, dia jadi acuh gitu.

__ADS_1


"Gue gak mimpikan?" tanyanya pada Elvina


Lalu tiba-tiba telepon Auristela berbunyi. Terpampang nama Ayahnya. Auristela segera mengangkat teleponnya.


"Assalamualaikum! Hallo sayang Happy Birthday yah!"


"Waalaikumsalam,Yah! Makasih!"


"Giman kejutan Ayah?"


"Kejutan?"


"Iya, Elvina!"


"Jadi Ayah yang nyuruh Elvina kesini?"


"Iya!"


Auristela melirik Elvina


"Makasih Ayah!"


"Iya-iya! Ya udah! Good bye!Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam, Yah!"


Auristela melirik binar Elvina


"Apa selama ini lo cuman pura-pura?"


Elvina mengangguk lalu tersenyum. Auristela langsung memeluknya.


Rasanya hari ini banyak kejutan untuk Auristela, membuatnya senang bukan main.

__ADS_1


__ADS_2