
Adelio sudah berada di depan gerbang sekolah sekarang ini.
Ia disini tampak sendirian menunggu Auristela. Untungnya dia yang berangkat duluan. Sedangkan guru yang mendampingi belum datang. Mobil yang nantinya akan mengantar ke SMA Angkasa juga belum datang.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depannya. Keluarlah Auristela lalu disusul seorang...Cowo?
Siapa lagi itu?, pikir Adelio, karena yang ia tau Auristela anak sulung.
"Udah lama nunggu?" tanya Auristela
"Engga," balas Adelio singkat
Auristela menengok ke arah Daffin
"Gak langsung pulang aja, Kak?" tanyanya
"Bentar deh nungguin jemputan kalian! Lagian gak baik ninggalin cowo sama cewe sendirian begini. Mana sepi lagi!"
"Lah orang gak bakal ngapa-ngapain juga, Kak! Suudzan mulu," gerutu Auristela.
Bener, kan? Lagian mana mungkin Adelio *****-***** dia? Tampang aja gitu.
Iya, bener Auristela. Tapi sekarang banyak yang suka memanipulasi penampilan, jadi sikap waspada itu penting! Apalagi untuk seorang perempuan.
Daffin hanya ngakak menanggapi Auristela. Ia melangkah mendekati Adelio,
__ADS_1
"Nama?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Adelio menanggapi dengan kikuk. Ia melirik Auristela sebentar yang sedang celingukan gak jelas.
"Adelard Adelio! Panggil aja Adelard!" ucapnya agak lirih.
Daffin mengernyit mendengar nama itu. Ia meneliti penampilan Adelio. Ia tau siapa itu Adelard Adelio. Anak dari pebisnis terkenal di tanah air. Pastinya pewaris dari perusahaan akan dikenalkan ke publik, begitupun dengan Adelard. Adelio yang tau gelagat Daffin pun mendekat, membisikan sesuatu
"Nyamar!" bisiknya.
Daffin agak terkejut. Untuk apa Adelard menyamar?
"Oh! Gue Daffin Kakak keponakannya Auristela!"
"Gue tau lo suka dia! Jagain yah! Awas kalau lecet! Gak gue restuin lo!"
Adelio hanya terkekeh kecil.
"Gue masih banyak pertanyaan buat lo! Tapi ya udah lah gue tau ini privasi."
"Thank, Kak!"
"Ya udah sana gih! Udah datang mobil jemputannya! Semangat ya!"
"Thank Kak! Do'ain ya!"
__ADS_1
"Pasti!."
Adelio memasuki mobil duluan, sedangkan
Auristela menghampiri Daffin
"Minta do'anya ya, Kak!"
Daffin terkekeh. Ia mengacak rambut Auristela.
"Pasti itu!."
Auristela tersenyum kecil lalu menyalimi Daffin. Setelah itu ia memasuki mobil. Saat melewati Daffin dan mobilnya, Daffin melambai. Dan dibalas Auristela dengan lambaian kecil dan senyuman tipis. Ia sempat melihat Daffin mengangkat kepalan tangannya mengartikan semangat tanpa suara untuknya dan mungkin juga... Adelio?.
Mereka tampak dekat tadi.
Tumben saja Daffin ramah pada teman cowonya, biasanya tidak. Bahkan pada Zayyan saja Daffin tidak terlalu ramah. Apa karena Adelio cupu jadi terlihat benar-benar googboy nya?.
Mobil mereka berhenti. Mereka sarapan terlebih dahulu di sebuah restoran bintang tiga. Lumayan juga sekolah ini.
Adelio berdecak kagum. Walau ia biasa makan di restoran bintang lima sekalipun, tapi ini sudah termasuk wow baginya. Sekolahnya memang tak main-main.
Setelah sarapan mereka melanjutkan perjalanan ke SMA Angkasa. Mereka duduk-duduk dulu. Disana mereka disambut dengan berbagai pertunjukan dari eskul-eskul sekolah tersebut. Guru pembimbing mereka, Bu Friska untuk Adelio dan Pak Jaber untuk Auristela. Kedua guru itu sedang mengurus pendaftaran. Adelio dan Auristela duduk bersebelahan sambil menyaksikan pertunjukan eskul musik yang dipadukan dengan eskul tari.
Mereka berdua sekali-kali memainkan hp mereka. Adelio mendapat banyak pesan ucapan semangat dari ketiga sahabatnya. Ah, ralat. Galen hanya memberi pesan singkat. Yang pasti heboh sudah pasti Yeeshai dan Brady. Tak beda jauh juga dengan Auristela yang sedang dapat ceramah dari Elvina dan juga ucapan semangat dari Zayyan disertai lelucon yang cowo itu berikan, membuatnya sesekali tertawa.
__ADS_1